KURIOSITAS Media Komunikasi Sosial dan Keagamaan
Not a member yet
145 research outputs found
Sort by
Ruqyah Practice and Commodification of Spirituality on Tiktok @Nyairosidah3 Account
The phenomenon of ruqyah carried out online through the TikTok platform shows the transformation of religious practices in the digital media era. This study aims to analyze the phenomenon of ruqyah practices in live streams of TikTok @nyairosidah3 accounts and examine the interactions that arise between ruqyah practitioners (Nyai Rosidah) and netizens that reflect the process of religious commodification. This research uses a qualitative approach with a content analysis method. Data were obtained from 30 live broadcast sessions observed during the period 1–30 March 2025 and analyzed thematically. The results of the study show that interactions in live broadcasting can be categorized into four main categories, namely positive comments, negative comments, ruqyah requests, and responses from ruqyah perpetrators. Positive comments came from individuals who experienced mental health disorders such as anxiety and physical tension, who then gave testimonials after receiving ruqyah services via live streaming. The request for ruqyah conveyed through the comment column shows that the digital space has become a medium for remote spiritual consultation. The responses given in the form of scripture readings and simple instructions to the patient reflect empathic interpersonal communication. This study uses the theory of computer-mediated communication to understand the form of virtual interaction that exists without physical presence, as well as the theory of religious commodification to examine how spiritual values are displayed and interpreted in the context of digital media. These findings suggest that religious practices in social media are not only ritualistic, but also part of symbolic and economic exchanges in digital media.Fenomena ruqyah yang dilakukan secara daring melalui platform TikTok menunjukkan adanya transformasi praktik keagamaan di era media digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena praktik ruqyah dalam siaran langsung akun TikTok @nyairosidah3 dan mengkaji interaksi yang muncul antara praktisi ruqyah (Nyai Rosidah) dengan netizen yang mencerminkan proses komodifikasi agama. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi. Data diperoleh dari 30 sesi siaran langsung yang diamati selama periode 1–30 Maret 2025 dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi dalam siaran langsung dapat dikategorikan ke dalam empat bentuk kategori utama, yaitu komentar positif, komentar negatif, permintaan ruqyah, dan respons dari pelaku ruqyah. Komentar positif berasal dari individu yang mengalami gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan ketegangan fisik, yang kemudian memberikan testimoni setelah menerima layanan ruqyah secara live streaming. Permintaan ruqyah yang disampaikan melalui kolom komentar memperlihatkan bahwa ruang digital telah menjadi media konsultasi spiritual jarak jauh. Respons yang diberikan berupa pembacaan ayat suci dan instruksi sederhana kepada pasien mencerminkan komunikasi interpersonal yang bersifat empatik. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi bermediasi komputer (Computer Mediated Communication) untuk memahami bentuk interaksi virtual yang terjalin tanpa kehadiran fisik, serta teori komodifikasi agama untuk mengkaji bagaimana nilai-nilai spiritual ditampilkan dan dimaknai dalam konteks media digital. Temuan ini menunjukkan bahwa praktik keagamaan dalam media sosial tidak hanya bersifat ritual, tetapi juga menjadi bagian dari pertukaran simbolik dan ekonomi dalam media digital
Humorous Da'wah and Negotiated Digital Piety: Promoting Inclusive Religious Engagement in Online Public Spheres
Within the framework of the growing significance of social media as a platform for religious expression, humorous da'wah arises not merely as a communicative tactic but also as a means of navigating piety, authority, and audience interaction in digital public spheres. This research seeks to examine the influence of humour on audience reactions, the interpretation of religious messages by netizens, and the reflection of broader socio-cultural dynamics in digital interactions among Muslim online communities. This study employs a qualitative digital reception methodology, integrating computational sentiment analysis with thematic and discourse analysis to examine 1,000 user comments gathered via Apify. The data were evaluated with tools from Communalytic.org, such as the Civility Analyser, Sentiment Analyser, Topic Analyser, and Network Analyser, to discern emotional patterns, discourse themes, and interaction structures. This methodological integration facilitates a sophisticated comprehension of how audiences interpret meaning in platform-mediated religious communication. The results indicate that netizen reactions are primarily neutral (61.76%), followed by positive (14.71%) and negative (23.53%) views, suggesting a trend of negotiated reception rather than polarised involvement. Humour serves as a mechanism for low-conflict religious discourse, mitigating