Jurnal Pertanian UMPAR (Universitas Muhammadiyah Parepare)
Not a member yet
529 research outputs found
Sort by
Perkembangan Irigasi Pintar Pada Melon (Cucumis melo L) Hidroponik (Studi Literatur)
Melon consumption has increased yearly due to the number of consumers. It requires rising production and land. The limited land area encourages the implementation of hydroponics with an irrigation system. This article aims to summarize various results of recent studies regarding the development and use of smart irrigation systems based on the Internet of Things and fuzzy logic in hydroponic melon cultivation using the Nutrient Film Technique method and drip irrigation. Water requirements greatly influence melon plants from vegetative growth to fruit ripening. The provision of water is carried out using the Nutrient Film Technique (NFT) irrigation technique, and drip irrigation is more optimal, requiring smart irrigation system technology. This system focuses on water supply according to plant needs, phenological phases, and environmental conditions. Based on the literature, two types of technology have been summarized: IoT-based irrigation can save water supply by up to 90% compared to the fuzzy logic method, which is around 29%. We hoped that a smart irrigation system for melons would increase the productivity of melon plants, especially hydroponic cultivation.Konsumsi buah melon mengalami peningkatan dari tahun ke tahun karena bertambahnya jumlah konsumen. Hal ini membutuhkan peningkatan produksi dan lahan. Sempitnya lahan mendorong dilakukannya penerapan hidroponik dengan sistem irigasi. Tujuan dari artikel ini adalah untuk merangkum berbagai hasil kajian mutakhir tentang pengembangan dan penggunaan sistem irigasi pintar berbasis Internet of Thing dan fuzzy logic pada budidaya melon secara hidroponik dengan metode Nutrient Film Technique dan irigasi tetes. Kebutuhan air sangat berpengaruh pada tanaman melon mulai dari tahap pertumbuhan vegetatif sampai pematangan buah. Pemberian air dilakukan dengan teknik irigasi Nutrient Film Tehnique (NFT) dan irigasi tetes tersebut lebih optimal, membutuhkan teknologi sistem irigasi pintar. Pada sistem ini, pemberian air difokuskan sesuai kebutuhan tanaman, fase fenologis, dan kondisi lingkungan. Berdasarkan literatur telah dirangkum 2 jenis teknologi, penyiraman irigasi berbasis IoT dapat menghemat pemberian air hingga 90% dibandingkan dengan metode fuzzy logic yang berkisar 29%. Adanya sistem irigasi pintar pada melon diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tanaman melon khususnya budidaya hidroponik
Pemanfaatan Sistem Bio-Cycle Farming dalam Penanganan Limbah Rumah Tangga untuk Peningkatan Pendapatan Petani
The bio-cycle farming system is intended to introduce the community to business-oriented and environmentally friendly agricultural businesses. The integrated biological cycle of agriculture, in which all components are helpful, and no waste is wasted or thrown away, reduces the risk of crop failure because dependence on a commodity can be avoided and saves production costs. This study aims to determine the effect of utilizing the bio-cycle farming system in handling household waste. Data collection used a survey method with a sample of 33 people. Quantitative data were analyzed using validity tests, reliability tests, Kolmogorov-Smirnov classical assumption tests, simple regression tests, and hypothesis testing, namely the t-test and the coefficient of determination (R2). The results showed that the utilization of the bio-cycle farming system had a significant effect on handling household waste. The variable utilization of the bio-cycle farming system (X) showed a calculated t value greater than the t table (5.955> t table 2.040) or sig <? (0.000 <0.05). Meanwhile, the variation in changes in the waste management variable (Y) is influenced by changes in the independent variable consisting of the use of the bio cycle farming system (X) by 53.4%. In comparison, other factors outside this research influence the remaining 46.6%.Sistem bio-cycle farming ditujukan untuk memperkenalkan masyarakat pada usaha pertanian yang berorientasi bisnis dan ramah lingkungan. Siklus biologi pertanian terpadu yang semua komponen bermanfaat dan tidak ada limbah yang sia-sia atau terbuang, mengurangi resiko kegagalan panen karena ketergantungan pada suatu komoditi dapat dihindari dan hemat ongkos produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemanfaatan sistem bio cycle farming dalam penanganan limbah rumah tangga. Pengumpulan data menggunakan metode survei dengan sampel sebanyak 33 orang. Data kuantitatif dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik Kolmogorov-smirnov, uji regresi sederhana dan pengujian hipotesis yaitu uji t, dan koefisien determinasi (R2). Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan sistem bio-cycle Farming berpengaruh signifikan terhadap penanganan limbah rumah tangga. Variabel pemanfaatan sistem bio-cycle farming (X) menujukkan nilai t hitung lebih besar dari t tabel (5.955 > t tabel 2,040) atau sig < ? (0,000 < 0,05). Sedangkan variasi perubahan variabel penanganan limbah (Y) dipengaruhi oleh perubahan variabel independen yang terdiri dari pemanfaatan sistem bio cycle farming (X) sebesar 53,4%, sedangkan sisanya 46,6% dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini
Efektivitas Tepung Daun Mangrove untuk Mengendalikan Penyakit Vibriosis pada Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Shrimp production in several Asian countries, including Indonesia, accounts for more than 85% of world production, thus control of shrimp larval diseases must be strengthened to increase production. This study aimed to test the effectiveness of mangrove leaves, Rhizopora sp, in controlling larval vibriosis of the vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei). The study began with in vitro tests to evaluate the antimicrobial activity of mangrove leaf flour against Vibrio sp bacteria at doses of 400, 500, 600, 700, 800, 900, 1000 mg/L, 5% amoxicillin antibiotic (K+) and without mangrove flour (K). In the in vivo test, vannamei shrimp larvae (mysis-3) were immersed in a solution containing mangrove leaf flour with the three best doses of in vitro test results; 800, 900, and 1000 mg/L water, plus K-, for 15 minutes according to the treatment dose and maintained for 8 days before being challenged with Vibrio spp. The parameters observed were total hemocyte count (THC), differential hemocyte count (DHC), and survival rate (SR), which were observed on days 1 and 8, respectively, with the SR parameter observed on day 7 following the challenge test. The results showed that the Mangrove leaf diet at 800 and 900 mg/L significantly improved larval resistance to the pathogen V. harveyi (P < 0.05). The high resistance was triggered by THC immunological response and the high proportion of semi-granular and hyaline at doses of 800 and 900 mg/L (P<0.05). Mangrove leaf powder can therefore suppress vibriosis disease in vanamei shrimp larvae using the immersion method at 800 and 900 mg/L concentrations.Produksi udang di beberapa negara di Asia termasuk Indonesia merupakan penyumbang >85% produksi global, oleh karena itu pengendalian penyakit larva udang dalam rangka peningkatan produksi perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas daun mangrove, Rhizopora sp untuk mengendalikan penyakit vibriosis pada larva udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian diawali dengan uji in vitro untuk mengevaluasi aktivitas antimikroba tepung daun mangrove terhadap bakteri Vibrio sp dengan dosis 400, 500, 600, 700, 800, 900, 1000 mg/L, antibiotik amoksilin 5% (K+) dan tanpa tepung mangrove (K). Pada uji in vivo, larva udang vanamei (mysis-3) direndam pada larutan mengandung tepung daun mangrove dengan 3 dosis terbaik hasil uji in vitro yaitu 800, 900, 1000 mg/L air, ditambah K-, selama 15 menit sesuai dosis perlakuan dan dipelihara selama 8 hari dan di uji tantang dengan Vibrio sp. Parameter yang diamati adalah Total haemocyte count (THC), Differential haemocyte count (DHC) dan Survival rate (SR), diamati pada hari ke-1 dan 8, sedangkan parameter SR diamati pada hari ke-7 pasca uji tantang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung daun mangrove dapat meningkatkan resistensi larva terhadap penyakit patogen V. harveyi dengan dosis terbaik 800 dan 900 mg/L (P?0,05). Tingginya resistensi ini diinisiasi oleh respon imun THC dan DHC khususnya persentase semi granular dan hyalin yang tinggi pada dosis 800 dan 900 mg/L (P?0,05). Dengan demikian maka tepung daun mangrove dapat digunakan untuk mengendalikan penyakit vibriosis pada larva udang vaname melalui metode perendaman dengan dosis 800 dan 900 mg/L
