23805 research outputs found
Sort by
Exploration of Arbuscular Mycorrhizal Fungi from Sugarcane Rhizosphere in South Sulawesi
A survey considering the occurence of arbuscular mycorrhiza (AM) fungi in sugarcane plantation field in South Sulawesi were conducted with the aim to exploit the site spesific genetic resources in relation to plant growth promotion. Eleven soil samples were collected from sugarcane rhizosphere in three districts of South Sulawesi province, Indonesia. Six samples of sugarcane varieties CM 2012, PS 862, PS 864, TK 386, BL, and Triton were taken from Takalar district; two samples of sugarcane varieties, CM 2012 and TK 386 were from Jeneponto district; and three samples taken from Gowa district were varieties of PS 862 and TK 386. The study informed that ten different types of AM fungi were found in three districts of South Sulawesi province included three families of the fungi i.e. Glomaceae, Acaulosporaceae, and Gigasporaceae. Glomus and Gigaspora genera have similiar abundance and spores characteristics in three districts and indicate that these genera have a wide spread in and have high capability associated with sugarcane. The greatest mycorrhizal diversity was in Gowa district with four types of mycorrhizal genera found i.e. Glomus, Gigaspora, Acaulospora and Sclerocystis
Studi Hidro-oceanografi Tanah Maita Kabupaten Buton Untuk Perencanaan Seawall
Sebagai daerah pesisir yang berbatasan langsung dengan Laut Flores dibagian selatannya, Tanah Maeta Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton tentu perlu mendapatkan perhatian pemerintah mengingat dalam hal ini besarnya gelombang laut yang dapat menyebabkan pengikisan pada garis pantai dan ditambah lagi pemukiman penduduk yang dekat sehingga perlu adanya perencanaan pengamanan untuk daerah sempadan pantai tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi hidro-oseanografi pantai Tanah Maita Kabupaten buton agar selanjutnya dapat digunakan untuk menganalisa gelombang dengan menggunakan software SMS untuk perencanaan seawall. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah Metode Deskriptif, dimana yang dilakukan adalah pengumpulan data primer berupa pengambilan data di lapangan yaitu survey bathimetri dan survey pasang surut serta pengambilan data sekunder yaitu data angin. Selanjutnya, data yang diperoleh disimulasikan pada software Surface-water Modelling System 10.0. Berdasarkan hasil dari penelitian di lapangan diperoleh data kedalaman dan dari perhitungan data pasang surut menunjukkan bahwa Pasang surut terjadi 2 kali yaitu dua kali pasang dan dua kali surut, yaitu Pasut tipe campuran condong harian ganda (Mixed Tide Prevailing Semi diurnal). Adapun tunggang pasang surut di lokasi studi adalah 2,18 m. Serta diperoleh presentasi kejadian angin yang paling besar atau sering terjadi adalah angin yang berhembus dari arah timur. Dari hasil simulasi menunjukkan bahwa tinggi gelombang signifikan yang terjadi pada eksisting perairan lokasi proyek terjadi di tengah laut yang terjadi pada zona bangkitan gelombang, jauh sebelum mencapai pesisir, Sedangkan tinggi gelombang maksimal yang berhasil sampai ke pesisir tidak lebih dari 1,2 m. juga terdapat vektor yang bergerak turbulen serta saling berpotongan di sekitar area muara sungai
Pemodelan Numerik Sirkulasi Arus Tiga Dimensi di Perairan Kepulauan Spermonde Pangkep Sulawesi Selatan
Sirkulasi arus tiga dimensi di perairan Kepulauan Spermonde Kabupaten Pangkep telah disimulasikan dengan menggunakan pemodel numerik hidrodinamika. Model studi terfokus pada simulasi profil kecepatan horizontal dan pola sirkulasi arus pada permukaan hubungannnya dengan pola musim yang disebabkan oleh pergerakan angin yang terjadi di daerah Kepulauan Spermonde. Simulasi ini dilakukan selama empat musim yaitu: monsun barat (Januari), peralihan I (April), monsun timur(Juli) dan peralihan II (Oktober). Hasil Dari simulasi model sirkulasi arus yang dibangkitkan oleh angin dengan perwakilan 4 musim yang dominan diperoleh bahwa untuk lapisan permukaan pola angin dan pola arus mempunya kemiripan dalam arah akan tetapi dari magnitude agak berbeda dimana kecepatan angin rata-rata lebih besar dari pada kecepatan arus rata-rata untuk tiap musim. Untuk zona dangkal pola arus masih sangat dipengaruhi oleh topografi daerah model terjadi pengurangan Kecepatan arus rata-rata mengikuti kedalaman daerah perairan
