STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta
Not a member yet
    3772 research outputs found

    HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN\ud LAMA RAWAT INAP PASIEN SKIZOFRENIA \ud DI RSJ GRHASIA D.I.YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang: Lama hari rawat selain menunjukkan tingkat efisiensi pengelolaan\ud rumah sakit, juga menunjukan efektifitas rumah sakit dari aspek mutu asuhan\ud (quality of care) yang dilakukan oleh tenaga professional yang bekerja di rumah\ud sakit. Dukungan keluarga memegang komponen penting dalam menunjang kesehatan\ud jiwa seseorang dan tentunya hal ini mempengaruhi lama perawatan pasien\ud skizofrenia.\ud Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga\ud dengan lama rawat inap pasien skizofrenia di RSJ Grhasia DIY.\ud Metode: Penelitian ini menggunakan desain survey analitik dengan pendekatan cross\ud sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien skizofrenia di poli klinik RSJ\ud Grhasia dengan kriteria berusia 20-65 tahun, pernah dirawat inap dalam 1 tahun\ud terakhir di RSJ Grhasia DIY, sampel berjumlah 95 orang. Teknik sampling yang\ud digunakan adalah Purposive Sampling.\ud Hasil: Hasil penelitian memperlihatkan ada hubungan antara dukungan keluarga\ud dengan lama rawat inap pasien skizofrenia di RSJ Grhasia DIY. Analisis Kendall\ud Tau menunjukkan tingkat keeratan yang tinggi yang ditunjukkan dari nilai p\ud (Value)= 0,000 (<0,05) dengan tingkat keeratan hubungan kedua variabel\ud ditunjukkan pada nilai koefisien korelasi= 0,639.\ud Simpulan dan Saran: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan lama rawat\ud inap pasien skizofrenia di RSJ Grhasia DIYdengan tingkat keeratan\ud tinggi.Tingkatkan keterlibatan keluarga dalam proses perawatan pasien selama di\ud rumah sakit maupun setelah pasien menjalani perawatan di rumah

    EFEK SEGERA PEMBERIAN KINESIO TAPING PADA INSTABILITAS FUNGSIONAL PERGELANGAN KAKI\ud ATLET BASKET LAKI-LAKI

    No full text
    Pendahuluan : cidera pergelangan kaki sering terjadi pada atlet basket, yang menyebabkan terjadi instabilitas\ud fungsional pergelangan kaki. Untuk menurunkan instabilitas fungsional pergelangan kaki diberikan kinesio taping,\ud namun hingga saat ini efek-segera pemberian kinesio taping pada instabilitas fungsional pergelangan kaki belum\ud pernah dijelaskan. Tujuan : Menjelaskan efek segera pemberian kinesio taping pada instabilitas fungsional\ud pergelangan kaki atlet basket laki-laki. Metode : Penelitian ini bersifat quasi eksperimen. Sampel terdiri dari 15 orang\ud dipilih dengan teknik consecutive sampling. Sampel dikelompokkan menjadi satu kelompok, kelompok perlakuan\ud pemberian kinesio taping terdiri dari 15 orang. Pengukuran instabilitas fungsional pergelangan kaki menggunakan\ud star excursion balance test. Hasil: Hasil penilaian instabilitas fungsional pergelangan kaki sebelum perlakuan (pre\ud test) diperoleh pada kelompok perlakuan dengan arah gerakan pada SEBT antero lateral 69,533 ± 6,379 cm, antero\ud medial 68,733 ± 5,245 cm, posterior 67,133 ± 5,792 cm, kemudian 20 menit setelah pemberian kinesio taping (post\ud test) diperoleh pada kelompok perlakuan dengan arah gerakan pada SEBT antero lateral 72,066 ± 6,158 cm, antero\ud medial 71,333 ± 5,259 cm, posterior 69,600 ± 5,435 cm. Hasil uji normalitas dengan menggunakan Shapiro Wilk\ud Test didapatkan data berdistribusi normal. Hasil uji hipotesis pada kelompok pemberian kinesio taping dengan uji\ud paired t-test didapatkan p-value 0,000 yang berarti pemberian kinesio taping dapat mengurangi instabilitas fungsional\ud pergelangan kaki. Kesimpulan: Pemberian kinesio taping mengurangi instabilitas fungsional pergelangan kaki atlet\ud basket laki-laki secara segera

