Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
788 research outputs found
Sort by
Detection and molecular identification of Salmonella spp. in traditional shrimp paste (terasi): insights from multiplex PCR and 16S rDNA sequencing : Deteksi dan identifikasi molekuler Salmonella spp. dalam terasi tradisional: analisis menggunakan multiplex PCR dan sekuensing 16S rDNA
Kriteria utama produk pangan berkualitas salah satunya adalah tidak adanya mikroba patogen. Terasi sebagai produk fermentasi tradisional rentan terhadap kontaminasi bakteri yang tidak diharapkan termasuk Salmonella spp. Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengidentifikasi Salmonella spp. dalam terasi tradisional menggunakan pendekatan multiplex PCR (mPCR). Sampel yang digunakan mencakup terasi berbahan dasar udang (UA, UB, UC), ikan (IA, IB, IC), serta campuran keduanya (CA, CB, CC). Penelitian ini meliputi isolasi Salmonella, uji biokimia dengan TSIA dan LIA, serta deteksi molekuler menggunakan mPCR. Identifikasi isolat berbasis sekuensing 16S rDNA dilakukan pada sampel yang tidak terdeteksi Salmonella melalui mPCR, baik pada tingkat serovar maupun genus. Hasil isolasi dan karakterisasi biokimia mengonfirmasi keberadaan Salmonella spp. dalam lima sampel terasi (UA, UB, UC, CA, dan CC), dengan densitas bakteri tertinggi ditemukan pada sampel UC (8,3 × 10⁶ CFU/g). Uji TSIA dan LIA lebih lanjut memverifikasi keberadaan isolat Salmonella spp. hanya pada sampel UC sejumlah tujuh isolat, menunjukkan fermentasi glukosa, produksi hidrogen sulfida, serta morfologi koloni khas pada media XLD. Tujuh isolat dalam sampel UC tersebut teridentifikasi melalui mPCR sebagai genus Salmonella, dan satu diantaranya berhasil teridentifikasi sebagai Salmonella Typhimurium (UC8). Hasil sekuensing 16S rDNA menunjukkan bahwa enam isolat yang tidak diketahui serovarnya diidentifikasi sebagai Salmonella enterica subsp. enterica serovar Newlands, yang untuk pertama kalinya dilaporkan pada terasi di Indonesia. Sementara itu, satu isolat (UC4) yang tidak teridentifikasi pada tingkat genus terkonfirmasi sebagai Proteus mirabilis, yang mengindikasikan adanya kontaminasi non-Salmonella. Temuan ini menyoroti pentingnya peningkatan kebersihan dalam produksi terasi tradisional guna mengurangi risiko kontaminasi mikroba patogen.One of the key criteria for quality food products is the absence of pathogenic microbes. Shrimp paste (terasi), a traditionally fermented product, is prone to contamination by unexpected bacteria, including Salmonella spp. This study aimed to isolate and identify Salmonella spp. in traditional shrimp paste using a multiplex polymerase chain reaction (mPCR) approach. The analyzed samples consisted of shrimp paste formulated from shrimp (UA, UB, UC), from fish (IA, IB, IC), and from a combination of both raw materials (CA, CB, CC). The research involved isolating Salmonella, performing biochemical tests with triple sugar iron agar (TSIA) and lysine iron agar (LIA), and molecular detection using mPCR. Isolate identification based on 16S rDNA sequencing was conducted for samples where mPCR failed to detect Salmonella at either the serovar or genus level. The presence of presumptive Salmonella spp. was confirmed through isolation and biochemical characterization in five shrimp paste samples, namely UA, UB, UC, CA, and CC, with the UC sample exhibiting the highest bacterial density at 8.3 × 10⁶ CFU/g. Further TSIA and LIA tests verified that Salmonella spp. was only present in UC. Seven UC isolates showed biochemical characteristics typical of Salmonella spp. (i.e., glucose fermentation, hydrogen sulfide production, and characteristic colony morphology on xylose lysine deoxycholate agar). mPCR confirmed these seven UC isolates as belonging to the Salmonella genus, and one of them (UC8) was successfully identified as Salmonella Typhimurium. The 16S rDNA sequencing results showed that six isolates not identified at the serovar level were classified as Salmonella enterica subsp. enterica serovar Newlands, which is reported for the first time in Indonesian shrimp paste. Meanwhile, one isolate (UC4) that could not be identified at the genus level was confirmed as Proteus mirabilis, indicating non-Salmonella contamination. These findings highlight the importance of improving hygiene in traditional shrimp paste production to minimize the risk of pathogenic microbial contamination
Aktivitas antioksidan dan hedonik teh hijau berbahan baku daun mangrove Avicennia sp. dan Sonneratia sp.: Antioxidant activity and hedonic of green tea made from mangrove leaves Avicennia sp. and Sonneratia sp.
