23 research outputs found

    Developing Bus Rapid Transit’s Schedule using Max Load Method (Trans Metro Bandung Corridor 2 Case Study)

    Get PDF
    Congestion is one of problems that must be solved by the Government of Bandung City. One of the projects are improving the public transport sector. Trans Metro Bandung (TMB) is one of public transport at Bandung. People’s interest to use TMB is very low. This happens because TMB does not have a reliable bus schedule. The focus of this study is to build a TMB’s corridor 2 schedule with headway based on the current passenger condition. The headway is determined using the max load method. This study will compare the current headway target set by TMB with the headway based on the passenger arriving pattern. After that, the schedule which is made from the choosen headway will be simulated. This study shows that the current headway set by Trans Metro Bandung management is better. Simulation shows that schedule can reduce passenger average waiting time quite significant

    IDENTIFIKASI DAN SEGMENTASI KESADARAN LINGKUNGAN INDUSTRI KECIL DI BIDANG GARMEN DAN ALAS KAKI

    Get PDF
    Konsep eco-efficiency yaitu dengan proses produksi bersih (clean manufacturing), pengurangan penggunaan material, energi dan bahan beracun, dan upaya daur ulang dan penggunaan kembali komponen dan produk yang telah selesai digunakan perlu terus dikembangkan untuk mengurangi dampak lingkungan, termasuk untuk para pelaku UKM. Namun, tidak seluruh pelaku UKM memiliki kesadaran lingkungan untuk produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sejauh mana pelaku UKM memiliki kesadaran dan persepsi ramah lingkungan dan mempertimbangkan pola produksi yang ramah lingkungan serta untuk menilai dampak lingkungan produk UKM. Penelitian dilakukan untuk batik (kain batik) dan sepatu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan yang diperlukan para pelaku UKM dalam meningkatkan kesadaran lingkungannya belum diperoleh, baik dari pemerintah maupun pemasok. Ada tuntutan dari konsumen yang mendorong peningkatan kesadaran akan produksi ramah lingkungan, tapi barudari sebagian kecil konsumen mancanegara. Penelitian juga menunjukka belum terbangunnya sistem yang mendukung produksi ramah lingkungan. Hasil penilaian dampak lingkungan memberikan gambaran jumlah material dan energi yang digunakan serta sampah yang dihasilkan dari proses manufaktur. Untuk produk batik, penggunaan pewarna alami mengurangi jumlah penggunaan bahan kimia dalam proses pewarnaan dan peluruhan warna

    EVALUASI PERUBAHAN POLA KONSUMSI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL STAGES OF CHANGE: STUDI KASUS PENGURANGAN PENGGUNAAN KANTUNG PLASTIK BELANJA

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses perubahan perilaku konsumen untuk lebih ramah lingkungan. Perubahan perilaku yang diamati adalah perubahan dari penggunaan kantung plastik belanja ke penggunaan tas belanja yang dapat dipakai ulang. Evaluasi dilakukan untuk menilai upaya mahasiswa dalam mengurangi mengurangi sampah plastik. Model Stages of Changes dari Prochasca dan DiClemente (1983) digunakan untuk melihat apakah mahasiswa mengalami tahap-tahap perubahan sesuai dengan model tersebut. Penelitian dilakukan pada kelompok mahasiswa yang memilih secara sukarela untuk menggunakan tas belanja yang dapat dipakai ulang untuk menghindari penggunaan kantung plastik belanja. Sebelum terjadi perubahan perilaku, para mahasiswa mengisi kuesioner untuk menilai tingkat konsumsi mereka. Selama proses perubahan perilaku, dilakukan observasi, wawancara dan kuesioner akhir. Dari seluruh metode ini dilakukan analisis bagaimana perubahan perilaku terjadi termasuk nilai-nilai yang diterima dan diadopsi selama proses tersebut.Kata kunci: konsumsi ramah lingkungan, model stages of change, kantung plasti

