167 research outputs found

    Keanekaragaman dan Peranan Serangga Akuatik sebagai Bioindikator di Sungai Lekopancing, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan: Diversity and Role of Aquatic Insects as Bioindicators in the Lekopancing River, Maros District, South Sulawesi

    No full text
    The Lekopancing River, located in Maros Regency, is a crucial source of clean water supply for the people of Makassar City and the surrounding wereas. This study aims to analyze the diversity and role of insects as bioindicators of water quality based on aquatic insect families. The study was conducted in the upstream, middle, and downstream parts of the Lekopancing River, using handpicking and kick sampling for data collection. The collected aquatic insect samples were then identified and analyzed using the diversity index Shannon-Wienner (H\u27) and Hilsenhoff Family Biotic Index (HFBI) methods, which were widely accepted in ecological research for assessing biodiversity and water quality. The number of aquatic insects found was 614 individuals, consisting of 13 species, 13 families, and 7 orders. The diversity index of aerial insects in the upstream and middle parts of the Lekopancing River was 1.26 and 1.72, while in the downstream part, it was 0.42. The HFBI value of 3.26 in the upstream section is still very good; in the middle section, the HFBI value of 4.84 is considered good; in the downstream section, the HFBI value of 7.00 indicates poor quality.Sungai Lekopancing yang terletak di Kabupaten Maros merupakan sumber pasokan air bersih yang sangat penting bagi masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman dan peranan serangga sebagai bioindikator kualitas air berdasarkan famili serangga akuatik. Penelitian dilakukan di bagian hulu, tengah, dan hilir Sungai Lekopancing dengan menggunakan teknik hand picking dan kick sampling untuk pengumpulan data. Sampel serangga air yang dikumpulkan kemudian diidentifikasi dan dianalisis menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wienner (H\u27) dan Hilsenhoff Family Biotic Index (HFBI), yang diterima secara luas dalam penelitian ekologi untuk menilai keanekaragaman hayati dan kualitas air. Jumlah serangga akuatik yang ditemukan sebanyak 614 individu, terdiri dari 13 spesies, 13 famili, dan 7 ordo. Indeks keanekaragaman serangga udara di bagian hulu dan tengah Sungai Lekopancing masing-masing sebesar 1,26 dan 1,72, sedangkan di bagian hilir sebesar 0,42. Nilai HFBI sebesar 3,26 pada bagian hulu masih sangat baik; pada bagian tengah nilai HFBI sebesar 4,84 tergolong baik; pada bagian hilir, nilai HFBI sebesar 7,00 menunjukkan kualitas yang buruk

    Pengaruh Hot Water Extraction terhadap Sudut Kontak Octomeles sumatrana dan Duabanga moluccana dan Kaitannya terhadap Zat Ekstraktif dan Struktur Anatomi Kayu: Effect of Hot Water Extraction on Contact Angle of Octomeles sumatrana and Duabanga moluccana Woods and Its Correlation to the Extractive Content and Anatomical Structure

    No full text
    Binuang bini (Octomeles sumatrana) and binuang laki (Duabanga moluccana) are fast growing species that have the potential to be developed as engineered wood products. However, previous studies have shown that both wood species have high contact angle values due to the extractive content and the high acidity. Therefore, this study aimed to examine the effect of hot water extraction (HWE) pretreatment to eliminate these limiting factors. The results proved that HWE pretreatment statistically significantly decreased the contact angle of binuang bini wood but not for binuang laki wood. HWE pretreatment resulted in a decrease in the levels of hot water-soluble extractive content and degradation of other wood chemical components. The different effectiveness of HWE pretreatment on binuang bini and binuang laki wood on improving the contact angle is influenced by differences in the quantity and quality of extractive substances as well as differences in the anatomical structure characteristics of these species.Binuang bini (Octomeles sumatrana) dan binuang laki (Duabanga moluccana) merupakan jenis cepat tumbuh dan tumbuhan pioneer yang berpotensi dikembangkan sebagai engineered wood products. Akan tetapi, penelitian sebelumnya membuktikan bahwa kedua jenis kayu tersebut memiliki nilai sudut kontak yang tinggi dan diduga disebabkan karena kandungan zat ekstraktif serta Tingkat keasaman kayu yang tinggi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian perlakuan pendahuluan hot water extraction (HWE) untuk mengeliminasi faktor penghalang tersebut. Hasil penelitian membuktikan bahwa secara statistik perlakuan pendahuluan HWE signifikan menurunkan sudut kontak kayu binuang bini tetapi tidak untuk kayu binuang laki. Perlakuan pendahuluan HWE berdampak pada penurunan kadar zat ekstraktif larut air panas dan degradasi komponen kimia kayu lainnya. Efektivitas perlakuan pendahuluan HWE yang berbeda pada kayu binuang bini dan binuang laki terhadap penurunan sudut kontak kayu dipengaruhi oleh perbedaan kuantitas dan kualitas zat ekstraktif serta perbedaan karakteristik struktur anatomi kedua jenis kayu tersebut

