eJournals System Universitas Mulawarman
Not a member yet
4255 research outputs found
Sort by
Hubungan Jarak Persalinan dengan Perdarahan Postpartum di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda
Angka kematian ibu merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan untuk menilai derajat kesehatan masyarakat di suatu negara. Penyebab paling umum kematian ibu adalah perdarahan obstetri, termasuk perdarahan postpartum. Terdapat banyak faktor risiko yang bisa menyebabkan perdarahan postpartum, salah satunya adalah jarak persalian. Perdarahan postpartum dideifinisikan sebagai adanya kehilangan darah ≥500 ml pada persalinan pervaginam atau ≥1000 ml pada persalinan sectio caesare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan jarak persalinan dengan perdarahan postpartum di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda. Desain peneitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah case-control studyatau studi kasus kontrol. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin yang menjalani rawat inap di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode 2019-2021. Data dikumpulkan melalui rekam medik ibu bersalin yang menjalani rawat inap di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda periode 2019-2021. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Terdapat 66 responden yang termasuk dalam penelitian ini. Ibu bersalin dengan perdarahan postpartum sebanyak 33 ibu (kasus) dan ibu bersalin yang tidak mengaami perdarahan postpartum sebanyak 33 ibu (kontrol). Hasil penelitian ini ditemukan nilai p-value yang didapatkan adalah 0,319 yang artinya tidak terdapat hubungan antara jarak persalinan dengan perdarahan postpartum. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan jarak persalinan dengan perdarahan postpartum di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda
HUBUNGAN HIPERTENSI DENGAN KUALITAS HIDUP PADA LANSIA DI WILAYAH PUSKESMAS LEMPAKE SAMARINDA
Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang sering diderita oleh lansia dan dapat mempengaruhi kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kualitas hidup pada lansia di wilayah Puskesmas Lempake Samarinda. Penelitian ini bersifat analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan pada bulan Agustus 2023. Data diperoleh dari 56 lansia berusia antara 60-84 tahun yang diambil dengan teknik consecutive sampling di Posyandu Lempake Samarinda. Penelitian ini menggunakan tensimeter dan kuesioner EuroQol 5-Dimension. Hasil penelitian ini didapatkan hipertensi dan kualitas hidup tidak memiliki hubungan yang bermakna (p= 0,108) dengan uji Chi-square. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa tidak ada hubungan antara hipertensi dengan kualitas hidup lansia di wilayah Puskesmas Lempake Samarinda
Unhealthy Relationships and Their Impact: Toxic Relationships as a Trigger for Academic Procrastination
Adolescents undergo dynamic developmental changes, especially in the realm of interpersonal relationships. Not all these connections are positive; some adolescents experience unhealthy relationships, commonly referred to as toxic relationships, which may compromise their psychological well-being and academic functioning. Academic procrastination often emerges as a response to emotional and relational stress. This study involved 188 high school students and employed a quantitative survey approach to explore the extent to which toxic relationships contribute to academic procrastination. Instruments were developed based on validated theoretical dimensions, and data were analyzed using linear regression and partial correlation. The results indicated that toxic relationships significantly influence academic procrastination, though their contribution remains modest. The physical symptoms of such relationships demonstrated a stronger negative association with task delay compared to emotional and manipulative aspects. These findings highlight the need for intervention strategies focused on promoting healthy interpersonal dynamics and emotional regulation to mitigate procrastination behaviors among students.Remaja berada pada fase perkembangan yang penuh dinamika, termasuk dalam membangun hubungan interpersonal. Namun, tidak semua hubungan bersifat positif; sebagian remaja mengalami hubungan yang tidak sehat atau dikenal sebagai toxic relationship, yang dapat memengaruhi kondisi psikologis serta berdampak pada performa akademik individu. Dalam konteks ini, prokrastinasi akademik kerap muncul sebagai bentuk respons terhadap tekanan emosional dan relasional. Penelitian ini melibatkan 188 siswa SMA dan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik survei untuk mengeksplorasi sejauh mana hubungan toksik berkontribusi terhadap perilaku prokrastinasi akademik. Instrumen disusun berdasarkan dimensi teoritis yang telah tervalidasi, dan analisis dilakukan melalui regresi linier dan korelasi parsial. Hasil menunjukkan bahwa toxic relationship memiliki pengaruh signifikan terhadap prokrastinasi akademik, meskipun kontribusinya relatif kecil. Aspek fisik dari hubungan toksik menunjukkan kecenderungan hubungan negatif yang lebih kuat terhadap penundaan tugas dibandingkan aspek emosional dan manipulatif. Temuan ini menekankan pentingnya strategi intervensi yang menargetkan penguatan relasi sehat dan pengelolaan emosi dalam upaya menekan perilaku prokrastinasi akademik di kalangan pelajar
