23 research outputs found
Coral Reef Ecosystem Vulnerability Index to Oil Spill: Case of Pramuka Island and Belanda Island in Seribu Islands
Vulnerability analysis is one of the methods for determining effective management of coastal and marine resources. Seribu islands potentially affected due to oil spills. The oil spills incident in this area caused by shipwreck from traffic on Tanjung Priok port and ALKI 1, as well as accident of petroleum exploration and exploitation. At least, oil spills in Seribu Islands have been recorded since 2003, 2004, 2006, 2007 and 2008. This study aims to calculate the vulnerability index of Pramuka island and Belanda island in the Seribu Islands. This research was conducted by using a theoretical approach of vulnerability (V), which is a function of exposure (E), sensitivity (S) and adaptive capacity (AC). The parameters in exposure category are tidal type, tidal range, wave height, substrat type, and water depth. Parameters in sensitivity category are growth type of reef, slope, protected ecosystem, coverage percentage, coral density, protected species, and fish abundance. Parameters in adaptive capacity are oil spill contingency system, conservation institution, community response, and economic dependence. Data of each parameter were transformed into a score ranging from 1 to 5. The formula of vulnerability index using addition and subtraction model where; V = E + S – AC. The results indicate that Seribu Islands have vulnerability status from moderate to high, which 4.15 for Pramuka island and 6.39 for Belanda island
A Short Review on the Recent Problem of Red Tide in Jakarta Bay: Effect of Red Tide on Fish and Human
Red tide atau sering disebut blooming fitoplankton merupakan fenomena alam yang sering terjadi. Nampaknya frekuensi, intensitas dan distribusi blooming fitoplankton meningkat dalam 10 tahun belakangan ini. Red tide dapat didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana tanaman sel satu berukuran kecil yang hidup di laut dan tumbuh dengan sangat cepat dan terakumulasi dalam suatu kumpulan yang mudah terlihat di permukaan air laut. Kejadian red tide sangat terkait dengan eutrofikasi dan kondisi lingkungan yang mendukung, seperti kecukupan cahaya, kondisi suhu yang sesuai, dan masukan bahan organik dari daratan setelah hujan besar. Efek langsung red tide terhadap ikan sangat merusak insang, baik secara mekanis ataupun melalui pembentukan bahan kimia beracun, neurotoksin, hemolitik atau bahan penggumpal darah, yang dapat menyebabkan kerusakan fisiologi insang, organ utama (seperti hati), usus, sistem sirkuler atau pernapasan, ataupun mengganggu proses osmoregulasi. Sebaliknya, efek tidak langsung red tide adalah akibat penggunaan oksigen yang berlebihan untuk respirasi dan pembusukan kumpulan fitoplankton. Beberapa organisme penyebab red tide dapat membahayakan manusia apabila manusia makan hewan filter feeder (seperti ikan atau kerang) yang mengandung racun organisme red tide yang telah dimakan ikan atau kerang tersebut
Produktivitas Primer Fitoplankton dan Keterkaitannya dengan Unsur Hara dan Cahaya di Perairan Teluk Banten
Pada ekosistem perairan, keberadaan cahaya dan unsur hara di kolom air merupakan faktor utama yang mengontrol laju produktivitas primer fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara produktivitas primer fitoplankton dengan keberadaan intensitas cahaya dan unsur hara di kolom perairan Teluk Banten. Pengukuran produktivitas primer dilakukan dengan menggunakan metode oksigen botol terang dan gelap. Pengambilan contoh air laut untuk pengukuran produktivitas primer dan unsur hara dilakukan pada dua stasiun dengan empat titik kedalaman. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa produktivitas primer fitoplankton pada setiap kedalaman inkubasi berkisar dari 13.56-29.59 mg C/m3/jam di kedua stasiun pengamatan. Terdapat kecenderungan kolom perairan di lokasi penelitian termasuk massa airnya tercampur. Hal ini terlihat dari distribusi vertikal unsur hara yang homogen. Disamping itu, cahaya cenderung berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Terdapat hubungan yang sangat erat antara cahaya yang ada di kolom air dengan produktivitas primer (82% dan 64%) dan sebaliknya, unsur hara dengan produktivitas primer berkorelasi lemah (berkisar antara 0.9%-16.5%). Cahaya lebih bersifat sebagai pembatas dibanding unsur hara bagi produktivitas primer
Spatial Distribution of Planktonic Dinoflagellate in Makassar Waters, South Sulawesi
The objectives of this study were to determine the harmful species of dinoflagellates, to determine the concentration of nutriens in surface waters, and to analyze factors affecting the ecological aspects of the harmful dinoflagellates. The results showed that there were 7 genus of dinoflagellates found in this study i.e., Ceratium spp., Gymnodinium sp., Dinophysis sp., Gonyaulax sp., Noctiluca sp., Protoperi-dinium spp., and Peridinium sp. Protoperidinium spp. and Ceratium spp. were the predominant species, with their abundance ranged of 9-659 cells/L and 6-556 cells/L, respectively. In temporal scale, values of DO and water light penetration were not significantly different (α>0.05), while for the parameter of nutriens, salinity, and abundance were significantly different (α<0.05). Total abundance of dinoflagellates was significantly correlated with nitrate, nitrite, ammonia, phosphate, salinity, and DO. Harmful dinoflagellate species such as Dinophysis sp. (DSP), Gymnodinium spp. (NSP and PSP), Noctiluca sp. (anaerobic), and Gonyaulax sp. (anaerobic) were observed in the study area. The high concentration of ammonia (>1 mg/L) in the waters of Losari beach also indicated that the area was affected by anthropogenic activities. Minimizing nutrient inputs from the land was becoming the most priority measure to be done to avoid such effects related to dinoflagellate harmful algae bloms
Kajian Kondisi Terumbu Karang dan Kaitannya dengan Proses Eutrofikasi di Kepulauan Seribu
Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi kondisi terumbu karang dan keterkaitannya dengan proses eutrofikasi dimana P. Belanda dan P. Untung Jawa dipilih sebagai studi kasus pada bulan April sampai Juni 2009. Metode foto transek kuadrat digunakan untuk pengambilan data kondisi terumbu karang. Pengukuran parameter kualitas perairan seperti suhu, kecepatan arus, dan kecerahan dilakukan secara in-situ, sedangkan parameter lainnya seperti salinitas, pH, kekeruhan, ortofosfat (PO4), nitrit (NO2), nitrat (NO3), dan amonia (NH3) dianalisis di laboratorium (ex-situ). Principal Component Analysis (PCA) digunakan untuk melihat parameter-parameter yang paling berpengaruh pada setiap stasiun pengamatan. Analisis Regresi Linear digunakan untuk melihat hubungan antara tutupan makroalga dengan parameter kualitas air serta hubungan antara tutupan makroalga dengan tutupan karang hidup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase tutupan karang hidup di P. Belanda berada dalam kategori ”sedang” dengan persentase tutupan sebesar 27,90%, sedangkan di P. Untung Jawa berada dalam kategori ”rusak” dengan persentase tutupan sebesar 0,21%. Ada perbedaan tingkat kesuburan perairan antara lokasi P. Belanda dan P. Untung Jawa, dimana P. Untung Jawa memiliki kondisi perairan dengan kategori sangat subur (eutrofikasi) berdasarkan pada tingginya kandungan fosfat dan persentase tutupan makroalga yang tinggi. Faktor nutrien mempunyai pengaruh cukup besar terhadap persentase tutupan makroalga yang cukup berpengaruh terhadap persentase tutupan karang hidup
