14,761 research outputs found
PENGARUH PROBIOTIK PADA DIARE AKUT : PENELITIAN DENGAN 3 PREPARAT PROBIOTIK
ABSTRAK Latar belakang. Probiotik diketahui memiliki efek yang menguntungkan dalam pengobatan diare akut pada anak. Probiotik mempengaruhi frekuensi dan durasi diare dengan meningkatkan respon imun, produksi substansi antimikroba dan menghambat pertumbuhan kuman patogen penyebab diare. Probiotik dengan strain spesifik efektif menurunkan frekuensi dan durasi diare. Tujuan. Mengetahui efektifitas suplementasi probiotik tunggal maupun kombinasi pada anak dengan diare akut. Metode. Uji klinis acak tersamar buta ganda terhadap pasien diare akut usia 6-24 bulan dengan diare akut di RS Dr. Kariadi Semarang periode Juli 2010 - Februari 2011. Subyek dibagi dalam 3 kelompok perlakuan (L.reuteri; L.acidophilus dan LGG; L.acidophilus, S.faecium and B.longum) dan kontrol. Probiotik diberikan selama 5 hari. Setiap kelompok mendapat terapi standar berupa rehidrasi dan dietetik. Hasil. Dari 84 anak yang masuk dalam penelitian, rerata durasi diare lebih pendek pada kelompok L.reuteri (37,4 ± 14,4 jam) dan L.acidophilus-LGG (38,6 ± 19,6 jam) dibanding kelompok 3 strain probiotik dan kontrol. Didapatkan perbedaan yang bermakna pada penurunan durasi diare antar kelompok (p=0,002). Rerata frekuensi diare menurun pada kelompok L.reuteri (5,6 ± 2,9 kali) dan L.acidophilus-LGG (6,9 ± 8,4 kali) dibanding dengan kelompok 3 strain probiotik dan kontrol. Didapatkan perbedaan yang bermakna pada penurunan frekuensi diare antar kelompok (p=0,02). Kesimpulan. Probiotik L. reuteri dan L.acidophilus-LGG efektif menurunkan durasi dan frekuensi diare dan dapat digunakan sebagai terapi tambahan pada anak dengan diare akut. Kata kunci: probiotik, diare akut, durasi, frekuensi
Isolation and identification of lactic acid bacteria from abalone (Haliotis asinina) as a potential candidate of probiotic
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi, menyeleksi dan
mengkarakterisasi Bakteri Asam Laktat (BAL) dari induk abalon yang berpotensi sebagai kandidat probiotik pada sistem budidaya
abalon. Isolasi selektif BAL dilakukan menggunakan media de Man Rogosa Sharpe Agar. Isolat BAL yang berpotensi sebagai probiotik
diskrining. Pemilihan ini didasarkan atas kemampuannya dalam menekan pertumbuhan bakteri patogen, resistensi terhadap kondisi
asam, resistensi terhadap bile salt (empedu). Selanjutnya dilakukan karakterisasi dan identifikasi untuk mengetahui spesiesnya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa 2 di antara 10 isolat yang berhasil diisolasi dari abalon berpotensi untuk dikembangkan menjadi bakteri
probiotik karena mempunyai kemampuan menghambat beberapa bakteri patogen yaitu Eschericia coli, Bacillus cereus dan
Staphylococus aureus, mampu tumbuh pada kondisi asam dan toleran terhadap cairan empedu selama inkubasi 24 jam. Berdasarkan uji
API Kit, kedua isolat teridentifikasi sebagai anggota spesies Lactobacillus paracasei ssp. paracasei
