Perspektif Ilmu Pendidikan
Not a member yet
345 research outputs found
Sort by
UPAYA PENGEMBANGAN SOFT SKILL SISWA SMA MELALUI PRAMUKA: EFFORT TO DEVELOP HIGH SCHOOL STUDENTS’ SOFT SKILLS THROUGH SCOUTING ACTIVITIES
Penelitian ini mengkaji upaya pengembangan soft skill siswa SMA melalui kegiatan pramuka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan teori fungsionalisme struktural dari Talcott Parsons dengan sistem AGIL, yaitu Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency sebagai dasar analisis data. Partisipan penelitian adalah 24 siswa dan 1 pembina pramuka di sebuah SMA Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pramuka dapat membantu mengembangkan soft skill siswa terutama kemampuan sosial dan kemampuan personal. Kemampuan sosial terdiri dari communication skill, relationship building, dan team work, sedangkan kemampuan personal terdiri dari time management, leadership skill, dan transforming character (percaya diri, tanggung jawab, mandiri, kreatif, cinta alam, dan berjiwa sosial). Kedua kemampuan soft skill dikembangkan melalui partisipasi siswa dalam kegiatan Pramuka dan keanggotaan siswa sebagai Dewan Ambalan Pramuka.This study examines efforts to develop soft skills for high school students through scouting activities. This research is a qualitative descriptive study that uses Talcott Parsons’ structural functionalism theory with the AGIL system, namely Adaptation, Goal Attainment, Integration, and Latency as the basis for data analysis. Research participants were 24 students and one scout coach in a public high school in Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that scouting activities could help develop students' soft skills, especially social skills and personal abilities. Social skills consist of communication skills, relationship building, and team work, while personal abilities consist of time management, leadership skills, and transforming character (self-confidence, responsibility, independence, creativity, love of nature, and social spirit). Both soft skill abilities are developed through student participation in scouting activities and student membership as Scouting Council.Penelitian ini mengkaji upaya pengembangan soft skill siswa SMA melalui kegiatan pramuka. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang menggunakan teori fungsionalisme struktural dari Talcott Parsons dengan sistem AGIL, yaitu Adaptation, Goal Attainment, Integration, dan Latency sebagai dasar analisis data. Partisipan penelitian adalah 24 siswa dan 1 pembina pramuka di sebuah SMA Negeri di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pramuka dapat membantu mengembangkan soft skill siswa terutama kemampuan sosial dan kemampuan personal. Kemampuan sosial terdiri dari communication skill, relationship building, dan team work, sedangkan kemampuan personal terdiri dari time management, leadership skill, dan transforming character (percaya diri, tanggung jawab, mandiri, kreatif, cinta alam, dan berjiwa sosial). Kedua kemampuan soft skill dikembangkan melalui partisipasi siswa dalam kegiatan Pramuka dan keanggotaan siswa sebagai Dewan Ambalan Pramuka.This study examines efforts to develop soft skills for high school students through scouting activities. This research is a qualitative descriptive study that uses Talcott Parsons’ structural functionalism theory with the AGIL system, namely Adaptation, Goal Attainment, Integration, and Latency as the basis for data analysis. Research participants were 24 students and one scout coach in a public high school in Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results showed that scouting activities could help develop students' soft skills, especially social skills and personal abilities. Social skills consist of communication skills, relationship building, and team work, while personal abilities consist of time management, leadership skills, and transforming character (self-confidence, responsibility, independence, creativity, love of nature, and social spirit). Both soft skill abilities are developed through student participation in scouting activities and student membership as Scouting Council
PELAKSANAAN PERKULIAHAN PENGAJARAN MIKRO DI PROGRAM STUDI PGSD: SEBUAH PENELITIAN EVALUASI: IMPLEMENTATION OF MICRO TEACHING LECTURES IN A PGSD STUDY PROGRAM: AN EVALUATION RESEARCH