Teh hijau telah lama dikenal sebagai minuman yang memiliki berbagai manfaat kesehatan, terutama karena kandungan antioksidannya yang tinggi. Daun mangrove berpotensi sebagai bahan baku teh hijau karena memiliki senyawa metabolit sekunder yang bersifat sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan spesies mangrove terbaik yang berpotensi sebagai teh hijau melalui parameter kimia, antioksidan, dan penilaian hedonik. Teh hijau diproduksi dari daun muda bagian pucuk mangrove Avicennia sp. dan Sonneratia sp. yang diperoleh dari kawasan ekosistem Bandar Bakau, Kota Dumai dan teh komersial (Camellia sinensis) sebagai pembanding. Parameter yang dianalisis meliputi karakteristik kimia (kadar air, abu, abu tak larut asam, sari larut air, dan serat), fitokimia, persentase inhibisi antioksidan metode DPPH, serta penilaian hedonik (rasa, aroma, warna, dan overall). Hasil penelitian menunjukkan ketiga jenis teh memiliki kadar air 7,84-25,45%, abu 6,69-16,12%, abu tak larut asam 0,65-1,23%, sari larut air 2,82-4,27%, dan serat 5,80-7,11%. Senyawa fitokimia lebih banyak terdeteksi pada teh komersial dibandingkan teh daun mangrove. Perbedaan jenis bahan baku teh hijau berpengaruh nyata terhadap persentase inhibisi antioksidan dan penilaian hedonik panelis. Perlakuan terbaik teh hijau dengan daun mangrove Sonneratia sp. dengan persentase inhibisi antioksidan tertinggi (87,59%) dan penilaian hedonik keseluruhan (overall) sangat disukai panelis. Teh ini memenuhi standar teh hijau sesuai SNI 3945:2016 pada kadar abu, abu larut asam, dan serat kasar, namun belum pada kadar air dan sari larut air. Hasil penelitian mengindikasikan daun mangrove berpotensi sebagai bahan baku teh hijau.Green tea has long been known as a beverage with various health benefits, especially because of its high antioxidant content. Mangrove leaves are potential raw materials for green tea because they contain secondary metabolite compounds that act as antioxidants. This study aims to determine the best mangrove species that have the potential to be green tea through chemical parameters, antioxidants, and hedonic assessments. Green tea was produced from young leaves at the top of the mangrove Avicennia sp. and Sonneratia sp. obtained from the Bandar Bakau ecosystem area, Dumai City, and commercial tea (Camellia sinensis) for comparison. The analyzed parameters included chemical characteristics (moisture content, ash, acid-insoluble ash, water-soluble extract, and fiber), phytochemicals, percentage of antioxidant inhibition by the DPPH method, and hedonic assessments (taste, aroma, color, and overall). The results showed that the three types of tea had a moisture content of 7.84-25.45%, ash 6.69-16.12%, acid-insoluble ash 0.65-1.23%, water-soluble essence 2.82-4.27%, and fiber 5.80-7.11%. Phytochemical compounds were more frequently detected in commercial tea than in mangrove leaf tea. Differences in the types of green tea raw materials significantly affected the percentage of antioxidant inhibition and the hedonic assessment of the panelists. The best treatment of green tea with Sonneratia sp. mangrove leaves had the highest percentage of antioxidant inhibition (87.59%), and the overall hedonic assessment was highly favored by panelists. This tea meets the green tea standards according to SNI 3945:2016 in ash content, acid-soluble ash, and crude fiber, but not in moisture content or water-soluble essence. The results of this study indicate that mangrove leaves have potential as a raw material for green tea production
Effect of pulsed electric field on the number and cell membrane of Vibrio parahaemolyticus in salted squid: Pengaruh medan listrik berdenyut terhadap jumlah total dan membran sel Vibrio parahaemolyticus pada cumi asin