PEER REVIEWER
-PEER REVIEWER\ud
\ud
PROSIDING INTERNASIONAL:\ud
ANALYSIS of Vibrio spp COMPOSITION CHANGES OF TIGER SHRIMP (Penaeus monodon) CULTIVATED IN SOUTH SULAWES
Microbial Risks Assessment of Bakso and Restaurant Food Consumption due to the Escherichia Coli Contaminated Water Sources in Abepura City, Papua Indonesia 2013
-Microorganisms in drinking water sources may colonize in gastrointestinal (GI) tracts and this phenomenon may pose a potential health risk especially to immune compromised population. The survival characteristics of both generic E. Coli and Escherichia coli O157:H7 in varied drinking water sources were investigated to assess the potential for human exposure. This study aimed to assess microbial risks posed by human exposure due to the generic Escherichia coli (MPN/100 ml or cfu 100 g) (n=20) and Escherichia coli O157 (n=20) contaminated water drinking consumption from various sources in Abepura Regency, Papua Province. Samples from Bakso sellers and restaurants source were analyzed for those two kinds Escherichia coli contamination. Risk analysis is a necessary component to assist in selecting priority hazards and identifying hazardous scenarios. Research revealed levels of generic E. coli in water (from Bakso Seller ranged from 1.5 to 35 ?? 6 cfu/100 mL, whereas in the restaurant were ranged from 0 to 12 ?? 2 cfu/ml. The WHO permissible limit is 0 cfu/100 mL per water sample in ideal conditions. The highest generic E coli count recorded was 35 log cfu/ml and 12 cfu/ml in Bakso and restaurant, respectively. E coli O157:H7 were found in the same point stations (from Bakso seller mean: 1.0 cfu/g and restaurant 0.0 cfu/g). Samples that exceeded disease risks set by the WHO were collected before the implementation of strict regulation from local health centre that regularly test the restaurant food and street sellers then set fine and punishment to those sellers who break the regulation. Disease risk from consumption of Bakso and food from restaurant in Abepura was found to be within acceptable levels. No relationship was found between E. coli concentrations in Bakso??? water and water used in restaurants. Conclusion; Quantitative results revealed the presence of pathogenic organisms and water quality risk due to the unsanitary water sources and environmental sanitation. Continued water quality monitoring, the application of household based disinfectants, and healthy domestic hygiene practices are highly recommended
Lead contamination and its potential risks due to seafood consumption from Sentani Lake, Papua, Indonesia 2013
This research aimed to investigate lead (Pb) contamination in aquatic habitat and assess the potential health risks of seafood consumption from Sentani Lake, Papua. Water column, sediment, bivalve, pelagic and benthic fishes samples were collected in one time collection. Furthermore, estimated weekly intake (EWI) and potential health risks were determined using target hazard quotient (THQ) equation. Results revealed the concentration of Pb in water column, sediment, bivalve, pelagic and benthic fishes were ranged from 0.13 to 1.87 mg L-1, 1.24 to 3.84 mg kg-1 dw, 0.43 to 2.76 mg kg-1ww, 0.27 to 2.78 mg kg-1ww and 1.39 to 3.55mg kg-1ww, respectively. The magnitude of EWI values of Pb in bivalve, pelagic and benthic fishes showed that consumption per week for body weight of 60 kg for the local people were found to be in the range of 0.49 to 3.16 mg/kg bw and 1.13 to 10.71 mg/kg bw and 5.84 to 11.93 mg/kg bw, respectively. In addition, the magnitude values of target THQ for water column, bivalve, pelagic and benthic fishes were in the range of 0.005 to 0.035, 0.006 to 0.038, 0.004 to 0.039 and 0.021 to 0.051, respectively. All those levels have not exceeded the limit standard or < 1 for potential health risks which mean safe for consumption