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan pengajaran mikro di sebuah program studi PGSD di Nusa Tenggara. Penelitian ini adalah penelitian evaluasi program berdasarkan model Robert E. Stake terhadap tiga kelas pengajaran mikro yang dianalisis secara kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengajaran mikro di program studi PGSD yang menjadi subyek penelitian adalah a) pada komponen antecedent; persiapan pembelajaran sudah dilaksanakan dengan cukup baik yaitu dosen menyusun silabus dan instrumen penilaian tetapi belum menyusun RPP/RPS, sarana prasarana pembelajaran tersedia cukup lengkap tetapi laboratorium pembelajaran belum sesuai standar ketersediaan laboratorium micro teaching yang benar; b) pada komponen transactions pelaksanaan pembelajaran belum dilengkapi modul, namun pembelajaran dilaksanakan cukup baik dengan strategi pembelajaran teori dan praktik, menggunakan metode ceramah, diskusi, penugasan dan pembelajaran daring; c) pada komponen outcomes, hasil belajar dari rata-rata nilai adalah 77,18 dan sudah memenuhi KKM.This study aims to evaluate the implementation of micro teaching lectures in a PGSD study program in Nusa Tenggara. This research is a program evaluation study based on the Robert E. Stake model of three micro teaching classes which were analyzed qualitatively. The data collection techniques used were observation, documentation, and interviews. The results of this study indicate that the micro teaching in the PGSD study program which is the subject of research is a) on the antecedent component; learning preparation has been carried out quite well, namely lecturers compile syllabus and assessment instruments but have not compiled RPP/RPS, learning infrastructure is quite complete, but learning laboratories are not in accordance with the standards of the correct availability of micro teaching laboratories; b) in the transactions component, the implementation of learning is not equipped with modules, but learning is carried out quite well with theoretical and practical learning strategies, using lectures, discussions, assignments and online learning methods; c) in the outcomes component, the learning result from the average score is 77.18 and has met the KKM.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan perkuliahan pengajaran mikro di sebuah program studi PGSD di Nusa Tenggara. Penelitian ini adalah penelitian evaluasi program berdasarkan model Robert E. Stake terhadap tiga kelas pengajaran mikro yang dianalisis secara kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengajaran mikro di program studi PGSD yang menjadi subyek penelitian adalah a) pada komponen antecedent; persiapan pembelajaran sudah dilaksanakan dengan cukup baik yaitu dosen menyusun silabus dan instrumen penilaian tetapi belum menyusun RPP/RPS, sarana prasarana pembelajaran tersedia cukup lengkap tetapi laboratorium pembelajaran belum sesuai standar ketersediaan laboratorium micro teaching yang benar; b) pada komponen transactions pelaksanaan pembelajaran belum dilengkapi modul, namun pembelajaran dilaksanakan cukup baik dengan strategi pembelajaran teori dan praktik, menggunakan metode ceramah, diskusi, penugasan dan pembelajaran daring; c) pada komponen outcomes, hasil belajar dari rata-rata nilai adalah 77,18 dan sudah memenuhi KKM.This study aims to evaluate the implementation of micro teaching lectures in a PGSD study program in Nusa Tenggara. This research is a program evaluation study based on the Robert E. Stake model of three micro teaching classes which were analyzed qualitatively. The data collection techniques used were observation, documentation, and interviews. The results of this study indicate that the micro teaching in the PGSD study program which is the subject of research is a) on the antecedent component; learning preparation has been carried out quite well, namely lecturers compile syllabus and assessment instruments but have not compiled RPP/RPS, learning infrastructure is quite complete, but learning laboratories are not in accordance with the standards of the correct availability of micro teaching laboratories; b) in the transactions component, the implementation of learning is not equipped with modules, but learning is carried out quite well with theoretical and practical learning strategies, using lectures, discussions, assignments and online learning methods; c) in the outcomes component, the learning result from the average score is 77.18 and has met the KKM
ADAPTASI PEMBELAJARAN SOSIOLOGI SECARA BLENDED LEARNING DALAM MENGHADAPI MASA NEW NORMAL: BLENDING SOSIOLOGICAL LEARNING: ADAPTATION OF BLENDED LEARNING IN FACING THE NEW NORMAL ERA
Kondisi pandemi, yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia saat ini, mengakibatkan interaksi tatap muka di kelas antara guru dan peserta didik tidak mungkin untuk dilakukan. Oleh karena itu pembelajaran digital menjadi alternatif yang penting untuk mengganti tatap muka di kelas. Namun dalam realitas sesungguhnya, banyak persoalan ketidaksiapan yang ditemukan untuk melaksanakan pembelajaran digital baik terkait dengan sarana prasarana maupun peserta didik. Salah satu cara yang paling memungkinkan untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui adaptasi pembelajaran secara blended learning dalam menghadapi masa new normal terutama dalam pembelajaran sosiologi. Tujuan pokok penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi pembelajaran sosiologi secara blended learning dan kebijakan pendidikan Indonesia dalam mencegah Covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kajian literatur kepustakaan di mana peneliti menganalisis berbagai penelitian yang relevan dengan adaptasi pembelajaran sosiologi. Penyajian data dilakukan dengan teknik deskriptif yaitu menggambarkan adaptasi pembelajaran secara blended learning yang terjadi dalam menghadapi masa new normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi pembelajaran sosiologi secara blended learning dalam menghadapi masa new normal dilakukan dengan 3 mode (1) Dalam jaringan (daring) sosiologi, (2) Luar jaringan (luring) sosiologi dan (3) tatap muka, di daerah zona hijau berbasis protokol kesehatan.The pandemic condition, which is currently sweeping the world including Indonesia, makes face-to-face interactions in class between teachers and students impossible to do. Therefore, digital learning is an important alternative to replace face-to-face classrooms. But in reality, many unpreparedness issues are found to carry out digital learning both related to infrastructure and students. One of the most possible ways to overcome this is through the adaptation of blended learning in the face of the new normal, especially in sociology learning. The main objective of this study is to determine the adaptation of sociology learning by blended learning and Indonesian education policies in preventing Covid-19. The method used in this study is a literature review where the researcher analyzed various studies relevant to the adaptation of sociological learning. The presentation of the data is carried out using descriptive techniques, which describe the adaptation of blended learning that occures in the face of the new normal period. The results show that the adaptation of sociology learning by means of blended learning in the face of the new normal period was carried out in three modes (1) online sociology networks, (2) offline sociology and (3) face-to-face, in green zone based area obeying the health protocol.Kondisi pandemi, yang sedang melanda dunia termasuk Indonesia saat ini, mengakibatkan interaksi tatap muka di kelas antara guru dan peserta didik tidak mungkin untuk dilakukan. Oleh karena itu pembelajaran digital menjadi alternatif yang penting untuk mengganti tatap muka di kelas. Namun dalam realitas sesungguhnya, banyak persoalan ketidaksiapan yang ditemukan untuk melaksanakan pembelajaran digital baik terkait dengan sarana prasarana maupun peserta didik. Salah satu cara yang paling memungkinkan untuk mengatasi hal tersebut adalah melalui adaptasi pembelajaran secara blended learning dalam menghadapi masa new normal terutama dalam pembelajaran sosiologi. Tujuan pokok penelitian ini adalah untuk mengetahui adaptasi pembelajaran sosiologi secara blended learning dan kebijakan pendidikan Indonesia dalam mencegah Covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kajian literatur kepustakaan di mana peneliti menganalisis berbagai penelitian yang relevan dengan adaptasi pembelajaran sosiologi. Penyajian data dilakukan dengan teknik deskriptif yaitu menggambarkan adaptasi pembelajaran secara blended learning yang terjadi dalam menghadapi masa new normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adaptasi pembelajaran sosiologi secara blended learning dalam menghadapi masa new normal dilakukan dengan 3 mode (1) Dalam jaringan (daring) sosiologi, (2) Luar jaringan (luring) sosiologi dan (3) tatap muka, di daerah zona hijau berbasis protokol kesehatan.The pandemic condition, which is currently sweeping the world including Indonesia, makes face-to-face interactions in class between teachers and students impossible to do. Therefore, digital learning is an important alternative to replace face-to-face classrooms. But in reality, many unpreparedness issues are found to carry out digital learning both related to infrastructure and students. One of the most possible ways to overcome this is through the adaptation of blended learning in the face of the new normal, especially in sociology learning. The main objective of this study is to determine the adaptation of sociology learning by blended learning and Indonesian education policies in preventing Covid-19. The method used in this study is a literature review where the researcher analyzed various studies relevant to the adaptation of sociological learning. The presentation of the data is carried out using descriptive techniques, which describe the adaptation of blended learning that occures in the face of the new normal period. The results show that the adaptation of sociology learning by means of blended learning in the face of the new normal period was carried out in three modes (1) online sociology networks, (2) offline sociology and (3) face-to-face, in green zone based area obeying the health protocol