    PENERAPAN CHOICE-BASED CONJOINT ANALYSIS DALAM PENENTUAN KOMBINASI ATRIBUT TERBAIK LAYANAN SELULER

    Get PDF
    Jumlah operator layanan seluler di Indonesia yang banyak menyebabkan tingkat persaingan sangat tinggi, dan mengarah ke perang tarif. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh operator telekomunikasi terbesar di Indonesia didapati bahwa ada 3 segmen di pasar layanan seluler, yaitu segmen Young-Savvy yang mementingkan harga murah, segmen Established-Premium yang mementingkan pelayanan dan tidak sensitif terhadap harga, dan segmen Rational-Breadwinner yang mementingkan atribut fungsional dari layanan seluler dan masih sensitif terhadap harga.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan atribut-atribut dan kombinasi atribut yang mempengaruhi kepuasan konsumen terhadap layanan seluler di segmen Young-Savvy. Segmen ini didominasi oleh palajar dan mahasiswa dengan pengeluaran per bulan di bawah Rp100 ribu. Metode yang digunakan dalam penentuan kombinasi atribut adalah Choice-Based Conjoint Analysis. Metode ini dipilih karena terdapat efek interaksi antar atribut yang disebabkan adanya atribut harga/tarif.Atribut-atribut yang mempengaruhi pilihan terhadap layanan seluler diperoleh melalui proses wawancara dan Focus-Group Discussion (FGD) terhadap responden terpilih yang memiliki pengalaman yang cukup ekstensif dalam menggunakan layanan seluler. Pengolahan data dilakukan dengan software Choice-Based Conjoint Analysis dari Sawtooth Software. Survey dilakukan secara online di mana penjangkauan responden dilakukan dengan penyebaran link melalui situs jejaring sosial dan mailing-list.Kombinasi atribut terbaik yang diperoleh adalah (1) operator: XL; (2) tarif telepon ke sesama: Rp150/min–Rp800/min; (3) tarif telepon ke operator lain: Rp900/min–Rp1400/min; (4) tarif sms ke semua operator: Rp100/sms; (5) promo gratis SMS sepanjang hari: setelah pemakaian 5 SMS/hari; (6) tarif paket data: Rp2/kb; (7) nomor kartu perdana cantik; (8) harga kartu perdana: Rp2000-Rp5000

    Evaluasi Peraturan Pembelian Energi Terbarukan Pada Desa Peternak Sapi untuk Meningkatkan Keamanan Energi di Ciater, Subang

    Get PDF
    Seiring dengan munculnya sumber-sumber energi terbarukan, antara lain biogas dan biomassa menyebabkan melimpahnya sumber penghasil tenaga listrik, sehingga PT PLN sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 4 Tahun 2012 perlu membeli lebih banyak kelebihan tenaga istrik. Kewajiban PT PLN (Persero) untuk membeli kelebihan tenaga listrik dari berbagai sumber mengakibatkan perlunya suatu evaluasi untuk menilai apakah kebijakan tersebut dapat diterapkan secara efektif. Desa Peternak Sapi Ciater sebagai salah satu sumber penghasil biogas harus mampu menghasilkan energi terbarukan untuk pemanfaatan bagi kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan penerangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi efektivitas regulasi untuk Desa Peternak Sapi Ciater. Kegiatan yang dilakukan difokuskan pada bagaimana regulasi dapat diimplementasikan secara teknis di desa dan seberapa efektif peraturan tersebut dapat diterapkan di masyarakat melalui dukungan pemerintah daerah. Beberapa peternak sapi di Desa Ciater, Subang telah memasang reaktor biogas (atau biodigester) dengan memanfaatkan kotoran sapi untuk sumber bahan bakar memasak. Para peternak juga telah menggunakan energi (dalam aplikasi terbatas) untuk sumber penerangan. Dari hasil survey, diketahui terdapat 194 orang peternak sapi perah. Namun, dari 194 orang peternak, hanya sekitar 95 orang yang menggunakan biodigester sebagai pengolah kotoran ternak. Banyaknya peternak yang belum mengaplikasikan teknologi biogas dikarenakan banyak faktor, antara lain biaya pembelian biodigester yang mahal dan kurangnya pemahaman mengenai biogas. Pengadaan instalasi biogas ini membutuhkan dana yang cukup besar. Para peternak harus menyediakan dana sekitar Rp 4.600.000,- hingga Rp 7.000.000,- untuk membangun 1 unit instalasi biogas dengan ukuran 4m3 – 6 m3. Kurangnya pemahaman para peternak disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan serta minimnya dukungan dari pihak pemerintah. Karakteristik peternak yang cocok untuk diberikan penyuluhan mengenai penggunaan biogas adalah peternak yang memiliki karakteristik jumlah anggota keluarga > 5 orang, jumlah sapi > 3 ekor, dan lama keanggotan KPSBU ≄ 5 tahun. Selain karakteristik peternak yang cocok untuk mengikuti program biogas ini, dilihat juga kelayakan pemasangan instalasi biogas dari aspek financial. Berdasarkan aspek finansial, program instalasi biogas in dianggap layak karena mampu mengurangi konsumsi atau pembelian sumber energi gas LPG untuk memasak dan sumber energi listrik PLN untuk penerangan. Selain pengurangan konsumsi sumber energi dari LPG dan PLN, instalasi biogas juga diharapkan mampu memberikan penghasilan tambahan bagi para peternak dengan penjualan pupuk kandang hasil pengolahan instalasi biogas. 

