20 research outputs found
Pengaruh terapi spiritual terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi: literature review
Latar Belakang : Kecemasan merupakan suatu kondisi emosi yang ditandai
dengan perasaan tidak nyaman pada diri seseorang, dan disertai dengan perasaan
yang tidak berdaya serta tidak menentu yang disebabkan oleh suatu hal yang belum
jelas. Kecemasan dapat menimbulkan perubahan fisik dan psikologis pasien yang
dapat mengaktifkan saraf otonom simpatis sehingga meningkatkan denyut jantung,
tekanan darah, frekuensi nafas, sehingga dapat mengurangi tingkat energi pada
pasien dan dapat berdampak pada pelaksanaan operasi. Upaya yang dapat
dilakukan untuk menangani terjadinya kecemasan pada pasien pre operasi yaitu
dengan diberikan terapi spiritual.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi spiritual
terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi berdasarkan penelusuran literature.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode literature review dan
metode PICOST untuk pencarian literature yang menggunakan 2 database yakni
Google Scholar dan Pubmed. Jurnal yang digunakan 5 tahun terakhir terbit (2017-
2021).
Hasil : Berdasarkan 6 jurnal yang telah dianalisis didapat hasil bahwa terdapat
pengaruh terapi spiritual terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi yang sesuai
oleh data mengenai tingkat kecemasan sebelum dan sesudah dilakukan terapi
spiritual.
Kesimpulan: Kecemasan pada pasien pre operasi sebelum diberikan terapi
dukungan spiritual dari enam jurnal yang di review, sebanyak satu jurnal
menunjukkan kecemasan berat dan lima jurnal menunjukkan kecemasan sedang.
Kecemasan pada pasien pre operasi sesudah diberikan terapi dukungan spiritual
dari enam jurnal yang di review, sebanyak satu jurnal menunjukkan tidak ada
kecemasan dan lima jurnal menunjukkan kecemasan ringan. Adanya pengaruh
terapi dukungan spiritual terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi.
Saran : Terapi Spiritual dapat digunakan sebagai salah satu tindakan untuk
menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi
Tingkat pengetahuan mahasiswa keperawatan anestesiologi angkatan 2018 Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta tentang patient safety di rumah sakit
Latar Belakang: Patient safety merupakan suatu komponen dasar dari pelayanan
kesehatan sehingga perlu pencegahan terkait kesalahan perawatan dan kejadian
buruk yang terjadi pada pasien. Pengetahuan mahasiswa keperawatan
anestesiologi terhadap penerapan patient safety di rumah sakit sangatlah penting
sebelum memasuki dunia kerja, dikarenakan jika pengetahuan mahasiswa
keperawatan anestesiologi mengenai patient safety kurang maka akan
berpengaruh untuk ke depannya saat mahasiswa tersebut telah menjadi seorang
penata anestesi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan ntuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan
mahasiswa keperawatan anestesiologi angkatan 2018 tentang patient safety di
rumah sakit.
Metode: Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif dengan
rancangan penelitian menggunakan cross sectional dengan teknik pengambilan
data menggunakan total sampling berjumlah 119 responden. Instrumen yang
digunakan yaitu instrumen kuesioner pengetahuan sesuai standar JCI dengan
setiap jawaban benar bernilai 1 dan jawaban salah bernilai 0. Analisis data yang
digunakan yaitu analisis univariat untuk memperoleh gambaran distribusi
frekuensi dan persentase dari subjek penelitian.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa
keperawatan anestesiologi angkatan 2018 yaitu rendah dengan 4 responden
(3,4%), sedang dengan 95 responden (79,8%), dan tinggi dengan 20 responden
(16,8%).
Kesimpulan: Di dapatkan hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar
responden memiliki pengetahuan yang cukup/sedang sebanyak 95 responden
(79,8%) dan diharapkan mahasiswa dapat memperhatikan tentang patient safety di
rumah saki
Pengaruh pemberian terapi musik terhadap frekuensi denyut jantung selama operasi pada pasien spinal anestesi : literature review
Latar Belakang: Operasi menggunakan teknik anestesi spinal dengan keadaan pasien
sadar penuh di dalam kamar operasi dapat menyebabkan pasien memiliki tingkat stress
yang tinggi, menimbulkan kecemasan, gelisah, dan ketakutan, sehingga mengakibatkan
peningkatan frekuensi denyut jantung. Terapi musik mampu memberikan dampak
relaksasi serta peningkatan pada produksi hormon norepinephrin sehingga dapat
menstabilkan denyut jantung pada pasien spinal anestesi.
Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian terapi musik terhadap frekuensi denyut jantung
selama operasi pada pasien spinal anestesi.