Description of Risky Sexual Behavior in Men Indicated for HIV
Risky sexual behavior is any form of vaginal or anal sexual activity with a sexual partner that makes individuals more vulnerable to contracting sexually transmitted infections (STIs), including HIV, unwanted pregnancy, violence, and abortion. Men are at high risk of contracting and transmitting STIs by not using protection during sex, having multiple sexual partners, and having sex with strangers, such as sex with sex workers. This study applies a qualitative phenomenological approach with in-depth interviews analyzed using interpretive phenomenological analysis (IPA), aiming to explore the meaning of the experiences of risky sexual perpetrators. The snowball sampling technique was applied to recruit eight participants with the following criteria: sexually active men aged 19-40 years and having sex at an early age. This study obtained key findings, namely the description, factors, and impact of risky sexual behavior in men indicated by HIV. The description of risky sexual behavior includes sex at an early age, inconsistent condom use, multiple sexual partners, and sex with strangers. Factors of risky sexual behavior include watching pornography, sensation seeking, addiction, sexual satisfaction, and self-esteem. The impact of risky sexual behavior includes contracting STIs and regret over previous behavior. The implications of this research are that safe and healthy sexual behavior can be a method for preventing sexually transmitted infections, unwanted pregnancies, and violence. The health status of sexual partners can be identified early, thus preventing further transmission.Perilaku seks berisiko merupakan segala bentuk aktivitas seksual vaginal atau anal bersama pasangan seks sehingga menempatkan individu menjadi lebih rentan terjangkit penyakit menular seksual termasuk HIV, kehamilan tidak diinginkan, melakukan kekerasan, dan aborsi. Pria berisiko tinggi tertular dan menularkan dengan tidak memakai pengaman saat melakukan seks, berganti-ganti pasangan seks, seks bersama orang asing seperti seks bersama pekerja seks. Studi ini menerapkan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan wawancara mendalam yang dianalisis menggunakan interpretative phenomenological analysis (IPA), bertujuan menggali makna pengalaman dari pelaku seks berisiko. Teknik snowball sampling diterapkan untuk merekrut partisipan yang berjumlah delapan partisipan dengan kriteria; pria seks aktif 19 – 40 tahun dan melakukan seks di usia dini. Penelitian ini memperoleh temuan utama yaitu gambaran, faktor, dan dampak perilaku seks berisiko pria yang terindikasi HIV. Gambaran perilaku seks berisiko berupa seks di usia dini, inkonsisten pemakaian kondom, berganti – ganti pasangan seks, dan seks dengan orang asing. Faktor perilaku seks berisiko yaitu menonton tayangan porno, pencarian sensasi, ketagihan, kepuasan seksual, dan harga diri. Dampak perilaku seks berisiko seperti terjangkit penyakit menular seksual dan penyesalan atas perilaku terdahulu. Implikasi penelitian ini merupakan perilaku seks aman dan sehat sebagai metode pencegahan penyakit menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, dan melakukan kekerasan. Status kesehatan pasangan seks dapat diketahui lebih dini sehingga dapat mencegah penularan lebih lanjut
Exploring the Shadows: Validation of the Short Dark Tetrad (SD4) in Indonesian
The increasing incidence of crime and violence among university students highlights the importance of understanding dark personality traits within social, educational, and workplace contexts. Dark personality traits including Machiavellianism, Narcissism, Psychopathy, and Sadism—play a significant role in interpersonal dynamics, decision-making, and individual adaptation strategies. This study aims to validate the Indonesian version of The Short Dark Tetrad (SD4) scale. A total of 305 students from various faculties at the University of Surabaya participated in this study, selected through purposive sampling. Data were analyzed using Principal Component Analysis (PCA) to assess structural validity and Cronbach’s Alpha to determine reliability. The results indicate that the Indonesian version of SD4 demonstrates adequate internal structural validity, with reliability coefficients ranging from 0.621 to 0.752. These findings suggest that SD4 is a valid and reliable instrument for identifying dark personality traits among Indonesian university students. The implications of this study support the use of SD4 in both academic and practical settings, particularly for psychological assessment and character development in higher education environments.
