Portal Jurnal Online Kopertais Wilyah IV (EKIV) - Cluster MATARAMAN
Not a member yet
1702 research outputs found
Sort by
Pembelajaran Matematika pada Anak Usia Dini (Studi Kasus di RA Al Qomariyah Sareng Geger Madiun)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran matematika pada anak usia dini di RA Al Qomariyah Sareng, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Fokus penelitian meliputi metode pembelajaran yang digunakan, media pembelajaran, serta respon anak terhadap kegiatan matematika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika di RA Al Qomariyah dilaksanakan melalui pendekatan tematik dan kontekstual dengan metode bermain sambil belajar, demonstrasi, bercerita, dan tanya jawab. Media yang digunakan bersifat konkret dan variatif, seperti balok angka, kartu bentuk, lagu berhitung, serta benda-benda sekitar. Anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi dalam mengikuti kegiatan, meskipun terdapat perbedaan tingkat pemahaman antar individu. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa pembelajaran matematika telah disesuaikan dengan karakteristik anak usia dini, namun tetap diperlukan peningkatan dalam pengembangan media dan pelatihan guru
PENERAPAN HDDEN CURRIULUM TERHA PENERAPAN HDDEN CURRIULUM TERHADDAP PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS
ABSTRACTResearch Objectives:
To identify the forms of hidden curriculum implementation at MIN 2 Blitar.
To understand the role of teachers as facilitators in the implementation of the hidden curriculum at MIN 2 Blitar.
To examine the outcomes of the hidden curriculum implementation in shaping the religious character of 5th-grade students at MIN 2 Blitar.
Research Methodology:This study employed a descriptive research design and case study approach with a qualitative methodology.
Researcher’s Presence: The researcher participated actively in the study.
Research Location: MIN 2 Blitar, Wonodadi District, Blitar Regency.
Data and Data Sources:
Primary sources: Teachers.
Secondary sources: Documentation and archives.
Data Collection Procedures: Participant observation, in-depth interviews with the vice principal for curriculum, religious education teachers, and activity supervisors involved in the implementation of the hidden curriculum at MIN 2 Blitar. Data verification was conducted through triangulation and procedures for uncovering data related to habituation activities of the hidden curriculum, the role of teachers, and the outcomes of these activities in shaping students' religious character. Data were documented in the form of recordings.
Keywords: Hidden curriculum, religious character, facilitatorABSTRAK
Tujuan penelitian : 1. Mengetahui bentuk dari penerapan hidden curriculum yang di jalankan di MIN 2 Blitar, 2. Memahami bagaimana peran guru sebagai fasilitator dalam penerapan hidden curriculum di MIN 2 Blitar, 3 mengetahui bagaimana hasil dari penerapan hidden curriculum terhadap pembentukan karakter religius pada peserta didik kelas 5 MIN 2 Blitar.
Metode Penelitian : Pola penelitian Deskriptif dan Studi Kasus dengan pendekatan kualitatif. Kehadiran peneliti, Lokasi Penelitian ; MIN 2 Blitar kecamatan wonodadi kabupaten Blitar, Data dan Sumber data: 1. Primer: guru; 2. Sekunder: dokumentasi, serta arsip-arsip. Prosedur Pengumpulan Data; dengan observasi partisipan, wawancara mendalam dengan guru waka kurikulum, guru seksi keagamaan, guru pendamping kegiatan pembiasaan hidden curriculum di MIN 2 Blitar dan pengecekan data kembali dengan trianggulasi, prosedur pengungkapan data mengenai kegiatan pembiasaan hidden ccurriculum, bagaimana peran guru dan bagaimana hasill dari peerapan kegiatan tersebut terhadap pembentukan karakter religius peserta ddik dalam bentuk rekaman
Kata Kunci : Hidden curriculum, karakter religius , fasilitato
Strategi Inovatif Guru dalam Menerapkan CLIL untuk Meningkatkan Pembelajaran Bahasa Arab Di Pesantren
Penelitian ini mengkaji inovasi pembelajaran Bahasa Arab melalui Content and Language Integrated Learning (CLIL) yang diterapkan oleh guru-guru di Pondok Pesantren Darul Ukhuwah Putri 2 Malang. Isu penting yang melatarbelakangi penelitian ini adalah minat belajar Bahasa Arab yang sering dianggap sulit dan monoton, serta kebutuhan untuk meningkatkan relevansi dan keberhasilan pengajaran bahasa dalam konteks pendidikan keislaman. Oleh karena itu, penelitian ini menjadi relevan untuk dibahas guna mengeksplorasi bagaimana CLIL dapat menjadi solusi inovatif untuk mengatasi tantangan tersebut dan mencapai tujuan pondok dalam mencetak santri yang mahir berbahasa Arab. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dengan para guru, observasi kelas, dan analisis dokumen terkait. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan secara komprehensif pengalaman guru, strategi pembelajaran yang diterapkan, serta tantangan yang dihadapi dalam implementasi CLIL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CLIL secara signifikan meningkatkan motivasi guru karena pembelajaran terasa lebih bermakna dan kontekstual. Guru menerapkan strategi beragam mulai dari penyusunan silabus terpadu, penggunaan metode variatif, media visual, pendekatan komunikatif, scaffolding, hingga evaluasi terpadu di kelas. Meskipun demikian, tantangan seperti heterogenitas pemahaman siswa, kesulitan mengartikan kosakata tafsir, dan adaptasi guru dari luar pondok juga ditemukan. Secara keseluruhan, CLIL terbukti mampu membangkitkan minat belajar Bahasa Arab siswa dan meningkatkan keterampilan berbahasa mereka secara alami, mendukung tercapainya tujuan pendidikan pondok pesantren.This study examines Arabic learning innovations through Content and Language Integrated Learning (CLIL) applied by teachers at the Darul Ukhuwah For Girl 2 Islamic Boarding School Malang. An important issue behind this research is the interest in learning Arabic which is often considered difficult and monotonous, as well as the need to increase the relevance and success of language teaching in the context of Islamic education. Therefore, this research is relevant to be discussed to explore how CLIL can be an innovative solution to overcome these challenges and achieve the goal of the boarding school in producing students who are proficient in Arabic. The research method used is a descriptive qualitative approach with data collection through in-depth interviews with teachers, classroom observations, and analysis of related documents. The purpose of this study is to comprehensively describe the teacher's experience, the learning strategies applied, and the challenges faced in the implementation of CLIL. The results showed that CLIL significantly increased teacher motivation because learning felt more meaningful and contextual. Teachers apply various strategies ranging from the preparation of an integrated syllabus, the use of varied methods, visual media, communicative approaches, scaffolding, to integrated evaluation in the classroom. However, challenges such as the heterogeneity of student understanding, difficulties in interpreting the vocabulary of interpretation, and the adaptation of teachers from outside the boarding school were also found. Overall, CLIL has been proven to be able to arouse students' interest in learning Arabic and improve their language skills naturally, supporting the achievement of Islamic boarding school educational goals
The Concept of Spiritual Education in the Thought of Said Nursi
Modern education today faces a crisis of values due to the dominance of secular and materialistic paradigms, which neglect the spiritual dimension of learners. In this context, the thoughts of Bediuzzaman Said Nursi offer a valuable conceptual alternative through a spiritual education framework that integrates religious sciences with modern knowledge. This study aims to explore in depth the concept of spiritual education in Said Nursi’s thought and its relevance to the development of contemporary Islamic educational curricula. The research employs a qualitative method with a library research approach, critically analyzing Nursi’s primary works—particularly the Risale-i Nur—as well as relevant secondary academic literature. The results of the study indicate that spiritual education according to Nursi is a process of shaping faith, character, and divine consciousness involving the intellect, heart, and soul. He proposes a holistic model of education that integrates medrese (religious schools), mektep (modern secular schools), and tekke (Sufi institutions), emphasizing key spiritual values such as acz (powerlessness), faqr (poverty), shafqat (compassion), and tafakkur (contemplation). This concept contributes significantly to the development of an Islamic curriculum that balances spiritual and intellectual aspects. The findings affirm that Said Nursi's thought is highly relevant to addressing contemporary educational challenges and can serve as a foundation for reconstructing a tawhid-based Islamic education curriculum grounded in spiritual values.Modern education today faces a crisis of values due to the dominance of secular and materialistic paradigms, which neglect the spiritual dimension of learners. In this context, the thoughts of Bediuzzaman Said Nursi offer a valuable conceptual alternative through a spiritual education framework that integrates religious sciences with modern knowledge. This study aims to explore in depth the concept of spiritual education in Said Nursi’s thought and its relevance to the development of contemporary Islamic educational curricula. The research employs a qualitative method with a library research approach, critically analyzing Nursi’s primary works—particularly the Risale-i Nur—as well as relevant secondary academic literature. The results of the study indicate that spiritual education according to Nursi is a process of shaping faith, character, and divine consciousness involving the intellect, heart, and soul. He proposes a holistic model of education that integrates medrese (religious schools), mektep (modern secular schools), and tekke (Sufi institutions), emphasizing key spiritual values such as acz (powerlessness), faqr (poverty), shafqat (compassion), and tafakkur (contemplation). This concept contributes significantly to the development of an Islamic curriculum that balances spiritual and intellectual aspects. The findings affirm that Said Nursi's thought is highly relevant to addressing contemporary educational challenges and can serve as a foundation for reconstructing a tawhid-based Islamic education curriculum grounded in spiritual values