Analisis Permintaan dan Penawaran Produk Tempe di Kota Makassar, Sulawesi Selatan
The agricultural sector is vital economic growth; one is by processing agricultural products into valuable products, such as tempeh, from raw soybean materials. The research aims to 1) Describe the characteristics of sellers and buyers of tempeh; 2) Describe the amount of tempeh sold by traders and the amount purchased by consumers; 3) Analyze the factors that affect the demand for tempeh; and 4) Analyze the factors that affect the supply of tempeh. The research was conducted in Pa'baeng-Baeng Market and Terong Market in Makassar City, South Sulawesi. The sample of tempeh traders was 50 people, and the sample of buyers was 200. The analysis methods used were descriptive analysis and multiple linear regression analysis. The results showed that the characteristics of tempeh buyer respondents were 40 years old on average, the average education level was high school (56.82%), the most female gender (83.64%), and predominantly worked as housewives (46.81%). The characteristics of tempeh trader respondents based on age are an average of 41 years, an average high school education level, and the dominant gender is male (74.00%). The average tempeh purchased by consumers is 19 packs/month, and the average tempeh sold is 3,504 packs/month. Simultaneously (F-test) is significant to the demand for tempeh, with a coefficient of determination (R2) of 62.1% that have a significant effect partially (T-test) are all the variables tested, namely the price of tempeh, buyer income, number of family dependents, intensity of need, taste, and price of substitute goods. F-test is significant to the supply of tempeh, with a coefficient of determination (R2) of 60.3%. The significant factor of effect partially (t-test) on the supply of tempeh are the price at the producer level, future price expectations, the number of producers, and the number of consumers. Meanwhile, the price at the trader level is insignificantSektor pertanian sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi salah satunya dengan mengolah hasil pertanian menjadi produk yang bermanfaat, seperti tempe yang diolah dari bahan baku kedelai. Penelitian bertujuan: 1) Mendeskripsikan karakteristik penjual dan pembeli tempe; 2) Mendeskripsikan jumlah tempe yang dijual oleh pedagang dan jumlah yang dibeli oleh konsumen; 3)Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan tempe; dan 4) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran tempe. Penelitian dilaksanakan di Pasar Pa’baeng-Baeng dan Pasar Terong di Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan pada bulan Juli–Desember 2022. Sampel pedagang tempe sebanyak 50 orang dan sampel pembeli sebanyak 200 orang. Metode analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden pembeli tempe berusia rata-rata 40 tahun, tingkat pendidikan rata-rata SMA (56,82%), jenis kelamin perempuan yg terbanyak (83,64%), dan dominan bekerja sebagai ibu rumahtangga (46,81%). Karakteristik responden pedagang tempe berdasarkan usia yaitu rata-rata 41 tahun, tingkat pendidikan rata-rata SMA, dan jenis kelamin dominan adalah laki-laki (74,00%). Rata-rata tempe yang dibeli oleh konsumen sebanyak 19 bungkus/bulan, dan rata-rata tempe yang terjual sebanyak 3.504 bungkus/bulan. Secara simultan (Uji-F) signifikan terhadap permintaan tempe, dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 62,1%. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan secara parsial (Uji-t) adalah semua variabel yang diuji yaitu harga tempe, pendapatan pembeli, jumlah tanggungan keluarga, intensitas kebutuhan, selera dan harga barang subtitusi. Secara simultan (Uji-F) signifikan terhadap penawaran tempe, dengan koefisien determinasi (R2) sebesar 60,3%. Faktor-faktor yang berpengaruh signifikan secara parsial (Uji-t) terhadap penawaran tempe yaitu harga ditingkat produsen, ekspektasi harga di masa datang, jumlah produsen, dan jumlah konsumen. Sedangkan yang tidak signifikan yaitu harga ditingkat pedagang
Analisis Kualitas Air dan Hubungannya dengan Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) pada Padat Tebar Berbeda