Fenomena kejahatan dan kekerasan yang meningkat di kalangan mahasiswa menunjukkan pentingnya pemahaman terhadap aspek-aspek kepribadian gelap (dark personality) dalam konteks sosial, pendidikan, dan lingkungan kerja. Kepribadian gelap, yang mencakup Machiavellianism, Narsistik, Psikopati, dan Sadisme, memiliki peran penting dalam dinamika interpersonal, pengambilan keputusan, serta strategi adaptasi individu. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi alat ukur The Short Dark Tetrad (SD4) dalam Bahasa Indonesia. Penelitian melibatkan 305 mahasiswa dari berbagai fakultas di Universitas Surabaya yang dipilih melalui metode purposive sampling. Data dianalisis menggunakan Principal Component Analysis (PCA) untuk menguji validitas struktur dan Cronbach’s Alpha untuk menguji reliabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SD4 versi Bahasa Indonesia memiliki validitas struktur internal yang memadai, dengan nilai reliabilitas berkisar antara 0.621 hingga 0.752. Temuan ini menunjukkan bahwa SD4 merupakan alat ukur yang valid dan reliabel untuk mengidentifikasi kepribadian gelap pada populasi mahasiswa Indonesia. Implikasi dari penelitian ini mendukung penggunaan SD4 dalam konteks akademik dan praktis, terutama dalam pengembangan intervensi psikologis dan pemahaman karakter individu di lingkungan pendidikan tinggi
Innovative Work Behavior: Role of Knowledge Sharing, Organizational Justice, And Gender in Retail Bussiness
Business competition in the retail sector is currently very competitive characterized by the number of retail businesses in Indonesia that compete starting from traditional retail businesses and the emergence of modern retail businesses. Retail companies are facing intense pressure due to technological advancements, increased consumer expectations, and fierce competition. To deal with these market changes, strategies are needed. The purpose of this study was to determine the role of organizational justice and knowledge sharing on innovative work behavior among retail company employees. This study also aims to examine how gender role differences affect innovative work behavior. A total of 110 employees from a retail company in makassar was recruited using non-probability sampling technique. Confirmatory factor analysis (CFA) was used to test the validity of each scale using Mplus software. Multiple regression analysis method was utilized to analyse the data, using SPSS software. The results showed that organizational justice and knowledge sharing significantly have a positive influence on innovative work behavior. This study suggests the company should implement fair, transparent policies, and strengthen the culture of knowledge sharing to create innovative work behavior.