Cumi-cumi rentan terhadap kontaminasi bakteri Vibrio parahaemolyticus dengan prevalensi 80%. Pengawetan cumi-cumi umumnya dilakukan dengan cara pengeringan setelah penggaraman air garam, dengan pertumbuhan V. parahaemolyticus tidak selalu terhenti. Pengurangan jumlah bakteri, biasanya dilakukan proses perebusan sebelum pengeringan. Penelitian ini bertujuan menentukan medan listrik dan lama waktu terbaik untuk menonaktifkan V. parahaemolyticus serta mengevaluasi efektivitas teknologi pulsed electric fields (PEF) pada cumi asin. Spesifikasi teknologi PEF yang digunakan, yaitu kuat arus 2 ampere dengan medan listrik (3,5; 7; dan 10,5 kV/cm) dan lama waktu (10, 20, dan 30 detik). Pengurangan bakteri oleh medan listrik diamati dengan penghitungan koloni, dilanjutkan dengan penghitungan sel yang mati menggunakan flow cytometer, sedangkan kerusakan bakteri diamati dengan pemindaian mikroskop elektron. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PEF dengan intensitas tertinggi (10,5 kV/cm selama 30 detik) dapat mengurangi V. parahaemolyticus sebesar 66,12% pada tingkat kontaminasi yang tinggi (sekitar 106 CFU/g) dan 97,63% pada tingkat kontaminasi yang rendah (sekitar 102 CFU/g) pada cumi-cumi asin. Hasil ini sebanding dengan perlakuan perebusan (2 menit, 85°C). Kerusakan pada membran sel bakteri meningkat karena meningkatnya medan listrik, yang diamati dengan meningkatnya sel berpendar merah dengan flowcytometry dan kerusakan sel dengan SEM. Pulsed electric fields adalah teknologi alternatif yang menjanjikan untuk produksi cumi asin.Squid are susceptible to bacterial contamination by Vibrio parahaemolyticus, with a prevalence of 80%. Squid preservation is generally achieved by drying after brine salting, which does not always completely stop the growth of V. parahaemolyticus. To reduce bacterial numbers, a boiling process is usually conducted before drying. This study aimed to determine the optimal electric field and duration for inactivating V. parahaemolyticus and evaluating the effectiveness of pulsed electric fields (PEF) technology on salted squid. PEF technology specifications with a current strength of 2 amperes using electric fields (3.5, 7, and 10.5 kV/cm) and time durations (10, 20, and 30 s). Bacterial reduction by electric fields was observed using colony counts, followed by counting of dead cells using a flow cytometer. Bacterial damage was observed using a scanning electron microscope. The results showed that PEF with the highest intensity (10.5 kV/cm for 30 s) reduced V. parahaemolyticus by 66.12% at high contamination levels (approximately 106 CFU/g) and 97.63% at low contamination levels (approximately 102 CFU/g) in salted squid. These results were comparable to those obtained after boiling treatment (2 min, 85°C). Damage to the bacterial cell membrane increased due to the increasing electric field, as observed by increasing in red fluorescing cells by flow cytometry and cell damage by SEM. PEF is a promising alternative technology for producing salted squid
Karakteristik fisikokimia dan umur simpan cendol sagu instan dengan variasi kemasan dan metode pengeringan: Physicochemical characteristics and shelf life of instant sago cendol with variations in packaging and drying methods
Cendol merupakan minuman tradisional yang banyak diminati, namun memiliki kandungan gizi rendah karena didominasi tepung beras dan kadar air yang tinggi. Kandungan gizi cendol yang rendah dapat ditingkatkan melalui fortifikasi 1,25% tepung ikan gabus, sementara kadar airnya dapat dikurangi dengan metode pengeringan oven dan cabinet dryer. Selain itu, diversifikasi sumber karbohidrat dengan substitusi tepung beras menggunakan tepung sagu juga dapat dilakukan. Penurunan kadar air ini berkontribusi pada peningkatan umur simpan cendol. Tujuan penelitian, yaitu menentukan jenis kemasan (HDPE, foil aluminium, dan kombinasi keduanya) dan metode pengeringan terbaik terhadap karakteristik fisikokimia, umur simpan, dan angka lempeng total cendol sagu instan dengan fortifikasi ikan gabus. Metode umur simpan menggunakan perlakuan metode Accelerated Shelf Life Test (ASLT) dengan model Arrhenius diterapkan pada suhu 25°C, 35°C, dan 45°C dengan penyimpanan selama 0, 5, 10, 15, dan 20 hari. Hasil menunjukkan bahwa cendol instan dengan pengeringan cabinet dyer menghasilkan karakteristik fisikokimia yang tinggi dengan kadar albumin 5,6%. Cendol instan yang dikemas dengan foil aluminium memiliki umur simpan lebih lama, yaitu mencapai 10 bulan dibandingkan dengan kemasan HDPE maupun kombinasi keduanya, baik dengan pengeringan cabinet dryer maupun oven dengan jumlah total mikrob <1,0×106.Cendol is a traditional drink that is highly popular but has low nutritional content due to its composition, which is predominantly rice flour and a high-water content. The low nutritional content of cendol can be increased through fortification with 1.25% snakehead fish meal, while the water content can be reduced by oven and cabinet dryer drying methods. Apart