    Pendugaan Kesehatan Pohon di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat: Trees Health Assessment in Bogor Botanical Garden, West Java

    No full text
    Bogor Botanical Garden (BBG) is an ex-situ plant conservation area intended for conservation, research, education, tourism, and environmental services. As a tourist destination, BBG attracts many people every day. Human activities and unfavourable environmental conditions have caused damage to the existing collection. In 2021, 2022, and 2023, tree health monitoring was carried out using the Forest Health Monitoring method and repeated in 2024 by this research to assist the BBG management in ensuring the tree collections remain healthy and sustainable and provide a safe and comfortable environment for visitors. Seven clusters based on tree family dominance have been made for tree health monitoring. The monitoring includes the location, type, and severity of damage to individual trees in clusters 2, 3, 5, and 6. Some new damage types are found in the clusters. However, Damage Index values (DIV) in 2024 at clusters 2, 3, and 6 are categorized as healthy and DIV cluster 5 has changed to the light damage category. We observed that damages that have occurred are interdependent, where one damage can cause another damage. These findings suggest the importance of the BBG managers to provide immediate action on damaged trees to maintain the collections.Kebun Raya Bogor (KRB) merupakan kawasan konservasi tumbuhan ex-situ yang ditujukan untuk konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan. Sebagai tujuan wisata, KRB menarik banyak orang setiap harinya. Aktivitas manusia dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung menyebabkan kerusakan pada koleksi. Pada tahun 2021, 2022, dan 2023 dilakukan pemantauan kesehatan pohon dengan metode Forest Health Monitoring dan diulangi pada tahun 2024 dengan penelitian ini untuk membantu manajemen KRB dalam memastikan koleksi pohon tetap sehat dan lestari serta menyediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi pengunjung. Tujuh kluster berdasarkan dominasi famili pohon telah dibuat untuk pemantauan kesehatan pohon. Pemantauan meliputi lokasi, jenis, dan tingkat keparahan kerusakan pada masing-masing pohon di kluster 2, 3, 5, dan 6. Beberapa jenis kerusakan baru ditemukan. Namun, Nilai Indeks Kerusakan (NIK) pada tahun 2024 di kluster 2, 3, dan 6 masih dikategorikan sehat dan NIK kluster 5 berubah menjadi kategori kerusakan ringan. Kerusakan yang terjadi saling bergantung, dimana satu kerusakan dapat menyebabkan kerusakan lainnya. Hal ini menunjukkan pentingnya pengelola KRB untuk segera melakukan tindakan terhadap pohon-pohon yang mengalami kerusakan untuk mempertahankan koleksi

    Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengelolaan Madu Tikung di Desa Ensabang Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang: Local Knowledge in The Management of Tikung Honey in Ensabang Village, Sepauk Sub-District, Sintang District