Due to high demand, Sangkuriang catfish (Clarias gariepinus) is a widely cultivated consumption fish. This study aimed to analyze the relationship between water quality parameters such as temperature, pH, and water brightness with catfish growth. In addition, different stocking densities on catfish growth should be analyzed. The research was conducted at Omah Lele Catfish Farm from March to May 2023. The treatments consisted of Pond A, with a stocking density of 740 fish/m3, and Pond B, with a stocking density of 864 fish/m3. Growth data such as length, average body weight (ABW), and average daily growth (ADG) were analyzed using a T-test, and the relationship between water quality and growth was regression analysis. The interaction between temperature and catfish growth showed a negative/weak relationship, while the interaction between pH and water brightness on catfish growth was dominated by positive/strong. The stocking density variation of 740 fish/m3 showed better length and weight growth compared to the higher stocking density of 864 fish/m3.Ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) merupakan ikan konsumsi yang banyak dibudidayakan karena tingginya permintaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan hubungan antara kualitas air dan pertumbuhan ikan yang dibudidayakan pada kepadatan pemeliharaan yang berbeda. Penelitian dilakukan di PT. Omah Lele Catfish Farm pada bulan Maret hingga Mei 2023. Perlakuan terdiri dari kolam A dengan padat tebar 740 ekor/m3 dan kolam B dengan padat tebar 864 ekor/m3. Data pertumbuhan seperti panjang, average body weight (ABW) dan average daily growth (ADG) dianalisis dengan menggunakan uji-T dan hubungan antara kualitas air dengan pertumbuhan dilakukan analisis regresi. Berdasarkan uji-T diketahui bahwa pertumbuhan panjang badan, ABW dan ADG tidak berpengaruh nyata terhadap perbedaan padat tebar (t-hitung > t-tabel). Analisis regresi menyimpulkan bahwa terdapat korelasi negatif/lemah antara Suhu dan Panjang (R2= 0,33%), Suhu dan ABW (R2= 0,02%), dan Suhu dan ADG (R2= 0,91%). Hubungan antara pH dan Panjang (R2= 0,02%) dan pH dan ABW (R2= 2,24%) menunjukkan korelasi negatif/lemah, sedangkan pH-ADG (R2= 5,65%) menunjukkan korelasi positif/baik. Hubungan antara Kecerahan dan Panjang (R2= 1,14%), Kecerahan dan ABW (R2= 2,25%) dan Kecerahan dan ADG (R2= 1,85%) menunjukkan korelasi positif/cukup
Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Usaha Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Di Kabupaten Pangkep
Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei), one of the leading commodities in the fisheries sector in Pangkep district. Vaname shrimp cultivation is done traditionally and intensively. Vannamei shrimp production and productivity fluctuated. Production inputs influence these fluctuations. This research is to analyse the level of production and the factors that affect the productivity of vaname shrimp farming in Pangkep district. Determining of the respondent is this research is done by purposive. The method is descriptive analysis and Cobb-Douglas production function or double log regression. The study research shows that the average production of Vaname shrimp farming in Pangkep district was 3,553.06 kg/cycle, productivity was 1,724.96 kg/ha/cycle with a middle land area of 1.58 ha. Productivity of Vaname shrimp positive influenced by variable of land area, seeds, fertilizer of urea, fertilizer of phonska, feed and labour.Udang Vaname (Litopenaeus vannamei), salah satu komoditas unggulan sektor perikanan di kabupaten Pangkep. Budidaya udang vaname dilakukan secara tradisional dan intensif. Produksi dan produktivitas udang vaname mengalami fluktuasi. Fluktuasi tersebut dipengaruhi oleh input produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat produksi dan faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas usaha budidaya udang vaname di kabupaten Pangkep. Penentuan responden dilakukan secara purposive. Metode analisis yang digunakan yaitu : analisis deskriptif dan fungsi produksi Cobb-Douglas atau regresi double log. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata produksi usaha budidaya udang Vaname di kabupaten Pangkep sebesar 3.553,06 kg/siklus, produktivitas 1.724,96 kg/ha/siklus dengan luas lahan rata-rata sebesar 1,58 ha. Produktivitas usaha budidaya udang vaname di kabupaten Pangkep dipengaruhi oleh variabel luas lahan, bibit/benur udang vaname, pupuk urea, pupuk phonska, pakan dan tenaga kerja.