Implementasi Pendidikan Karakter Berbasis Panca Jiwa di Pesantren: Strategi dan Tantangan dalam Era Digital
This study aims to describe the implementation and impact of the Panca Jiwa (Five Souls) values in shaping the character of students at Ihyaul Qur’an Nururrahman Islamic Boarding School, Malang Regency. Using a qualitative method with participatory observation, in-depth interviews, and documentation techniques, the research reveals that the values of sincerity (ikhlas), simplicity, independence, Islamic brotherhood (ukhuwah Islamiyah), and freedom of thought are integrally internalized into students’ daily activities, the educational curriculum, and social interactions within the pesantren. The findings show that sincerity and simplicity are nurtured through the habituation of daily worship; independence is reflected in self-management and personal responsibility; Islamic brotherhood develops through collective social activities; while freedom of thought is fostered through discussion methods and peer tutoring. The impact of these values is evident in the students’ increased discipline, sense of responsibility, social empathy, and spiritual growth. The integration of technology in the learning process also supports character development in a contemporary context. This study reinforces the theory of character education based on a socio-religious environment and demonstrates that the Panca Jiwa values are not merely normative doctrines, but are practiced as a way of life that holistically shapes students' personalities.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi dan dampak nilai-nilai Panca Jiwa dalam pembentukan karakter santri di Pondok Pesantren Ihyaul Qur’an Nururrahman, Kabupaten Malang. Melalui metode kualitatif dengan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi, penelitian ini mengungkap bahwa nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, ukhuwah Islamiyah, dan kebebasan berpikir diinternalisasikan secara terintegrasi dalam aktivitas keseharian santri, kurikulum pembelajaran, dan interaksi sosial pesantren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai keikhlasan dan kesederhanaan tumbuh melalui pembiasaan ibadah harian; nilai kemandirian tercermin dalam pengelolaan diri dan tanggung jawab pribadi; ukhuwah Islamiyah berkembang melalui kegiatan sosial kolektif; sedangkan kebebasan berpikir ditanamkan melalui metode diskusi dan peer tutoring. Dampak implementasi nilai-nilai tersebut terlihat dari peningkatan disiplin, tanggung jawab, empati sosial, serta spiritualitas santri. Integrasi teknologi dalam pembelajaran juga mendukung penanaman karakter dalam konteks kekinian. Penelitian ini memperkuat teori pendidikan karakter berbasis lingkungan sosial-religius dan menunjukkan bahwa nilai-nilai Panca Jiwa bukan hanya doktrin normatif, tetapi menjadi praktik hidup yang membentuk kepribadian santri secara holistik
Digitalisasi Pendidikan Islam di Perguruan Tinggi: Analisis Literatur Tentang Efektifitas Pembelajaran Daring
Perkembangan teknologi informasi telah mendorong percepatan digitalisasi dalam pendidikan tinggi Islam, terutama dalam pelaksanaan pembelajaran daring. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran daring di perguruan tinggi Islam melalui pendekatan kualitatif dengan metode kajian pustaka. Data dikumpulkan dari berbagai literatur ilmiah yang relevan dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir dan dianalisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil kajian menunjukkan bahwa efektivitas pembelajaran daring tidak hanya bergantung pada aspek teknologi, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia, integrasi nilai-nilai keislaman dalam kurikulum, serta interaksi yang bermakna antara dosen dan mahasiswa. Strategi seperti peningkatan literasi digital, blended learning, mentoring spiritual daring, serta kurikulum adaptif bernilai Islam merupakan pendekatan yang direkomendasikan. Penelitian ini menekankan pentingnya transformasi digital yang tidak menghilangkan ruh pendidikan Islam dan tetap menjunjung maqashid syariah dalam proses pembelajarannya
Implementasi Pendekatan Humanistik dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Berbasis KMA 3211
