Sepuluh Nopember Institute of Technology

ITS Repository
Not a member yet
    46299 research outputs found

    Mitigasi Interferensi Virtual Small Cell Menggunakan Power Domain Non-Orthogonal Multiple Access

    No full text
    Dalam era digital, kebutuhan akan kapasitas data yang lebih tinggi dan layanan jaringan yang lebih baik terus meningkat, dengan proyeksi jumlah pelanggan 5G mencapai 5,3 miliar pada tahun 2029. Untuk menjawab tantangan berupa efisiensi spektrum dan interferensi dalam jaringan seluler yang padat, base station heterogen telah diperkenalkan untuk meningkatkan kapasitas melalui reuse frekuensi. Namun, pendekatan ini menimbulkan masalah baru, seperti interferensi intra-tier dan antar-tier, serta tingginya biaya infrastruktur dan operasional. Sebagai alternatif, Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA) menawarkan solusi efisien dengan memungkinkan beberapa pengguna berbagi sumber daya secara bersamaan melalui alokasi daya berbasis kanal. Teknologi ini menjadi lebih efektif ketika dikombinasikan dengan Virtual Small Cell (VSC) yang menggunakan beamforming berbasis phased array antennas untuk menekan biaya dan meningkatkan fleksibilitas. Penelitian ini menggunakan simulasi berbasis MATLAB untuk memodelkan distribusi pengguna, merancang kluster VSC, dan mengevaluasi performansi jaringan. Parameter seperti kapasitas total, throughput total, efisiensi spektrum, dan efisiensi energi diukur menggunakan pendekatan geometri stokastik. Hasilnya menunjukkan bahwa NOMA memberikan peningkatan signifikan dibandingkan OMA, dengan peningkatan kapasitas total dan efisiensi spektrum hingga 32%. Teknik Successive Interference Cancellation (SIC) dalam NOMA efektif dalam memitigasi interferensi antar pengguna, sementara beamforming VSC meningkatkan kualitas sinyal dengan memfokuskan daya pada area padat pengguna. Dengan kemampuan ini, NOMA yang didukung VSC menjadi teknologi yang menjanjikan untuk menghadapi tantangan jaringan masa depan, memberikan solusi efisien untuk kebutuhan kapasitas tinggi dan layanan yang optimal. ================================================================================================================================== In the digital era, the demand for higher data capacity and better network services continues to grow, with the number of 5G subscribers projected to reach 5.3 billion by 2029. To address challenges such as spectral efficiency and interference in increasingly dense cellular networks, heterogeneous base stations have been introduced to enhance capacity through frequency reuse. However, this approach introduces new challenges, including intra-tier and inter-tier interference as well as high infrastructure and operational costs. As an alternative, Non-Orthogonal Multiple Access (NOMA) offers an efficient solution by enabling multiple users to share resources simultaneously through channel-based power allocation. This technology becomes even more effective when combined with Virtual Small Cells (VSC) employing phased array antenna-based beamforming to reduce costs and enhance flexibility. This study utilizes MATLAB-based simulations to model user distribution, design VSC clusters, and evaluate network performance. Parameters such as total capacity, total throughput, spectral efficiency, and energy efficiency were measured using a stochastic geometry approach. The results demonstrate that NOMA significantly outperforms OMA, achieving up to a 32% increase in total capacity and spectral efficiency. The Successive Interference Cancellation (SIC) technique in NOMA effectively mitigates user-to-user interference, while VSC beamforming enhances signal quality by focusing power on high-density user areas. With these capabilities, NOMA supported by VSC emerges as a promising technology to tackle future network challenges, providing efficient solutions for high-capacity demands and optimal service delivery

    Desain Timbunan Jalan Tol dengan Mengantisipasi Secondary Compression Setelah Adanya Perkuatan PVD pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Probolinggo – Banyuwangi Paket 2 Sta 16+300 – Sta 16+700

