2011 research outputs found
Sort by
MENUJU HARMONI DI TANAH ADAT JALAN DAMAI SENGKETA ADAT PEMBANGUNAN PARIWISATA
Tanah adat di Bali bukan hanya sekadar aset ekonomi,
melainkan juga memiliki dimensi spiritual dan budaya yang
mendalam. Dalam konteks pariwisata, tanah adat seringkali
menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang ingin merasakan
keindahan alam dan keunikan tradisi Bali. Oleh karena itu,
penting untuk menjaga keseimbangan antara pengembangan
pariwisata dan pelestarian tanah adat, agar tidak terjadi keru
sakan lingkungan dan hilangnya identitas budaya masyarakat
Bali. Pengelolaan tanah adat harus dilakukan dengan bijaksana,
dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal, serta
menghormati nilai-nilai spiritual dan budaya yang terkandung di
dalamnya.
Selain itu, tanah adat juga memiliki fungsi sosial yang
sangat penting bagi masyarakat Bali. Tanah adat menjadi
tempat untuk membangun rumah, bercocok tanam, dan melak
sanakan kegiatan adat dan keagamaan. Tanah adat juga
menjadi simbol identitas dan solidaritas sosial masyarakat Bali,
yang diwariskan secara turun-temurun. Oleh karena itu, penge
lolaan tanah adat harus mempertimbangkan kepentingan
seluruh anggota masyarakat Bali, bukan hanya segelintir orang
atau kelompok tertentu. Pembangunan pariwisata harus mem
berikan manfaat ekonomi yang adil bagi seluruh masyarakat
Bali, serta tidak merusak tatanan sosial dan budaya yang telah
ada.
Untuk memperdalam pemahaman tentang makna tanah
adat, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai sistem
kepercayaan dan praktik-praktik ritual yang terkait dengan
tanah. Penelitian ini dapat mengungkap bagaimana masyarakat
Bali memaknai tanah secara spiritual dan bagaimana mereka
menjaganya sebagai bagian dari identitas budaya mereka.
Selain itu, perlu juga dilakukan studi komparatif mengenai
pengelolaan tanah adat di berbagai daerah di Indonesia, untuk
mendapatkan wawasan yang lebih luas mengenai tantangan
dan peluang dalam menjaga tanah adat di tengah arus
modernisasi
Bamboo Brilliance: Sustainable Architecture in Bali
Welcome to “Bamboo Brilliance:
Sustainable Architecture in Bali,” a comprehensive exploration
of the innovative and environmentally-friendly bamboo
architecture that has become synonymous with the island
of Bali. This book is intended for a wide audience, including
architects, lecturers, researchers, Balinese locals, bamboo
contractors, green experts, bamboo designers, bamboo
consultants, hospitality professionals, and villagers interested
in sustainable solutions for a greener future
The Irregular Response of Flat Plate Structures to Horizontal Deformation for Engineering Decisions
This study examines the structural response of a seven-story reinforced concrete building with a dual system, focusing on shear forces, stiffness, and inter-story variations. Designed in accordance with SNI 1726-2019 for Jakarta, the study considers dead loads, live loads, wind loads, rain loads, and earthquake loads. Analysis on the second floor (6.2 m above the foundation) indicates that the inter-story deflections meet the permissible limits, with a maximum deviation of 64.615 kN at the roof and 49.23 kN from floors 2 to 6. Static shear forces reached 41,826.62 kN (X) and 4,182.62 kN (Y), while dynamic shear forces reached 4,697.28 kN (X) and 5,057.97 kN (Y), meeting the static force requirement of 100%. Overall, the shear forces, stiffness, and inter-story deviations of Building B demonstrate an effective structural response to earthquake activity. Engineers are expected to master the behavior of irregularities in structural elements due to earthquake loads so that they can make informed decisions in construction planning and its implementation in the field