    Evaluasi Peraturan Pembelian Energi Terbarukan Pada Desa Peternak Sapi untuk Meningkatkan Keamanan Energi di Ciater, Subang

    Get PDF
    Seiring dengan munculnya sumber-sumber energi terbarukan, antara lain biogas dan biomassa menyebabkan melimpahnya sumber penghasil tenaga listrik, sehingga PT PLN sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM No. 4 Tahun 2012 perlu membeli lebih banyak kelebihan tenaga istrik. Kewajiban PT PLN (Persero) untuk membeli kelebihan tenaga listrik dari berbagai sumber mengakibatkan perlunya suatu evaluasi untuk menilai apakah kebijakan tersebut dapat diterapkan secara efektif. Desa Peternak Sapi Ciater sebagai salah satu sumber penghasil biogas harus mampu menghasilkan energi terbarukan untuk pemanfaatan bagi kebutuhan sehari-hari seperti memasak dan penerangan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi efektivitas regulasi untuk Desa Peternak Sapi Ciater. Kegiatan yang dilakukan difokuskan pada bagaimana regulasi dapat diimplementasikan secara teknis di desa dan seberapa efektif peraturan tersebut dapat diterapkan di masyarakat melalui dukungan pemerintah daerah. Beberapa peternak sapi di Desa Ciater, Subang telah memasang reaktor biogas (atau biodigester) dengan memanfaatkan kotoran sapi untuk sumber bahan bakar memasak. Para peternak juga telah menggunakan energi (dalam aplikasi terbatas) untuk sumber penerangan. Dari hasil survey, diketahui terdapat 194 orang peternak sapi perah. Namun, dari 194 orang peternak, hanya sekitar 95 orang yang menggunakan biodigester sebagai pengolah kotoran ternak. Banyaknya peternak yang belum mengaplikasikan teknologi biogas dikarenakan banyak faktor, antara lain biaya pembelian biodigester yang mahal dan kurangnya pemahaman mengenai biogas. Pengadaan instalasi biogas ini membutuhkan dana yang cukup besar. Para peternak harus menyediakan dana sekitar Rp 4.600.000,- hingga Rp 7.000.000,- untuk membangun 1 unit instalasi biogas dengan ukuran 4m3 – 6 m3. Kurangnya pemahaman para peternak disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan serta minimnya dukungan dari pihak pemerintah. Karakteristik peternak yang cocok untuk diberikan penyuluhan mengenai penggunaan biogas adalah peternak yang memiliki karakteristik jumlah anggota keluarga > 5 orang, jumlah sapi > 3 ekor, dan lama keanggotan KPSBU ≄ 5 tahun. Selain karakteristik peternak yang cocok untuk mengikuti program biogas ini, dilihat juga kelayakan pemasangan instalasi biogas dari aspek financial. Berdasarkan aspek finansial, program instalasi biogas in dianggap layak karena mampu mengurangi konsumsi atau pembelian sumber energi gas LPG untuk memasak dan sumber energi listrik PLN untuk penerangan. Selain pengurangan konsumsi sumber energi dari LPG dan PLN, instalasi biogas juga diharapkan mampu memberikan penghasilan tambahan bagi para peternak dengan penjualan pupuk kandang hasil pengolahan instalasi biogas. 