    No full text
    Knowledge is essential for people to adapt to nature and becomes a cultural heritage in managing existing natural resources with knowledge, customary, and cultural norms in the community\u27s concept of thinking. Forest honey from Ensabang Village, Sepauk District, Sintang Regency, is honey produced by Apis dorsata bees, which is managed by the community using the Tikung technique, the management of which is based on the community\u27s local knowledge and customary rules. This research aims to examine forms of local knowledge in the management of Tikung honey. This research used interview techniques with all Tikung honey farmers, and the data was analyzed using qualitative descriptive analysis. The study results show that the management of Tikung honey is carried out individually. The Tikung is placed on the river bank and the ground, and the types of wood used to make Tikung are Tembesuk (Fagraea fragrans) and Kawi (Shorea balangeran). Harvesting forest honey is carried out at night, and packaging and marketing are carried out directly by honey farmers. The traditional rule is that people are prohibited from burning near nest trees, destroying and cutting down nest trees and food trees, and putting Tikung in other people\u27s trees and gardens. There are written sanctions and fines for those who steal and claim other people\u27s Tikung.Kearifan merupakan suatu hal yang penting untuk masyarakat beradaptasi dengan alam dan menjadi suatu warisan budaya dalam mengelola sumber daya alam yang ada dengan pengetahuan, norma adat dan budaya yang terkandung dalam konsep berfikir masyarakat itu sendiri. Madu hutan Desa Ensabang Kecamatan Sepauk Kabupaten Sintang merupakan madu yang dihasilkan oleh Lebah Apis dorsata yang dikelola oleh masyarakat dengan menggunakan teknik Tikung, yang dalam pengelolaannya berdasarkan pada pengetahuan lokal masyarakat dan aturan adat. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji bentuk-bentuk kearifan lokal masyarakat dalam pengelolaan madu Tikung. Penelitian ini menggunakan teknik wawancara kepada seluruh petani madu Tikung, dan dianalisis menggunakan analisis Deskriptif Kualitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengelolaan madu Tikung dilakukan secara individu, penempatan Tikung diletakkan di pinggir sungai dan di tanah, jenis kayu yang digunakan untuk membuat Tikung adalah Tembesuk (Fagraea fragrans), dan Kawi (Shorea balangeran). Proses pemanenan madu hutan dilakukan pada malam hari, serta pengemasan dan pemasaran yang dilakukan langsung oleh petani madu. Bentuk aturan adatnya adalah masyarakat dilarang untuk melakukan pembakaran didekat pohon sarang; merusak dan menebang pohon sarang maupun pohon pakan; dan meletakan Tikung dipohon dan dikebun milik orang lain. Terdapat sanksi tertulis dan denda bagi yang mencuri dan mengakui Tikung milik orang lain

    Pengingkatan Kerapatan Kayu Jabon Melalui Impregnasi Furfuril Alkohol dan Nano-SiO2: The Improvement of Jabon Wood Density Through The Furfuryl Alcohol and Nano-SiO2

    No full text
    Jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) is a fast-growing wood that is widely utilized by the society as a construction material and furniture making. This study aimed to increase the density of jabon wood through a vacuum pressure impregnation method. Furfuryl alcohol (FA) and nano-SiO2 with three concentrations (0.5%, 0.75%, dan 1%) were used as impregnation additives, with control and FA without nanoparticles as comparisons. Impregnation was initiated with a vacuum (0.5 bar) for an hour, followed by pressure (2.5 bar) for 2 hours. The significant results on the physical properties of jabon wood including weight percent gain (WPG), bulking effect (BE), and density showed the success of the modification treatment through the FA and nano-SiO2 impregnation process with various concentrations, which the wood density increased from 0.60 g/cm3 to 0.94 g/cm3. The composition of FA and 1% nano-SiO2 solution was the best treatment to obtain the highest density in modified jabon wood.Kayu jabon (Anthocephalus cadamba Miq.) merupakan kayu cepat tumbuh yang banyak diminati masyarakat untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi dan pembuatan furnitur. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kerapatan kayu jabon melalui metode impregnasi vakum tekan. Furfuril alkohol (FA) dan nano-SiO2 dengan tiga konsentrasi (0.5%, 0.75%, dan 1%) digunakan sebagai bahan impregnan, dengan kontrol dan perlakuan FA tanpa nanopartikel sebagai pembanding. Impregnasi dimulai dengan pemberian vakum (0.5 bar) selama 1 jam, dilanjutkan dengan tekan (2.5 bar) selama 2 jam. Hasil yang signifikan pada sifat fisis kayu jabon yang meliputi weight percent gain (WPG), bulking effect (BE), dan kerapatan menunjukkan keberhasilan perlakuan modifikasi melalui proses impregnasi FA dan nano-SiO2 dengan berbagai konsentrasi, yang mana kerapatan kayu meningkat dari 0.60 g/cm3 menjadi 0.94 g/cm3. Komposisi larutan FA dan nano-SiO2 1% menjadi perlakuan terbaik untuk mendapatkan nilai kerapatan tertinggi pada kayu jabon termodifikasi

