15 research outputs found

    Pengaruh Makanan Siap Saji Internasional Dan Makanan Siap Saji Khas Indonesia Terhadap Perubahan Kadar Ghrelin Plasma Dan Skor Visual Analogue Scale Satiety Pada Laki- Laki Dewasa Dengan Obesitas

    Get PDF
    Obesitas merupakan kondisi dimana lemak tubuh terakumulasi dan juga faktor risiko terjadinya penyakit kronis seperti penyakit jantung dan pembuluh darah, diabetes mellitus, dan kanker. Pada awalnya, masalah ini menjadi fokus hanya di negara-negara maju tetapi masalah ini juga menjadi fokus berbagai negara berkembang termasuk Indonesia. Di Indonesia, prevalensi obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun. Persentase jumlah laki-laki maupun wanita dewasa lebih dari 18 tahun dengan obesitas meningkat cukup signifikan, yakni pada laki-laki dari 13,8% menjadi 19,7% sementara pada wanita dari 14,8% menjadi 32,9% pada tahun 2013. Obesitas diakibatkan oleh bergesernya homeostasis energi ke arah positif. Otak manusia berperan penting dalam proses pengaturan homeostasis energi, salah satunya melalui mekanisme stimulasi rasa lapar, kenyang, keinginan untuk makan, dan keinginan untuk makan dalam jumlah besar dimana hal tersebut dikendalikan oleh berbagai hormon pada sistem endokrin. Hormon yang ikut mengatur keseimbangan energi ini adalah ghrelin. Ghrelin adalah hormon endogen yang diproduksi oleh duodenum, jejunum dan paling banyak oleh kelenjar oksintik yang berada di lambung bagian fundus yakni sel X/A. Ghrelin dihasilkan melalui proses transkripsi, translasi, dan modifikasi post translasi dari gen ghrelin, dimana hasil akhirnya berupa dua bentuk hormon yang tersirkulasi di dalam plasma, yakni des-acylated ghrelin (DAG) dan acylated ghrelin (AG) yang merupakan hasil dari katalisasi DAG oleh enzim ghrelin o-acyl-transferase (GOAT). Kedua hormon ini berfungsi dalam pengaturan jalur homeostasis energi yang berbeda. Acylated ghrelin bekerja di jalur sentral menembus sawar darah otak menuju ke hipotalamus dan perifer melalui nervus vagus. Di hipotalamus, ghrelin mengaktivasi nukleus arkuata (ARC) dan nukleus paraventrikel. Nukleus yang terekspresi AG mengirim sinyal balik melalui ARC, akan meningkatkan rasa lapar, keinginan untuk makan, dan keinginan untuk makan dalam jumlah besar, dan akan menekan rasa lapar melalui serangkaian mekanisme. Di sisi lain, mekanisme kerja hormon DAG berkebalikan dengan AG dan berfungsi sebagai antagonis dari hormon AG. Penelitian ini merupakan penelitian pertama yang melihat perbedaan antara kadar AG pada laki-laki dewasa dengan obesitas yang diberi makanan siap saji internasional dengan khas Indonesia dan diukur melalui pengambilan plasma darah pada preprandial, 30, 60, dan 120 menit post prandrial. Kemudian, dilakukan juga peniliaian secara subjektif dengan menggunakan skor visual analogue scale (VAS) satiety untuk melihat hubungannya dengan kadar hormon ghrelin untuk menilai hunger, fullness, desire to eat, dan prospective food consumption. Penelitian ini menggunakan 16 orang responden laki-laki dewasa dengan status gizi obesitas. Desain penelitian ini menggunakan desain true experimental dimana dua kelompok responden akan dibandingkan kadar hormon ghrelin dan skor visual analogue scale sebelum dan setelah mengkonsumsi makanan siap saji internasional dan khas Indonesia. Responden akan diminta untuk makan terakhir pada pukul 21.00 dimana menu tersebut mengandung 25% kebutuhan energi dan dipuasakan. Lalu, pada pagi harinya, responden diambil darahnya dan mengisi form VAS satiety pada menit ke 0, 30, 60, dan 120 menit. Hal tersebut dilakukan pada kedua kelompok responden. Data yang diperoleh (kadar ghrelin, skor VAS Q1 (hunger), Q2 (fullness), Q3 (desire to eat), dan Q4 (prospective food consumption) dianalisis dengan uji beda, uji T tidak berpasangan dan Mann-Whitney, dan uji korelasi, Pearson dan Spearman. Analisis penelitian menunjukkan perbedaan bermakna pada menit ke-0, 30, dan 60 pada ghrelin plasma dimana kadar ghrelin plasma mencapai puncak pada menit ke-30 (p<0.01). Tidak terdapat perbedaan skor VAS satiety pada semua rentang waktu dan pada vii dua kelompok responden (p>0.05). Tidak didapatkan korelasi antara kadar ghrelin plasma dan skor VAS satiety kecuali pada responden yang mengonsumsi makanan siap saji internasional di menit ke-30. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar ghrelin plasma pada responden dengan obesitas berbeda bermakna bila diberi jenis makanan dengan kandungan zat gizi yang berbeda. Lemak dan karbohidrat akan menekan kadar ghrelin plasma sementara protein justru akan meningkatkan kadar ghrelin plasma. Di sisi lain, skor VAS tidak berbeda bermakna pada dua kelompok responden. Hal ini dikarenakan skor VAS merupakan skala pengukuran yang bersifat subjektif dan dipengaruhi berbagai faktor seperti densitas energi makanan yang rendah. Sejalan dengan hal ini, kadar ghrelin plasma tidak berhubungan dengan skor VAS satiety. Kondisi ini kemungkinan terjadi karena adanya mekanisme resistensi leptin yang mempengaruhi kinerja hormon ghrelin dan skor VAS sehingga pemberian dua makanan siap saji yang berbeda kandungan zat gizi makronya tidak memberikan efek kenyang pada kedua kelompok responde