PENGARUH PENAMBAHAN BAKTERI BERPOTENSI RNPROBIOTIK KE DALAM PAKAN UNTUK EFISIENSI DAN RNLAJU PERTUMBUHAN BENIH IKAN MAS (CYPRINUS CARPIO) RNLOKAL JANTHO
ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan bakteri berpotensi probiotik hasil isolasi dari saluran pencernaan ikan mas sebagai probiotik dalam pakan komersial untuk meningkatkan meningkatkan efisiensi pakan dan pertumbuhan benih ikan mas (Cyprinus carpio). Penelitian dilaksanakan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah perbedaan penambahan bakteriberpotensi probiotik yang terdiri dari perlakuan tanpa penambahan bakteri berpotensi probiotik, perlakuan dengan menambahkan bakteri berpotensi probiotik 1, bakteriberpotensi probiotik 2, dan bakteri berpotensi probiotik 3. Bakteri berpotensi probiotik yang ditambahkan sebanyak 16 ml/kg pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bakteri berpotensi probiotik hasil isolasi dari saluran pencernaan ikan mas ke dalam pakan komersial berpengaruh nyata (
Pengaruh Berbagai Minuman Probiotik Terhadap Hambatan Pertumbuhan Streptococcus mutan In Vitro
Latar Belakang :Karies gigi merupakan penyakit jaringan keras gigi yang diakibatkan oleh bakteri Streptococcus mutan dan merupakan salah satu masalah kesehatan rongga mulut yang banyak dijumpai di Negara berkembang. Probiotik merupakan sediaan sel mikroba hidup yang memiliki efek menguntungkan terhadap kesehatan dan kehidupan inangnya.Bakteri probiotik yang paling sering digunakan adalah asam laktat yang memproduksi bakteri Lactobacillus, Bifidobacterium dan Streptococcus.Probiotik dalam rongga mulut memberikan manfaat berupa mencegah pertumbuhan bakteri
berbahaya.Mekanisme antibakteri probiotik dalam rongga mulut berupa interaksi langsung dengan bakteri patogen, mencegah terjadinya adhesi bakteri patogen pada permukaan gigi, memodulasi lingkungan rongga mulut berupa penurunan pH saliva sehingga dapat mencegah pembentukan plak pada permukaan gigi. Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh dan perbedaan pengaruh berbagai minuman probiotik terhadap hambatan pertumbuhan Streptococcus mutan. Metode : Penelitian eksperimental murni laboratoris dengan metode post-test control group design. Sampel penelitian adalah Streptococcus mutan.Uji antibakteri probiotik dengan metode difusi sumuran. Daya antibakteri probiotik dilihat dari zona hambat yang terbentuk disekitar sumuran dan diukur dengan jangka sorong dengan ketelitian 0,01 mm. Hasil : Berbagai minuman probiotik berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutan dan terdapat perbedaan daya antibakteri antar kelompok perlakuan (Probiotik I, Probiotik II dan Probiotik III) dengan rerata diameter zona hambat pada masing-masing sumuran sebesar 6,66 mm, 4,82 mm dan 3,23 mm. Hasil uji One-Way ANOVA didapatkan nilai sig 0,000 (sig < 0,05) yang membuktikan bahwa minuman probiotik berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutan.