animosity and sustaining relatively low levels of toxicity in the commentary environment. The commentary discourse illustrates a process of negotiating digital piety, wherein listeners interpret, modify, and occasionally challenge religious teachings according to their social and cultural settings. This study enhances the scholarship on digital Islam by illustrating how humorous da'wah functions within platform logics to generate inclusive and emotive forms of religious communication. It emphasises the significance of comedy in promoting civil online discourse and provides insights into the reconfiguration of religious authority within participatory media contexts.Fenomena dakwah melalui media sosial, khususnya TikTok, semakin berkembang di kalangan anak muda, dengan penggunaan humor sebagai salah satu pendekatan dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komentar netizen terhadap video dakwah humor yang diunggah oleh akun TikTok @Amazmii. Fokus penelitian ini adalah untuk memahami reaksi emosional, wacana publik, dan dinamika sosial yang terbentuk dalam kolom komentar media sosial berbasis video pendek. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif, dengan menggabungkan analisis sentimen dan analisis tematik. Data yang digunakan terdiri dari 1000 komentar yang dikumpulkan dengan menggunakan perangkat lunak Apify, yang memungkinkan pengumpulan data secara otomatis dari tiga video TikTok. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan platform Communalytic.org untuk melakukan empat jenis analisis, yaitu Civility Analyzer, Sentiment Analyzer, Topic Analyzer, dan Network Analyzer. Hasilnya menunjukkan bahwa mayoritas komentar cenderung netral, dengan sedikit sentimen positif dan hampir tidak ada komentar yang mengandung toksisitas tinggi. Analisis sentimen menggunakan VADER dan TextBlob menunjukkan bahwa video-video dakwah humor ini diterima dengan baik tanpa memicu reaksi negatif yang kuat. Temuan ini mengindikasikan bahwa humor dapat menjadi strategi yang efektif dalam menyampaikan pesan dakwah yang lebih dapat diterima oleh penonton muda tanpa menimbulkan kontroversi. Signifikansi dari temuan ini adalah bahwa dakwah humor di media sosial dapat memperluas jangkauan pesan-pesan keagamaan, dengan cara yang lebih mudah diterima
Implementasi Program Corporate Social Responsibility PT UPC Sidrap Bayu Energi dalam Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat
PT UPC Sidrap Bayu Energi realises that, in the long term, its existence must not only produce electricity but also be able to provide benefits to the surrounding community. This study looks at how planning and implementing CSR programs has an impact on improving community welfare. This research uses a qualitative descriptive approach and focuses on CSR programs' planning and implementation processes. The research results show that the first stage in planning a CSR program is assessing the community's environmental, social, and economic needs. CSR plans by respecting local culture, cultural heritage, and community rights. The company committee, CSR employees, local government, Sidrap District CSR Forum, and community leaders were involved in the planning. Every December, a program planning mechanism is carried out with a meeting between local governments to find government work programs that can be combined with CSR programs. Implementing CSR programs and providing benefits to the company must obtain approval and support from the company's top management. This ensures that program implementation is fully supported by the company's resources, including financial resources, namely the budget allocated for program implementation, and human resources, namely the employees employed by the company.PT UPC Sidrap Bayu Energi menyadari bahwa dalam jangka panjang keberadaannya tidak hanya harus menghasilkan listrik tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Kajian ini melihat bagaimana perencanaan dan pelaksanaan program CSR berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan fokus pada proses perencanaan dan pelaksanaan program CSR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahap pertama dalam perencanaan program CSR adalah menilai kebutuhan lingkungan, sosial, dan ekonomi masyarakat. CSR melaksanakan perencanaan dengan menghormati budaya lokal, warisan budaya, dan hak-hak masyarakat. Komite perusahaan, karyawan CSR, pemerintah daerah, Forum CSR Kabupaten Sidrap, dan tokoh masyarakat dilibatkan dalam perencanaan. Setiap bulan Desember dilakukan mekanisme perencanaan program dengan pertemuan antar pemerintah daerah untuk mencari program kerja pemerintah yang dapat dipadukan dengan program CSR. Melaksanakan program CSR dan memberikan manfaat kepada perusahaan harus mendapat persetujuan dan dukungan dari manajemen puncak perusahaan. Hal ini memastikan pelaksanaan program didukung penuh oleh sumber daya perusahaan, termasuk sumber daya keuangan yaitu anggaran yang dialokasikan untuk pelaksanaan program, dan sumber daya manusia yaitu karyawan yang dipekerjakan oleh perusahaan
The Effectiveness of Hanzhala and Watermelon Icons as A Symbol Representation of The Palestine Struggle on The Palestine-Israel Conflict
