Latar belakang: Otot upper trapezius merupakan otot yang sering terkena\ud
myofascial pain syndrome (MPS) yang timbul akibat kerja otot yang berlebihan,\ud
aktifitas sehari-hari yang statis dan terus-menerus sehingga menimbulkan nyeri yang\ud
mengakibatkan kekakuan, keterbatasan (lingkup gerak sendi) LGS, penurunan\ud
fleksibilitas otot dan penurunan fungsional leher. Tujuan: untuk mengetahui\ud
perbedaan pengaruh INIT dan ART dalam meningkatkan kemampuan fungsional\ud
pada MPS otot upper trapezius. Metode: Penelitian eksperimental untuk mengetahui\ud
perbedaan pengaruh INIT dengan ART pada objek penelitian. Sampel sebanyak 20\ud
orang pengrajut benang nilon karyawan Gulma Mutiara Craft, berusia 26-55 tahun\ud
dipilih dengan purposive sampling. Klompok 1 INIT dan kelompok 2 ART. Hasil:\ud
Uji normalitas dengan Saphiro Wilk Test dan uji homogenitas dengan Levene‟s Test.\ud
Hasil Paired Sample T-test kelompok 1 p=0,000, berarti ada pengaruh INIT terhadap\ud
peningkatan fungsional pada MPS otot upper trapezius, sedangkan kelompok 2\ud
p=0,000, berarti ada pengaruh ART terhadap peningkatan fungsional pada MPS otot\ud
upper trapezius. Hasil Independent t-Test p=0,665, berarti tidak ada perbedaan antara\ud
INIT dan ART terhadap peningkatan fungsional pada MPS otot upper trapezius.\ud
Kesimpulan: INIT dapat mengurangi nyeri dan meningkatkan fleksibillitas otot,\ud
ART berpengaruh terhadap kelancaran pergerakan jaringan dan mengurangi\ud
kekakuan otot sehingga keduanya dapat meningkatkan kemampuan fungsional. INIT\ud
dan ART sama baiknya sehingga dapat menjadi pilihan sebagai suatu intervensi yang\ud
efektif nantinya
Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.