Steel Structure Design with Concentric Brace Frame System Sukawati Market Building Block C
The Ring of Fire district is a leader in setting out a framework that has to be efficient and effective from a planning perspective. The objectives of this study are to find out how the behavior of steel structure in case of X-type concentric braced system in the Sukawati Market Block C building. The Super Structure design is based on the following cross sections: column, HB. 350. 350. 12. 19 for K1, HB. 300. 300. 10. 15 for K2, and HB. 200. 200. 8. 12 for K3, and one may notice the economic efficiency ratio of the cross-section is 90%. The used beams are beam 1 IWF 250.250.6.9, beam 2 IWF 350.175.7.11, beam 3 IWF 450.200.9.14 and the maximum cost ratio value of the cross section is 98%. Profile IWF is utilized as a bracing element. 200. 100. 5,5.8 with an economic index of 64%
DILEMATIKA ANTARA HUNIAN DAN BISNIS Menata Ulang Regulasi Kondominium Hotel di Indonesia
Kondotel atau kondominium hotel adalah fenomena yang
relatif baru di Indonesia. Walaupun di beberapa negara konsep
ini sudah lama dikenal, di Indonesia kondotel baru benar-benar
berkembang dalam dua dekade terakhir. Awalnya, kondotel
muncul sebagai jawaban atas kebutuhan wisatawan akan
akomodasi yang lebih fleksibel, dan kebutuhan investor akan
instrumen investasi properti yang menjanjikan. Kombinasi
keduanya menjadikan kondotel sebagai tren yang terus tumbuh
di kawasan pariwisata populer seperti Bali, Yogyakarta, Lombok,
dan Batam.
Popularitas kondotel tidak bisa dilepaskan dari perkem
bangan industri pariwisata. Wisatawan, baik domestik maupun
mancanegara, semakin mencari alternatif hunian yang lebih
personal daripada hotel konvensional. Kondotel hadir mem
berikan pengalaman tinggal di ruang yang lebih luas, lebih
privat, tetapi tetap mendapatkan layanan hotel seperti resep
sionis, keamanan, dan housekeeping. Inilah yang membuat
kondotel menjadi pilihan banyak turis modern.
Dari sisi bisnis, kondotel juga sangat menggoda investor.
Bayangkan, seseorang membeli unit apartemen di lokasi
strategis, lalu unit tersebut bisa menghasilkan pendapatan
ketika disewakan layaknya kamar hotel. Pemilik tidak perlu
repot mengelola penyewa, karena semuanya diatur oleh operator hotel. Hasil penyewaan dibagi sesuai kesepakatan
kontrak. Skema ini membuat banyak investor menganggap
kondotel sebagai “investasi ganda”: hunian sekaligus bisnis
Laporan PKM Revitalisasi Warisan Budaya Tak Benda di Desa Heritage Gelgel 2025
Desa Heritage Gelgel merupakan desa bersejarah di Klungkung, Bali, yang pernah menjadi pusat
Kerajaan Bali pada abad XIV-XVI Masehi. Desa ini memiliki kekayaan warisan budaya yang sangat
beragam, mencakup seni pertunjukan, tradisi visual, dan naskah-naskah kuno. Program pengabdian
masyarakat ini bertujuan untuk melestarikan dan merevitalisasi warisan budaya tak benda di Desa
Gelgel melalui tiga fokus kegiatan: pelestarian tradisi melukis wayang Kamasan, pemberdayaan seni
tari wayang wong, dan digitalisasi lontar karya I Gusti Dauh Bale Agung. Tradisi melukis wayang
Kamasan yang memiliki karakteristik khas dengan latar warna coklat muda, kaku, dua dimensi, dan
mengikuti standar yang berlaku kini mulai terancam eksistensinya. Wayang wong sebagai gabungan
dari tari, tabuh, tembang dan drama merupakan kesenian sakral yang perlu dilestarikan melalui
peremajaan pemeran dan penerusan kepada generasi muda. Sementara lontar, sebagai produk
budaya yang kaya makna, membutuhkan metode konservasi dan digitalisasi untuk mencegah
kerusakan. Pelaksanaan program mencakup pelatihan seni Lukis wayang kamasan kepada anak-anak,