    Keterbasahan Kayu Jati Cepat Tumbuh Termodifikasi Kimia dan Panas: Wettability of Chemically and Thermally Modified of Fast-Growing Teak Wood

    No full text
    Fast-growing species are chemically and thermally modified to improve quality. These changes affect wood’s chemical composition and surface characteristics. This study aims to analyze the durability of fast-growing teak wood that has been chemically and thermally modified. Chemical modification was carried out by impregnation using citric acid and polyethylene glycol (PEG) 400, while heat modification carried out at 150 °C. The wettability of wood was tested by measuring the contact angle with six types of liquid, aquades, toluene, glycerin, methanol, alkyd, and acrylic paint. The results showed that chemical modification treatment significantly improved the wettability of wood compared to control and heat treatment. Wood treated with citric acid and PEG 400 exhibits a lower contact angle, indicating increased liquid absorbency. Conversely, heat treatment increased the contact angle value making the wood more hydrophobic. Alkyd showed better wettability than acrylic paints, possibly due to their lower viscosity values. This suggests that chemical modification more effectively improves wood coating adhesion.Saat ini kayu fast growing species banyak dilakukan modifikasi secara kimia maupun panas untuk meningkatkan mutu kayu tersebut. Perlakuan modifikasi kimia maupun panas dapat mempengaruhi perubahan komposisi kimia terutama perubahan karakteristik permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterbasahan kayu jati cepat tumbuh yang telah dimodifikasi secara kimia dan panas. Modifikasi kimia dilakukan dengan impregnasi menggunakan asam sitrat dan polyethylene glycol (PEG) 400, sedangkan modifikasi panas dilakukan pada suhu 150 °C. Keterbasahan kayu diuji dengan mengukur sudut kontak dengan enam jenis cairan, yaitu akuades, toluena, gliserin, metanol, cat alkid, cat akrilik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan modifikasi kimia meningkatkan keterbasahan kayu secara signifikan dibandingkan kayu kontrol dan heat treatment. Kayu yang dimodifikasi dengan asam sitrat dan PEG 400 memiliki sudut kontak lebih rendah yang menunjukkan peningkatan daya serap terhadap cairan. Sebaliknya, heat treatment meningkatkan nilai sudut kontak sehingga kayu menjadi lebih hidrofobik. Cat alkid menunjukkan keterbasahan yang lebih baik dibandingkan cat akrilik, kemungkinan akibat nilai viskositasnya lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa modifikasi kimia lebih efektif dalam meningkatkan keterbasahan kayu jati cepat tumbuh dan dapat meningkatkan kualitas daya rekat bahan pelapis kayu

    Analisis Rantai Nilai dan Struktur Pasar Komoditi Getah Pinus di Hutan Kemasyarakatan Cempalagie Indonesia: Value Chain Analysis and Market Structure of Pine Sap Commodity in Community Forest Area Case in Indonesia