The never-ending conflict between Palestine and Israel has resulted in great suffering to this day. However, the fighting spirit of the Palestinian people continues to grow strong roots. Palestinian people use various media to voice their rights and criticize the current situation affecting Palestine, one of which is in the form of caricature art. Naji Al-Ali, as a caricature artist, is active in voicing criticism and the conditions of concern faced by Palestinian society. Hanzhala is one of Naji's works created against the backdrop of the Nakba. Hanzhala then evolved into a symbol of resistance and a strong symbol of struggle for the national identity of the Palestinian people. This research will analyze the relevance and effectiveness of the use of Hanzhala caricatures as a reflection of the factual conditions of Palestinian resistance in the Palestinian-Israeli conflict from 7 October 2023 until now. This research was researched using a descriptive qualitative approach method through relevant library sources. Based on the research analysis that has been carried out, the Hanzhala caricatures by Naji al-Ali remain relevant in depicting criticism and current conflict situations. However, the use of Hanzhala caricatures as a medium for criticism has not attracted much attention from the global community, so the aim of using caricatures as a medium to increase recognition of the resistance to the Palestinian struggle is less effective.Konflik yang tak kunjung usai antara Palestina dan Israel telah mengakibatkan penderitaan yang luar biasa hingga saat ini. Namun, semangat juang rakyat Palestina terus tumbuh mengakar kuat. Rakyat Palestina menggunakan berbagai media untuk menyuarakan hak-haknya dan mengkritisi situasi terkini yang menimpa Palestina, salah satunya dalam bentuk seni karikatur. Naji Al-Ali sebagai seniman karikatur aktif menyuarakan kritik dan kondisi memprihatinkan yang dihadapi masyarakat Palestina. Hanzhala merupakan salah satu karya Naji yang dibuat dengan latar belakang Nakba. Hanzhala kemudian berkembang menjadi simbol perlawanan dan simbol kuat perjuangan jati diri nasional rakyat Palestina. Penelitian ini akan menganalisis relevansi dan efektivitas penggunaan karikatur Hanzhala sebagai refleksi kondisi faktual perlawanan Palestina dalam konflik Palestina-Israel sejak 7 Oktober 2023 hingga saat ini. Penelitian ini diteliti dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif deskriptif melalui sumber pustaka yang relevan. Berdasarkan analisis penelitian yang telah dilakukan, karikatur Hanzhala karya Naji al-Ali masih relevan dalam menggambarkan kritik dan situasi konflik terkini. Akan tetapi, penggunaan karikatur Hanzhala sebagai media kritik belum banyak menarik perhatian masyarakat global, sehingga tujuan penggunaan karikatur sebagai media untuk meningkatkan pengakuan atas perlawanan terhadap perjuangan Palestina kurang efektif
Pernikahan Beda Agama pada Pemberitaan di Portal Berita Online (Studi pada Detik.com, Republika.co dan Kompas.com)
Abstract: This research aims to examine news about interfaith marriages on Indonesian news portals. The issue of interfaith marriage is sensitive in Indonesia because it is related to religion, culture, and social society. This research uses Entman framing analysis. This analysis is divided into four concepts, namely defining the problem, factors causing the problem, moral decisions, and problem-solving. Detik.com carries out externalization by adapting to sociocultural conditions where Indonesia's diverse society requires diverse information. Detik.com does not consider religious ideology as a basis for reporting. Republika.co media to be intersubjective to institutionalize approval for the legalization of interfaith marriages with constitutional legitimacy. Republika.co describes itself as a media that represents Muslim groups. Internalization of Kompas.com is guided by its vision to respect the diversity and diversity of Indonesian society. Kompas.com tends to be tolerant and raise minority issues.
Keywords: framing, interfaith marriage, news portal
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemberitaan pernikahan beda agama di portal berita Indonesia. Isu perkawinan beda agama ini menjadi isu sensitif di Indonesia karena terkait dengan agama, budaya dan sosial kemasyarakatan. Penelitian ini menggunakan analisis framing Entman. Analisis ini dibagi menjadi empat konsep yaitu mendefinisikan masalah, faktor penyebab masalah, keputusan moral, dan penyelesaian masalah. Detik.com melakukan eksternalisasi dengan melakukan adaptasi terhadap kondisi sosiokultural di mana masyarakat Indonesia yang majemuk membutuhkan informasi yang beragam. Detik.com tidak mempertimbangkan ideologi keagamaan sebagai dasar dalam pemberitaan. Media Republika.co berusaha melakukan intersubjektif untuk melembagakan penolakan pelegalan nikah beda agama dengan legitimasi konstitusi. Republika.co menggambarkan diri sebagai media yang mewakili kelompok muslim. Internalisasi pada Kompas.com berpedoman pada visinya untuk menghargai kemajemukan dan keberagaman masyarakat Indonesia. Kompas.com cenderung memberikan dengan toleran dan mengangkat isu-isu minoritas.