    No full text
    Pada lokasi pembangunan jalan tol Probolinggo-banyuwangi paket 2 terdapat beberapa area yang tanah dasarnya merupakan tanah lunak, salah satunya pada sta 16+300 – sta 16+700. Pada sta ini terdapat tanah lunak dengan kedalaman mencapai 12 meter. Masalah yang muncul pada konstruksi diatas tanah lunak yaitu penurunan. Penurunan terjadi akibat tanah lempung mudah memampat. Pemampatan atau konsolidasi terjadi dalam waktu sangat lama. Hal ini tentu akan menyebabkan masalah pada masa pelaksanaan dan operasional jalan tol akibat penurunan yang terjadi. Konsolidasi terdiri dari konsolidasi primer dan pemampatan sekunder. Konsolidasi primer terjadi terlebih dahulu setelah itu diikuti pemampatan sekunder. Metoda yang dilakukan untuk mempercepat konsolidasi primer dan konsolidasi sekunder pada penelitian ini menggunakan PVD yang dikombinasikan dengan preloading. Studi ini dilakukan pada lokasi sta 16+300 –sta 16+700, dimana pada lokasi tersebut terdapat tanah compressible dengan kedalaman yang sama 12 m tetapi diatasnya terdapat timbunan dengan tinggi yang bervariasi, pada penelitian ini untuk variasi timbunan diambil pada ketinggian 4m, 6m, dan 8m. Setelah diketahui besarnya konsolidasi primer dan pemempatan sekunder yang terjadi pada tahun ke 2 sampai tahun ke 15 kemudian dilakukan pengecekan terhadap peraturan binamarga apakah tahun ke-2 dan ke-3 <2cm serta tahun ke-2 dan ke-12 <10cm dengan masa konstruksi 2 tahun dan pemeliharaan 1 tahun, pada tahun ke-5 dan ke-6 <2cm serta tahun ke-5 dan ke-15 <10cm dengan masa pelaksanaan 3 tahun dan pemeliharaan 2 tahun. Dari hasil tersebut diketahui ketinggian timbunan yang memerlukan preloading dan tidak. Untuk pengecekan lereng timbunan dilakukan perhitungan stabilitas terhadap variasi timbunan apakah stabilitas timbunan sudah sesuai yang di syaratkan, dan apabila tidak memenuhi dilakukan perkuatan dengan tambahan material geotextile. Sehingga pada setiap variasi timbunan diketahui jumlah geotextile yang dibutuhkan. Hasil dari penelitian ini diketahui pada tahun ke-2 dan ke-3, tahun ke-5 dan ke-6 serta tahun ke-5 dan ke-15 memenuhi persyaratan binamarga tetapi pada pada tahun ke-2 dan ke-12 tidak memenuhi persyaratan sehingga diperlukan preloading. Pada stabilitas timbunan diketahui nilai faktor keamanan pada semua variasi timbunan kurang dari yang disyaratkan sehingga dibutuhkan geotextile. Berdasarkan hasil tersebut penelitian ini dilakukan sebagai salah satu masukan untuk menentukan metode yang tepat dan waktu pelaksanaan yang cepat dalam pembangunan jalan Tol ini. ===================================================================================================================================== In the Probolinggo-Banyuwangi Toll Road construction project package 2, there are several areas where the subgrade consists of soft soil, one of which is at STA 16+300 – STA 16+700. In this section, soft soil with a depth of up to 12 meters is found. The primary issue in constructing on soft soil is settlement. Settlement occurs due to the high compressibility of clay, where consolidation takes an extended period. This condition may pose problems during both the construction and operational phases of the toll road due to ongoing settlement. Consolidation consists of primary consolidation and secondary compression. Primary consolidation occurs first, followed by secondary compression. The method used in this study to accelerate primary consolidation and secondary compression involves prefabricated vertical drains (PVD) combined with preloading. The study was conducted at STA 16+300 – STA 16+700, where compressible soil with a depth of 12 meters is present, but the embankment height varies. For this study, embankment heights of 4m, 6m, and 8m were analyzed. Once the magnitude of primary consolidation and secondary compression from year 2 to year 15 was determined, the results were evaluated based on the Binamarga standards. Specifically, the settlement requirements are as follows: during the 2nd and 3rd years, settlement must be less than 2 cm; during the 2nd and 12th years, it must be less than 10 cm with a construction period of 2 years and maintenance of 1 year; and during the 5th and 6th years, it must be less than 2 cm; while during the 5th and 15th years, it must be less than 10 cm with a construction period of 3 years and maintenance of 2 years. From these results, the required embankment heights for which preloading is necessary were identified. Slope stability analysis for the embankment was also conducted to determine whether the stability meets the required standards. If the stability requirements were not met, reinforcement using geotextile material was applied. Therefore, for each embankment variation, the necessary amount of geotextile was determined. The results of this study show that the settlement requirements of Binamarga were met during the 2nd and 3rd years, the 5th and 6th years, and the 5th and 15th years, but not during the 2nd and 12th years, indicating the need for preloading. Regarding embankment stability, the factor of safety for all embankment variations was found to be below the required standard, necessitating the use of geotextile reinforcement. Based on these results, this study serves as input for selecting the appropriate method and ensuring a faster implementation period for the toll road constructio

