7 research outputs found

    Manajemen Kampanye Humanesia Dompet Dhuafa dalam Mempersuasi Generasi Milenial

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen kampanye Humanesia yang dilaksanakan oleh Dompet Dhuafa (DD) dalam mempersuasi generasi milenial. Manajemen kampanye memiliki lima unsur penting yaitu, (1) perencanaan, berisi analisis situasi; (2) pengembangan; (3) implementasi, proses eksekusi program kampaye yang sudah direncanakan; (4) pemantauan, dan terakhir (5) evaluasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, teknik pengumpulan data yang diterapkan adalah wawancara mendalam, kajian literatur dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa model manajemen kampanye Humanesia yang dilakukan oleh DD sebagai berikut, (1) Dalam perencanaan kampanye Humanesia memiliki dua tujuan yaitu, pertama memberikan wadah kepada generasi milenial yang peduli isu kemanusiaan. Serta tujuan jangka panjang yaitu DD berharap bahwa relawan milenial menjadi donatur di masa mendatang; (2)Pengembangan, DD merancang dan menyampai pesan dengan value yang mempersuasi yaitu “ayo bergerak” bukanlah “ayo berdonasi”; (3) Implementasi, terdapat dua program utama dalam kampanye ini yaitu Tantangan Kebaikan dan Jakhumfest; (4) Pemantauan, pertama dilakukan pemantauan dengan mengamati partisipasi masyarakat serta konsistensi dalam program tersebut. Kemudian pemantauan Jakhumfest dilakukan dengan mengamati value talent yang bekerjasama, serta melihat respon publik terhadap setiap acara. (5) terakhir evaluasi, kampanye Humanesia dinilai cukup berhasil dalam mempersuasi generasi milenial untuk sadar dan berkontribusi langsung pada isu kemanusiaan dan lingkungan

    UPAYA MEMBANGUN LITERASI DIGITAL PADA MASYARAKAT DI ERA KEBEBASAN INFORMASI

    Get PDF
    Keberadaan media digital yang bisa dimanfaat untuk media komunikasi membantu berbagai usaha untuk menyebarluaskan merk ataupun produk yang mereka tawarkan. Begitu juga dengan pengaruh media baru untuk komunikasi yang memberikan pengaruh terhadap gaya hidup masyarakat. Jika dibandingkan dengan media konvensional seperti surat kabar, radio dan TV, keberadaan media digital mampu memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi terbaru dan terkini dalam waktu yang singkat bahkah dalam hitungan menit. Di era kebebasan informasi saat ini, diyakini oleh masyarkat bahwa semua orang bebas untuk menyampaikan informasi apapun, bahkan termasuk informasi yang bisa merugikan orang lain. Meskipun demikian tidak sedikit dari masyarakat Indonesia yang seutuhnya siap untuk menggunakan media digital dengan baik, yang dibukti dari banyaknya berita hoaks ataupun konten-konten negative yang tersebar di media social dan aplikasi messenger. Kondisi tersebut juga sering kali terjadi di lingkungan warga RW 11 Kelurahan Karang Asem Barat Citeureup, khususnya di RT 04 dan RT 02 yang mana penulis menyaksikan sendiri bahwa masih banyak masyarakat yang secara sadar menyebarkan berita ataupun konten-konten yang sifatnya negative salah satunya yang pesan yang bernada SARA.Oleh karena itu penulis dan tim merasa perlu untuk bekerja sama dengan Ketua RT 02 dan RT 04 selaku mitra dalam kegiatan pengabdian kepada masyarkat ini untuk memberikan sosialisasi untuk meningkatkan literasi digital masyarakat di era kebebasan informasi ini. Sosialisasi yang diberikan melalui pertemuan yang akan dihadiri oleh oleh warga dan juga menghadirkan narasumber yang berkompeten terkait komunikasi digital, hoaks dan regulasi yang sudah diterapkan oleh pemerintah

    Inequality of Public Transportation Policy in the Disruptive Era Between Online and Conventional Transportation

    Get PDF
    Indonesia is one of the countries with a large market for online transportation. This paper describes a meta-analysis on policy inequality regarding public transportation. Meta-analysis and Computer Assisted Qualitative Data Software (CAQDAS) were utilized to evaluate the inequality of public transportation policy for conventional transportation. Scopus search engine was also used to identify broad literature on a particular policy regulation in Indonesia between 2010 and 2021. Then, this study employed online news related to the conflict between conventional and online transportation. The result disclosed a policy inequality between online and conventional transportation based on the social movement on online media. Thus, the government has to implement a strict policy applicable to transportation. The words “protest”, “regulation,” and “police” were also seen clearly on the issue. In addition, the protesters, comprised of drivers from Uber, Grabcar, and Go-Car, said that Transportation Ministry Regulation No 32/2016 would disadvantage them because it is too difficult to comply with the requirements. Hence, the government can decide on self-regulation to design a policy for online transportation. In this case, state law is still necessary when monopolistic attempts are made, unfair competition exists, public safety as consumers is maintained, and taxes are collected

    Kontruksi Pemberitaan Wisata Syariah Pada Republika Online

    No full text

    Sosialisasi Kebijakan Transformasi dan Revitalisasi Balai Pengembangan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi

    No full text
    Balai Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi (BPPMPV) merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi. Pembetukannya didasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 26 Tahun 2020 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kebijakan tersebut relatif baru, sehingga diperlukan sosialisasi yang massif kepada pelbagai entitas pendidikan vokasi, termasuk BPPMPV. Selain itu, ruang lingkupnya relatif terbatas hanya pada aspek penjaminan mutu, sehingga dilengkapi dengan kebijakan 4 aspek revitalisasi BPPMPV oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman entitas BPPMPV (30 peserta) terhadap 2 produk kebijakan tersebut melalui metode sosialisasi. Hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman yang cukup signifikan dari 30 peserta sosialisasi, dengan total 19 peserta yang menjadi sangat memahami kebijakan pertama, dan sebanyak 21 peserta yang menjadi sangat memahami kebijakan yang kedua. Di sisi lain, tingkat kepuasan peserta terhadap pelaksanaan kegiatan juga tinggi, karena sebanyak 77% peserta puas terhadap pelaksanaan sosialisasi
    corecore