    PERBEDAAN PENGARUH KOMBINASI BABY SPA\ud DAN PLAY THERAPY DENGAN BABY GYM DAN\ud PLAY THERAPY TERHADAP DURASI TIDUR\ud PADA BAYI DI KLINIK SRIKANDI YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang :Apabila bayi mengalami kurang tidur maka akan mengalami\ud penurunan kekebalan tubuh, gangguan pertumbuhan, perkembangan fisik dan\ud mempunyai dampak terhadap tumbuh kembang otak bayi, terutama kemampuan\ud berfikirnya ketika dewasa. Hal ini dikarenakan sebagian besar hormon bekerja ketika\ud dalam keadaan tidur. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan\ud pengaruh kombinasi baby spa dan play therapy dengan baby gym dan play therapy\ud terhadap durasi tidur pada bayi. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah\ud penelitian quasi eksperimental dengan membandingkan pre test dan post test 2\ud kelompok .Jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 10 bayi berusia 3-12 Hasil :\ud Hasil pengujian hipotesis menggunakan paired sample t-test pada kelompok baby\ud spa dan play therapy di dapatkan nilai (p<0,05) p= 0,001 yang berarti terdapat\ud pengaruh pemberian baby spa dan play therapy terhadap durasi tidur pada bayi\ud sedangkan pada kelompok baby gym dan play therapy di dapatkan hasil (p<0,05) p=\ud 0,003 yang berarti terdapat pengaruh pemberian baby gym dan play therapy terhadap\ud durasi tidur pada bayi. Dari hasil uji beda menggunakan independent sample t-test\ud didapatkan hasil (p<0,05) p= 0,022 yang berarti terdapat perbedaan pengaruh\ud pemberian baby spa dan play therapy dengan baby gym dan play therapy terhadap\ud durasi tidur pada bayi. Kesimpulan : Ada perbedaan pengaruh kombinasi baby spa\ud dan play therapy dengan baby gym dan play therapy terhadap durasi tidur pada bayi\ud dimana baby spa dan play therapy lebih efektif dalam meningkatkan durasi tidur\ud pada bayi. Saran : Penelitian selanjutnya di harapkan dapat melakukan penelitian\ud mengenai faktor-faktor yang dapat mempengaruhi durasi tidur pada bayi (berat\ud badan, tingkat kebisingan, lingkungan, kesehatan bayi )

    PENGARUH DIABETES SELF MANAGEMENT EDUCATION AND\ud SUPPORT (DSME/S) TERHADAP STRES PADA PENDERITA \ud DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI WILAYAH KERJA\ud PUSKESMAS GAMPING 1 SLEMAN \ud YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) adalah kelainan metabolik dengan \ud hiperglikemia kronis serta kelainan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein\ud diakibatkan oleh sekresi insulin dan mengalami gangguan psikis diantaranya stres\ud pada dirinya sendiri. Dampak yang akan ditimbulkan yaitu fisik, psikis dan finansial.\ud Menurunkan kesadaran dalam manajemen penyakit dan memperburuk kontrol\ud glikemik.\ud Tujuan: Diketahuinya Pengaruh Diabetes Self Management Education and Support\ud (DSME/S) Terhadap Stres Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah\ud Kerja Puskesmas Gamping 1 Sleman Yogyakarta. \ud Metode: Jenis Penelitian ini adalah Quasi Eksperimen dengan bentuk rancangan non\ud equivalent control group. Jumlah sampel dalam penelitian ini 30 pasien DM, dengan\ud 15 kelompok intervensi dan 15 kelompok kontrol dengan menggunakan Accidental\ud Sampling. \ud Hasil: Tingkat stres sebelum diberikan DSME/S sebanyak 15 orang berada\ud dikategori stres berat. Tingkat stres setelah diberikan DSME/S sebanyak 5 orang\ud berada dikategori tidak stres dan 10 orang berada dikategori stres ringan. Hasil uji\ud Wilcoxon didapatkan nilai signifikannya menunjukkan nilai p=0,000 (p<0,05).\ud Penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan antara kelompok yang diberikan\ud DSME/S dengan kelompok yang tidak diberikan DSME/S.\ud Simpulan: Pemberian DSME/S berpengaruh dalam mengurangi tingkat stres pada\ud pasien DM dengan kelompok intervensi.\ud Saran: Bagi manajemen puskesmas diharapkan menyediakan tempat untuk pasien\ud dengan DM seperti perkumpulan pasien diabetes, sehingga akan dengan lebih mudah\ud untuk memberikan intervensi keperawatan dan dengan mudah untuk mengevaluasi

    PERBEDAAN PENGARUH\ud INTEGRATED NEUROMUSCULAR INHIBITION\ud TECHNIQUE (INIT) DAN ACTIVE RELEASE\ud TECHNIQUE (ART) TERHADAP PENINGKATAN\ud FUNGSIONAL PADA MYOFASCIAL PAIN SYNDROME\ud OTOT UPPER TRAPEZIUS