    Penilaian Risiko Operasi Pengangkatan Struktur Topside dengan Metode Fuzzy-Bayesian Inference

    No full text
    Menurut World Oil Outlook, permintaan minyak global diperkirakan akan meningkat dari 99,6 mb/d di tahun 2022 menjadi 116 mb/d di tahun 2045, dan akan terus meningkat hingga tahun 2035. Ini adalah peningkatan besar dalam permintaan minyak dan gas alam. Peningkatan ini berarti ada kebutuhan untuk lebih banyak anjungan lepas pantai dan semakin banyak proses lepas pantai, termasuk instalasi di bagian atas. Salah satu operasi yang umum dilakukan namun berisiko pada instalasi topside adalah operasi pengangkatan, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan cara-cara untuk menilai risiko operasi pengangkatan topside. Metode yang dibandingkan menggunakan Job Safety Analysis (JSA) dan kombinasi Bayesian Network (BN) dan Fuzzy Inference System (FIS). Teknik BN diterapkan untuk memodelkan interaksi antar aktivitas, sehingga memudahkan penghitungan probabilitas faktor kegagalan. Probabilitas ini kemudian berfungsi sebagai masukan untuk kerangka kerja FIS dalam model penilaian risiko, penggabungan pendekatan-pendekatan ini diimplementasikan untuk menghasilkan penilaian risiko yang lebih tepat dan dapat diandalkan. Sebagian besar risiko ditemukan dalam kategori Medium, tetapi BN-FIS menunjukkan peningkatan risiko ke kategori High pada beberapa tahap, dan metode BN-FIS dianggap lebih sensitif dalam mendeteksi kegagalan daripada JSA. Strategi mitigasi yang digunakan untuk mengurangi risiko termasuk pelaksanaan Toolbox Talks, inspeksi peralatan, penggunaan APD, penghentian operasi selama cuaca buruk, dan kepatuhan terhadap SOP. ================================================================================================================================= According to the World Oil Outlook, global demand for oil is expected to rise from 99.6 mb/d in 2022 to 116 mb/d in 2045, with a further increase expected by 2035. This is a big increase in demand for oil and natural gas. This increase means there is a need for more offshore platforms and a growing number of offshore processes, including topside installations. One of the common but risky operations in topside installations is lifting operations.This research aims to compare ways to assess the risks of topside lifting operations. The methods compared use a Job Safety Analysis (JSA) and a combination of a Bayesian Network (BN) and a Fuzzy Inference System (FIS). The BN technique is applied to model the interplay between activities, facilitating the calculation of failure factor probabilities. These probabilities subsequently serve as inputs to the FIS framework within the risk assessment model.The amalgamation of these approaches is implemented to generate a risk assessment that is both more precise and reliable.. Most risks were found to be in the medium category, but the BN-FIS showed an increase in risk to the high category at some stages.The BN-FIS method is considered more sensitive in detecting failures than JSA. Mitigation strategies employed to mitigate risk include the implementation of Toolbox Talks, equipment inspection, the use of PPE, cessation of operations during inclement weather, and strict adherence to SOPs

    Formasi Leader Follower dan Penghindaran Rintangan dengan Velocity Obstacle pada Mobile Robot Nonholonomic