from that, diversifying carbohydrate sources by substituting rice flour for sago flour can also be done. This reduction in water content contributes to increasing the shelf life of cendol. This study aims to find the best type of packaging (HDPE, aluminum foil, or a mix of both) and the best drying method by looking at the physical and chemical properties, shelf life, and total plate count of instant sago cendol that includes snakehead fish. The shelf life method uses the Accelerated Shelf Life Test (ASLT) method with the Arrhenius model applied at temperatures of 25°C, 35°C, and 45°C with storage for 0, 5, 10, 15, and 20 days. The results indicated that instant cendol with cabinet dryer drying produced high physicochemical characteristics with an albumin content of 5.6%; instant cendol packaged in aluminum foil has a longer shelf life, reaching 10 months compared to HDPE packaging or a combination of both, either with cabinet dryer or oven drying, with the total number of microbes being <1.0x106
Ekstraksi dan karakterisasi enzim tripsin dari jeroan ikan bandeng (Chanos chanos) hasil purifikasi parsial: Extraction and characterization of trippsin enzyme from milkfish (Chanos chanos) partial purification result
Jeroan ikan terkenal dengan konsentrasi enzim pencernaan yang tinggi, terutama proteinase misalnya tripsin. Karakteristik tripsin ikan dipengaruhi oleh jenis dan habitatnya. Jeroan ikan bandeng merupakan bagian dari saluran pencernaan ikan dan memiliki pH netral sehingga berpotensi menjadi sumber enzim khususnya tripsin. Jeroan ikan dapat menjadi alternatif pengganti enzim tripsin komersial yang berasal dari daging babi dan sapi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan karakteristik enzim tripsin dari jeroan bandeng dengan fraksi amonium sulfat. Proses penelitian diawali dengan ekstraksi enzim tripsin dari jeroan ikan bandeng, dilanjutkan dengan fraksinasi dengan amonium sulfat (0-80%). Suhu, pH, pengaruh ion logam, pengaruh NaCl terhadap aktivitas enzim, dan kinetika reaksi. Aktivitas enzim diukur menggunakan substrat N-α-benzoyl DL-arginine-p-nitroanilide (BAPNA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar tripsin memiliki aktivitas sebesar 0,117 U/mL. Aktivitas enzim tripsin tertinggi pada fraksi amonium sulfat 20-30%, yaitu sebesar 0,295 U/mL. Enzim bekerja paling baik pada suhu 50°C dan pH 6. Aktivitas enzim tripsin pada ion NaCl, MnCl2, ZnCl2, CuCl2, dan CaCl2 mengalami penghambatan pada setiap jenis ion logam yang berbeda dan bersifat sebagai inhibitor. Aktivitas tripsin pada NaCl 5-30% meningkat pada rasio 10%, yaitu sebesar 0,249 U/mL. Nilai Vmax enzim ini adalah 0,285 mmol/s, dan nilai Km-nya adalah 0,374 mM.Fish offal is known for its high content of digestive enzymes, especially proteinases such as trypsin. The characteristics of fish trypsin are influenced by the species and habitat. Milkfish offal is part of the fish digestive tract and has a neutral pH, so it is a potential source of enzymes, especially trypsin. Fish offal can be an alternative to commercial trypsin enzymes derived from pork and beef. The purpose of this study was to determine the characteristics of trypsin enzyme from milkfish offal with ammonium sulfate fraction. The research process began with the extraction of trypsin enzyme from milkfish offal, followed by fractionation with ammonium sulfate (0-80%). Temperature, pH, the effect of metal ions, the effect of NaCl on enzyme activity, and reaction kinetics were all used to determine the best fraction. Enzyme activity was measured using the substrate N-α-benzoyl DL-arginine-p-nitroanilide (BAPNA). The results showed that the crude trypsin extract had an activity of 0.117 U/mL. The highest trypsin enzyme activity was in the 20-30% ammonium sulfate fraction, which was 0.295 U/mL. The enzyme worked best at a temperature of 50°C and pH 6. The metal ions ZnCl₂, MnCl₂, CuCl₂, NaCl, and CaCl₂ inhibited the trypsin enzyme activity. Trypsin activity in 5–30% NaCl increased to a ratio of 10%, which was 0.249 U/mL. The Vmax value of this enzyme was 0.285 mmol/s, and the Km value was 0.374 mM
Pengaruh metode pengemasan ikan tongkol asap guna menghambat kemunduran mutu pada suhu ruang: Packaging method effect of smoked skipjack tuna to inhibit quality deterioration at room temperature