    Pengaruh Pemberian Beras Coklat (Oryza Sativa) terhadap Komposisi Lemak Tubuh Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Kota Malang

    Get PDF
    Diabetes melitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis dengan prevalensi yang terus meningkat secara global. Termasuk faktor risiko terjadi DM tipe 2 yaitu berat badan dan massa lemak tubuh yang berlebih, gaya hidup dengan aktivitas fisik rendah dan pola makan yang tinggi energi dan lemak. Beras coklat diketahui bernilai indeks glikemik relatif rendah, serta kandungan magnesium tinggi yang diduga mampu menurunkan komposisi lemak tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh pemberian beras coklat sebagai pengganti makanan pokok terhadap komposisi lemak tubuh (persentase lemak tubuh dan lemak viseral) pada pasien DM tipe 2. Studi ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain repeated measures dengan durasi intervensi selama 12 minggu dan pengukuran komposisi lemak tubuh dilakukan setiap 4 minggu kepada 18 orang responden pasien DM berjenis kelamin wanita. Pengukuran komposisi lemak tubuh dilakukan dengan menggunakan skala impedansi bioelektrik OMRON HBF375. Hasil perhitungan statistik repeated measures ANOVA menunjukkan bahwa konsumsi beras coklat sebagai pengganti makanan pokok dapat menurunkan persentase lemak tubuh (p = 0.017) dan indeks lemak viseral (p < 0.000) secara signifikan. Studi ini menyimpulkan bahwa konsumsi beras coklat sebagai pengganti makanan pokok mampu menurunkan persentase lemak tubuh dan indeks lemak viseral pada tubuh responden

    Pengaruh Pemberian Serbuk Daun Kelor (Moringa Oleifera) Terhadap Kadar Asam Urat Pada Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Dengan Diet Tinggi Fruktosa.

    No full text
    Diet tinggi fruktosa merupakan salah satu diet yang dapat menyebabkan terjadinya penyakit diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) yang biasanya dikaitkan dengan peningkatan kadar asam urat. Salah satu tanaman yang dapat menurunkan kadar asam urat adalah daun kelor. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan pengaruh pemberian serbuk daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar asam urat tikus yang diinduksi dengan diet tinggi fruktosa. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental laboratorium dengan rancangan posttest- only control group design. Sejumlah 35 ekor tikus Wistar jantan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yaitu K0 (diet normal modifikasi AIN-93M), E1 (kontrol diabetes melitus), E2 (kontrol prediabetes), E3 (diet tinggi fruktosa 66% + intervensi kuersetin) dan E4 (diet tinggi fruktosa 66% + intervensi serbuk daun kelor). Kadar asam urat tikus didapatkan melalui uji menggunakan metode spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kadar asam urat tikus secara berurutan yaitu K0 2,73+0,54 mg/dL, E1 2,32+0,28 mg/dL, E2 1,93+0,26 mg/dL, E3 2,02+0,71 mg/dL, dan E4 1,67+0,60 mg/dL. Hasil uji beda One Way ANOVA menunjukkan p value = 0,014 dan uji lanjut post hoc Tukey K0 dengan E4 menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar asam urat yang signifikan. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kelompok E4 memiliki nilai kadar asam urat yang lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian serbuk daun kelor cenderung memiliki efek menurunkan kadar asam urat darah. Selain itu, penurunan kadar asam urat juga diduga akibat peningkatan ekskresi dan penurunan reabsorpsi asam urat di ginjal karena efek dari urikosurik glukosa pada penderita prediabetes dan DMT2