    No full text
    Sistem multi-robot adalah sekelompok robot yang bekerja secara terkoordinasi untuk melaksanakan tugas-tugas kompleks dengan bantuan sistem komunikasi. Penelitian ini mengkaji pendekatan kontrol formasi multi-robot menggunakan metode leader-follower yang digabungkan dengan algoritma penghindaran hambatan berbasis velocityobstacle. Dalam hal ini digunakan dua strategi di mana strategi pertama multi-robot diizinkan untuk memecah formasi untuk melakukan penghindaran rintangan sedangkan untuk strategi kedua tetap menjaga formasi selagi melakukan penghindaran rintangan. Tiga konfigurasi hambatan, yaitu pada sudut 0°, -45°, dan -90° relatif terhadap jalur robot, diuji dalam simulasi pada setiap strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pertama memiliki waktu tempuh lebih cepat dengan rata-rata 30.5 detik dibandingkan strategi kedua yang membutuhkan rata-rata waktu 31.7 detik. Strategi pertama menunjukkan kelemahan pada error posisi yang lebih besar, dengan rata-rata 0.777 meter untuk robot 2 dan 0.600 meter untuk robot 3. Sebaliknya, strategi kedua menunjukkan keunggulan dalam menjaga formasi dengan error posisi yang lebih kecil, yaitu rata-rata 0.506 meter untuk robot 2 dan 0.488 meter untuk robot 3. Kedua strategi terbukti berhasil mencegah tabrakan di semua skenario, menunjukkan bahwa algoritma yang dihasilkan dapat melakukan penghindaran hambatan serta pembentukan formasi. ===================================================================================================================================== A multi-robot system is a group of robots that work in coordination to perform complex tasks with the assistance of a communication system. This study examines the approach to multi-robot formation control using the leader-follower method combined with an obstacle avoidance algorithm based on velocity obstacles. Two strategies were employed: in the first strategy, the multi-robot system was allowed to break formation to avoid obstacles, while in the second strategy, the formation was maintained during obstacle avoidance. Three obstacle configurations, at angles of 0°, -45°, and -90° relative to the robot's path, were tested in simulations for each strategy. The results showed that the first strategy had a faster completion time, averaging 30.5 seconds, compared to the second strategy, which required an average of 31.7 seconds. However, the first strategy exhibited greater positional errors, with an average of 0.777 meters for robot 2 and 0.600 meters for robot 3. In contrast, the second strategy demonstrated superiority in maintaining formation, with smaller positional errors averaging 0.506 meters for robot 2 and 0.488 meters for robot 3. Both strategies successfully avoided collisions in all tested scenarios, indicating that the proposed algorithm effectively handles obstacle avoidance and formation maintenance

    Penentuan Lokasi Dan Jumlah SPBU Hub Untuk Supply Point Pertashop Di Provinsi Lampung Menggunakan Metode Kombinasi : Clustering, Center Of Gravity, Mixed Integer Linear Programming