 
Pengembangan Potensi Lokal Ikan Tuna Sirip Kuning (Thunnus albacares) Menjadi Cemilan Sehat untuk Mencegah Stunting di Kota Sorong, Papua Barat Daya
Based on the results of the Indonesian Nutrition Status Survey (INSS), the prevalence of stunting in West Papua was recorded at 26,02% in the previous year, increasing to 30.00% in 2022. Currently, most children pay less attention to the food type and more often consume unhealthy snacks. This research aims to develop the product of yellowfin tuna fish sticks to meet the nutritional balance of children and prevent stunting. The treatment in this research was adding yellowfin tuna sih meal with the formulation of wheat flour, tapioca flour, and fish flour, namely 100 g: 100 g: 75 g, which was used in making stick products. Testing of yellowfin tuna fish sticks includes hedonic and nutritional content tests. Based on the results of the hedonic test, which includes the parameters of appearance, smell, taste, and texture, yellowfin tuna fish sticks obtained a score that meets SNI standards, namely 7 (seven) for each criterion. Testing the nutritional content shows that yellowfin tuna sih sticks have a water content of 5,11%, protein of 24,11%, fat of 26,28%, fiber of 0,65%, ash of 3,91%, and carbohydrates of 39,91%, according to product specifications.Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevelensi stunting di Papua Barat tercatat sebesar 26,02% ditahun sebelumnya, naik menjadi 30,00% pada tahun 2022. Saat ini, sebagian besar anak kurang memperhatikan jenis makanan yang mereka makan, dan lebih sering mengkonsumsi cemilan yang kurang sehat. Tujuan dari penelitian ini yaitu 1) Mengembangkan produk stik ikan tuna sirip kuning menjadi produk cemilan sehat, dan 2) Mengetahui kandungan gizi dan tingkat kesukaan produk stik ikan tuna agar memenuhi keseimbangan nutrisi anak-anak untuk mencegah stunting. Perlakuan pada penelitian ini adalah penambahan tepung ikan tuna sirip kuning dengan formulasi tepung terigu : tepung tapioka : tepung ikan yaitu 100 g : 100 g : 75 g yang digunakan pada pembuatan produk stik. Pengujian produk stik ikan tuna sirip kuning meliputi uji hedonik dan uji kandungan gizi. Berdasarkan hasil uji hedonik yang mencakup parameter kenampakan, bau, rasa dan tekstur pada stik ikan tuna sirip kuning memperoleh nilai yang memenuhi standar SNI, yakni 7 (tujuh) untuk setiap kriteria. Pengujian kandungan gizi menunjukkan bahwa stik ikan tuna sirip kuning memiliki kadar air sebesar 5,11%, protein sebesar 24,11%, lemak sebesar 26,28%, serat sebesar 0,65%, abu sebesar 3,91%, dan karbohidrat sebesar 39,91%, sesuai dengan spesifikasi produk
Pemanfaatan Biochar Sekam Padi, Tongkol Jagung dan Cangkang Kelapa untuk Meningkatkan Produksi Bawang Merah (Allium cepa)
Agricultural waste becomes a major post-harvest problem if not processed correctly. Post-harvest agricultural waste processing into biochar can be the right post-harvest handling solution and can be used to improve soil nutrient structure. This study aimed to determine the use of agricultural waste biochar to increase shallot production. This study was in the form of an experiment using a Randomized Block Design (RAK) with treatments including rice husk biochar (BSP), corn cob biochar (BTJ), coconut shell biochar (BCK), rice husk biochar + corn cob biochar (BSP + BTJ), rice husk biochar + coconut shell biochar (BSP + BCK), corn cob biochar + coconut shell biochar (BTJ + BCK), and rice husk biochar + corn cob biochar + coconut shell biochar (BSP + BTJ + BCK). The results showed that using rice husk biochar, corn cob, and coconut shell individually or in combination could increase shallot production. The highest output of shallots was demonstrated in the treatment of rice husk biochar + corn cob biochar + coconut shell biochar.Limbah pertanian menjadi masalah besar pasca panen jika tidak diolah dengan tepat. Pengolahan limbah pertanian pasca panen menjadi biochar dapat menjadi solusi penanganan pasca panen yang tepat dan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki struktur hara tanah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan biochar limbah pertanian untuk meningkatkan produksi bawang merah. Penelitian ini dalam bentuk eksperimen menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan meliputi biochar sekam padi (BSP), biochar tongkol jagung (BTJ), biochar cangkang kelapa (BCK), biochar sekam padi + biochar tongkol jagung (BSP+BTJ), biochar sekam padi + biochar cangkang kelapa (BSP+BCK), biochar tongkol jagung + biochar cangkang kelapa (BTJ+BCK), dan biochar sekam padi + biochar tongkol jagung + biochar cangkang kelapa (BSP+BTJ+BCK). Hasil penelitian menunjukkan pemanfaatan biochar sekam padi, tongkol jagung, dan cangkang kelapa secara tunggal atau kombinasi mampu meningkatkan produksi bawang merah. Produksi bawang merah tertinggi ditunjukkan pada perlakuan biochar sekam padi + biochar tongkol jagung + biochar cangkang kelapa