Metode Penelitian: Pencarian jurnal menggunakan database Garuda Ristekdikti,
PubMed, dan ScienceDirect, untuk menemukan jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi
dan eksklusi. Penelusuran dilakukan dari 1 Januari 2011 sampai 10 Oktober 2021.
Penilaian jurnal menggunakan JBI critical appraisal yang dilakukan peneliti dan reviewer
dengan format quasy experiment dan randomized controlled trial (RCT), format penilaian
quasy experiment terdiri dari 9 pertanyaan sedangkan dan randomized controlled trial
(RCT) terdiri dari 13 pertanyaan, kemudian dilakukan analisis jurnal.
Hasil: Berdasarkan hasil jurnal yang sudah dianalisis, menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh pemberian terapi musik terhadap frekuensi denyut jantung selama operasi pada
pasien spinal anestesi.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh signifikan terapi musik terhadap frekuensi denyut
jantung selama operasi pada pasien spinal anestesi.
Saran: Diharapkan bagi pelayanan kesehatan di dalam kamar operasi untuk memberikan
terapi musik bagi pasien, serta diharapkan untuk peneliti selanjutnya meneliti lebih lanjut
terkait pengaruh pemberian terapi musik terhadap frekuensi denyut jantung selama operasi
pada pasien spinal anestesi
Keefektifan penggunaan selimut penghangat pada pasien hipotermi pasca spinal anestesi: literature review
Latar Belakang : Salah satu komplikasi yang muncul setelah tindakan anestesi
adalah hipotermi. Hipotermi adalah keadaan dengan temperatur inti 1oC lebih
rendah di bawah temperatur rata-rata inti tubuh manusia pada keadaan istirahat
dengan suhu lingkungan yang normal. Teknik terapi non farmakologis dapat
dilakukan dengan memberikan selimut hangat, mengatur suhu lingkungan yang
memadai, serta menggunakan penghangat cairan untuk transfusi dan cairan lain.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan penggunaan
selimut penghangat pada pasien hipotermi pasca spinal anestesi.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan studi literature review dengan
metode quasy experiment dimana pencarian sumber jurnal penelitian yang
dipublikasikan di internet menggunakan database website:PubMed, Google
Scholar, dan ScienceDirect.
Hasil : Hasil penelitian ini yaitu terdapat efektifitas penggunaan selimut
penghangat pada pasien hipotermi pasca spinal anestesi.
Kesimpulan : Kesimpulan yang didapatkan yaitu terdapat efektifitas penggunaan
selimut penghangat pada pasien hipotermi pasca spinal anestesi. Penggunaan
selimut hangat atau blanket warmer lebih efektif untuk mengatasi pasien hipotermia
dibanding pasien yang hanya menggunakan selimut tebal.
Saran : Saran bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti lebih lanjut
terkait Efektivitas penggunaan selimut penghangat pada pasien pasca spinal
anestesi yang mengalami hipotermia
Hubungan pengetahuan spinal anestesi dengan tingkat kecemasan pre operasi pada pasien sectio caesarea di RSKIA Sadewa Yogyakarta
Latar Belakang: Tindakan pembedahan dengan spinal anestesi dapat
menimbulkan ancaman tubuh, integritas serta jiwa seseorang. Kecemasan yang
dialami pasien yang direncanakan pembedahan dapat terjadi karena kurang
pengetahuan tentang prosedur pembiusan yang akan dijalani. Kecemasan yang
dialami pasien dapat memberikan efek kegelisahan dan mempengaruhi
kardiovaskular yang dapat mengganggu proses pembedahan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan spinal
anestesi dengan tingkat kecemasan pre operasi.
Metode: Desain penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan cross
sectional. Populasi pada penelitian ini adalah pasien sectio caesarea dengan kriteria
inklusi dan ekslusi di Instalasi Bedah Sentral RSKIA Sadewa Yogyakarta. Jumlah
sampel penelitian ini sebanyak 32 responden yang diperoleh dengan consecutive
sampling. Instrumen pengetahuan menggunakan kuesioner dan kecemasan pasien
pre operasi menggunakan instrument APAIS. Data yang diperoleh dianalisis
menggunakan Uji Spearman rho dengan ?= 0,05.
Hasil: Penelitian menunjukkan ada hubungan antara pengetahuan prosedur anestesi
spinal dengan kecemasan pasien intraoperatif dengan p = 0,000.