    No full text
    Latar belakang: Otot upper trapezius merupakan otot yang sering terkena\ud myofascial pain syndrome (MPS) yang timbul akibat kerja otot yang berlebihan,\ud aktifitas sehari-hari yang statis dan terus-menerus sehingga menimbulkan nyeri yang\ud mengakibatkan kekakuan, keterbatasan (lingkup gerak sendi) LGS, penurunan\ud fleksibilitas otot dan penurunan fungsional leher. Tujuan: untuk mengetahui\ud perbedaan pengaruh INIT dan ART dalam meningkatkan kemampuan fungsional\ud pada MPS otot upper trapezius. Metode: Penelitian eksperimental untuk mengetahui\ud perbedaan pengaruh INIT dengan ART pada objek penelitian. Sampel sebanyak 20\ud orang pengrajut benang nilon karyawan Gulma Mutiara Craft, berusia 26-55 tahun\ud dipilih dengan purposive sampling. Klompok 1 INIT dan kelompok 2 ART. Hasil:\ud Uji normalitas dengan Saphiro Wilk Test dan uji homogenitas dengan Levene‟s Test.\ud Hasil Paired Sample T-test kelompok 1 p=0,000, berarti ada pengaruh INIT terhadap\ud peningkatan fungsional pada MPS otot upper trapezius, sedangkan kelompok 2\ud p=0,000, berarti ada pengaruh ART terhadap peningkatan fungsional pada MPS otot\ud upper trapezius. Hasil Independent t-Test p=0,665, berarti tidak ada perbedaan antara\ud INIT dan ART terhadap peningkatan fungsional pada MPS otot upper trapezius.\ud Kesimpulan: INIT dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan fleksibillitas otot,\ud ART berpengaruh terhadap kelancaran pergerakan jaringan dan mengurangi\ud kekakuan otot sehingga keduanya dapat meningkatkan kemampuan fungsional. INIT\ud dan ART sama baiknya sehingga dapat menjadi pilihan sebagai suatu intervensi yang\ud efektif nantinya

    HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN\ud TINGKAT DEPRESI PADA PASIEN GGK DENGAN HD \ud DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING\ud YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang: Gagal ginjal kronik (GGK) merupakan kegagalan fungsi ginjal \ud untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan elektrolit akibat\ud kerusakan struktur ginjal yang progresif. Dukungan keluarga dapat mempengaruhi\ud pelaksanan pengobatan pasien serta mempengaruhi status kesehatan mental anggota\ud keluarganya. Salah satu faktor yang memperngaruhi tingkat depresi pada pasien\ud gagal ginjal kronik yaitu dukungan keluarga.\ud Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga\ud dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik dengan hemodialisis di RS\ud PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta.\ud Metode: Metode penelitian deskriptif kuantitatif korelasional dengan pendekatan\ud cross sectional digunakan dalam penelitian ini. Responden penelitian terdiri dari 44\ud \ud orang responden gagal ginjal kronik berjenis kelamin perempuan yang dilakukan\ud tindakan hemodialisis di RS PKU Muhammadiyah Gamping Yogyakarta, pada\ud Agustus 2017. dan diambil dengan menggunakan teknik total sampling. \ud Hasil: Ada hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien\ud gagal ginjal kronik. Analisis Kendali-tau menunjukkan bahwa pada taraf\ud signifikansi p=0,05 diperoleh nilai p=0,020 sehingga p\ud ≤0,05 dengan nilai\ud koefisien keeratan -0,266. Diperoleh nilai signifikan dengan koefisien keeratan\ud rendah negatif yang berati kedua variabel tersebut bersifat berlawanan yaitu jika\ud dukungan keluarga yang baik maka tingkat depresi akan turun.\ud Kesimpulan: (1)Dukungan keluarga didapat kategori baik sebanyak 37 orang\ud (84,1%). (2)Tingkat depresi pasien gagal ginjal kronik didapat kategori\ud normal/tidak mengalami depresi sebanyak 19 orang (43,2%). (3)Terdapat hubungan\ud antara duk\ud ungan keluarga dengan tingkat depresi pada pasien gagal ginjal kronik \ud Saran: Keluarga pasien diharapkan meningkatkan dukungan instrumental seperti\ud memberi bantuan pinjaman atau sumbangan uang atau benda dari orang lain yang\ud merupakan bantuan nyata berupa materi atau jasa pada pasien gagal ginjal kronik\ud yang menjalani hemodialisis, karena keluarga sangat berpengaruh terhadap kondisi\ud psikologis pasien