Ikan asap merupakan salah satu produk olahan perikanan yang digemari karena rasanya khas dan aromanya yang sedap spesifik. Proses pengasapan menggunakan teknik konvensional memiliki umur simpan yang lebih pendek. Penjualan ikan asap tanpa pengemasan memungkinkan terpaparnya mikrob dan kapang kontaminan yang dapat memengaruhi mutunya. Pengemasan dengan metode modified atmosphere packaging (MAP) dan pengemasan plastik vakum merupakan upaya memperpanjang umur simpan dan mempertahankan mutu ikan asap. Tujuan penelitian ini, yaitu menentukan metode pengemasan dan lama waktu penyimpanan terbaik ikan tongkol (Euthynus affinis) asap yang disimpan pada suhu ruang. Metode eksperimen rancangan acak lengkap faktorial (RALF) dilakukan pada penelitian ini dengan variabel perlakuan metode pengemasan plastik nonvakum, vakum, dan MAP) serta lama waktu penyimpanan (hari ke-0, 1, 2, dan 3). Hasil uji mutu ikan asap yang diproduksi pada sentra pengasapan ikan bengkorok bakteri (Salmonella spp., S. aureus, E. coli) dan benzo[a]piren memenuhi standar SNI 2725:2013. Hasil analisis histamin pada setiap perlakuan selama penyimpanan sesuai standar SNI ikan asap, yaitu ≤100 mg/kg dengan nilai terendah pada metode pengemasan MAP, yaitu 52,32 mg/kg. Hasil analisis kimia dan mikrob pada pengemasan MAP dan plastik vakum hingga hari terakhir penyimpanan memenuhi standar SNI 2725:2013, kadar air < 60%, log total mikrob < 4,7 log CFU/g, dan log total kapang < 2 log CFU/g.Smoked Tongkol fish is one of the products favored by tourists as a souvenir of Prigi Beach, Trenggalek. Sales of smoked fish at Prigi Beach are only placed on wooden display cases without packaging, so there is a high possibility of exposure to microbial and mold contaminants that can affect its quality. Packaging with the Modified Atmosphere Packaging (MAP) method and vacuum plastic packaging are ways to extend shelf life and maintain quality. The purpose of this study was to compare vacuum and MAP packaging methods to extend the shelf life of smoked Tongkol (Euthynnus affinis) at room temperature. The quality test results of smoked fish produced at the bengkorok fish smoking center include Salmonella spp bacteria, Staphylococcus aureus, Escherichia coli, and benzo(a)pyrene still in accordance with SNI 2725:2013 standards. The best histamine analysis results during storage were 52.32 ± 3.16 mg/kg found in MAP packaging. The results of chemical and microbial analysis on MAP and vacuum plastic packaging until the last day of storage are still in accordance with SNI 2725:2013 standards, moisture content < 60%, log total microbes < 4.7 log CFU/g, and log total mold < 2 log CFU/g. Plastic packaging experienced quality deterioration on day 2 of storage with test values below SNI 2725:2013 standard
Phycocyanin production from Galdieria sulphuraria 009 in palm oil mill effluent: growth, extraction, and antioxidant activity: Produksi fikosianin dari Galdieria sulphuraria 009 dalam limbah cair pabrik kelapa sawit: pertumbuhan, ekstraksi, dan aktivitas antioksidan
Palm oil mill effluent (POME), a major byproduct of the palm oil industry in Indonesia, is generated in large volumes and poses environmental risks due to its high organic content> Microalgae offer a promising approach to reduce this waste while simultaneously producing value-added biomass products. This study aimed to determine the optimal POME concentration for microalgal growth of G. sulphuraria 009, to evaluate phycocyanin yield, and to assess its antioxidant activity. This study was initiated with a preliminary screening using 5–50% POME to identify optimal microalgal growth conditions; cultivation in bioreactors with selected concentrations (2.5%, 5.0%, and 7.5%) to evaluate growth performance and chemical yields; and analysis of antioxidant activity and pigment content in both fresh and residual biomass. The preliminary stage revealed 5% POME as the upper threshold for growth, with 2.5% supporting optimal biomass comparable to control (Allen pH 2). Higher POME levels inhibited growth due to light attenuation and ammoniacal nitrogen toxicity. 