Kesimpulan: Pengetahuan tentang prosedur anestesi spinal dibutuhkan guna
mendorong responden menggunakan mekanisme koping yang positif dalam
mengatasi kecemasan yang dialami. Pengetahuan yang baik menyebabkan
mekanisme koping responden menjadi positif yaitu memberikan strategi pemecahan
masalah dalam mengurangi kecemasan yang dialami. Diharapkan penata anestesi
meningkatkan pemberian edukasi pre operasi kepada pasien tentang spinal anestesi
agar kecemasan pasien pre operasi berkuran
Tingkat pengetahuan tentang bantuan hidup dasar pada mahasiswa keperawatan anestesiologi angkatan 2018
Latar belakang : Kematian jantung mendadak atau cardiac arrest adalah
berhentinya fungsi jantung secara tiba-tiba pada seseorang yang telah atau belum
diketahui menderita penyakit jantung. Keterampilan melakukan resusitasi jantung
paru (RJP) harus dimiliki setiap orang untuk mengurangi dampak buruk atau
keparahan gejala sisa pasien henti jantung. Bantuan Hidup Dasar (BHD)
merupakan bentuk pertolongan pertama pada keadaan darurat yang dilakukan
untuk mempertahankan dan memberikan bantuan berupa circulation, airway, dan
breathing. seharusnya bantuan hidup dasar harus dikuasai oleh seluruh mahasiswa
kesehatan terutama kedokteran dan keperawatan dan menurut AHA orang awam
pun harus bisa atau dianjurkan untuk paham dan bisa melakukan bantuan hidup
dasar terutama RJP.
Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan tentang
bantuan hidup dasar pada mahasiswa keperawatan anestesiologi angkatan 2018.
Metode penelitian : jenis penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan
desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling
yang berjumlah 120 responden dengan kriteria inkuli dan eksklusi.
Hasil penelitian : hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden yaitu
51,6% memiliki pengetahuan dalam kategori baik.
Simpulan : Mayoritas mahasiswa anestesi dari 120 mahasiswa yang memiliki
pengetahuan baik sebanyak 62 responden (51,7%).
Saran : Peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan modifikasi untuk
pengambilan data kepada mahasiswa anestesiologi, dan meneliti lebih dalam
faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan pada mahasiswa
Hubungan pengetahuan perawat dengan pelaksanaan keselamatan pasien di bangsal bedah setiyaki RSUD P Senopati Bantul
Latar Belakang: Keselamatan Pasien merupakan sistem yang dirancang untuk
membuat perawatan pasien lebih. Upaya mencapai keselamatan pasien sangat
bergantung pada pengetahuan perawat. Dalam melakukan perannya, Perawat
harus berpartisipasi aktif untuk mewujudkan keselamatan pasien dengan baik di
rumah sakit. Pengetahuan perawat tentang keselamatan pasien memiliki dampak
yang signifikan terhadap kinerja mereka sendiri dalam menerapkan dan
menegakkan langkah-langkah keselamatan pasien di rumah sakit
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan hubungan pengetahuan perawat
dengan pelaksanaan keselamatan pasien di Bangsal Bedah Setiyaki RSUD
Panembahan Senopati Bantul.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif Analitik
dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan Total
sampling yang berjumlah 18 responden dengan kriteria inklusi dan eksklusi.
Analisa data di lakukan menggunakan uji Exact Fisher Test.
Hasil Penelitian: Dari 18 sampel yang diperoleh, didapatkan hasil bahwa
responden dengan pengetahuan kurang sebanyak 4 (22,3%) dan Pengetahuan baik
ada 14 (77,7%) orang. Hasil uji korelasi exact fisher untuk mengetahui adanya
hubungan antara pengetahuan perawat terhadap pelaksanaan keselamatan pasien
di dapatkan hasil 0,002 ( p < 0,05), maka artinya terdapat hubungan yang
signifikan antara variabel independen dan variabel dependen.
Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan pearawat terhadap
pelaksanaan pelaksanaan keselamatan pasien di Bangsal Bedah Setiyaki RSUD
Panembahan Senopati Bantul.
Saran: Diperlukan penelitian lebih lanjut penelitian tentang pengetahuan perawat
seperti menghubungkan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi
pelaksanaan keselamatan pasien.