Penerapan Kurikulum Merdeka berdampak pada munculnya instrumen penting untuk mengatur capaian pembelajaran Bahasa Arab dalam keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 3211. Dalam KMA 3211 diantara tujuan pembelajarannya adalah kemampuan meggunakan bahasa Arab sebagai alat komunikasi global. Komunikasi berdasar pada salah satu keterampilan berbahasa, yaitu Maharotul Kalam atau keterampilan berbicara. Kurikulum merdeka memiliki kesamaan dengan Pendekatan Humanistik yaitu sama-sama memprioritaskan proses belajar siswa dibandingkan ketuntasan, memfokuskan kelas untuk lebih interaktif dan menghargai pengalaman siswa untuk mengembangkan kompetensi. Berdasarkan uraian tersebut, maka Fokus Riset adalah pada implementasi pendekatan humanistik pada keterampilan berbicara bahasa Arab berbasis KMA 3211 dan bagaimana efektivitas pendekatan belajar humanistik untuk keterampilan berbicara bahasa Arab berbasis KMA 3211. Adapun tujuan penelitian ini: 1. Mengetahui Implementasi Pendekatan Humanistik dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Berbasis KMA 3211 siswa kelas VIA MI Al Hikam Madiun dan 2. Mengetahui Efektivitas Pendekatan Pembelajaran Humanistik dalam Keterampilan Berbicara Bahasa Arab Berbasis KMA 3211 pada siswa kelas VIA MI Al Hikam Madiun.Pendekatan penelitian menggunakan metode mixed methods yaitu mengkombinasikan antara kualitatif dengan kuantitatif. Penelitian ini menggunakan desain Exploratory sequantial dimulai dari penelitian dan analisis data kualitatif dan diperkuat dengan data kuantitatif. Siswa kelas VIA MI Al Hikam Madiun berjumlah 22 orang adalah sampel dalam penelitian ini. Teknik dan istrumen pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, tes dan kuesioner. Analisis data kualitatif menggunakan teknik Model Miles and Huberman sedangkan analisis data kuantitatif menggunakan uji validasi, uji reliabilitas dan uji hipotesis. Dugaan sementara (Hipotesis) penelitian ini adalah penerapan pendekatan humanistik efektif dalam menunjang keterampilan berbicara bahasa Arab berbasis KMA 3211 dengan hasil hipotesis diperoleh thitung > ttabel sehingga Ha diterima
TELAAH KRITIS TERHADAP HUKUM PERJANJIAN KONVENSIONAL DAN SYARIAH DALAM KONTEKS TRANSAKSI MODERN DI INDONESIA
Contract law in the Indonesian national legal system is regulated by Article 1320 of the Civil Code (KUHPerdata). This article establishes four requirements for a valid contract: agreement between the parties, legal capacity to enter into a contract, the existence of a specific object, and a lawful cause. These four requirements are the primary foundation for determining whether an agreement is legally binding.
The fulfillment of these four elements forms the basis for the legality of an agreement, making it legally binding for the parties. In this context, contract law serves to protect the rights and obligations of each party fairly. Thus, the principles of justice and legal certainty can be upheld in every contractual relationship in society.
Meanwhile, Sharia contract law developed in response to the Muslim community's need for a legal system consistent with religious values. This law not only upholds formal legal aspects but also prioritizes the principles of justice, honesty, and blessings in every transaction. Sharia contract law integrates Islamic teachings into modern legal practice, thus providing a legal alternative that is not only legally valid but also spiritually appropriate.
The role of the National Sharia Council (DSN) under the Indonesian Ulema Council (MUI) is crucial in providing a foundation for contemporary ijtihad (religious ijtihad) in the practice of Sharia contracts. Written agreements under this system not only serve as legally valid evidence but also reflect ethical commitments based on Sharia. Thus, Sharia contract law is able to address the challenges of modern business transactions without abandoning the fundamental principles of Islamic teaching
Upaya Peningkatan Kompetensi Manajerial Mahasiswa di Lingkungan Perguruan Tinggi Islam Berbasis Pesantren
Di tengah urgensi menghasilkan lulusan yang adaptif dan kompeten di era globalisasi, penelitian ini mengkaji implementasi praktikum manajerial yang terintegrasi nilai-nilai Islam di Perguruan Tinggi Islam berbasis pesantren, yang masih menjadi celah dalam literatur. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengeksplorasi strategi dan kontribusi program Praktikum Manajemen Pendidikan Islam (PMPI-II) dalam meningkatkan kompetensi manajerial mahasiswa di lingkungan tersebut. Jenis penelitian yang digunakan yakni kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif (peneliti sebagai Dosen Pembimbing Lapangan/DPL), dan studi dokumentasi. Data dianalisis dengan menggunakan model Miles, Huberman dan Saldana. Hasil penelitian terdapat empat strategi utama PMPI-II: identifikasi kebutuhan & perencanaan program, pelaksanaan, koordinasi & komunikasi aktif, serta monitoring & evaluasi berkala. Strategi ini menunjukkan keselarasan dengan prinsip manajemen program, perencanaan strategis, dan Stakeholder Theory. PMPI-II secara signifikan berkontribusi pada peningkatan keterampilan perencanaan, pelaksanaan tugas administratif, komunikasi, dan koordinasi mahasiswa. Melalui experiential learning, program ini juga membentuk karakter profesional Islami, mendorong adaptasi