    No full text
    PT. Pertamina (Persero) mengembangkan perluasan jaringan lembaga penyalur yang dinamakan Pertashop (Pertamina Shop), yaitu suatu outlet penjualan BBM non subsidi yang bertujuan untuk melayani kebutuhan energi masyarakat pedesaan yang belum terlayani oleh SPBU. Unit bisnis PT. Pertamina (Persero) yang giat dan berhasil mengembangkan outlet Pertashop adalah Pertamina Regional Sumbagsel (Sumatra Bagian Selatan) dengan jumlah unit Pertashop terbanyak yaitu sebanyak 1.217 unit Pertashop. Dari sejumlah unit Pertashop tersebut, Integrated Terminal (IT) Panjang menjadi Terminal BBM yang paling banyak menyuplai unit Pertashop di wilayah Regional Sumbagsel yaitu sebanyak 382 unit Pertashop, dimana unit-unit tersebut berada di Provinsi Lampung. Semakin menggeliatnya bisnis Pertashop ternyata menimbulkan tantangan tersendiri dalam sisi pelayanan delivery BBM dari supply point (IT Panjang) ke unit Pertashop. Jarak, waktu tempuh, dan kondisi jalan menjadi aspek tantangan yang dialami. Frekuensi kejadian kritis stock BBM di unit Pertashop sering terjadi dan cenderung meningkat. Skema pelayanan delivery eksisting langsung dari supply point (IT Panjang) bukan opsi terbaik untuk menjaga continuity replenishment stock. Metodologi pemecahan masalah dalam penelitian ini adalah melalui penyediaan SPBU Hub sebagai supply point alternatif baru untuk unit Pertashop, dimana lokasi SPBU Hub ini cenderung lebih dekat dengan unit Pertashop. Untuk menentukan jumlah dan lokasi SPBU Hub digunakan metode kombinasi yaitu penggunaan metode cluster K-Means untuk menentukan jumlah SPBU Hub dan menggunakan metode center of gravity dan Mixed Integer Linear Programming (MILP) untuk menentukan SPBU reguler eksisting yang akan dijadikan SPBU Hub. Diperoleh 4 (empat) cluster wilayah untuk unit - unit Pertashop dengan jumlah SPBU Hub sebanyak 7 (tujuh) unit sebagai supply point untuk unit Pertashop tersebut. Dengan pola penerapan SPBU Hub sebagai supply point unit – unit Pertashop di Provinsi Lampung memiliki implikasi menurunkan cost ongkos angkut sebesar 31%. ================================================================================================================================== PT. Pertamina (Persero) is developing an expansion of the channeling agency network called Pertashop (Pertamina Shop), which is a non-subsidized fuel sales that aims to serve the energy needs of rural communities that have not been served by gas stations. Business units of PT. Pertamina (Persero) that is active and successful in developing Pertashop outlets is Pertamina Regional Sumbagsel (Southern Sumatra), the business unit with the largest amount of Pertashop units with amount of 1,217 Pertashop units. From that amount of Pertashop units, Integrated Terminal (IT) Panjang is the Fuel Terminal that supplies the most Pertashop units in Regional Sumbagsel with amount of 382 Pertashop units, these units located in Lampung Province. The increasing number of trend Pertashop business, it turns out develop challenges in terms of fuel delivery services from supply point (Integrated Terminal Panjang) to Pertashop units. Distances, travel times, and road conditions are some aspects of the challenges experienced. The frequency of critical stock events in Pertashop units often occurs and tend to increase. The existing delivery service scheme which is direct deliver from Integrated Terminal Panjang to Pertashop units is not the best option to maintain the continuity replenishment of stock. The methodology of problem solving in this study is through providing gas stations hub as a new alternative supply point for Pertashop unit, where the location of this gas station hub tends to be closer to Pertashop unit. To determine the number and location of gas stations hub, researcher used combination methods. Cluster K-Means method to determine the number of gas stations hub then using center of gravity method and Mixed Integer Linear Programming (MILP) to determine existing regular gas station as a gas stations hub. Four regional clusters were obtained for Pertashop units with a total of 7 (seven) Gas Station Hub as supply points for Pertashop units. Implementing Gas Station Hub as a supply point for Pertashop units in Lampung Province has implication in reducing transportation cost to 31%

    Desain Antena Untuk Transfer Radiatif Pada Sistem Wireless Power Transfer

    No full text
    Peningkatan penggunaan WSN sangat banyak seiring dengan pesatnya perkembangan IoT yang banyak digunakan di berbagai bidang. Namun, perangkat-perangkat WSN sering kali digunakan di lingkungan yang berbahaya atau lingkungan yang sulit terjangkau oleh manusia. Sehingga proses penggantian baterai pada wireless sensor yang memiliki daya terbatas menjadi sulit dan tidak nyaman. Oleh karena itu, memberi daya pada perangkat WSN dengan cara yang andal, dapat dikontrol, ramah pengguna, dan hemat biaya menjadi masalah yang menantang. Untuk mengatasi masalah ini, salah satu teknologi yang menjanjikan adalah Radio frequency energy harvesting (RFEH) dan pengisian berkala melalui Wireless power transfer (WPT). WPT dan RFEH memanfaatkan sumber daya Radio Frequency (RF) sebagai solusi pengisian daya. Rectenna merupakan antena yang mendukung sistem WPT dan RFEH. Rectenna dapat mengubah RF menjadi arus DC. Penelitian fokus pada desain antena untuk sistem WPT dan RFEH. Antena pemancar yang dirancang dengan elemen 4 x 4 mampu bekerja dengan baik pada frekuensi 2,3490 – 2,5639 GHz dengan maksimum gain 10,43 dB dan membentuk beamwidth selebar 25,8°. Antena pemancar yang dirancang dengan elemen 4 x 4 coaxial feeding mampu bekerja dengan baik pada frekuensi 2,368 – 2,5265 GHz dengan maksimum gain 11,70 dB dan membentuk beamwidth selebar 25,8°. Antena penerima yang dirancang mampu bekerja dengan bandwidth yang lebar 2,61 GHz dari frekuensi 1,78 – 4,39 GHz dengan maksimum gain 4,23 dB dan membentuk beamwidth yang lebar 249,3° serta polarisasi melingkar RHCP. Rectifier yang dirancang semakin banyak diode yang digunakan maka kelipatan penguatan semakin banyak. ================================================================================================================================== The increase in the use of WSN is very much in line with the rapid development of IoT which is widely used in various fields. However, WSN devices are often used in hazardous or hard-to-reach environments. So, the process of replacing the battery on a wireless sensor that has limited power becomes difficult and inconvenient. Therefore, powering WSN devices in a reliable, controllable, user-friendly and cost-effective manner becomes a challenging matter. To solve this problem, one promising technology is Radio frequency energy harvesting (RFEH) and periodic charging via Wireless power transfer (WPT). WPT and RFEH utilize Radio frequency (RF) resources as a charging solution. Rectenna is an antenna that supports WPT and RFEH systems. Rectenna can convert RF into DC current. The research focuses on antenna design for WPT and RFEH systems. The transmitter antenna designed with 4 x 4 elements is able to work well at a frequency of 2.3490 - 2.5639 GHz with a maximum gain of 10.43 dB and forms a beamwidth of 25.8°. The transmitter antenna designed with 4 x 4 coaxial feeding elements is able to work well at a frequency of 2.368 - 2.5265 GHz with a maximum gain of 11.70 dB and forms a beamwidth of 25.8°. The receiver antenna designed is able to work with a bandwidth of 2.61 GHz from a frequency of 1.78 - 4.39 GHz with a maximum gain of 4.23 dB and forms a beamwidth of 249.3° and circular polarization RHCP. The designed rectifier has more diodes used, the more multiples of the gain