2.5% POME recorded the highest phycocyanin yield per liter, while 7.5% POME yielded the highest antioxidant activity, likely due to oxidative stress. Antioxidant assays confirmed significant antioxidant activity in all phycocyanin extracts, with the highest activity in 7.5% POME, likely due to oxidative stress. Carotenoid and chlorophyll contents were evaluated in both fresh and residual biomass. Carotenoids were more abundant in fresh biomass, while chlorophyll -A was higher in residual biomass post-extraction, emphasizing the importance of extraction techniques in bioactive compound recovery. This study highlights G. sulphuraria 009 as a viable source of phycocyanin in POME-based cultivation, offering insights into industrial wastewater valorization and sustainable bioproducts.Limbah cair industri kelapa sawit (palm oil mill effluent atau POME) di Indonesia menghasilkan volume yang tinggi dan berpotensi mencemari lingkungan. Mikroalga dapat dimanfaatkan untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk biomassa yang bernilai tambah. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi optimum POME bagi pertumbuhan mikroalga Galdieria sulphuraria 009, mengevaluasi produksi fikosianin, serta menilai aktivitas antioksidannya. Penelitian ini diawali dengan penapisan awal menggunakan 5–50% POME untuk mengidentifikasi kondisi pertumbuhan mikroalga yang optimum; budi daya dalam bioreaktor dengan variasi konsentrasi (2,5; 5,0; dan 7,5%) untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan; dan analisis aktivitas antioksidan serta kandungan pigmen dalam biomassa. Penapisan awal menunjukkan bahwa POME 5% merupakan konsentrasi optimal, sedangkan konsentrasi lebih tinggi menghambat pertumbuhan akibat berkurangnya penetrasi cahaya. Pada budidaya lanjutan, mikroalga dalam POME 2,5% menunjukkan hasil sebanding dengan kontrol (Allen pH 2), sedangkan konsentrasi lebih tinggi menghambat pertumbuhan akibat penaungan dan toksisitas amonia. Produksi fikosianin per volume kultur tertinggi diamati pada mikroalga yang dibudidayakan dalam POME 2,5%, dengan hasil yang sebanding dengan media kontrol. Uji aktivitas antioksidan mengonfirmasi bahwa semua ekstrak fikosianin memiliki aktivitas antioksidan yang signifikan, dengan aktivitas tertinggi pada POME 7,5%. Kandungan karotenoid dan klorofil a dievaluasi dalam biomassa segar dan residu setelah ekstraksi. Karotenoid lebih melimpah dalam biomassa segar, sedangkan klorofil a lebih tinggi dalam residu biomassa. Penelitian ini menunjukkan bahwa G. sulphuraria 009 berpotensi sebagai sumber fikosianin yang layak dalam budidaya berbasis POME, serta memberikan wawasan mengenai pemanfaatan limbah industri dan pengembangan produk bioteknologi berkelanjutan
Prevalence of bacterial contamination on seafoods products collected from traditional fish market in Bali Province during 2023: Prevalensi kontaminasi bakteri pada produk hasil ikan laut yang dikumpulkan dari pasar ikan tradisional di Provinsi Bali selama tahun 2023
Seafood provides essential nutrients beneficial for human health; however, it is highly vulnerable to harmful bacterial infections that pose significant public health risks. This research seeks to assess the prevalence of five categories of seafood obtained from various traditional fish markets in Bali Province. A total of 108 tuna samples, 78 pelagic fish samples, 37 cephalopod samples, 14 sardine samples, and 53 demersal fish samples were collected from various traditional markets in Bali Province. This research evaluated the prevalence of E. coli, coliforms, Salmonella, V. cholerae, and V. parahaemolyticus. The study revealed that the highest prevalence of E. coli, coliform, and V. parahaemolyticus contamination in tuna samples was 95 (87%), 95 (87%), and 103 (95%), respectively. The study indicated that E. coli and coliforms were present in 73 of the 78 pelagic fish samples, representing 93% contamination. Sardine samples exhibited the lowest prevalence of bacteria. All seafood samples, however, tested negative for Salmonella and V. cholera. PCR products from E. coli and V. parahaemolyticus isolates were effectively amplified for the target genes utilized in this study. Local seafood markets should adopt appropriate handling and storage practices to enhance seafood quality. This study emphasizes the significant presence of E. coli, coliforms, and V. parahaemolyticus in seafood, along with the potential health risks posed by specific strains and their antibiotic resistance.Makanan laut merupakan sumber zat gizi penting yang menunjang kesehatan manusia, namun sangat rentan terhadap infeksi bakteri berbahaya yang menimbulkan masalah serius bagi kesehatan masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan prevalensi 5 kelompok makanan laut yang dikumpulkan dari pasar ikan tradisional di Provinsi Bali. Sampel makanan laut berupa 108 sampel ikan tuna, 78 sampel ikan pelagis, 37 sampel sefalopoda, 14 sampel ikan sarden dan 53 sampel ikan demersal dikumpulkan dari berbagai pasar tradisional di Provinsi Bali. Prevalensi (%) E. coli, coliform, Salmonella, V. cholerae, dan V. parahaemolyticus dinilai dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kontaminasi E. coli, coliform dan V. parahaemolyticus tertinggi ditemukan pada sampel ikan tuna masing-masing sebesar 95 (87%), 95 (87%), dan 103 (95%). Selanjutnya, pada sampel ikan pelagis, 73 dari 78 sampel (93%) ditemukan terkontaminasi E. coli dan coliform. Prevalensi bakteri terendah ditunjukkan pada sampel ikan sarden. Namun, Salmonella dan V. cholerae tidak terdeteksi (hasil negatif) pada semua sampel makanan laut tersebut. Produk PCR dari isolat E. coli dan V. parahaemolyticus beramplifikasi dengan baik pada gen target yang digunakan dalam penelitian ini. Upaya peningkatan kualitas makanan laut dapat dilakukan melalui praktik penanganan dan penyimpanan yang tepat dan harus diterapkan di pasar makanan laut lokal. Penelitian ini menyoroti prevalensi E. coli, coliform, dan V. parahaemolyticus yang meluas pada makanan laut serta potensi bahwa strain tertentu dan resistensinya terhadap antibiotik dapat mengancam kesehatan manusia
Pemanfaatan insang ikan tuna (Thunnus sp.) dan lemuru (Sardinella lemuru) sebagai bahan baku pengolahan keripik: Utilization of tuna (Thunnus sp.) and Bali sardinella (Sardinella lemuru) fish gills as raw materials for chips processing
Fish gills are low-value by-products of the fisheries industry; however, they are rich in nutrients and have the potential to be developed into value-added products, such as chips. However, as gills act as filters for chemical substances, including heavy metals, food safety is a critical concern. This study aimed to evaluate and compare the characteristics of tuna and Bali sardinella gills in fresh and frozen conditions as raw materials for chips in terms of proximate composition, heavy metal content, microbiological safety, and consumer acceptance. Four treatments were tested: fresh and frozen gills from both tuna and Bali sardinella (duplicates). Proximate analysis included moisture, ash, fat, and protein; heavy metals analysed were Hg, Pb, and Cd. Microbiological tests included total plate count (TPC), Escherichia coli, Salmonella sp., and Vibrio cholerae. Consumer acceptance was evaluated using a hedonic test based on sensory attributes. Raw gills contained 14.15–17.62% protein, 1.61–5.79% fat, 65.36–69.19% moisture, and 10.81–14.93% ash. After processing, the protein content decreased to 8.04–9.52%, whereas the fat content increased to 19.33–26.75%. Moisture and ash also declined to 4.12–4.67% and 4.66–6.19%, respectively. Fresh Bali sardinella gill chips had the highest fat content (26.75%), whereas frozen tuna gill chips had the highest protein content (9.52%). Heavy metal levels remained below the limits set by SNI 7387:2009, and all microbiological parameters complied with the food safety standards. Hedonic testing showed high consumer acceptance, with all products scoring above 8.00 overall, and the highest taste score (8.90) was recorded for frozen tuna gill chips.Insang merupakan hasil samping perikanan bernilai rendah namun kandungan gizi tinggi dan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah, yaitu keripik. Mengingat insang berfungsi sebagai penyaring zat kimia (logam berat), maka aspek keamanan pangan menjadi penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan membandingkan karakteristik insang ikan tuna dan lemuru dalam kondisi segar dan beku sebagai bahan baku keripik, berdasarkan kandungan proksimat, cemaran logam berat, mikrobiologi, dan tingkat penerimaan konsumen. Penelitian menggunakan empat perlakuan, yakni insang dari tuna segar, tuna beku, lemuru segar, dan lemuru beku (duplo). Analisis proksimat meliputi kadar abu, air, lemak dan protein. Analisis logam berat meliputi Hg, Pb dan Cd. Analisis mikrobiologi terdiri atas TPC, E. coli, Salmonella sp., dan V. cholerae. Tingkat penerimaan konsumen menggunakan uji hedonik dengan parameter ketampakan, aroma, rasa, tekstur, aftertaste dan keseluruhan. Hasil analisis menunjukkan bahwa insang