    Pengaruh Pemberian Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Perlemakan Hati pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Wistar yang Diinduksi dengan Diet Tinggi Fruktosa

    No full text
    Kebiasaan konsumsi diet tinggi fruktosa dapat menyebabkan penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) sehingga dapat terkena perlemakan hati non alkoholik (NAFLD) yang merupakan cakupan penyakit hati seperti sirosis, steatohepatitis, dan steatosis yang diakibatkan oleh kondisi sindrom metabolik. Pemberian Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) telah dibuktikan dalam beberapa penelitian memiliki efek anti diabetes dan anti hiperglikemik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk daun kelor terhadap perlemakan hati pada tikus putih yang diberi diet tinggi fruktosa. Penelitian eksperimental ini menggunakan post-test only group design yang dilakukan pada 30 ekor tikus putih Wistar jantan. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok dengan 6 ekor tikus setiap kelompok yaitu kelompok K (diet normal 12 minggu), kelompok E1 (HFD 66% 16 minggu), kelompok E2 (HFD 66% 12 minggu), kelompok E3 (HFD 66% 16 minggu dan kuersetin 50 mg/kgBB 4 minggu), serta kelompok E4 (HFD 66% 16 minggu dan serbuk daun kelor 500 mg/kgBB 4 minggu). Data diolah dan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS 25 dengan uji statistik one way ANOVA dan Kruskal-Wallis. Parameter perlemakan hati dilakukan pengamatan melalui mikroskop cahaya pembesaran 400 kali pada 5 area lapang pandang. Hasil penelitian menunjukkan tidak terbentuknya steatosis baik makrovesikuler maupun mikrovesikuler pada seluruh kelompok perlakuan dikarenakan lama intervensi diet tinggi fruktosa dan pakan yang dikonsumsi tikus yang kurang menstimulus terbentuknya steatosis, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian serbuk daun kelor (Moringa oleifera) selama 4 minggu dengan dosis 500mg/kgBB tidak berpengaruh terhadap perlemakan hati pada tikus putih jantan galur wistar (Rattus novergicus) yang diinduksi diet tinggi fruktosa selama 16 minggu

    Pengaruh Pemberian Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Kadar NEFA (Non-Esterified Fatty Acids) pada Tikus Putih (Rattus norvegicus) Jantan Galur Wistar yang Diinduksi dengan Diet Tinggi Fruktosa

    No full text
    Konsumsi diet tinggi fruktosa dapat menyebabkan gangguan dalam metabolisme lipid sehingga menginduksi terjadinya de novo lipogenesis dan terjadi peningkatan kadar NEFA. Daun kelor dapat berperan sebagai antidiabetes dan antidislipidemik karena mengandung berbagai senyawa aktif seperti flavonoid, kuersetin, dan saponin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk daun kelor (Moringa oleifera) terhadap kadar NEFA (non- esterified fatty acids) pada tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur wistar yang diinduksi dengan diet tinggi fruktosa. Penelitian eksperimental dengan desain posttest-only ini dilakukan pada tikus jantan galur wistar sebanyak 30 ekor. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dengan masing-masing kelompok terdiri dari 6 tikus, yaitu kelompok K0 (diet normal modifikasi AIN-93M), kelompok E1 (Kontrol DMT2), kelompok E2 (Kontrol Prediabetes), kelompok E3 (pakan modifikasi AIN-93M + diet tinggi fruktosa 66% + intervensi kuersetin), dan kelompok E4 (pakan modifikasi AIN-93M + diet tinggi fruktosa 66% + intervensi serbuk daun kelor). Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar NEFA pada tiap kelompok perlakuan adalah 822.76±213.55 (K0), 1016.95±195.68 (E1), 805.79±255.67 (E2), 810.21±194.82 (E3), dan 842.59±138.59 (E4) dengan nilai p=0.355. Dari hasil analisis data didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap kadar NEFA pada seluruh kelompok. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa serbuk daun kelor (Moringa oleifera) dengan dosis 500 mg/kgBB tidak berpengaruh secara signfikan terhadap kadar NEFA tikus seluruh kelompo

    Pengaruh Intervensi Beras Coklat (Oryza sativa L.) terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa Pasien Diabetes Melitus Tipe 2