    No full text
    Community Forestry (HKm) is a scheme that aims to empower local communities and provide access to manage protected/production forest areas. The pine resin commodity is one of the sources of livelihood for the community in the Cempalagie HKm area by utilizing existing access. Value chain analysis is very important to find out the pine resin commodity business actors in the marketing chain from upstream to downstream, namely from raw materials to become a product through qualitative methods with a descriptive approach. The results of the value chain analysis will then show the market structure in the form of market type, number of sellers and buyers, product differentiation, entry barriers, cost structure and conglomeration formed in each chain. The number of respondents was selected as 30 households by census based on respondents who work as pine resin tappers. The results showed that pine resin commodity business actors consisted of tappers, intermediary traders and wholesalers or pine resin processing industries in which the flow of goods, information and money occurred and marketed pine resin and pine resin products in the form of gondorukem, turpentine, alpha pinene and delta carene to international markets, namely India, Vietnam and China.Hutan Kemasyarakatan (HKm) merupakan skema yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat lokal dan memberikan akses dalam mengelola kawasan hutan lindung/produksi. Komoditi getah pinus menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi masyarakat di dalam kawasan HKm Cempalagie dengan memanfaatkan akses yang ada. Analisis rantai nilai menjadi sangat penting untuk mengetahui pelaku usaha komoditi getah pinus yang ada di dalam rantai pemasaran dari hulu hingga ke hilir yaitu dari berbentuk bahan baku hingga menjadi sebuah produk melalui metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil analisis rantai nilai kemudian akan menunjukkan struktur pasar berupa tipe atau jenis pasar, jumlah penjual dan pembeli, diferensiasi produk, hambatan masuk, struktur biaya serta konglomerasi yang terbentuk di setiap rantai. Jumlah responden dipilih sebanyak 30 kepala keluarga secara sensus berdasarkan responden yang bekerja sebagai petani penyadap getah pinus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaku usaha komoditi getah pinus terdiri dari petani penyadap, pedagang pengumpul serta pedagang besar atau industri pengolahan getah pinus yang di dalamnya terjadi proses aliran barang, informasi, dan uang serta memasarkan getah pinus dan produk getah pinus berupa gondorukem, terpentin, alpha pinene dan delta carene sampai ke pasar internasional yaitu negara India, Vietnam dan Cina

    Karakteristik Papan Partikel Menggunakan Perekat Tanin Mahoni Dengan Ekstender Pati: Characteristics of Particle Board Using Mahogany Tannin Adhesive with Starch Extender

    No full text
    This study aimed to determine the characteristics of particleboard bonded using mahogany tannin adhesive plus starch extender. The particles used came from mangium wood, which was then bonded using mahogany tannin adhesive (TRF) with the addition of 2 concentrations of starch extender, 10% and 20%. The size of the particleboard produced was 25 cm x 25 cm x 1 cm (each in the dimensions of length, width, and thickness). Physical and mechanical property testing was carried out based on SNI 03-2105-2006. The results showed that the higher the concentration of starch extender addition to the TRF adhesive, the higher the internal bond value, as well as the thickness expansion of the resulting particleboard.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeterminasi karakteristik papan partikel yang direkat menggunakan perekat tanin mahoni ditambah ekstender pati. Partikel yang digunakan berasal dari kayu mangium yang kemudian direkat menggunakan perekat tanin mahoni (TRF) dengan tambahan 2 konsentrasi ekstender pati, 10% dan 20%. Ukuran papan partikel yang dihasilkan adalah 25 cm ´ 25 cm ´ 1 cm (masing-masing pada dimensi Panjang, lebar, dan tebalnya). Pengujian sifat fisis dan mekanis dilakukan berdasarkan SNI 03-2105-2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi konsentrasi penambahan ekstender pati pada perekat TRF meningkatkan nilai keteguhan rekat namun turut meningkatkan pengembangan tebal dari papan partikel yang dihasilkan

    Vitalitas Masyarakat Lokal Dalam Konservasi Budaya dan Lingkungan Menyongsong Pengembangan Bukit Ollon Sebagai Destinasi Wisata Unggulan Tana Toraja: The Vitality of Local Communities in Cultural and Environmental Conservation Leeps The Development Of Bukit Ollon as a Lead Tourist Destination in Tana Toraja