terhadap kultur pondok, serta menanamkan nilai ta'dzim (penghormatan) dan musyawarah. Implikasinya, PMPI-II menjadi model efektif pengembangan kompetensi manajerial berbasis nilai di lingkungan pesantren.Amidst the urgency of producing adaptive and competent graduates in the era of globalization, this study examines the implementation of managerial practicum integrated with Islamic values in pesantren-based Islamic Higher Education, an area still underexplored in the literature. Therefore, this research aims to explore the strategies and contributions of the Islamic Education Management Practicum (PMPI-II) program in enhancing students' managerial competencies within this environment. The research employs a qualitative case study approach. Data collection involves in-depth interviews, participant observation (with the researcher acting as Field Supervising Lecturer - DPL), and documentation study. Data analysis follows the Miles, Huberman, and Saldana model. The study's findings reveal four main strategies of PMPI-II: needs identification & program planning, implementation, active coordination & communication, and periodic monitoring & evaluation. These strategies demonstrate alignment with principles of program management, strategic planning, and Stakeholder Theory. PMPI-II significantly contributes to improving students' planning skills, administrative task execution, communication, and coordination. Through experiential learning, the program also fosters an Islamic professional character, encourages adaptation to pondok culture, and instills the values of ta'dzim (respect) and musyawarah (deliberation). Consequently, PMPI-II emerges as an effective model for value-based managerial competence development in the pesantren environment
Model Pendidikan Islam Berbasis Keluarga yang Adaptif di Era Digital dan Kecerdasan Buatan: Telaah Literatur, Teks, dan Konteks
Era disrupsi digital yang ditandai dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan telah memberikan pengaruh signifikan terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam sistem pendidikan Islam. Dalam hal ini, keluarga sebagai institusi pendidikan pertama dan utama dihadapkan pada tantangan sekaligus peluang baru dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada generasi muda. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji urgensi pengembangan pendidikan Islam berbasis keluarga yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi digital dan AI. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan multidisipliner, yang mencakup: (1) penelusuran literatur klasik dan kontemporer mengenai konsep pendidikan keluarga dalam Islam; (2) kajian normatif terhadap sumber-sumber utama ajaran Islam, yakni Al-Qur’an dan Hadis, yang membahas peran serta tanggung jawab keluarga dalam pendidikan; dan (3) analisis kontekstual terhadap dinamika tantangan dan peluang pendidikan keluarga Muslim di era modern abad ke-21. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa untuk mencapai efektivitas dalam pendidikan keluarga pada era digital, diperlukan integrasi antara nilai-nilai dasar Islam dengan pendekatan pengasuhan dan pendidikan yang responsif terhadap perkembangan teknologi. Di samping itu, diperlukan suatu model pendidikan keluarga yang tidak hanya berorientasi pada ajaran normatif, tetapi juga adaptif terhadap perubahan zaman, bersifat kolaboratif antara keluarga dan lingkungan, serta kontekstual sesuai dengan realitas sosial masyarakat Muslim masa kini.The era of digital disruption, marked by the rapid advancement of Artificial Intelligence (AI), has significantly impacted various aspects of life, including the Islamic education system. In this context, the family as the first and foremost educational institution is confronted with both new challenges and opportunities in instilling Islamic values in the younger generation. This article aims to examine the urgency of developing a family-based Islamic education model that is adaptive to the advancement of digital technology and AI. This study employs a literature review method with a multidisciplinary approach, which includes: (1) an exploration of classical and contemporary literature on the concept of family education in Islam; (2) a normative analysis of the primary sources of Islamic teachings, namely the Qur’an and Hadith, concerning the role and responsibilities of the family in education; and (3) a contextual analysis of the dynamics, challenges, and opportunities facing Muslim family education in the modern 21st century. The findings of this study indicate that effective family education in the digital age requires the integration of foundational Islamic values with parenting and educational strategies that are responsive to technological developments. Moreover, it necessitates a family education model that is not only normatively grounded but also adaptive to the changing times, collaborative between families and their environments, and contextualized to the social realities of today’s Muslim communities