    Perbandingan Peramalan Biaya Klaim Asuransi Kesehatan Menggunakan Metode ARIMA dan LSTM pada Data Aktual dan Data Simulasi

    No full text
    Asuransi merupakan sebuah bentuk perjanjian antara penanggung yakni perusahaan asuransi dan tertanggung yakni pemegang polis. Di Indonesia, kesadaran dalam menggunakan asuransi terutama asuransi kesehatan mulai meningkat setelah terjadi badai COVID-19. Masyarakat mulai sadar bahwa dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk mendapatkan pengobatan sehingga muncul dorongan untuk memberikan perlindungan lebih pada diri maupun keluarga. Nominal risiko yang ditanggung oleh perusahaan reasuransi tentu tidak sedikit, untuk memastikan proses bisnis dapat terus berjalan, peran aktuaris sangat dibutuhkan untuk memitigasi risiko-risiko yang akan terjadi. Untuk memastikan bahwa jumlah klaim yang akan ditanggung perusahaan reasuransi dari perusahaan asuransi masih berada di batas yang aman, peramalan jumlah klaim yang akan muncul di periode-periode berikutnya menjadi hal yang sangat penting. Praktik penelitian terdahulu, telah membuktikan bahwa metode ARIMA dan LSTM dikatakan unggul dalam melakukan peramalan maupun prediksi. ARIMA dinilai cocok untuk jenis data linear dan memberikan akurasi tinggi untuk peramalan dalam jangka waktu pendek sementara LSTM mampu menangkap faktor-faktor non-linear yang diabaikan oleh metode ARIMA. Data yang digunakan dalam penelitian ini merupakan data aktual klaim asuransi kesehatan selama 7 tahun serta data simulasi hasil bangkitan yang dibuat berdasarkan karateristik data asli. Penelitian menunjukkan bahwa model LSTM mampu memberikan performa yang lebih baik dibandingkan metode ARIMA, LSTM menghasilkan MAPE sebesar 99,23% untuk data asli dan sebesar 96,27% untuk data simulasi. Selain MAPE yang lebih baik, nilai prediksi dan peramalan yang dihasilkan oleh LSTM juga lebih unggul karena mampu menangkap pola-pola naik turun dari dataset jauh lebih baik dibandingkan ARIMA. ================================================================================================================================== Insurance is a form of agreement between the insurer, namely the insurance company and the insured, namely the policy holder. In Indonesia, awareness of using insurance, especially health insurance, began to increase after the COVID-19 storm. People began to realize that it takes a very large amount of money to get treatment so that there is an urge to provide more protection for themselves and their families. The nominal risk borne by reinsurance companies is certainly not small, to ensure the business process can continue to run, the role of actuaries is needed to mitigate the risks that will occur. To ensure that the number of claims to be borne by reinsurance companies from insurance companies is still within safe limits, forecasting the number of claims that will arise in the following periods is very important. Previous research practices have proven that the ARIMA and LSTM methods are said to be superior in forecasting and prediction. ARIMA is considered suitable for linear data types and provides high accuracy for forecasting in the short term while LSTM is able to capture non-linear factors that are ignored by the ARIMA method. The data used in this study are actual health insurance claims data for 7 years as well as simulated data generated based on the characteristics of the original data. The research shows that the LSTM model is able to provide better performance than the ARIMA method, LSTM produces a MAPE of 99,23% for the original data and 96,27% for the simulated data. In addition to better MAPE, the prediction and forecasting values generated by LSTM are also superior because they are able to capture the up and down patterns of the dataset much better than ARIMA