    Get PDF
    Bukit Ollon is located in Ollon, Bonggakaradeng District, Tana Toraja Regency. Toraja Tourism is known for its beautiful panorama, where the charm of the natural beauty of Bukit Ollon combined with the uniqueness of the local culture is a superior value for Ollon, so if estimated, it can provide high income for Tana Toraja tourism. Seeing these advantages, research was conducted related to the cultural vitality of the Ollon community and the community\u27s strategy to respond to the potential environmental degradation that will occur in Ollon and Bukit Ollon due to the increasing number of tourists who will come. The method applied is in-depth interviews and visual observations in the field while implementing strict health protocols. The results found that the current cultural vitality in Ollon is high. The level of degradation found in the Ollon environment is low. The Ollon community can survive with its unique culture, even though there are still cultural relics of ancestors such as Liang Saratu, which are still maintained and are still very rarely visited. With the opening of tourism doors in Ollon to become superior tourism, the whole community is ready to anticipate degradation.Bukit Ollon yang terletak di Dusun Ollon, Kecamatan Bonggakaradeng, Kabupaten Tana Toraja. Sebagaimana Pariwisata Toraja dikenal dengan panoramanya yang indah, dimana Pesona keindahan alam Bukit Ollon yang berpadu dengan keunikan budaya masyarakat setempat menjadi nilai unggul bagi Dusun Ollon, hingga jika taksir dapt memberikan pemasukan yang tinggi untuk pariwisata Tana toraja. Melihat keunggulan tersebut, dilakukan penelitian terkait vitalitas budaya dari masyarakat Dusun Ollon hingga strategi masyarakat menanggapi potensi degradasi lingkungan akan akan terjadi di Dusun Ollon maupun pada Bukit Ollon akibat meningkatkan wisatawan yang akan datang. Metode yang diterapkan yaitu metode in-depth interview serta hasil pengamatan visual yang ada dilapangan, dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat. Hasil penelitian menemukan bahwa vitalitas budaya yang ada di Dusun Ollon saat ini tergolong tinggi. Tingkat degradasi yang terdapat di lingkungan Dusun Ollon tergolong rendah. Masyarakat Ollon dapat bertahan dengan budayanya yang unik, bahkan fakta yang ditemukan masi terdapat peninggalan budaya nenek moyang seperti Liang Saratu’ yang tetap di jaga, dan masi sangat jarang di kunjungi. Dengan terbukanya pintu pariwisata di Dusun Ollon menjadi wisata unggulan, seluruh masyarakat sudah siap mengantisipasi terjadinya degradasi

    Rancang Bangun Mesin Press Serbuk Kayu Pembuatan Papan Partikel Sebagai Sarana Penunjang Kegiatan Praktikum: Design and Construction of a Wood Powder Press Machine For Making Particle Board as a Supporting Means For Practical Activities

    No full text
    This research activity studies the design of particle board press machines using iron plate materials and manual labor-based hydraulic presses. This research aims to produce a work tool that can facilitate the continuity of processing sawdust into particle boards so that practical activities can be carried out effectively and efficiently while still paying attention to the values determined in the practicum. The research method is carried out using the study of existing tools and will be made another tool with more straightforward work by analyzing the factors of weakness in existing tools. The working mechanism of the sawdust press machine to be made is manual, using human power, and the sawdust press machine is intended for practical student activities in the laboratory.Kegiatan penelitian ini merupakan kajian perancangan mesin press papan partikel dengan menggunakan material plat besi, dan press hidrolik berbasis tenaga kerja manual. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan suatu alat kerja yang mampu memperlancar kelancaran pengolahan dan pengolahan serbuk gergaji menjadi papan partikel sehingga kegiatan praktikum dapat terlaksana secara efektif dan efisien dengan tetap memperhatikan nilai-nilai yang telah ditentukan. dalam praktikum. Metode penelitian dilakukan dengan cara mempelajari alat-alat yang sudah ada dan akan dibuat alat lain yang cara kerjanya lebih sederhana dengan menganalisis faktor-faktor kelemahan alat yang sudah ada. Mekanisme kerja mesin press serbuk gergaji yang akan dibuat adalah manual dengan menggunakan tenaga manusia dan mesin press serbuk gergaji ini ditujukan untuk kegiatan praktek mahasiswa di laboratorium

    140

    full texts

    167

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    PERENNIAL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