Analisis Strategi Kemandirian Pangan Bidang Perikanan di Kota Bandung
The relationship between food and cities is complex because it covers various aspects such as production, distribution, and environmental impacts. Currently, the land area that can be used for the agricultural sector in Bandung City is only 9.6%. Most fishery commodities in Bandung City are imported from outside the region. This research aims to formulate strategies related to food independence efforts in the fisheries sector in Bandung City. This research uses a descriptive method with the tool used to analyze the data SWOT with an analysis of internal and external factors in the city of Bandung. The results obtained in this research are that the city of Bandung is in quadrant 2, which means that diversification is the right thing to implement now. The strategy used is to encourage the improvement of the social and economic status of the fish cultivator profession and also business actors in the fisheries sector in the city of Bandung by providing tax exemptions, subsidies, and technical assistance for fish cultivators who use environmentally friendly systems, providing capital loans and for fish farmers and fishery product processors, giving awards to fish farmers and fisheries business actors and developing adequate environmental protection and waste management programs to reduce water pollution by strengthening cooperation between local governments, law enforcement agencies, research institutions, and environmental organizations in monitoring and enforcing regulations related to waste management and river environmental protection.Hubungan antara pangan dengan perkotaan sangat kompleks karena mencakup berbagai aspek seperti produksi, distribusi, dan dampak lingkungan. Saat ini, luas lahan yang dapat dimanfaatkan untuk sektor pertanian di Kota Bandung hanya sebesar 9,6% sehingga komoditas perikanan di Kota Bandung mayoritas didatangkan dari luar daerah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi terkait upaya kemandirian pangan bidang perikanan di Kota Bandung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan analisis SWOT untuk analisis faktor internal dan eksternal yang ada di Kota Bandung. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini bahwa Kota Bandung berada pada posisi kuadran 2 yang artinya diversifikasi adalah jalan yang tepat untuk diterapkan pada saat ini. Strategi yang digunakan adalah dengan mendorong peningkatan status sosial dan ekonomi profesi pembudidaya ikan dan juga pelaku usaha di bidang perikanan di Kota Bandung dengan cara memberikan pembebasan pajak, pemberian subsidi, bantuan teknis untuk pembudidaya ikan yang menggunakan sistem ramah lingkungan, memberikan pinjaman modal untuk pembudidaya ikan dan pengolah hasil perikanan. Selain itu, memberikan penghargaan kepada para pembudidaya ikan dan pelaku usaha perikanan serta mengembangkan program-program perlindungan lingkungan dan pengelolaan limbah yang efektif untuk mengurangi pencemaran air dengan cara memperkuat kerjasama kerjasama antara pemerintah daerah, lembaga penegak hukum, lembaga riset, dan organisasi lingkungan dalam melakukan pengawasan dan penegakan peraturan terkait pengelolaan limbah dan perlindungan lingkungan sungai
Processing Rice Land to Increase Rice Food Security in Semarang City: (Location study Purwosari Village)
This research aims to understand the influence of five production factors, namely land area, urea fertilizer, NPK fertilizer, labor, and pesticides, on the amount of rice production in Purwosari Village, Semarang. The method used is a case study involving 61 rice farmers in the village. Data analysis was carried out using the Cobb-Douglas production function, production scale, and economic efficiency. The research results show that all production factors together have a very significant influence on the amount of rice production. However, when analyzed individually, only land area, urea fertilizer, and NPK fertilizer had a significant effect. Labor and pesticides did not show a significant effect on rice production. The scale of rice production in Purwosari shows an increasing trend. The economic efficiency of using production factors shows that the use of land, urea fertilizer, and NPK fertilizer has not reached optimal levels (NPM/BKM >1). On the other hand, the use of labor and pesticides is classified as inefficient (NPM/BKM <1). In conclusion, this research recommends increasing land use, urea fertilizer, and NPK fertilizer to increase rice production in Purwosari. On the other hand, the use of labor and pesticides needs to be optimized to achieve better efficiency