digitalisasi dan konservasi tiga cakep lontar, dan peremajaan sekeha wayang wong Kamasan. Melalui
digitalisasi warisan budaya dan pemberdayaan masyarakat, program ini bukan hanya bertujuan untuk
melestarikan tradisi, tetapi juga meningkatkan ekonomi lokal melalui pariwisata spiritual. Program ini
akan melibatkan berbagai tahapan mulai dari sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, hingga
pendampingan dan evaluasi keberlanjutan untuk memastikan warisan budaya Desa Gelgel dapat
dinikmati oleh generasi mendatan
Produk Olahan Hasil Perikanan (Zero Waste)
Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan
pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi limbah
industri termasuk olahan hasil perikanan juga dituntut untuk
lebih ramah lingkungan. Salah satu cara untuk mencapai hal
ini adalah dengan mengembangkan produk olahan hasil
perikanan yang berbasis zero waste. Produk olahan hasil
perikanan zero waste adalah produk yang dihasilkan dari
bahan baku ikan dan hasil perikanan lainnya dengan
meminimalkan limbah dan mengoptimalkan penggunaan
bahan baku. Dengan demikian, produk ini tidak hanya
membantu mengurangi limbah, tetapi juga meningkatkan
efisiensi dan produktivitas industri olahan perikanan
HOTEL, HUNIAN, DAN HUKUM Jalan Menuju Investasi Pariwisata Berkelanjutan
Salah satu solusi inovatif untuk memenuhi kebutuhan
perumahan di tengah keterbatasan lahan perkotaan adalah
pembangunan hunian vertikal seperti rumah susun (rusun).
Pasal 1 angka 1 UU Rusun mendefinisikan rumah susun sebagai
bangunan gedung bertingkat yang terstruktur secara
fungsional dalam arah horizontal maupun vertikal, yang masing
masing bagiannya dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah,
khususnya sebagai tempat hunian yang dilengkapi dengan
fasilitas bersama, benda bersama, dan tanah bersama. Penye
lenggaraan rumah susun, sebagaimana diatur dalam Pasal 1
angka 2 UU Rusun, mencakup kegiatan perencanaan, pem
bangunan, pengelolaan, pemeliharaan, pengendalian, penda
naan, dan peran serta masyarakat yang dilaksanakan secara
sistematis, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.
Kondotel, atau kondominium hotel, merupakan bangunan
bersama seperti apartemen dengan fungsi ganda, yaitu sebagai
hunian bagi pemiliknya dan sebagai hotel yang dikomersialkan
melalui pihak ketiga atau operator hotel. Hunian yang sehat dan
nyaman dalam lingkup kondominium menjadi daya tarik bagi
masyarakat yang membutuhkan hunian berkualitas di tengah
padatnya kehidupan perkotaan. Dalam perkembangannya,
pemanfaatan rumah susun tidak hanya terbatas pada fungsi
hunian, tetapi juga sebagai objek investasi yang menjanjikan
keuntungan. Banyak bangunan rumah susun, terutama rumah
susun komersial, yang diubah peruntukannya menjadi kondotel
Behavior of Saturated Volcanic Soil Slopes with Grass Roots Under Seismic Response
Landslides on mountain slopes triggered by rainfall and earthquakes pose a significant risk to the slopes on Bali Island. This study examines the behavior of saturated volcanic soil reinforced with a combination of elephant grass and vetiver roots under earthquake forces. The methodology includes triaxial testing on vegetated soil and model testing to assess the reduction in landslide-prone areas due to vegetation. Triaxial test results indicated increased soil cohesion and internal friction angle when reinforced with vetiver and elephant grassroots. Cohesion in nonvegetated soil was measured at 0.20 kg/cm2, which increased to 0.65 kg/cm2 with root reinforcement.
Model testing results aligned with consolidated undrained triaxial tests, demonstrating that the combination of vetiver and elephant grass reduced the landslide area by up to 64.1% on 45-degree slopes and up to 52.1% on 60-degree slopes