KEMANDIRIAN BELAJAR PESERTA DIDIK DALAM PEMBELAJARAN DARING PADA MASA PANDEMI COVID -19: SELF-REGULATED LEARNING OF STUDENTS STUDYING ONLINE DURING COVID-19 PANDEMIC
Kemandirian belajar penting bagi para peserta didik, terutama pada saat pembelajaran dilaksanakan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kemandirian belajar remaja yang melakukan pembelajaran daring. Metode kuantitatif dengan rancangan deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Sampel pada penelitian dipilih melalui teknik snowball yang melibatkan 579 responden terdiri dari siswa SMA dan SMK dan mahasiswa di Jakarta dengan rentang usia mulai dari 16 sampai dengan 21 tahun. Instrumen yang digunakan adalah kemandirian belajar pada mahasiswa yang dikonstruksi oleh Hidayati & Listyani (2010), yang memiliki 19 butir pernyataan. Reliabilitas instrumen ini adalah Alpha Cronbach 0,879. Hasil pengukuran terhadap kemandirian belajar menunjukkan bahwa responden memiliki kemandirian yang cenderung rendah (rerata = 2.78/St.Dev. 0.289 dalam skala 5) dan komponen yang terendah adalah tanggung jawab dan inisiatif belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa para pemelajar (siswa/mahasiswa) belum cukup siap untuk belajar secara daring, penyebabnya adalah karena kebiasaan belajar, dan teknologi yang kurang mendukung.Self-regulated learning is important for students, especially when learning is carried out online. This study aims to obtain a description of the self-regulated learning of students who carry out online learning. Quantitative method with descriptive research design was used in this research. The sample in this study was selected through the snowball technique involving 579 respondents consisting of secondary and vocational high school students as well as university students with age range between 16 and 21 years. The instrument used was self-regulated learning on students constructed by Hidayati & Listyani (2010) which has 19 statements. The reliability of this instrument is Cronbach Alpha 0.879. The results show that the respondents have low self-regulated learning ability (mean = 2.78 / St.Dev. 0.289 on a scale of 5) and the lowest components are learning responsibility and initiative. These results indicate that the learners are not quite ready to learn online caused by study habits and less supportive technology.Kemandirian belajar penting bagi para peserta didik, terutama pada saat pembelajaran dilaksanakan secara daring. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kemandirian belajar remaja yang melakukan pembelajaran daring. Metode kuantitatif dengan rancangan deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Sampel pada penelitian dipilih melalui teknik snowball yang melibatkan 579 responden terdiri dari siswa SMA dan SMK dan mahasiswa di Jakarta dengan rentang usia mulai dari 16 sampai dengan 21 tahun. Instrumen yang digunakan adalah kemandirian belajar pada mahasiswa yang dikonstruksi oleh Hidayati & Listyani (2010), yang memiliki 19 butir pernyataan. Reliabilitas instrumen ini adalah Alpha Cronbach 0,879. Hasil pengukuran terhadap kemandirian belajar menunjukkan bahwa responden memiliki kemandirian yang cenderung rendah (rerata = 2.78/St.Dev. 0.289 dalam skala 5) dan komponen yang terendah adalah tanggung jawab dan inisiatif belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa para pemelajar (siswa/mahasiswa) belum cukup siap untuk belajar secara daring, penyebabnya adalah karena kebiasaan belajar, dan teknologi yang kurang mendukung.Self-regulated learning is important for students, especially when learning is carried out online. This study aims to obtain a description of the self-regulated learning of students who carry out online learning. Quantitative method with descriptive research design was used in this research. The sample in this study was selected through the snowball technique involving 579 respondents consisting of secondary and vocational high school students as well as university students with age range between 16 and 21 years. The instrument used was self-regulated learning on students constructed by Hidayati & Listyani (2010) which has 19 statements. The reliability of this instrument is Cronbach Alpha 0.879. The results show that the respondents have low self-regulated learning ability (mean = 2.78 / St.Dev. 0.289 on a scale of 5) and the lowest components are learning responsibility and initiative. These results indicate that the learners are not quite ready to learn online caused by study habits and less supportive technology
PELAKSANAAN KEGIATAN EKSTRAKURIKULER DI SEKOLAH DASAR NEGERI KOTA TANGERANG: THE IMPLEMENTATION OF EXTRACURRICULAR ACTIVITIES IN THE PUBLIC ELEMENTARY SCHOOLS OF TANGERANG CITY