    Smart Charging For Storage Batteries In A Smart Grid System

    No full text
    Smart charging merupakan solusi adaptif untuk mengatasi tantangan impor energi dalam sistem smart grid. Sistem ini dirancang dengan fitur IoT untuk mempermudah pengawasan dan pengendalian impor daya secara real-time. Sistem juga dilengkapi dengan kontrol Fuzzy Lookup yang bertugas mengatur impor daya sesuai set point yang ditentukan pengguna, memastikan efisiensi dan stabilitas sistem. Komponen utama yang digunakan meliputi Huawei R4850G5, ESP32, SMPS 5V 2A, MCP2515, ANT BMS, dan baterai LiFePO4. Melalui komunikasi MQTT, set point daya diinput oleh pengguna menggunakan Node-RED. Nilai ini diolah oleh ESP32 dengan algoritma Fuzzy Lookup, yang menyesuaikan tegangan output Huawei R4850G5 berdasarkan pembacaan arus baterai. Dari eksperimen dengan 11 variasi set point, ditemukan bahwa nilai daya aktual memiliki error sebesar 0,09%, sementara error pembacaan arus adalah 0,13%. Respon sistem menunjukkan waktu rise time sekitar 3 detik, namun terjadi fenomena osilasi pada set point 190 watt akibat delay sinkronisasi antara tegangan keluaran dan arus baterai. Nilai settling time tercatat sekitar 3 detik. Sebagai perbandingan, metode counting dengan set point 250 watt menunjukkan waktu rise time 15 detik dan mencapai steady state setelah 28 detik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem ini efektif dalam memantau dan mengontrol impor daya pada smart grid. Dengan integrasi fitur IoT dan kontrol Fuzzy Lookup, sistem ini terbukti menjadi solusi yang handal dan adaptif untuk mendukung efisiensi energi pada smart grid. ================================================================================================================================== Smart charging is an adaptive solution to address the challenges of energy import in smart grid systems. This system is designed with IoT (Internet of Things) features to facilitate realtime monitoring and control of power imports. It is also equipped with a Fuzzy Lookup control mechanism, which regulates power imports according to user-defined set points, ensuring system efficiency and stability. The main components used include the Huawei R4850G5, ESP32, SMPS 5V 2A, MCP2515, ANT BMS, and LiFePO4 batteries. Through MQTT communication, the power set point is input by users via Node-RED. This value is processed by the ESP32 using a Fuzzy Lookup algorithm, which adjusts the output voltage of the Huawei R4850G5 based on battery current readings. From experiments with 11 variations of set points, the actual power value showed an error of 0.09%, while the current reading error was 0.13%. The system response exhibited a rise time of approximately 3 seconds; however, oscillations occurred at the 190-watt set point due to synchronization delays between output voltage and battery current. The settling time was recorded at around 3 seconds. For comparison, a counting method with a 250-watt set point showed a rise time of 15 seconds and reached a steady state after 28 seconds. The study's results demonstrate that this system effectively monitors and controls power imports in smart grids. With the integration of IoT features and Fuzzy Lookup control, the system has proven to be a reliable and adaptive solution for supporting energy efficiency in smart grids

    Perancangan Desain Antarmuka Webapp STORM (System of Tax Operational and Reimbursement Monitoring) dan LHKPN PT PHE

