Estimasi Serapan dan Nilai Ekonomi Karbon Rhizophora apiculata di Kawasan Konservasi Perairan Nias Utara: Carbon Sequestration Estimation and Economic Valuation of Rhizophora apiculata in the North Nias Marine Conservation Area

Abstract

Ekosistem mangrove termasuk dalam kategori karbon biru karena kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon atmosfer. Rhizophora apiculata merupakan spesies dominan di kawasan konservasi perairan Sawo-Lahewa, Kabupaten Nias Utara, dan banyak dimanfaatkan dalam kegiatan mitigasi serta rehabilitasi ekosistem mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi cadangan karbon dan nilai ekonominya berdasarkan skenario kompensasi jasa pengaturan, khususnya penyerapan karbon. Metode yang digunakan adalah metode non-destruktif dengan pendekatan persamaan alometrik untuk menghitung biomassa, cadangan karbon, dan serapan CO₂. Nilai ekonomi karbon dihitung menggunakan tiga pendekatan: Forest Carbon Partnership Facility (FCPF), Social Cost of Carbon (SCC) dari pemerintah Amerika Serikat, serta skenario pasar domestik sesuai Undang Undang Harmonisasi Per Pajakan. Hasil menunjukkan cadangan karbon sebesar 3.687,78 ton/ha dengan potensi penyerapan CO₂ sebesar 13.534,15 ton ekuivalen. Pada tahun 2023, nilai ekonomi karbon mencapai sekitar Rp989,35 juta (FCPF), Rp8,31 miliar (SCC), dan Rp406,02 juta (pasar domestik). Proyeksi tahun 2043 menunjukkan peningkatan nilai menjadi Rp2,17 miliar, Rp18,21 miliar, dan Rp889,65 juta secara berturut-turut. Temuan ini menegaskan pentingnya konservasi dan pengelolaan mangrove secara berkelanjutan dalam mendukung jasa pengaturan iklim serta memberikan manfaat ekonomi melalui perdagangan karbon.Mangrove ecosystems are categorized as blue carbon due to their ability to store atmospheric carbon. Rhizophora apiculata, the dominant mangrove species in the Sawo-Lahewa conservation area, North Nias Regency, plays a key role in carbon sequestration and is widely used in ecosystem rehabilitation. This study aims to estimate the carbon stock and its economic value under different compensation scenarios. A non-destructive method was applied to estimate biomass using allometric equations, followed by calculations of carbon stock and CO₂ absorption. The economic value was assessed using three approaches: Forest Carbon Partnership Facility (FCPF), the U.S. government\u27s Social Cost of Carbon (SCC), and Indonesia’s domestic market under the HPP Law. The estimated carbon stock of R. apiculata is 3,687.78 tons/ha, equivalent to 13,534.15 tons of CO₂ absorbed. In 2023, its economic value is approximately IDR 989.35 million (FCPF), IDR 8.31 billion (SCC), and IDR 406.02 million (domestic market). Projected values in 2043 increase to IDR 2.17 billion, IDR 18.21 billion, and IDR 889.65 million, respectively. These results highlight the ecological and economic importance of R. apiculata in supporting climate regulation services. Strategic conservation and sustainable management of mangroves can enhance their carbon offset potential, contributing to both environmental and economic benefits

Similar works

Full text

Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis

redirect
Last time updated on 26/07/2025

This paper was published in Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.