    No full text
    Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang disebabkan oleh resistensi insulin, gangguan sekresi insulin, maupun keduannya. Beras coklat merupakan alternatif sumber karbohidrat dengan kandungan antioksidan, serat, magnesium dan mangan yang lebih besar dari pada beras putih namun dengan indeks glikemik yang lebih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan antara kadar glukosa darah puasa pada pasien diabetes melitus tipe 2 sebelum dan sesudah intervensi beras coklat. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan rancangan one group pre and post test design. Besar sampel dalam penelitian ini dihitung berdasarkan total sampling yang dinyatakan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh sampel penelitian sebanyak 18 responden. Variabel yang diukur adalah glukosa darah puasa, yang diukur menggunakan bio chemistry analyzer. Hasil uji beda sampel t-test didapatkan p=0.015 <α=0.05. Hal tersebut menunjukkan bahwa H0 ditolak atau terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah sebelum dan sesudah intervensi beras coklat. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa intervensi beras coklat berkontribusi terhadap penurunan kadar glukosa darah puasa pada pasien DMT2

    Pengaruh Pemberian Beta Glukan Ekstrak Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) Terhadap Hipertrofi dan Hiperplasia Jaringan Adiposa Tikus Sprague dawley Jantan yang Diberikan Diet Tinggi Lemak dan Tinggi Fruktosa

    No full text
    Obesitas merupakan penyakit penumpukan lemak atau jaringan adiposa yang disebabkan karena asupan makanan berlebihan, aktivitas fisik yang kurang, dan faktor genetik. Obesitas juga merupakan salah satu penanda bahwa adanya peningkatan Sindroma Metabolik sebagai epidemi global. Obesitas ini mengakibatkan terjadinya hipertrofi adiposa dan dapat meningkatkan jumlah sel (hiperplasia). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beta glukan ekstrak jamur tiram terhadap hipertrofi dan hiperplasia jaringan adiposa pada tikus Sprague dawley jantan. Penelitian ini menggunakan 36 tikus Sprague dawley jantan yang memiliki berat 200-250 gram dan penelitian berlangsung selama 14 minggu. Data yang didapatkan dianalisis menggunakan uji beda parametrik One-Way ANOVA dan non parametrik Kruskal Wallis. Penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok yang diberikan diet normal dengan yang diberikan diet HFHF dan pemberian beta glukan ekstrak jamur tiram dalam bentuk gel (P > 0,05). Akan tetapi, hipertrofi dari tikus yang diberikan dosis beta glukan ekstrak jamur tiram 125 mg/kgBB lebih tinggi daripada kelompok lainnya (KN<KP<P2<P1). Sedangkan hiperplasia dari tikus yang diberikan beta glukan 125 mg/kgBB paling kecil dibandingkan dengan kelompok lainnya (P1<KN<KP<P2). Dapat disimpulkan bahwa pemberian beta glukan ekstrak jamur tiram belum memberikan perubahan yang signifikan terhadap hipertrofi dan hiperplasia jaringan adiposa tikus Sprague dawley jantan

    Pengaruh Pemberian Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Ketebalan Aorta Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Diet Tinggi Fruktosa

    No full text
    Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT 2) merupakan manifestasi klinis dari kebiasaan konsumsi diet tinggi frukotsa (HFD) yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular yang ditandai dengan aterosklerosis. Aterosklerosis diawali terjadinya disfungsi endotel yang menyebabkan peningkatan permeabilitas sel sehingga terjadi akumulasi asam lemak dalam arteri yang teroksidasi dan membentuk plak sehingga menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah aorta bagian tunika intima dan tunika media. Salah satu bahan pangan lokal yang digunakan sebagai terapi penyakit DM adalah daun kelor (Moringa oleifera) yang memiliki senyawa saponin untuk meningkatkan aktivitas antioksidan yang berperan dalam penurunan penebalan dinding aorta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk daun kelor terhadap penurunan ketebalan dinding aorta tikus putih Wistar yang diberi diet tinggi fruktosa. Menggunakan rancangan acak lengkap dengan Post Test Group Design yang dilakukan pada 30 ekor tikus Wistar jantan. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol (diet normal), E1 (HFD 66% 16 minggu), E2 (HFD 66% 12 minggu), E3 (HFD 66% 16 minggu dan kuersetin 50 mg/kgBB 4 minggu), serta E4 (HFD 66% 16 minggu dan serbuk daun kelor 500 mg/kgBB 4 minggu). Parameter yang diukur adalah ketebalan dinding aorta tunika intima hingga tunika adventitia. Hasil uji statistik Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) terhadap ketebalan dinding aorta antar E1 135,91±16,13 μm dengan kelompok lainnya. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kondisi DMT 2 pada tikus secara signifikan menyebabkan terjadinya penebalan pada dinding aorta dan pemberian serbuk daun kelor menunjukkan efek yang nyata dalam menurunkan penebalan dinding aorta pada tikus dengan kondisi DMT 2