Kesimpulan : Berbagai minuman probiotik berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus mutan dan terdapat perbedaan daya antibakteri antara minuman probiotik I, II dan III dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutan
In Vitro Fermentation Characteristics and Rumen Microbial Population of Diet Supplemented with Saccharomyces Cerevisiae and Rumen Microbe Probiotics
The objective of this study was to select three strains of probiotic Saccharomyces cerevisiae and to evaluate the effect of S. cerevisiae and rumen bacteria isolate (MR4) supplementation and their combination on rumen fermentability and rumen microbial population. Experiment 1 was designed in a 4 x 5 factorial randomized block design with 3 replications. The first factor was S. cerevisiae strain consisted of control treatment (without S. cerevisiae supplementation), NBRC 10217, NRRL Y 567 and NRRL 12618, and the second factor was incubation time consisted of 0, 1, 2, 3, and 4 h. Ration was basal ration for feedlot with forage to concentrate ratio (F:C)= 60:40. Dosage of each treatment with S. cerevisiae was 5 x 1010 cfu/kg ration. Experiment 2 was designed in randomized block design with 4 treatments: P0= basal ration of feedlot; P1= P0 + S. cerevisiae; P2= P0 + MR4 isolate (5 x 107 cfu/kg ration); P3= P0 + S. cerevisiae and MR4 isolate. The result of experiment 1 showed that supplementation of S. cerevisiae NRRL 12618 had the highest S. cerevisiae population and increased rumen bacterial population. This strain was selected as probiotic in experiment 2. The result from experiment 2 showed that probiotic supplementation stabilized rumen pH and produced the highest NH3 concentration (P<0.05) and bacterial population (P<0.05). As compared with control, all treatments reduced protozoa population (P<0.05). Combination of S. cerevisiae and MR4 probiotics produced the highest total volatile fatty acids (VFA) and isovalerate (P<0.05). It was concluded that strain S. cerevisiae NRRL 12618 had potential as probiotic yeast. Supplementation with this strain increased fermentability, rumen isoacid and decreased A:P ratio. Those abilities could be improved with MR4 rumen isolate probiotic
EVALUASI PENGGUNAAN PROBIOTIK BAKTERI SELULOLITIK TERHADAP KECERNAAN SERAT KASAR DAN TOTAL DIGESTIBLE NUTRIENT PADA SAPI PFH JANTAN
Dwi Subakti, 2007. Evaluasi Penggunaan Probiotik Bakteri Selulolitik Terhadap Kecernaan Serat Kasar dan Total Digestible Nutrient Pada Sapi PFH Jantan.\ud
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus sampai dengan bulan Oktober 2006, bertempat di jalan Sebuku XXII Kelurahan Bunulrejo Kota Malang.\ud
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendapatkan informasi tentang pengaruh penggunaan probiotik bakteri selulolitik pada sapi PFH jantan terhadap kecernaan Serat Kasar (SK) dan Total Digestible Nutrient (TDN).\ud
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sapi PFH jantan sebanyak 12 ekor yang terbagi menjadi dua yaitu 6 tanpa pemberian probiotik bakteri selulolitik dan 6 dengan pemberian probiotik bakteri selulolitik. Probiotik bakteri selulolitik diberikan dua kali sehari yaitu pagi dan sore yang masing – masing pemberian sebanyak 10 ml.\ud
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode percobaan dan untuk membedakan pengaruh pemberian probiotik bakteri selulolitik diuji dengan menggunakan uji – t tak berpasangan. Hasil dari rataan kecernaan serat adalah sebesar 96.44 % tanpa pemberian probiotik dan 97.6 % dengan pemberian probiotik. Hasil rataan kecernaan total digestible nutrient tanpa pemberian probiotik adalah sebesar 23.41 % dan dengan pemberian probiotik adalah sebesar 31.67 %.\ud
Hasil analisis menunjukkan bahwa pemberian probiotik bakteri selulolitik pada sapi PFH jantan memberikan pengaruh nyata (P < 0,05) terhadap kecernaan serat kasar (SK) dan memberikan pengaruh yang sangat nyata (P < 0,01) terhadap kecernaan total digestible nutrient (TDN).\ud
Kesimpulan dari penelitian ini yaitu dengan pemberian probiotik bakteri selulolitik pada sapi PFH jantan dapat meningkatkan kecernaan serat kasar dan total digestible nutrient.\ud