Pemanfaatan Limbah Kulit Buah Nangka sebagai Bahan Baku Alternatif dalam Pembuatan Papan Partikel untuk Mengurangi Penggunaan Kayu dari Hutan Alam
Papan partikel merupakan istilah yang digunakan untuk panel yang dibuat dari bahan-bahan berlignoselulosa (biasanya bersumber dari kayu). Bahan tersebut dibuat dalam bentuk potongan-potongan diskrit atau partikel. Salah satu kendala dalam pemenuhan kebutuhan nasional atas papan partikel yakni semakin minimnya hasil hutan berupa kayu yang menjadi bahan baku utama dalam pembuatan papan partikel dalam negeri. Pembuatan papan partikel ini menggunakan limbah kulit buah nangka Artocarpus heterophyllus dengan perekat Fenol Formaldehida 10% dan 12% yang memiliki kelebihan mudah diwarnai, mudah dibentuk dan dicetak serta tidak menimbulkan efek racun. Penelitian yang dilakukan di Universitas Hasanuddin ini bertujuan menghasilkan salah satu alternatif dalam pemanfaatan limbah kulit buah nangka sebagai bahan baku pembuatan papan partikel. Selain sebagai upaya mengurangi pencemaran lingkungan karena limbah juga diharapkan dapat menjadi solusi inovatif produk-produk subtisusi kayu
STUDI PEMANFAATAN FITOPLANKTON (Chlorella sp) DALAM MENGURANGI KADAR LOGAM BERAT MERKURI (Hg) DI LAUT
Salah satu pencemaran laut melalui buangan limbah adalah limbah yang mengandung logam berat. Kandungan logam berat dalam perairan berasal dari pelapukan batuan, namun konsentrasi yang lebih tinggi berasal dari industri. Pencemaran yang ditimbulkan oleh logam berat sampai tingkat tertentu dapat menganggu perairan dan mutu air. Masalah yang ditimbulkan cukup rumit, karena logam memiliki sifat racun, tidak dapat dirombak atau hancur oleh organisme, dan dapat terakumulasi dalam tubuh organisme.\ud
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan logam berat Merkuri terhadap populasi Chlorella sp serta kapasitas penyerapan logam Merkuri. Rancangan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas perlakuan dengan konsentrasi 0, 4, 5, dan 6 ppm. Logam Merkuri tersebut dipaparkan pada Chlorella sp selama 4 hari dengan pengukuran kualitas air setiap hari. Selain itu dilakukan penghitungan jumlah sel. Masing-masing sampel dianalisa dengan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) pada hari ke-4 untuk uji serapannya. \ud
Dari hasil penelitian menunjukkan Chlorella sp mampu bertahan hidup pada konsentrasi 4, 5, dan 6 ppm meskipun terjadi penghambatan pertumbuhannya dibanding control. Kemudian efektivitas penyerapan logam pada Chlorella sp meningkat seiring bertambahnya konsentrasi logam Merkuri. Efektivitas penyerapan tertinggi pada penelitian ini adalah konsentrasi 6 ppm
EFFICIENCY OF SIMPLE SEQUENCE REPEATS (SSR) MARKERS IN ESTIMATING GENETIC DIVERSITY OF JABON MERAH (ANTHOCEPALLUS MACROPHILLUS)
Jabon merah (Anthocepallus macrophillus) is a tropical timber tree which has high economical value. Molecular breeding strategies using microsatellite markers have never been initiated before. Breeding programs are needed to protect genetic diversity as well as genetic improvement. Molecular aspects are commonly related with protocol for DNA preparation and molecular markers which are important, thus it will speed up the breeding program and conservation. The findings of this study to find out SSR primers indicating high level of polymorphisms on Jabon Merah. This study was conducted to evaluate the ability of ten SSR markers in differentiating twelve genotype of through SSR banding pattern of PCR and electrophoregram results. Based on electrophoregram visuals, four primers could amplify most of the genotype used in this study. This preliminary study could provide important information for breeding program in endemic trees