    HUBUNGAN PERAN KETUA TIM TERHADAP PENDOKUMENTASIAN\ud PENGKAJIAN KEPERAWATAN PADA PERAWAT PELAKSANA \ud DI RUANG RAWAT INAP DEWASA RSU\ud PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

    No full text
    Latar Belakang: Dokumentasi pengkajian keperawatan merupakan aspek penting dari\ud proses keperawatan yang berisi catatan pengumpulan data status kesehatan pasien. Peran\ud ketua tim sangat dibutuhkan untuk meningkatkan kualitas pengkajian yang komprehensif\ud dari pemberi pelayanan keperawatan.\ud Tujuan: Mengetahui hubungan peran ketua tim terhadap pendokumentasian pengkajian\ud keperawatan pada perawat pelaksana di ruang rawat inap dewasa RSU PKU Muhamadiyah\ud Bantul, Tahun 2017.\ud Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif korelasional\ud dengan penelitian menggunakan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel dengan\ud teknik total sampling dan diperoleh 44 responden. Instrumen penelitian yang digunakan\ud yaitu kuesioner peran ketua tim dan lembar checklist penilaian kelengkapan pengkajian\ud keperawatan. Analisis data menggunakan uji Kendall Tau.\ud Hasil Penelitian: Peran ketua tim di RSU PKU Muhammadiyah Bantul menunjukan bahwa\ud katagori baik yaitu sebanyak 26 orang (59,1%) dan cukup sebanyak 18 orang (40,9%).\ud Pendokumentasian pengkajian keperawatan kategori lengkap yaitu sebanyak 17 orang\ud (38,4%) dan cukup sebanyak 27 orang (61,4%).\ud Simpulan dan Saran: Ada hubungan antara peran ketua tim terhadap pendokumentasian\ud pengkajian keperawatan pada perawat pelaksana di ruang rawat inap dewasa RSU PKU\ud Muhammadiyah Bantul (t = 0,669;p< 0,05) yaitu sebesar 0,000. Bagi manajer keperawatan\ud agar dapat melakukan evaluasi kinerja ketua tim dan meningkatkan sumber daya\ud keperawatan melalui pelatihan dan workshop, sehingga pendokumentasian pengkajian dapat\ud dilakukan secara komprehensif

    HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP MOTIVASI PASIEN PASCA STROKE SELAMA MENJALANI LATIHAN FISIOTERAPI DI RS PKU MUHAMMADIYAH GAMPING YOGYAKARTA

    No full text
    Latar Belakang: Masalah yang sering dialami oleh penderita stroke dan yang paling\ud ditakuti adalah gangguan gerak. Penderita mengalami kesulitan saat berjalan karena\ud mengalami gangguan pada kekuatan otot, keseimbangan dan koordinasi gerak. Salah\ud satu modalitas terapi yang utama untuk membantu pemulihan pasien pasca stroke\ud adalah program rehabilitasi. Program rehabilitasi yang hampir selalu dilakukan\ud adalah terapi fisik (fisioterapi). Fisioterapis mengevaluasi apakah anggota tubuh\ud yang terkena stroke tersebut fungsinya sama dengan kondisi sebelum stroke. Jika\ud tidak maka fisioterapis akan mengajarkan bagaimana mengoptimalkan anggota tubuh\ud sisi yang terkena.\ud Tujuan: Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga terhadap\ud motivasi pasien pasca stroke selama menjalani latihan fisioterapi di RS PKU\ud Muhammadiyah Gamping Yogyakarta.\ud Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan studi deskriptif\ud korelasi dengan penelitian menggunakan cross sectional. Pengambilan sampel\ud dengan teknik Accidental Sampling dan diperoleh 30 responden. Instrumen\ud penelitian yang digunakan yaitu kuesioner dukungan keluarga dan kuesioner\ud motivasi. Analisis data menggunakan uji Kendall Tau.\ud Hasil: Dukungan keluarga pasien pasca stroke selama menjalani latihan fisioterapi di\ud RS PKU Muhammadiyah Gamping menunjukan kategori baik 17 orang (56,7%),\ud cukup sebanyak 13 orang (43,3%) dan katagori kurang tidak ada. Motivasi pasien\ud pasca stroke menjalani latihan fisioterapi di RS PKU Muhammadiyah Gamping\ud kategori baik 12 orang (40,0%), motivasi cukup sebanyak 18 orang (60,0%) dan\ud motivasi kurang tidak ada.\ud Simpulan & Saran: Ada hubungan antara dukungan keluarga terhadap motivasi\ud pasien pasca stroke selama menjalani fisioterapi di RS PKU Muhammadiyah\ud Gamping Yogyakarta (t = 0,289 ;p< 0,05) yaitu sebesar 0,034.\ud Bagi tenaga kesehatan diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan dengan\ud melibatkan keluarga untuk memotivasi responden agar bersedia menjalani latihan\ud fisioterapi sesuai dengan anjuran tenaga fisioterapis maupun dokter