Dari hasil penelitian ini disarankan agar para peternak menggunakan probiotik bakteri selulolitik karena ternak mampu meningkatkan kecernaan Serat Kasar (SK) dan Total Digestible Nutrient (TDN) dengan baik
Morfologi Usus Ayam Broiler yang Disuplementasi dengan Probiotik Strain Tunggal dan Campuran
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui morfologi usus ayam broiler yang disuplementasi probiotik strain tunggal dan probiotik campuran. Ransum ayam berbasis jagung, bungkil kedelai yang bebas antibiotika disusun sesuai dengan standar kebutuhan ayam broiler, digunakan sebagai pakan dasar pada perlakuan kontrol (Po). Untuk keempat kel- ompok perlakuan lainnya juga digunakan pakan dasar tersebut dengan suplementasi 3 strain probiotik berturut-turut Lactobacillus murinus, Ar3 (P1), Streptococcus thermophillus, Kp2 (P2), Pediococcus acidilactici, Kd6 (P3), dan probiotik campuran dari ketiga strain tersebut (P4) masing-masing dengan konsentrasi 108 sel bakteri/ml. Suplemen- tasi probiotik tersebut melalui tetes mulut 1 ml/ekor/hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi probiotik dengan strain tunggal maupun campuran meningkatkan tinggi vili pada duodenum, jejunum, dan ileum. Lebar vili pada duodenum, jejunum, dan ileum memiliki pola yang sama, dipengaruhi oleh suplementasi probiotik strain tunggal dan campuran. Tetapi kedalaman crypta jejunum secara statistik tidak berbeda nyata meskipun pada duodenum dan ileum berbeda secara signifikan (P<0,05)
Perbedaan Pengaruh Antara Probiotik A, B, Dan C Terhadap Daya Hambat Pertumbuhan Bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans (Kajian In Vitro)
Latar Belakang:Probiotik merupakan mikroorganisme hidup yang dapat memberikan efek menguntungkan bagi host jika diberikan dalam jumlah yang sesuai. Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa probiotik dapat mencegah timbulnya plak yang menjadi faktor predisposisi munculnya karies, penyakit periodontal serta halitosis. Penyakit periodontal merupakan salah satu penyakit rongga mulut yang paling sering dijumpai pada populasi orang dewasa. Salah satu bakteri patogen yang dapat menimbulkan penyakit periodontal adalah Aggregatibacter actinomycetemcomitans.
Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh antara probiotik A, B, dan C terhadap daya hambat pertumbuhan bakteriAggregatibacter actinomycetemcomitanssecara in vitro.
Metode: Pada penelitian ini digunakan tiga macam probiotik yang masing-masing memiliki kandungan bakteri yang berbeda. Probiotik A mengandung bakteri Lactobacillus Sp., Bifidobacterium, dan Staphylococcus thermophilus, probiotik B berisi Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus serta Lactobacillus casei pada probiotik C. Metode yang digunakan adalah metode difusi dengan jumlah sampel sebanyak 30 sampel untuk ketiga perlakuan dengan 9 kali replikasi. Pada setiap media dibuat sumuran dengan diameter 6 mm. Kemudian di dalamnya ditetesi dengan bahan uji sebanyak 0,5 μl pada setiap sumuran. Selanjutnya diinkubasi selama (1-2)x24 jam pada suhu 370 C.Pengaruh antara ketiga macam probiotik yang diteliti dalam menghambat bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitansdapat diketahui dengan cara membandingkan diameter zona hambatan yang terbentuk pada media MHA, kemudian diukur menggunakan jangka sorong dengan batas ketelitian 0,05 mm.
Hasil: Pada uji Anava satu jalur menunjukkan bahwa ketiga probiotik berpengaruh dalam menghambat pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitans(p<0,05). Uji LSDmenunjukkan perbedaan bermakna antara probiotik A dengan B dan A dengan C. Namun, antara probiotik B dengan C tidak menunjukkan perbedaan daya hambat yang signifikan. Perbedaan yang signifikan juga ditunjukkan antara kelompok perlakuan dengan kontrol. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah probiotik mampu menghambat pertumbuhan bakteri Aggregatibacter actinomycetemcomitansyang merupakan bakteri patogen jaringan periodontal, serta terdapat perbedaan pengaruh antara tiga macam probiotik yang digunakan dan probiotik A memiliki daya hambat paling besar dalam menghambat bakteri uji
- …
