91 research outputs found
Pemanfaatan Citra Geoeye – 1 Dan Sistem Informasi Geografis Untuk Pemodelan Spasial Risiko Penyakit Diare Akut Pada Balita
Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengetahui tingkat akurasi citra GeoEye – 1 untuk ekstraski data yang berhubungan dengan kondisi lingkungan, 2) mengidentifikasi distribusi pola spasial penyakit diare akut pada Balita, 3) mengetahui sebaran risiko penyakit diare akut pada Balita, dan 4) hubungan model spasial dengan kejadian penyakit diare akut pada Balita di Kecamatan Moyudan. Model dibuat dengan menggunakan SIG dengan metode model indeks. Moran\u27s I dan High/Low Clustering digunakan untuk mengetahui pola distribusi spasial yang terbentuk dan crosstab digunakan untuk mengetahui hubungan model spasial dan kejadian penyakit diare akut pada Balita. Hasil penelitian menunjukan bahwa akurasi citra adalah 87,33%. Kejadian diare akut pada Balita membentuk pola acak. Pemodelan spasial tingkat risiko diare akut pada Balita menghasilkan lima kelas yaitu, sangat rendah, rendah, sedang, tinggi dengan sangat tinggi dengan urutan luas sebagai berikut : 95,08; 241,19; 143,59; 125,89 dan 65,70 Ha. Model spasial memiliki hubungan terhadap kejadian penyakit dengan nilai Asymp. 0,031
Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Pemetaan Kerawanan Penyakit Pernapasan Akibat Erupsi Gunungapi Kelud di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur
Penelitian terkait penyakit pernapasan dengan material abu vulkanik bertujuan mengkaji citra Pléiades 1A/1B melalui SIG dalam melakukan ekstraksi parameter dan membuat peta tingkat kerawanan penyakit ISPA. Tujuan kedua untuk mengetahui tingkat kerawanan penyakit pernapasan di Kecamatan Nglegok. Ekstaksi parameter diperoleh dari hasil interpretasi visual dengan citra Pléiades 1A/1B. Parameternya adalah blok permukiman, kondisi atap bangunan, dan lebar jalan. Melalui parameter tersebut dilakukan overlay. Data sekunder yang digunakan adalah data curah hujan tahun 2014 dan data penderita penyakit ISPA.Hasil penelitian menunjukkan citra Pléiades 1A/1B dapat digunakan sebagai bahan untuk melakukan ekstraksi data dengan uji akurasinya : blok permukiman sebesar 99,1%; kondisi atap bangunan sebesar 98,5%; dan lebar jalan sebesar 95,5%. Sedangkan tingkat kerawanan penyakit pernapasan akibat erupsi gunungapi Kelud adalah sebagai berikut : tingkat kerawanan tinggi luas areanya 0,037 km2; kerawanan sedang dengan luas 1,74 km2; dan kerawanan rendah sebesar 45,59 km2
Pemanfaatan Citra Quickbird untuk Kajian Hubungan Kesehatan Lingkungan Permukiman dengan Penyakit Chikungunya dan Demam Berdarah Dengue di Kecamatan Umbulharjo, YOGYAKARTA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kesehatan lingkungan permukiman di Kecamatan Umbulharjo, mengetahui pola sebaran kejadian penyakit demam berdarah dengue dan chikungunya, serta mengetahui hubungan antara parameter kesehatan lingkungan permukiman dengan kejadian penyakit dan angka bebas jentik. Citra Quickbird tahun 2010 digunakan untuk menyadap data kepadatan permukiman, kerapatan pohon pelindung, dan kondisi halaman, sedangkan data pengelolaan air limbah, pembuangan sampah serta kondisi saluran air hujan diperoleh dari lapangan. Data kejadian penyakit dan angka bebas jentik diperoleh dari Puskesmas Umbulharjo I dan II. Penentuan pola sebaran dilakukan dengan metode Average Nearest Neighbour, sedangkan perhitungan korelasi menggunakan metode rank Spearman. Hasil menunjukkan bahwa citra Quickbird memiliki tingkat ketelitian interpretasi sebesar 86.67%, dimana secara umum kondisi permukiman termasuk kelas sedang (56.88%). Pola sebaran penyakit demam berdarah dengue maupun chikungunya termasuk mengelompok, selanjutnya terdapat korelasi yang cukup kuat antara kondisi kesehatan lingkungan dengan keberadaan jentik, dimana kepadatan permukiman, kondisi halaman, serta pengelolaan air limbah merupakan parameter yang berpengaruh besar
Pemodelan Prediksi Kerawanan Penyakit Malaria Menggunakan Metode Ordinary Least Square (Ols) di Sebagian Kabupaten Kulon Progo
Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu wilayah endemis malaria tidak hanya di Daerah Istimewa Yogyakarta namun juga di wilayah Pulau Jawa. Kecamatan yang termasuk daerah endemik penyakit malaria di Kabupaten Kulonprogo yaitu Kecamatan Girimulyo dan Kokap. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui kemampuan citra Quickbird dalam identifikasi parameter, identifikasi tingkat kerawanan malaria, dan melakukan pemodelan prediksi kerawanan malaria. Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian yaitu metode kuantitatif. Analisis yang digunakan dalam melakukan tujuan pertama yaitu menggunakan matriks uji ketelitian, untuk tujuan kedua menggunakan teknik overlay dan dilakukan klasifikasi, sedangkan untuk tujuan ketiga menggunakan metode OLS. Hasil yang diperoleh untuk interpretasi penggunaan lahan memiliki nilai ketelitian sebesar 93.63% dan 95% untuk kerapatan vegetasi. Tingkat kerawanan malaria paling tinggi berada di sebagian Kecamatan Kokap dan Kecamatan Pengasih, sedangkan berdasarkan hasil prediksi Kelurahan Purwosari, kelurahan Jatimulyo, dan Kelurahan Hargotirto memiliki prediksi tingkat kerawanan yang tinggi
Aplikasi Penginderaan Jauh Sistem Informasi Geografi untuk Mengkaji Perubahan Penutup Lahan dan Arah Perkembangan Lahan Terbangun di Kota Batu, Provinsi Jawa
Alih fungsi lahan dari lahan non terbangun menjadi lahan terbangun dapat memicu perkembangan fisik kawasan perkotaan yang semakin tidak terkontrol. Pemantauan Perubahan penutup lahan dilakukan untuk mengidentifikasi arah perkembangan kota. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui akurasi sistematik citra Landsat 7 ETM+ dan Landat 8 OLI untuk ekstrasi informasi penutup lahan, (2) mengetahui luas Perubahan penutup lahan, dan (3) mengkaji arah perkembangan lahan terbangun di Kota Batu. Data multitemporal berupa citra Landsat tahun 2001, 2013, dan 2016 digunakan untuk penelitian ini mengggunakan metode klasifikasi multispektral. Bidang elip dan windrose digunakan untuk merepresentasikan arah perkembangan lahan terbangun di Kota Batu. Akurasi citra Landsat tahun 2016 memperoleh sebesar 87,14% dan diperkirakan luas Perubahan penutup lahan yang mengalami Perubahan paling besar berupa tanaman semusim lahan basah (sawah) menjadi bangunan permukiman/ campuran sebesar 473,48 hektar. Arah perkembangan lahan terbangun berkecenderungan merunjuk ke arah tenggara yang merupakan aksesibilitas menghubungkan ke Kota Malan
- …