Keyword: framing, nikah beda agama, portal berita
 
Nepotism and Its Social Impact on Life in Hadith Perspective: Nepotisme dan Dampak Sosialnya pada Kehidupan dalam Perspektif Hadis
Nepotism is one of the social disease phenomena that has existed since ancient times and still exists today. This article aims to discuss Nepotism and its impact on social life from the perspective of the hadith of the Prophet PBUH. In addition, data was also obtained from other related documents such as books and relevant research. The results of this study show that nepotism is the practice of giving certain positions, beliefs or tasks to others, both family and close friends, without considering their credibility and capabilities where things are not based on their ability to carry out tasks or positions, but because of personal relationships. As a result, this can trigger chaos and even destruction within the organization or institution in question. Some of the characteristics of the practice of nepotism are depicted in the hadith of the Prophet, such as the absence or even lack of professionalism and expertise in the tasks given, as well as the absence of integrity, namely the inability to realize his ideas and thoughts for the sake of the public interest. Therefore, this can trigger chaos in the pattern of social comfort and even result in the destruction of the hereafter.Nepotisme adalah salah satu fenomena penyakit sosial yang telah ada sejak dahulu dan masih eksis hingga saat ini. Artikel ini bertujuan untuk mendiskusikan mengenai Nepotisme dan dampaknya pada kehidupan sosial dalam perspektif hadis Nabi SAW. Artikel ini didasarkan pada data yang diperoleh melalui penulusuran dokumen yang berupa kitab-kitab hadis yang menjelaskan tentang nepotisme. Selain itu data juga diperoleh dari dokumen lain yang terkait seperti buku maupun penelitian yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nepotisme adalah praktik memberikan posisi jabatan, kepercayaan atau tugas tertentu kepada orang lain, baik keluarga maupun teman dekat, tanpa mempertimbangkan kredibilitas dan kapabilitas mereka yang di mana hal bukan berdasarkan kemampuan mereka dalam menjalankan tugas atau jabatan, melainkan karena hubungan personal. Akibatnya, hal ini dapat memicu kekacauan dan bahkan kehancuran dalam organisasi atau institusi yang bersangkutan. Beberapa karakteristi dari prakti nepotisme tergambar dalam hadis Nabi, seperti tidak adanya atau bahkan kurangnya profesionalitas dan keahlian pada tugas yang diberikan, serta ketiadaan integritas, yaitu ketidakmampuan untuk merealisasikan ide dan pemikirannya demi kepentingan umum. Oleh karena itu hal ini dapat memicu kekacauan dalam pola kenyamanan kehidupan sosial dan bahkan mengakibatkan kehancuran kehidupan akhirat
Multimodality In “Bakiak Games” Posts on G20 2022 Social Media : Multimodalitas dalam Postingan “Permainan Bakiak” di Media Sosial G20 2022
This study aims to reveal the meaning of the message in the multimodal post "Bakiak Game" on Instagram G20 2022. This is to see how the Bakiak Game is depicted and what reflects its ideology. The focus of this research is on describing the ideational meaning of verbal and visual data. This research method is qualitative with a multimodal discourse analysis approach. The data source for this research is multimodal posts in the form of a combination of visual mode (image) and verbal mode (caption). The post in question is a post about "The Game of Bakiak" which was uploaded on social media Instagram G20 2022. Based on the analysis of the verbal mode, material processes, relational processes and behavioral processes were found in describing the game of Bakiak. Of these three processes, the material process is very dominant. This shows that Bakiak is described as a physical sport carried out by humans in groups. Apart from that, in the image mode, an actional narrative process is found. This is in line with the ideational meaning in the verbal mode, namely that this post describes a physical sport carried out in a group and coordinated. Ideologically, this game has the moral value of cooperation and team coordination. In the context of the spirit and moral values of the G20, it needs to be adopted by the global community, especially the G20 countries, in facing the challenges after the Covid-19 pandemic.Kajian ini bertujuan untuk mengungkap makna ideasional dalam postingan multimodal “Permainan Bakiak” di Instagram G20 2022. Selain itu, kajian ini juga mengungkap bagaimana hubungan antartanda yang ada pada data multimodal tersebut dalam membangun makna. Hal ini untuk melihat bagaimana Permainan Bakiak digambarkan dan apa implikasi ideologisnya. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan analisis wacana multimodal. Sumber data penelitian ini adalah postingan multimodal berupa gabungan moda visual (gambar) dan moda verbal (caption). Postingan yang dimaksud adalah postingan tentang “Permaian Bakiak” yang diunggah media sosial Instagram G20 2022. Berdasarkan analisis pada moda verbal ditemukan proses material-aksional, proses relasional, dan proses perilaku dalam menggambarkan permainan Bakiak. Dari tiga proses tersebut proses material-aksional sangat dominan. Hal ini menujukkan bahwa Bakiak cenderung digambarkan sebagai olah raga fisik yang dikukan manusia secara kelompok. Selain itu, pada moda gambar ditemukan proses naratif-aksional. Hal ini sejalan dengan makna ideasional yang ada pada moda verbal, yaitu bahwa postingan ini menggambarkan sebuah olah raga fisik yang dilakukan secara berkelompok dan terkoordinasi. Secara ideologis permainan ini memiliki nilai moral kerja sama dan koordinasi. Dalam konteks G20 spirit atau nilai moral tersebut perlu diadopsi oleh masyarakat global khususnya negara G20 dalam menghadapi tantangan pascapandemi Covid-19
Analisis Konsep Moderasi Beragama menurut Pimpinan Majelis Lintas Agama di Jakarta
Moderasi Beragama yang dicetuskan oleh Kementrian Agama diharapkan mampu menjadi solusi terhadap tantangan keberagaman. Namun, moderasi beragama memiliki titik berat pada penempatan agama yang tentu didalamnya ada tokoh lintas agama sebagai agent. Sementara itu, tokoh agama yang sejatinya kerap menyentuh dinamika masyarakat atau istilah yang kami gunakan dalam penelitian ini adalah ummat kerap hanya dijadikan perpanjangan tangan dalam meneruskan kebijakan terkait moderasi beragama. Peran para tokoh agama atau dalam tulisan ini digunakan istilah tokoh lintas agama menjadi penting untuk dapat digunakan pemikirannya yang berkaitan dengan moderasi Beragama. Maka, penelitian ini mencoba mengeksplorasi analisis terkait dengan pemahaman para tokoh lintas agama tentang moderasi Beragama. Menggunakan Metode analisis fenomenologi, penelitian ini diharapkan mampu menguak sisi lain moderasi Beragama melalui pandangan tokoh lintas agama yang dianalisa. Metode ini berfokus pada pemahaman mendalam tentang makna subjektif yang diberikan oleh individu terhadap fenomena yang mereka alami Penelitian dilakukan dengan wawancara mendalam Terhadap pimpinan majelis keagamaan seperti MUI, PGI, KAJ, PHDI, WALUBI dan MATAKIN. Hasil penelitian menyebutkan bahwa moderasi Beragama dalam hal pemahaman perlu untuk diteruskan kepada masyarakat sebagai materi dakwah yang harus terus menerus disampaikan. Temuan berikutnya menyebut bahwa diatas pemahaman, moderasi Beragama juga perlu dilaksanakan dengan sikap toleran diantara ummat yang dimaknai sebagai sikap pembiaran terhadap ummat lain untuk melakukan ritual keagamannya masing-masing. Temuan ketiga dalam penelitian ini yaitu yang berikaitan dengan pemberian fasilitas keagamaan utamanya bagi pemeluk agama serta kepercayaan minoritas di Jakarta. Pemberian fasilitas yang dimaksud dikhususkan kepada komunitas atau kelompok keagamaan yang dirasa memiliki kesulitan dalam hal fasilitas beribadah ditempatnya masing-masing
Family Communication in Modern Islamic Communities (The Miracle of the Qur'an in the Digital Era to Address the Fragility of Marital Harmony): Komunikasi Keluarga dalam Komunitas Islam Modern (Mukjizat Al-Qur'an di Era Digital untuk Mengatasi Kerentanan Keharmonisan Pernikahan)
This study aims to explore how family communication within Muslim communities in the modern era can be strengthened by examining the wonders of the Qur'an. The research method used is descriptive qualitative with a natural phenomenological approach. Data were collected through the review of various publications and the observation of phenomena both directly and indirectly, which were then analyzed to draw conclusions. The findings indicate that the Qur'an plays a crucial role as a solution and guide in facing the advancements of the modern era and the world of technology. The main findings include: 1) The importance of putting away devices when gathering with family, 2) Establishing good communication, and 3) Using the Qur'an as a family guide. Through this research, it is highlighted that good communication is essential to deepen loving relationships within the family. Without effective communication, the atmosphere within the family becomes chaotic and disorganized, making it difficult to achieve a harmonious family. Many family problems in the modern era stem from family members being preoccupied with their devices, lack of commitment, and poor communication, which distances the family from the guidance of the Qur'an.Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana komunikasi keluarga dalam komunitas Muslim di era modern dapat diperkuat dengan mengkaji keajaiban Al-Qur'an. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi natural. Data dikumpulkan melalui penelusuran berbagai publikasi dan observasi fenomena secara langsung dan tidak langsung, yang kemudian dianalisis untuk menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Qur'an memainkan peran penting sebagai solusi dan panduan dalam menghadapi perkembangan zaman modern dan dunia teknologi. Temuan utama meliputi: 1) Pentingnya meletakkan gawai saat berkumpul bersama keluarga, 2) Menjalin komunikasi yang baik, dan 3) Menjadikan Al-Qur'an sebagai panduan keluarga. Melalui penelitian ini, penting bagi keluarga untuk melakukan komunikasi yang baik memperdalam hubungan kasih sayang dalam keluarga. Tanpa komunikasi yang baik, suasana dalam keluarga akan menjadi kacau dan tidak teratur, sehingga sulit tercipta keluarga yang harmonis. Banyak permasalahan keluarga di era modern ini, seperti anggota keluarga yang sibuk dengan gawai masing-masing, kurangnya komitmen, serta buruknya komunikasi yang menjauhkan keluarga dari Al-Qur'an
Larvul Ngabal as the Basis for Interreligious Harmony: The Central Role of the Raja in the Kei Islands: Larvul Ngabal sebagai Basis Kerukunan Umat Beragama: Peran Sentral Raja di Kepulauan Kei
The Kei Islands community is known as a community that lives by upholding the customs of Larvul Ngabal led by a king or in the term of the Kei island community called Rat. He serves as an informal leader who is equal to the head of government within the scope of indigenous peoples. This research answers the problem of how the role of customary leadership in maintaining religious harmony on the Key islands. The method used is descriptive qualitative with structured interview data collection techniques from kings, traditional leaders, community leaders, youth and migrant communities. The results showed that the role of the king or Rat and its legal structure as a conflict mediator has a role in maintaining the religious harmony of the Kei community. The position of the king as a representative of God or God and is the second head after the head of God, is a link between custom and religion and is respected by the community. As the head of customary government, the king has legal legitimacy over customary institutions including the head of the Ohoi/Ohoi Rat government and all natural resource wealth. The role of the king and his legal structure as a decision-maker at customary sessions or decisions made by the king himself are obeyed and adhered to by his community within the framework of obedience to the customary law of Larvul Ngabal which is considered sacred and sacred.
Masyarakat Kepulauan Kei dikenal sebagai masyarakat yang hidup dengan memegang teguh adat istiadat Larvul Ngabal yang dipimpin oleh seorang raja atau dalam istilah masyarakat kepulauan Kei disebut Rat. Ia berkedudukan sebagai pemimpin informal yang sejajar dengan kepala pemerintahan dalam lingkup masyarakat adat. Penelitian ini menjawab permasalahan bagaimana peran kepemimpinan adat dalam memelihara kerukunan umat beragama pada kepulauan Key. Metode yang digunakan deskriftif kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara interview terstruktur dari raja, tokoh adat, tokoh masyarakat, pemuda dan masyarakat pendatang.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan raja atau Rat dan struktur hukumnya sebagai mediator konflik memiliki andil dalam memelihara kerukunan umat beragama masyarakat Kei. Kedudukan raja sebagai wakil Tuhan atau Dewa dan merupakan kepala kedua setelah kepala Tuhan, merupakan penghubung antara adat dan agama dan dihormati oleh masyarakatnya. Sebagai kepala pemerintahan adat, raja memiliki legitimasi hukum atas institusi adat meliputi kepala pemerintahan Ohoi/Ohoi Rat dan seluruh kekayaan sumberdaya alam. Peranan raja dan struktur hukumnya sebagai pembuat keputusan pada sidang adat ataupun keputusan yang dilakukan oleh Raja sendiri dipatuhi dan ditaati oleh masyarakatnya dalam bingkai ketaatan pada hukum adat Larvul Ngabal yang dianggap suci dan sakral