Kata Kunci : Pengetahuan, Perawat, Keselamatan pasien
Daftar Pustaka : 22 (2014-2022
Hubungan tingkat pengetahuan dengan kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada siswa di SMA Muhammadiyah Imogiri
Latar Belakang:Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat
guna dan berdaya guna sehingga mampu mengurangi dampak yang buruk dari
bencana tersebut baik kerusakan fisik maupun korban jiwa. Terdapat risiko yang
akan terjadi apabila anak-anak disekolah tidak memiliki kesiapsiagaan dalam
menghadapi bencana seperti gempa bumi. Tujuan: Penelitian ini yaitu untuk
mengetahui tingkat pengetahuan terhadap kesiapsiagaan bencana gempa bumi pada
siswa SMA Muhammadiyah Imogiri Metode: penelitian ini merupakan penelitian
non-eksperiment bersifat kuantitatif dengan desain korelasi, dengan pendekatan
waktu study cross sectional. Sampel penelitian ini menggunakan Total sampling
sebanyak 63 responden. Analisis data yang digunakan adalah Kendall-Tau. Hasil:
Penelitian ini memiliki hasil uji statistik dengan nilai sebesar 0,336** dan taraf nilai
signifikansi atau Sig (2-tailed) antara variabel Tingkat Pengetahuan dengan
Kesiapsiagaan Bencana Gempa Bumi adalah sebesar 0,003 < 0,05. Simpulan: Ada
hubungan tingkat pengetahuan dengan kesiapan menghadapi bencana gempa bumi
pada siswa SMA Muhammadiyah Imogiri. Saran: siswa hendaknya meningkatkan
pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana dan memperbanyak membaca buku
Hubungan derajat merokok dengan saturasi oksigen pada pasien intra operasi dengan general anestesi (LMA) di IBS RS PKU Bantul
Latar belakang: Saturasi oksigen adalah banyaknya jumlah oksigen yang dapat dibawa oleh hemoglobin. Kecukupan kadar oksigen darah ditentukan oleh ada tidaknya penghalang pertukaran gas dan sangat penting dalam proses anestesi. Kemampuan hemoglobin untuk mengikat oksigen sangat menentukan kelangsungan proses anestesi baik sebelum maupun selama anestesi inhalasi umum. Merokok merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting selama periode perioperatif.
Tujuan: Mengetahui hubungan derajat merokok dengan saturasi oksigen pada pasien intra operasi dengan general anestesi (LMA) di IBS RS PKU Bantul. Metode Penelitian: Kuantitatif dengan studi korelasi. Metode pengumpulan data observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel 23 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner derajat merokok dan pulse oximetry. Analisi data menggunkan analisis univariat dan analisis bivariat yaitu uji korelasi Spearman rank. Hasil: Pasien perokok dengan derajat ringan sebanyak 16 responden (69,6%) dan sedang sebanyak 7 orang (30,4%). Pasien dengan saturasi oksigen normal sebanyak 18 responden (78,3%) dan hipoksia ringan sebanyak 5 orang (21,7%). Hasil uji korelasi spearman rank menunjukkan bahwa nilai significancy sebesar 0,000 (r<0,05) dengan koefisien korelasi sebesar 0,797.
Simpulan: Terdapat hubungan signifikan yang kuat antara derajat merokok dengan saturasi oksigen intra operasi dengan general anestesi (LMA) di IBS RS PKU Bantul Saran: Peneliti selanjutnya diharapkan dapat menambahkan variabel bebas lain dan menambah jumlah sampel serta cakupan area penelitian yang lebih luas
Hubungan pengetahuan dengan perilaku pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Latar Belakang: Pada masa pasca pembedahan sering ditemui berbagai tanda dan
gejala yang berhubungan dengan komplikasi pembedahan. Oleh karena itu proses
pemulihan pasca operasi sangat penting bagi pasien yaitu dengan mobilisasi dini.
Mobilisasi dini adalah pergerakan yang dilakukan sedini mungkin di tempat tidur
dengan melatih bagian tubuh untuk melakukan peregangan sampai belajar berjalan.
Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi pelaksanaan mobilisasi dini adalah
pengetahuan.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan
perilaku pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi.
Metode Penelitian: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan
jenis penelitian descriptive correlation dengan desain cross sectional. Teknik
sampel menggunakan purposive sampling yang berjumlah 40 responden dengan
kriteria inklusi dan eksklusi. Analisa data di lakukan menggunakan uji korelasi
spearman.
Hasil: Hasil uji korelasi spearman untuk mengetahui adanya hubungan antara
pengetahuan dengan perilaku pelaksanaan mobilisasi dini didapatkan hasil 0,000 (p
< 0,05). Mayoritas responden memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 23
responden (57,5%), dan mayoritas responden melakukan mobilisasi dengan baik
sebanyak 26 responden (65,0%).
Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan perilaku
pelaksanaan mobilisasi dini pada pasien post operasi di RS PKU Muhammadiyah
Yogyakarta.
Saran: Diperlukan penelitian lebih lanjut penelitian tentang mobilisasi dini seperti
menghubungkan faktor-faktor lainnya yang dapat mempengaruhi pelaksanaan
mobilisasi dini