    PERBEDAAN PENGARUH NEURODYNAMIC SLIDING TECHNIQUE DAN MULLIGAN BENT LEG RAISE TECHNIQUE TERHADAP FLEKSIBILITAS\ud HAMSTRING PADA HAMSTRING TIGHTNESS

    No full text
    Latar belakang: Hamstring tightness yang diakibatkan oleh sedentary lifestyle dan posisi duduk yang terlalu lama (6-8 jam), serta kurangnya latihan harian berulang dapat menyebabkan otot hamstring beradaptasi dengan keadaan yang memendek atau tight sehingga dapat menimbulkan penurunan fleksibilitas hamstring. Neurodynamic sliding technique (NDST) dan Mulligan bent leg raise technique (MBLR) merupakan teknik yang dapat meningkatkan fleksibilitas hamstring. Tujuan penelitian: Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan pengaruh Neurodynamic sliding technique dan Mulligan bent leg raise technique terhadap peningkatan fleksibilitas hamstring pada hamstring tightness. Metode Penelitian: Penelitian ini bersifat true experimental dengan rancangan pre dan post test group two design. Sampel berjumlah 34 orang dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok 1 diberikan intervensi Neurodynamic sliding technique sedangkan kelompok 2 diberikan intervensi Mulligan bent leg raise technique. Data berupa skala ordinal AKE diambil sebelum dan sesudah perlakuan. Data yang diperoleh diuji beda menggunakan bantuan program komputer SPSS versi 22. Hasil Penelitian: Hasil analisis data dengan paired sample t-test menunjukkan bahwa pada subjek kelompok 1 dengan nilai AKE dimana p=0,000 (p<0,05). Sedangkan kelompok 2 dengan nilai AKE dimana p=0,000 (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa pada setiap kelompok terjadi peningkatan fleksibilitas hamstring yang signifikan. Hasil analisis dengan independent sample t-test dengan nilai NDI dimana p=0,872 (p>0,05). Dari hasil penelitian tesebut disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan pengaruh antara pemberian Neurodynamic sliding technique dan Mulligan bent leg raise technique terhadap peningkatan fleksibilitas hamstring pada hamstring tightnes

    PERBEDAAN PENGARUH BATUK EFEKTIF DAN\ud DEEP BREATHING EXERCISE\ud ​ DALAM MENURUNKAN\ud SESAK NAFAS PADA PASIEN ASMA BRONKIAL

    No full text
    Latar belakang, ​Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang bersifat ​reversible\ud dengan cirri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan\ud manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah secara\ud spontan yang ditandai dengan mengi episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan\ud saluran napas ​Tujuan ​untuk mengetahui perbedaan pengaruh batuk efektif dan deep breathing\ud exercise dalam menurunkan sesak nafas pada pasien asma bronkial. ​Metode ​penelitian ini\ud merupakan penelitan eksperimental semu (​quasi eksperimental​).Dengan rancangan penelitian\ud pre test dan post test randomized two group design ​dengan membandingkan kelompok perlakuan\ud 1 diberikan batuk efektif dan perlakuan kelompok II diberikan ​deep breathing exercise ​dengan\ud menggunakan alat ukur sesak nafas berupa VAS. Analisis data Hipotesis I dan II dengan ​paired\ud sample t test ​dan hipotesis III dengan ​independen t test .​Hasil ​ada pengaruh batuk efektif dalam\ud menurunkan sesak nafas pada pasien asma bronkial dengan hasil p=0,000(p<0,05), ada pengaruh\ud deep breathing exercise ​dalam menurunkan sesak nafas pada pasien asama bronkial dengan hasil\ud p=0,000(p<0,05), tidak ada perbedaan pengaruh batuk efektif dan ​deep breathing exercise ​dalam\ud menurunkan sesak nafas pada pasien asma bronkial dengan hasil p=0,675(p>0,05) ​Kesimpulan​,\ud tidak ada perbedaan pengaruh batuk efektif dan ​deep breathing exercise ​dalam menurunkan\ud sesak nafas pada pasien asma bronkial ​Saran ​meneliti faktor genetik dan aktifitas sampel yang\ud menyebabkan sesak nafas pada asma bronkia

    0

    full texts

    3,772

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    STIKES 'Aisyiyah Yogyakarta is based in Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