    Pengaruh Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) terhadap Perlemakan Hati pada Tikus Putih (Rattus novergicus) Jantan Galur Wistar yang Diinduksi Dengan Diet Tinggi Fruktosa

    No full text
    Kebiasaan konsumsi diet tinggi fruktosa dapat menyebabkan penyakit Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT2) sehingga dapat terkena perlemakan hati non alkoholik (NAFLD) yang merupakan cakupan penyakit hati seperti sirosis, steatohepatitis, dan steatosis yang diakibatkan oleh kondisi sindrom metabolik. Pemberian Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) telah dibuktikan dalam beberapa penelitian memiliki efek anti diabetes dan anti hiperglikemik. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk daun kelor terhadap perlemakan hati pada tikus putih yang diberi diet tinggi fruktosa. Penelitian eksperimental ini menggunakan post-test only group design yang dilakukan pada 30 ekor tikus putih Wistar jantan. Sampel dibagi menjadi 5 kelompok dengan 6 ekor tikus setiap kelompok yaitu kelompok K (diet normal 12 minggu), kelompok E1 (HFD 66% 16 minggu), kelompok E2 (HFD 66% 12 minggu), kelompok E3 (HFD 66% 16 minggu dan kuersetin 50 mg/kgBB 4 minggu), serta kelompok E4 (HFD 66% 16 minggu dan serbuk daun kelor 500 mg/kgBB 4 minggu). Data diolah dan dianalisis menggunakan aplikasi SPSS 25 dengan uji statistik one way ANOVA dan Kruskal-Wallis. Parameter perlemakan hati dilakukan pengamatan melalui mikroskop cahaya pembesaran 400 kali pada 5 area lapang pandang. Hasil penelitian menunjukkan tidak terbentuknya steatosis baik makrovesikuler maupun mikrovesikuler pada seluruh kelompok perlakuan dikarenakan lama intervensi diet tinggi fruktosa dan pakan yang dikonsumsi tikus yang kurang menstimulus terbentuknya steatosis, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian serbuk daun kelor (Moringa oleifera) selama 4 minggu dengan dosis 500mg/kgBB tidak berpengaruh terhadap perlemakan hati pada tikus putih jantan galur wistar (Rattus novergicus) yang diinduksi diet tinggi fruktosa selama 16 minggu

    Pengaruh Pemberian Serbuk Daun Kelor (Moringa oleifera) Terhadap Ketebalan Aorta Tikus Putih (Rattus Norvegicus) Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Diet Tinggi Fruktosa.

    No full text
    Diabetes Mellitus tipe 2 (DMT 2) merupakan manifestasi klinis dari kebiasaan konsumsi diet tinggi frukotsa (HFD) yang dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular yang ditandai dengan aterosklerosis. Aterosklerosis diawali terjadinya disfungsi endotel yang menyebabkan peningkatan permeabilitas sel sehingga terjadi akumulasi asam lemak dalam arteri yang teroksidasi dan membentuk plak sehingga menyebabkan penebalan dinding pembuluh darah aorta bagian tunika intima dan tunika media. Salah satu bahan pangan lokal yang digunakan sebagai terapi penyakit DM adalah daun kelor (Moringa oleifera) yang memiliki senyawa saponin untuk meningkatkan aktivitas antioksidan yang berperan dalam penurunan penebalan dinding aorta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian serbuk daun kelor terhadap penurunan ketebalan dinding aorta tikus putih Wistar yang diberi diet tinggi fruktosa. Menggunakan rancangan acak lengkap dengan Post Test Group Design yang dilakukan pada 30 ekor tikus Wistar jantan. Tikus dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol (diet normal), E1 (HFD 66% 16 minggu), E2 (HFD 66% 12 minggu), E3 (HFD 66% 16 minggu dan kuersetin 50 mg/kgBB 4 minggu), serta E4 (HFD 66% 16 minggu dan serbuk daun kelor 500 mg/kgBB 4 minggu). Parameter yang diukur adalah ketebalan dinding aorta tunika intima hingga tunika adventitia. Hasil uji statistik Kruskal-Wallis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan (p>0,05) terhadap ketebalan dinding aorta antar E1 135,91±16,13 μm dengan kelompok lainnya. Dari penelitian ini disimpulkan bahwa kondisi DMT 2 pada tikus secara signifikan menyebabkan terjadinya penebalan pada dinding aorta dan pemberian serbuk daun kelor menunjukkan efek yang nyata dalam menurunkan penebalan dinding aorta pada tikus dengan kondisi DMT 2
    corecore