    Analisis Pertambahan Pasien COVID-19 di Indonesia Menggunakan Metode Rantai Markov

    Get PDF
    COVID-19 is a new disease that is affecting almost all of the world. Until now there has not been a single drug (vaccine) that can be used to cure it. Many attempts were made to prevent the spread of this disease but COVID-19 patients are increasing every day, although at the same time some are recovering. This study will calculate the probability of additional patients occurring over a long period of time, referred as a steady state state condition, using the Markov chain method. Nine states have been formed to represent the daily increase ranges of COVID-19 patients number. The calculation results show that the possibility of additional patient number between 1 to 91, 92 to 182, 182 to 272, 273 to 363, 364 to 454, 455 to 545, 546 to 636, 637 to 727, or greater than 728 people a day are 0.21197, 0.05644, 0.08408, 0.16337, 0.13999, 0.14512, 0.07189, 0.07695, and 0.05014, respectively

    Dataset of characteristic remanent magnetization and magnetic properties of early Pliocene sediments from IODP Site U1467 (Maldives platform)

    Get PDF
    This data article describes data of magnetic stratigraphy and anisotropy of isothermal remanent magnetization (AIRM) from "Magnetic properties of early Pliocene sediments from IODP Site U1467 (Maldives platform) reveal changes in the monsoon system" [1]. Acquisition of isothermal magnetization on pilot samples and anisotropy of isothermal remanent magnetization are reported as raw data; magnetostratigraphic data are reported as characteristic magnetization (ChRM).info:eu-repo/semantics/publishedVersio

    Carbonate delta drift: a new sediment drift type

    Get PDF
    Based on high-resolution reflection seismic and core data from IODP Expedition 359 we present a new channel-related drift type attached to a carbonate platform slope, which we termed delta drift. Like a river delta, it is comprised of several stacked lobes and connected to a point source. The delta drifts were deposited at the exit of two gateways that connect the Inner Sea of the Maldives carbonate platform with the open ocean. The channels served as conduits focusing and accelerating the water flow; Entrained material was deposited at their mouth where the flows relaxed. The lobe-shaped calcareous sediment drifts must have formed under persistent water through flow. Sediment supply was relatively high and continuous, resulting in an average sedimentation rate of 17 cm ka−1. The two delta drifts occupy 342 and 384 km2, respectively; with a depositional relief of approximately 500 m. They have a sigmoidal clinoform reflection pattern with a particular convex upward bending of the foresets. In the Maldives the drift onset marks the transition from a sea-level controlled to a progressively current dominated depositional regime. This major event occurred in the Serravallian about 13 Ma ago, leading to the partial drowning of the carbonate platform and the creation of shallow seaways. The initial bank-enclosed topography resembles an “empty bucket” geometry which is rapidly filled by the drift sediments that aggrade and prograde into the basin. Thereby the depositional environment of the delta drifts changes from deep water (>500) to shallow-water conditions at their topsets, indicated by the overall coarsening upward trend in grain size and the presence of shallow water large benthic foraminifers at their top

    Magnetic properties of early Pliocene sediments from IODP Site U1467 (Maldives platform) reveal changes in the monsoon system

    Get PDF
    We report a study of the magnetic stratigraphy and the anisotropy of isothermal remanent magnetization of Pliocene sediments from International Ocean Discovery Program (IODP) Site U1467 drilled in the Maldives platform (Indian Ocean) during Exp. 359. Magnetic stratigraphy gives a precise record of geomagnetic reversals of the early Pliocene from approximately 5.3 Ma to 3.1 Ma providing a detailed age model in an interval where the biostratigraphic record is scarce. We use the anisotropy of isothermal remanent magnetization (AIRM) to investigate the statistical orientation of fine magnetic particles and provide data on the strength and direction of bottom currents during the early Pliocene. The strength of bottom currents recorded by the AIRM, shows a prominent increase at the top of Chron C3n.1n (about 4.2 Ma), and the current direction (NE - SW) is consistent with that of modern instrumental measurements. Since bottom currents in the Maldives are driven by the monsoon, we speculate that the 4.2 Ma increase of bottom currents could mark the onset of the present-day setting, probably related to the coeval uplift phase of the Himalayan plateau
    corecore