Kajian Kondisi Terumbu Karang dan Ikan Menggaru (Lutjanus Decussatus) di Zona Pemukiman dan Zona Inti Kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu
Ikan Menggaru (Lutjanus decussatus) adalah kelompok kakap yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang, yang merupakan ikan konsumsi dan bernilai ekonomis penting. Populasi ikan ini di Kawasan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu terus menurun yang disebabkan oleh berbagai hal seperti penangkapan berlebih, kerusakan habitat, dan kurangnya strategi pengelolaan kawasan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kondisi terumbu karang dan ikan menggaru dan keterkaitannya sehingga strategi pengelolaan yang baik dapat ditetapkan. Empat pulau yang berlokasi di zona yang berbeda dipilih sebagai lokasi penelitian, yang di setiap masing-masing pulau dilakukan pengamatan di dua (2) titik yang berbeda (kedalaman 3-5 m). Di kawasan pemukiman, Pulau Pramuka, dan Panggang dipilih sementara pada Zona Inti, dipilih lokasi perairan sekitar Pulau Kayu Angin Bira dan Belanda Pengamatan terumbu karang dilakukan dengan menggunakan teknik Line Intercept Transect (LIT), sementara observasi ikan menggaru dengan menggunakan teknik Underwater Visual Census (UVC). Sebanyak total 41 ekor ikan menggaru ditangkap sebagai sampel. Secara umum, kondisi perairan masih dalam kondisi baik untuk mendukung kehidupan terumbu karang. Kualitas penutupan terumbu karang relatif sedang dengan persen penutupan berkisar antara 34.86% dan 39.31%. Kelimpahan ikan menggaru di zona inti relatif lebih tinggi (180 ind/ha) jika dibandingkan dengan zona pemukiman (140 ind/ha). Beberapa aspek biologi yang dihasilkan dalam studi ini yaitu bentuk pertumbuhan ikan adalah alometrik, perbandingan seksual menunjukkan jantan lebih banyak dibandingkan betina, komposisi utama makanan adalah ikan dan krustasea, dan selama bulan Juni ketika studi ini dilakukan, ikan tidak dalam kondisi musim memijah. Lebih tingginya kelimpahan ikan di zona inti diasumsikan disebabkan oleh adanya dominasi tutupan karang branching di kawasan ini. Berdasarkan studi ini direkomendasikan untuk a) memelihara kondisi kualitas air di lokasi studi; b) mempercepat penutupan karang di zona pemukiman; c) melakukan pengawasan lebih intensif dan penegakan hukum di zona inti dari penangkapan ikan; dan d) membatasi ukuran ikan yang boleh ditangkap
Economic Impact From Plastic Debris On Selayar Island, South Sulawesi
Sampah plastik dalam jumlah besar terdeposit di pesisir Pulau Selayar yang berhadapan langsung dengan Laut Jawa selama musim barat. Sampah plastik telah menimbulkan dampak sosial dan ekonomi bagi nelayan di Pulau Selayar. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komposisi, kepadatan dan sebaran dari sampah plastik; dampak terhadap sosial dan ekonomi. Metode transek garis digunakan dalam penelitian ini untuk menentukan jumlah dan sebaran sampah plastik. Ukuran sampah plastik yang diamati adalah >2,5 cm dikategorikan sebagai sampah makro. Penelitian ini dilaksanakan pada Februari sampai Maret 2016. Dampak sampah plastik menurunkan pendapatan dari pariwisata, industri perikanan, mengganggu operasi penangkapan ikan, memerlukan pembersihan dan perbaikan pada alat langkap. Biaya yang dikeluarkan untuk perbaikan dan pembersihan kapal ikan sekitar 192,9 juta rupiah tiap tahun dan perbaikan alat tangkap 156,2 juta rupiah per tahun. Sampah plastik terdiri dari botol plastik, gelas plastik, tali dan jaring ikan, korek gas, keranjang plastik, pelampung, kemasan plastik, sikat gigi dan alat suntik. Rata-rata sampah plastik adalah 9,5 ± 2,7 item/m2 dan berat sekitar 229,2 ± 109,9 g/m2