This study aims to evaluate the process of carrying out extracurricular activities in public elementary schools in the city of Tangerang. This study used a qualitative verification approach that was carried out in 8 schools. The results show that extracurricular activities at the school have been carried out very well especially for mandatory extracurricular activities. As for the non-mandatory extracurricular activities, the implementation varies greatly depending on the school's policies and pupils’ interest which is supported by the presence of extracurricular choices. The coaching of extracurricular activities is carried out by the vice principal in the fields of curriculum, student affairs, teachers and alumni.Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi proses pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dasar yang berada di Kota Tangerang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif verifikatif yang dilaksanakan di 8 sekolah dasar negeri. Dari hasil observasi yang dilakukan, kegiatan ekstrakurikuler di sekolah tersebut telah dilaksanakan dengan baik sekali terutama untuk kegiatan ekstrakurikuler wajib. Sedangkan untuk kegiatan ektrakurikuler pilihan dilakukan sangat bervariasi tergantung kebijakan sekolah dan sesuai peminatan siswa yang di dukung oleh adanya ekstrakurikuler pilihan. Pembinaan kegiatan ekstrakurikuler ini dilakukan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum, bidang kesiswaan, guru-guru dan alumni
HARGA DIRI MAHASISWA YANG TERLAMBAT MENYELESAIKAN STUDI: PRIDE OF STUDENTS WHO DELAYED THEIR STUDY
Mahasiswa yang mengalami keterlambatan penyelesaian studi umumnya mengalami masalah akademik. Kondisi ini berdampak terhadap harga diri yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat harga diri mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek. Harga diri adalah penilaian seseorang terhadap dirinya, dalam penelitian ini diukur menggunakan Roserberg self-esteem scale. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang, terdiri dari 49 mahasiswa perempuan dan 22 mahasiswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat harga diri pada mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek berada pada kategori sedang. Berdasarkan kondisi tersebut penting bagi mahasiswa untuk merencanakan kuliah dengan tepat sehingga bisa lulus tepat waktu, karena berdampak pada aspek psikologis, termasuk harga diri. Harga diri akan berdampak kepada keyakinan diri untuk melaksanakan sesuatu.Students who experience delays in completing their study generally experience academic problems which impacting their pride. This study aims to determine the level of pride of students living in the Jabodetabek area who are late in completing their study. Pride is a person's assessment of her/himself which in this research is measured using the Rosenberg self-esteem scale. The research method used is a quantitative descriptive study with 71 participants, consisting of 49 female students and 22 male students. The results showed that the level of self-esteem of students living in the Jabodetabek area who were late in completing their study was in the medium category. Based on these conditions, students are suggested to plan their study appropriately so that they can graduate on time. Unplanned study will impact psychologically, including self-esteem which will have domino effects on other psychological aspect such as self-confidence.Mahasiswa yang mengalami keterlambatan penyelesaian studi umumnya mengalami masalah akademik. Kondisi ini berdampak terhadap harga diri yang dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat harga diri mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek. Harga diri adalah penilaian seseorang terhadap dirinya, dalam penelitian ini diukur menggunakan Roserberg self-esteem scale. Metode penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang, terdiri dari 49 mahasiswa perempuan dan 22 mahasiswa laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat harga diri pada mahasiswa yang terlambat menyelesaikan studi di wilayah Jabodetabek berada pada kategori sedang. Berdasarkan kondisi tersebut penting bagi mahasiswa untuk merencanakan kuliah dengan tepat sehingga bisa lulus tepat waktu, karena berdampak pada aspek psikologis, termasuk harga diri. Harga diri akan berdampak kepada keyakinan diri untuk melaksanakan sesuatu.Students who experience delays in completing their study generally experience academic problems which impacting their pride. This study aims to determine the level of pride of students living in the Jabodetabek area who are late in completing their study. Pride is a person's assessment of her/himself which in this research is measured using the Rosenberg self-esteem scale. The research method used is a quantitative descriptive study with 71 participants, consisting of 49 female students and 22 male students. The results showed that the level of self-esteem of students living in the Jabodetabek area who were late in completing their study was in the medium category. Based on these conditions, students are suggested to plan their study appropriately so that they can graduate on time. Unplanned study will impact psychologically, including self-esteem which will have domino effects on other psychological aspect such as self-confidence