    No full text
    Kerja Praktik ini bertujuan untuk merancang desain antarmuka dua web aplikasi, yaitu STORM (System of Tax Operational and Reimbursement Monitoring) dan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) di PT PHE. STORM dikembangkan sebagai sistem pelaporan pajak dan reimbursement yang sesuai dengan kebutuhan Subholding Upstream (SHU), sedangkan LHKPN merupakan re-engineering aplikasi untuk melaporkan harta kekayaan. Perancangan menggunakan metode User-Centered Design (UCD) dengan penerapan Application Development Standard (ADS) untuk memastikan desain yang konsisten dan efisien. Pengujian dilakukan melalui A/B Testing untuk menilai keefektifan fitur dan memastikan desain memenuhi kebutuhan pengguna dengan latar belakang teknologi yang beragam. Desain antarmuka yang dihasilkan diharapkan mampu meningkatkan efisiensi operasional dan kenyamanan pengguna

    Optimasi Portofolio Saham IDX30 Dengan Metode K-Means Dan Markowitz Serta Evaluasi Risiko Menggunakan Value At Risk Backtesting

    No full text
    Investasi merupakan suatu komitmen untuk mengembangkan kekayaan pribadi melalui pertumbuhan nilai aset dari waktu ke waktu. Sejak tahun 2020 hingga 2024 pertumbuhan minat masyarakat Indonesia untuk berinvestasi melonjak hingga mencapai 228,52%. Peningkatan minat investasi tersebut ternyata berbanding terbalik dengan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2022, yang menunjukkan adanya penurunan pada persentase indeks literasi keuangan berdasarkan sektor jasa keuangan pasar modal. Penurunan indeks literasi keuangan tersebut terjadi sebesar 0,81% , dimana pada tahun 2019 yaitu sebesar 4,92% menjadi 4,11% pada tahun 2022. Data tersebut menunjukkan bahwa, masih banyak masyarakat Indonesia yang memerlukan informasi mengenai investasi dan keuangan agar dapat membuat keputusan investasi yang bijak. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dilakukan penelitian optimalisasi pembentukan portofolio menggunakan metode K-Means dan Markowitz dengan pengukuran Value At Risk Backtesting. Metode Markowitz akan menekankan pada usaha untuk meminimumkan risiko pada tingkat ekspektasi return tertentu, sehingga investor dapat mencapai tujuan investasi dengan efektif. Selanjutnya, saham yang akan digunakan merupakan saham-saham pada IDX30, karena merupakan indeks saham dengan perusahaan berlikuiditas tinggi, kapitalisasi pasar besar dan memiliki fundamental yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan portofolio optimal dengan perhitungan risiko yang lebih akurat, dan gambaran pengembalian yang lebih menyeluruh. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan portofolio optimal model Markowitz dengan nilai expected return sebesar 16% dengan tingkat risiko sebesar 32,827% per tahun, dimana proporsi masing-masing saham yaitu sebesar 8,444% saham AKRA, 6,135% saham AMRT, 39,900% saham BBCA, 17,385% saham BMRI, 11,410% saham BBNI, 14,448% saham ICBP, dan 2,278% saham MEDC. Kerugian maksimum portofolio optimal sebesar -1,628% lebih rendah dibandingkan saham tunggal serta terbukti valid atau akurat. ================================================================================================================================== Investment is a commitment to growing personal wealth through the appreciation of asset value over time. From 2020 to 2024, the interest of Indonesians in investing surged by 228.52%. However, this increase in investment interest contrasts with the results of the 2022 National Survey on Financial Literacy and Inclusion (SNLIK), which revealed a decline in the financial literacy index percentage in the capital market financial services sector. The literacy index dropped by 0.81%, from 4.92% in 2019 to 4.11% in 2022. This data indicates that many Indonesians still require more information on investment and finance to make wise investment decisions. In response to this issue, research was conducted to optimize portfolio formation using the K-Means and Markowitz methods with Value at Risk Backtesting measurements. The Markowitz method focuses on minimizing risk at a specific expected return level, enabling investors to effectively achieve their investment goals. The stocks analyzed are from the IDX30 index, comprising highly liquid companies with large market capitalizations and strong fundamentals. This study aims to generate an optimal portfolio with a more accurate risk calculation and a comprehensive return outlook. Based on the analysis, the optimal Markowitz model portfolio achieved an expected return of 16% with an annual risk level of 32.827%. The proportion of each stock in the portfolio is as follows: 8.444% in AKRA, 6.135% in AMRT, 39.900% in BBCA, 17.385% in BMRI, 11.410% in BBNI, 14.448% in ICBP, and 2.278% in MEDC. The maximum loss for the optimal portfolio was -1.628%, lower than any individual stock and proven valid and accurate

    25,211

    full texts

    46,308

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    ITS Repository is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