Persaingan bisnis di sektor ritel saat ini sangat kompetitif ditandai dengan banyaknya bisnis ritel di Indonesia yang bersaing mulai dari bisnis ritel tradisional hingga munculnya bisnis ritel modern. Perusahaan ritel menghadapi tekanan yang hebat karena kemajuan teknologi, meningkatnya ekspektasi konsumen, dan persaingan yang ketat. Untuk menghadapi perubahan pasar tersebut, diperlukan strategi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peran keadilan organisasi dan berbagi pengetahuan terhadap perilaku kerja inovatif pada karyawan perusahaan ritel. Penelitian ini juga ingin melihat bagaimana perbedaan peran gender terhadap perilaku kerja inovatif. Sebanyak 110 karyawan dari sebuah perusahaan ritel di Makassar direkrut dengan menggunakan teknik non-probability sampling. Confirmatory factor analysis (CFA) digunakan untuk menguji validitas setiap skala dengan menggunakan perangkat lunak Mplus. Metode analisis regresi berganda digunakan untuk menganalisis data, dengan menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organizational justice dan knowledge sharing secara signifikan memiliki pengaruh positif terhadap innovative work behavior. Penelitian ini menyarankan perusahaan perlu menerapkan kebijakan yang adil, transparan, dan memperkuat budaya berbagi pengetahuan untuk menciptakan perilaku kerja yang inovatif
Effectiveness of Various AB Mix Concentrations on the Growth and Anatomy of Corn Plants (Zea mays L) in Hydroponic Systems
Corn (Zea mays L.) is the most widely cultivated cereal crop globally, serving as a vital source of food, animal feed, and biofuel. Efforts to improve corn production and ensure food security continue through advancements in fertilization and cultivation techniques. This study investigates the effect of different concentrations of AB Mix fertilizer on the growth and anatomical development of corn grown using an efficient floating hydroponic system. The experiment was conducted in a greenhouse at the Cikabayan Bawah Garden, Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia, located at an altitude of 234 meters above sea level. A completely randomized design (CRD) was used, with one factor—AB Mix concentration—at three levels: ½×, 1×, and 2× the standard concentration. Each treatment was replicated six times, resulting in 18 experimental units. Results showed that the 2× AB Mix concentration significantly enhanced plant performance, with a 107% increase in growth compared to the ½× concentration at 4 weeks after sowing (WAS). Parameters such as plant height, shoot fresh weight at 4 WAS, root fresh weight at 3–4 WAS, and total fresh weight at 4 WAS all showed marked improvements with the 2× treatment. These findings indicate that doubling the standard AB Mix concentration is optimal for hydroponic corn cultivation up to 4 WAS. Further studies are recommended to assess the physiological responses and yield outcomes across different corn varieties under varying AB Mix concentration
Establishing a Vision, Fostering Prosperity: Transformational Leadership and Psychological Well-Being of Small and Medium Industry Employees
Global competition due to the development of information technology is a challenge for Small and Medium Industries (SMIs) to remain competitive. This study aims to determine the correlation between transformational leadership and psychological well-being among SME employees in Tingkir Subdistrict, Salatiga City. The research method used was quantitative with a correlational approach. Participants consisted of 95 employees selected through quota sampling technique. Data were collected using the Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) scale and the Ryff Psychological Well-being scale, then analysed using the Spearman Rho correlation technique. The results showed a positive and significant relationship between transformational leadership and psychological well-being, with a correlation value (r) of 0.858 and a significance of 0.000 (p < 0.05). The higher the application of transformational leadership, the higher the psychological well-being of employees. The implications of this study suggest that transformational leadership can improve employees' psychological well-being, which contributes to increased productivity and company performance.