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE TERHADAP HASIL BELAJAR GEOGRAFI: THE INFLUENCE OF PICTURE AND PICTURE LEARNING MODELS ON GEOGRAPHIC LEARNING OUTCOMES
This research was conducted in social studies class X of a state high school in Ciamis Regency with the aim to determine the effect of using the type of picture and picture cooperative learning model on the improvement of student learning outcomes. The method used is quasi-experimental model with a pre-test post-test control group design. Data analysis was performed by calculating the value of t. The results showed that the use of the cooperative learning model type picture and picture gave a significant effect in learning outcomes of students' cognitive domains (tcount > ttable). It is necessary to use varied learning models so that students will be more active and have better acceptance of the material presented so that it contributes to improving learning outcomes and the achievement of the specified KKM.Penelitian ini dilakukan di kelas X IPS sebuah SMA Negeri di Kabupaten Ciamis dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan model pembelajaran kooperatif type picture and picture terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan model pre-test post-test control group design. Analisis data dilakukan dengan menghitung nilai t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe picture and picture memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar domain kognitif peserta didik (thitung > ttabel). Diperlukan penggunaan model pembelajaran yang lebih bervariasi lagi agar peserta didik lebih aktif dan memiliki penerimaan lebih baik terhadap materi yang disampaikan sehingga berkontribusi terhadap peningkatan hasil belajar dan pencapaian KKM yang ditetapkan
SUBKULTUR DAN FAKTOR-FAKTOR BIOGRAFIS MAHASISWA DALAM KEHIDUPAN DI PERGURUAN TINGGI: SUBCULTURE AND BIOGRAPHIC FACTORS OF STUDENT LIFE IN COLLEGE
This study aims to obtain a picture of the students subculture grouping tendency in viewing the tertiary institutions and value-oriented information service design about tertiary institutions. The method used was a survey of 2 batches in four study programs in a university in Pontianak, namely Guidance and Counseling studies, PG-PAUD, Mandarin Language Education and Sociology Education of FKIP. A total of 224 students from the four study programs of the 2018 and 2019 classes was participated in this study. The results showed that (1) biographically, students had subcultural tendencies starting from politics, then vocational, academic, non-conformist and collegial. (2) the overall student subculture is in the medium category, (3) there are differences in the student subculture between the two batches in viewing tertiary institutions, (4) ADDIE design as a value-oriented information service about tertiary institutions. This study recommends optimizing the role of the Academic Advisor, and (2) the FKIP guidance and counseling service unit and the center for guidance and counseling in carrying out student coaching activities.Penelitian ini bertujuan untuk memeroleh gambaran kecenderungan pengelompokan subkultur mahasiswa dalam memandang perguruan tinggi, dan desain layanan informasi orientasi nilai tentang perguruan tinggi. Metode yang digunakan adalah survei, di 2 angkatan pada empat program studi di Universitas Tanjung Pura Pontianak, yaitu studi Bimbingan dan Konseling, PG-PAUD, Pendidikan Bahasa Mandarin dan Pendidikan Sosiologi FKIP. Partisipan berjumlah 224 mahasiswa berasal dari keempat program studi dari angkatan 2018 dan 2019. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa (1) biografis mahasiswa mempunyai kecenderungan subkultur mulai dari politik, berikutnya vokasional, akademik, non-konformis dan kolegial. (2) subkultur mahasiswa secara keseluruhan berada pada kategori sedang, (3) ada perbedaan subkultur mahasiswa di antara dua angkatan dalam memandang perguruan tinggi, (4) desain ADDIE sebagai layanan informasi orientasi nilai tentang perguruan tinggi. Penelitian ini merekomendasikan untuk mengoptimalkan peran dosen Pembimbing Akademik, dan (2) Unit layanan bimbingan dan konseling FKIP maupun pusat bimbingan dan konseling dalam melaksanakan kegiatan pembinaan kemahasiswaan
DAMPAK NEGATIF ADIKSI PENGGUNAAN SMARTPHONE TERHADAP ASPEK-ASPEK AKADEMIK PERSONAL REMAJA
Technology development in today’s digital era expands the scope of electronic media, such as smartphone, to be more easily accessed by adolescents. A smartphone has indeed the main functions generally as a means of communication in distance barriers, and a means of information gathering through the Internet. In spite of this, the prevalence of smartphones among adolescents affects not merely in beneficial way to their academic experiences quality, but also could potentially give negative impacts. Therefore, this systemathic review collects the findings of both relevant quantitive and qualitative studies regarding the negative impacts of smartphone addiction on adolescent’s personal academic aspects. Selected studies were identified from two databases to be presented in qualitative metasummary. We selected 10 studies based on the selection criteria. From the assessment, results found that smartphone addiction among senior and junior high school students could raise some risks as follows: lower academic achievements, decreased academic engagement, increased academic institution disaffection, higher tendency of anxiety, and deeper depression symptoms. Other problematic behaviors that were observed in one of selected studies were: thought problems, attention problems, antisocial-action-related aggressiveness, difficulties in building positive self-identity, and greater problems relating to self-destruction. The most frequently discovered personal academic aspect as a negative impact mentioned by participants was the decrease of academic achievement. This consideration about negative impacts of smartphone addiction on personal academic aspects offers information for parents, teachers, and the professionals to construct the anticipations of academic-related disadvantages for adolescents (e.g., an educative socialization program about utilizing smartphone wisely).Perkembangan teknologi di era digital ini telah memperluas cakupan media elektronik smartphone sampai kepada kalangan remaja. Smartphone memiliki fungsi utama sebagai alat bantu komunikasi jarak jauh dan pencarian informasi melalui internet secara umum. Di luar itu, bagi remaja yang masih bersekolah ternyata kemunculan smartphone tidak hanya memberikan dampak positif bagi perkembangan kualitas capaian pendidikan mereka, tetapi juga berpotensi memberikan ragam dampak negatif. Dari itu, tinjauan sistematis ini mengumpulkan hasil studi ilmiah kuantitatif dan kualitatif mengenai dampak-dampak negatif adiksi smartphone terhadap aspek-aspek akademik personal remaja. Studi ini menggunakan pencarian dari dua database melalui penjelasan bentuk metasummary kualitatif. Sebanyak 10 studi terpilih berdasarkan kriteria seleksi. Hasil penelusuran studi-studi terpilih menunjukkan bahwa adiksi smartphone pada remaja sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dapat beresiko menurunkan prestasi akademik, menurunkan keterlibatan akademik, mendorong munculnya perasaan tidak puas pada sekolah, meningkatkan perasaan cemas, dan memunculkan gejala depresi. Masalah perilaku lainnya yang ditemukan melalui studi terpilih dari adiksi smartphone adalah kerentanan remaja pada beban pikiran berlebihan, pengaturan perhatian, agresivitas aksi antisosial, kesulitan membangun identitas diri positif, dan peningkatan potensi aksi merusak diri. Dari semua dampak tersebut, bagian aspek akademik personal remaja yang paling banyak ditemukan yaitu memburuknya prestasi akademik. Perhatian pada dampak negatif adiksi smartphone terhadap aspek akademik personal remaja dapat memberikan informasi bagi orangtua, guru, dan para profesional dalam menyusun antisipasi kerugian akademik bagi remaja, seperti dalam menyusun program sosialisasi untuk mengedukasikan penggunaan smartphone secara bijak
HUBUNGAN PENGEMBANGAN DIRI DENGAN LOYALITAS KINERJA GURU SEKOLAH DASAR: THE CORRELATION BETWEEN SELF-DEVELOPMENT AND THE LOYALTY OF ELEMENTARY SCHOOL TEACHER PERFORMANCE
This research aims to determine the correlation between self-development and teacher performance loyalty. This study was conducted in SDN 2 Margomulyo, OKU Timur with a total of 25 teachers. A cross-sectional design was used and implemented from April to August 2018. The data analysis technique used was nonparametric statistics. The results showed that there was no signifcant relationship between self-development with performance loyalty (0,877 > 0,05). Based on this result, implications and recommendations are discussed further.Penelitian ini bertujuan untuk menentukan hubungan antara pengembangan diri dan loyalitas kinerja guru. Penelitian ini dilaksanakan di SDN 2 Margomulyo, OKU Timur dengan subyek penelitian berjumlah 25 orang guru. Penelitian ini menggunakan dan mengimplementasikan desain cross sectional sejak April hingga Agustus 2018. Teknik analisis data menggunakan statistik non parametrik. Hasil menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifkan antara pengembangan diri dengan loyalitas kinerja (0,877 > 0,05). Berdasarkan hasil tersebut, implikasi dan saran dibahas lebih lanjut