ikan memiliki kadar protein 14,15–17,62%, lemak 1,61–5,79%, air 65,36–69,19%, dan abu 10,81–14,93%. Pengolahan insang menjadi keripik menghasilkan kadar protein 8,04–9,52%, kadar lemak 19,33–26,75%, kadar air 4,12–4,67%, dan kadar abu 4,66–6,19%. Keripik insang lemuru segar mengandung lemak tertinggi (26,75%) dan keripik tuna beku memiliki protein tertinggi (9,52%). Kandungan logam berat pada insang berada di bawah batas maksimum yang ditetapkan SNI 7387:2009, dengan kadar Hg 0,01 ppm, Pb 0,02–0,15 ppm, dan Cd 0,02–0,05 ppm. Kandungan mikrobiologi menunjukkan seluruh keripik insang aman dikonsumsi. Analisis hedonik oleh panelis terlatih menunjukkan keripik insang sangat disukai, dengan skor keseluruhan di atas 8,00 dan keripik insang tuna beku memperoleh skor rasa tertinggi (8,90)
Kandungan fitokimia dan aktivitas antibakteri ekstrak etanol biji buah nyirih (Xylocarpus granatum ): Phytochemical and antibacterial activity of ethanol extract from cannonball mangrove (Xylocarpus granatum) fruit seeds
Xylocarpus granatum (cannonball mangrove) is a mangrove species known as nyirih fruit in South Kalimantan. This study aims to determine the phytochemical content and antibacterial activity of the seeds from X. granatum fruit. The research stages included preparing cannonball mangrove fruit into powder, extracting the seed powder with ethanol, conducting phytochemical tests on the seed powder, preparing test bacteria, and testing the antibacterial properties of the ethanol extract from the cannonball mangrove seeds. The parameters tested were yield, proximate, phytochemical, and antibacterial tests against E. coli and S. aureus. The yield of cannonball mangrove fruit seeds was 21.17%, and the powder weight was 7.04%. Cannonball mangrove fruit seed powder contains 4.97% water content, 2.56% ash, 4.54% protein, 0.63% fat, and 2.5% crude fiber. Cannonball mangrove fruit seed powder contains saponins, alkaloids, flavonoids, tannins, triterpenoids, phenolics, steroids, and anthocyanins. The results of the antibacterial test showed that increasing the concentration of ethanol extract of cannonball mangrove fruit seed powder was inversely proportional to the total bacteria but directly proportional to the percent inhibition. Extracts of 20-90 µL showed total E. coli bacteria of log 9.32 CFU/g and log 1.18 CFU/g with percent inhibition of 5.93 and 88.05%. Extract concentrations of 1-15 µL against S. aureus bacteria showed total bacterial values of log 5.69 CFU/g and log 8.65 CFU/g with percent inhibition of 29.37 and 64.46. Antibacterial testing with the direct contact method showed the ability of ethanol extract of cannonball mangrove fruit seed powder to inhibit the growth of E. coli and S. aureus bacteria at low extract concentrations.Xylocarpus granatum adalah jenis mangrove yang dikenal dengan buah nyirih di Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan menentukan kandungan fitokimia dan aktivitas antibakteri biji buah X. granatum. Tahapan penelitian adalah preparasi buah nyirih menjadi bubuk buah nyirih, ekstraksi bubuk biji buah nyirih dengan pelarut etanol, uji fitokimia bubuk biji buah nyirih, preparasi bakteri uji, dan uji antibakteri ekstrak etanol biji buah nyirih. Parameter yang diuji, yaitu rendemen, proksimat, fitokimia, dan uji antibakteri terhadap E. coli dan S.aureus. Rendemen biji buah nyirih adalah 21,17% dan berat bubuk 7,04%. Bubuk biji buah nyirih mengandung kadar air 4,97%, abu 2,56%, protein 4,54 %, lemak 0,63%, dan serat kasar 2,5%. Bubuk biji buah nyirih mengandung senyawa saponin, alkaloid, flavonoid, tannin, triterpenoid, fenolik, steroid, dan antosianin. Hasil uji antibakteri menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak etanol bubuk biji buah nyirih berbanding terbalik dengan total bakteri akan tetapi berbanding lurus dengan persen penghambatan. Ekstrak 20–90 µL memperlihatkan total bakteri E. coli sebesar log 9,32 CFU/g dan log 1,18 CFU/g dengan persen penghambatan sebesar 5,93 dan 88,05%. Konsentrasi ekstrak 1–15 µL terhadap bakteri S. aureus memperlihatkan nilai total bakteri sebesar log 5,69 CFU/g dan log 8,65 CFU/g dengan persen penghambatan sebesar 29,37 dan 64,46. Pengujian antibakteri dengan metode kontak langsung menunjukkan kemampuan ekstrak etanol bubuk biji buah nyirih menghambat pertumbuhan bakteri E. coli dan S. aureus pada konsentrasi ekstrak yang rendah