Persaingan global akibat perkembangan teknologi informasi menjadi tantangan bagi Industri Kecil Menengah (IKM) untuk tetap kompetitif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi antara kepemimpinan transformasional dengan psychological well-being pada karyawan IKM di Kecamatan Tingkir, Kota Salatiga. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Partisipan terdiri dari 95 karyawan yang dipilih melalui teknik quota sampling. Data dikumpulkan menggunakan skala Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ) dan skala Ryff Psychological Well-being, kemudian dianalisis dengan teknik korelasi Spearman Rho. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kepemimpinan transformasional dan psychological well-being, dengan nilai korelasi (r) sebesar 0,858 dan signifikansi 0,000 (p < 0,05). Semakin tinggi penerapan kepemimpinan transformasional, semakin tinggi kesejahteraan psikologis karyawan. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa kepemimpinan transformasional dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis karyawan, yang berkontribusi pada peningkatan produktivitas dan kinerja perusahaan
Analisis Wacana Kritis Teun A. Van Dijk dalam Iklan Ramayana “Tulusnya Cinta”
Sudah menjadi tradisi ketika mendekati bulan Ramadan tiap-tiap pelaku usaha mempromosikan usahanya dengan menggunakan iklan yang bertema Ramadan. Sama halnya dengan salah satu brand pakaian cukup terkenal, yaitu Ramayana Departement Store yang sering kali membuat iklan bertajuk Ramadan. Salah satunya iklan dengan judul “Tulusnya Cinta” yang diunggah di akun Youtube resmi @ramayanadepartementstore pada tahun 2018 lalu. Iklan ini menjadi salah satu iklan bertema ramadan yang saat itu menarik banyak perhatian publik dengan jumlah tontonan 4.5 juta. Penelitian ini mengambil iklan “Tulusnya Cinta” sebagai sampel untuk diteliti dengan menggunakan teori wacana kritis model Teun A. Van Dijk yang berfokus pada struktur mikro, super struktur, dan struktur makro. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dari setiap dialog yang tersaji di dalam iklan. Metode penelitian dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menggunakan data yang ada di dalam dialog dan visual yang tersaji di iklan. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa iklan Ramayana berjudul “Tulusnya Cinta” memiliki unsur struktur mikro, super struktur dan struktur makro di dalamnya
Self-Compassion: The Power of Self- Compassion as a Path to Students Psychological Well-being
Students often face various challenges in their academic and social lives, such as academic pressure, uncertainty about the future, and social and economic demands. These challenges can affect students' mental health. During the course of their studies, psychological well-being becomes highly important, as it relates to how satisfied individuals are with their lives, whether they have a clear sense of purpose, and how well they manage stress and emotions. This study aims to examine the effect of self-compassion on psychological well-being among university students in North Sumatra. The research used a quantitative method, with stratified cluster sampling as the sampling technique. The sample consisted of 202 active students from public and private universities across the province of North Sumatra. Data analysis was carried out using simple linear regression with the help of SPSS for Windows 20. The instruments used were the Self-Compassion Scale (SCS) by Neff and Ryff’s Psychological Well-Being Scales (PWB-42). The regression analysis showed a positive and significant effect of self-compassion on psychological well-being (p < 0.05), accounting for 43% of the variance. The level of self-compassion among active university students in North Sumatra was in the moderate category (49%), as was their psychological well-being (60.9%). The findings indicate that the higher the level of self-compassion, the higher the level of psychological well-being among students. This study highlights the importance of developing self-compassion as an effort to enhance students’ psychological well-being. Mahasiswa banyak menghadapi tantangan dalam kehidupan akademik dan sosial, seperti tekanan akademik, ketidakpastian masa depan, dan tuntutan sosial dan ekonomi. Tantangan-tantangan ini dapat mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa. Ketika mengikuti proses perkuliahan, kesejahteraan psikologis menjadi sangat penting karena berkaitan dengan seberapa puas seseorang dengan hidupnya, memiliki tujuan yang jelas, dan mampu mengelola stres dan emosi dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh self-compassion terhadap psychological well-being pada mahasiswa di Sumatera Utara. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Stratified Cluster Sampling. Sampel penelitian terdiri dari 202 orang mahasiswa yang merupakan mahasiswa aktif dari PTN dan PTS yang tersebar di provinsi Sumatera Utara. Analisis data menggunakan uji regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS for Windows 23. Instrumen yang digunakan adalah Self-Compassion Scale (SCS) oleh neff dan Ryff’s Psychological Well-Being Scales (PWB-42). Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan self-compassion terhadap psychological well-being (p < 0,05) sebesar 43%. Self-compassion pada mahasiswa aktif Sumatera Utara berada pada kategori sedang (49%). Psychological Well-Being pada mahasiswa aktif Sumatera Utara berada pada kategori sedang (60,9%). Semakin tinggi tingkat self-compassion, maka semakin tinggi pula tingkat psychological well-being mahasiswa. Penelitian ini menunjukkan pentingnya mengembangkan self-compassion dalam upaya meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa