Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    660 research outputs found

    ANALYSIS OF COASTLINE CHANGES AND ECOLOGICAL RESILIENCE IN TANGERANG COASTAL AREA, BANTEN PROVINCE

    Get PDF
    Wilayah pesisir Kabupaten Tangerang mengalami perubahan secara terus-menerus yang disebabkan faktor alam maupun aktivitas manusia. Perubahan yang terus terjadi ini, dapat merubah tingkat resiliensi ekologi yang ada di pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai tingkat resiliensi berdasarkan dinamika perubahan garis pantai dan kondisi ekologi, serta kaitannya dengan penggunaan dan penutupan lahan di pesisir Kabupaten Tangerang. Analisis data terdiri atas pengolahan citra satelit Landsat, analisis penggunaan/penutupan lahan (LULC), dan laju perubahan garis pantai menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS), pengolahan data oseanografi, dan penilaian resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Tangerang memiliki tingkat resiliensi rendah dengan dinamika perubahan garis pantai lebih dominan erosi daripada akresi. Laju perubahan garis pantai berkorelasi positif dengan LULC. Erosi terjadi pada kawasan yang dominan lahan tambak dan sedikit mangrove, sedangkan akresi terjadi di daerah muara sungai dan kawasan industri.The coastal area of ​​Tangerang Regency experiences continuous changes caused by natural factors and human activities. These ongoing changes can affect the level of resilience on the coast. This study aimed to assess the level of resilience based on the dynamics of coastline change and ecological conditions, as well as its relation to land use and land cover on the coast of Tangerang Regency. Data analysis consisted of processing Landsat satellite imagery, land use and land cover (LULC) analysis, and coastline change rate using Digital Shoreline Analysis System (DSAS), oceanographic data processing, and resilience assessment. The results showed that the coast of Tangerang Regency has a low level of resilience, with the dynamics of coastline change being more dominant in erosion than accretion. The rate of coastline change was positively correlated with LULC. Erosion occurred in areas where ponds were dominant, and few mangroves were present, while accretion occurred in estuaries and industrial areas

    MODEL MAXIMUM ENTROPY UNTUK PREDIKSI DAERAH PENANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL DI LAUT JAWA

    Get PDF
    The optimization of small pelagic fishing in the Java Sea can still be improved by the development of fishing area information systems. This study aims to predict small pelagic fishing grounds using the Maximum Entropy (MaxEnt) model. The data used in this study are environmental data in the form of sea surface temperature (SST) and sea surface salinity year 2018 in the Java Sea downloaded from Google Earth Engine via RStudio and fishing vessel position data downloaded from VIIRS Boat Detection (VBD). The MaxEnt model showed good performance with an AUC value of 0.849. The response curve shows the highest probability of fish distribution being at SST in the range of 27.0 – 31.0 oC, and salinity of 32 – 34 psu. The predicted map of fishing areas produced by MaxEnt modeling in the form of a habitat suitability map showed that parameter salinity had an effect of 94.5% and SST of 5.5%. Peta fish habitat suitability shows that the majority of fishing vessel coordinates are at the Habitat Suitability Index (HSI) value of 0.5 – 0.8. Small pelagic fishing areas are concentrated in the central and northern regions of the Java Sea approaching the southern waters of Borneo Island.Optimalisasi penangkapan ikan pelagis kecil di Laut Jawa masih dapat ditingkatkan dengan pengembangan sistem informasi daerah penangkapan ikan. Penelitian ini bertujuan untuk memprediksi daerah penangkapan ikan pelagis kecil dengan menggunakan model Maximum Entropy (MaxEnt). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data lingkungan berupa suhu permukaan laut (SPL) dan salinitas permukaan laut tahun 2018 di Laut Jawa yang diunduh dari Google Earth Engine melalui RStudio dan data posisi kapal penangkap ikan yang diunduh dari VIIRS Boat Detection (VBD). Model MaxEnt menunjukkan kinerja yang baik dengan nilai AUC 0,849. Kurva respons menunjukkan probabilitas tertinggi distribusi ikan berada pada SPL pada kisaran 27,0 – 31,0 oC, dan salinitas 32 – 34 psu. Peta prediksi daerah penangkapan ikan yang dihasilkan dengan pemodelan MaxEnt berupa peta kesesuaian habitat menunjukkan bahwa parameter salinitas berpengaruh sebesar 94,5% dan SPL sebesar 5,5%. Peta kesesuaian habitat ikan menunjukkan bahwa mayoritas koordinat kapal penangkapan berada pada nilai Habitat Suitability Index (HSI) 0,5 – 0,8. Daerah potensial penangkapan ikan pelagis kecil terkonsentrasi di wilayah tengah dan utara Laut Jawa mendekati perairan selatan Pulau Kalimantan

    THE EFFECT OF DIFFERENCES pH OF WATERS ON THE GROWTH RATE OF SEAGRASS OF Cymodocea rotundata

    Get PDF
    Penggunaan bahan bakar fosil yang terus berlangsung akan meningkatkan konsentrasi karbondioksida (CO2) di atmosfer. Asidifikasi laut terjadi akibat CO2 yang berada di atmosfer berdifusi ke lautan. Lautan mampu menyerap CO2 di atmosfer sebanyak 35 % lebih yang menyebabkan terjadinya penurunan pH laut. Lamun Cymodocea rotundata merupakan salah satu jenis lamun yang banyak ditemukan tumbuh di perairan tropis. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran tentang kemungkinan terjadinya dampak pada pertumbuhan lamun C. rotundata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan nitrat, fosfat dan kalium dan pertumbuhan lamun C. rotundata yang meliputi pertumbuhan daun, rhizoma, dan akar C. rotundata terhadap perbedaan pH. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan rancangan acak lengkap menggunakan tabel acak. Sebanycak 15 toples dengan ukuran diameter 20 cm dan tinggi 25 cm digunakan dengan 3 perlakuan, masing-masing perlakuan 5 kali pengulangan. Hasil uji regresi linier menunjukkan pH berpengaruh terhadap konsentrasi nitrat, dan berpengaruh kuat terhadap konsentrasi fosfat dan kalium. Laju pertumbuhan daun lamun C. rotundata tertinggi pada kontrol berkisar antara 0,50–1,29 mm/hari sedangkan yang terendah pada pH rendah berikisar 0,07–0,73 mm/hari. Laju pertumbuhan rizhoma lamun secara horizontal dan vertikal tertinggi pada pH rendah sedangkan yang terendah pada pH kontrol. Laju pertumbuhan akar lamun tertinggi pada pH rendah berkisar antara 0,20–0,90 mm/hari. sedangkan yang terendah pada kontrol berkisar antara 0,13–0,43 mm/hari. pH juga memengaruhi laju pertumbuhan daun, rhizoma dan akar lamun C. rotundata. Semakin rendah pH maka laju pertumbuhan daun juga semakin rendah, berbeda dengan rhizoma dan akar semakin rendah pH maka semakin tinggi laju pertumbuhan.The continued use of fossil fuels will increase the concentration of carbon dioxide (CO2) in the atmosphere. Ocean acidification occurs due to CO2 in the atmosphere diffusing into the oceans. The oceans are able to absorb CO2 in the atmosphere as much as 35 % more which causes a decrease in ocean pH. Seagrass Cymodocea rotundata is a type of seagrass that can be found growing in tropical waters. This situation raises concerns about the possible impact on the growth of seagrass C. rotundata. This study aims to analyze the content of nitrate, phosphate and potassium and the growth of seagrass C. rotundata which includes the growth of leaves, rhizomes and roots of C. rotundata against differences in pH. The study used an experimental method with a completely randomized design using a random table. A total of 15 jars with a diameter of 20 cm and a height of 25 cm were used with 3 treatments, each treatment was repeated 5 times. The results of the linear regression test showed that pH had an effect on nitrate concentrations, and had a strong effect on phosphate and potassium concentrations. The highest growth rate of C. rotundata seagrass leaves in the control ranged from 0.50–1.29 mm/day while the lowest at low pH ranged from 0.07–0.73 mm/day. The growth rate of seagrass rhizomes horizontally and vertically was highest at low pH while the lowest was at control pH. The highest growth rate of seagrass roots at low pH ranged from 0.20–0.90 mm/day. while the lowest was in the control ranged from 0.13–0.43 mm/day. pH also affects the growth rate of leaves, rhizomes and seagrass roots of C. rotundata. The lower the pH, the lower the leaf growth rate, in contrast to rhizomes and roots, the lower the pH, the higher the growth rate

    MANGROVE ECOSYSTEM POTENCY AND BENEFITS FOR ALTERNATIVE LIVELIHOODS DEVELOPMENT IN KARANGSONG VILLAGE

    Get PDF
    Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif yang berkelanjutan diperlukan untuk melestarikan ekosistem mangrove. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis mata pencaharian alternatif yang layak untuk dikembangkan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi dan survei serta Participatory Rural Appraisal (PRA). Analisis data menggunakan metode Total Economic Valuation (TEV), analisis tingkat kesejahteraan, analisis kelayakan usaha, analisis SWOT, analisis pola hubungan pemangku kepentingan dan analisis skala penilaian. Hasil penelitian merekomendasikan delapan MPA yang layak untuk dikembangkan di wilayah pesisir Desa Karangsong. Mereka adalah sirup bakau, penyok bakau, kecap, kopi, wedang pantai, dodol, cokelat, dan minuman segar. Kedelapan MPA tersebut menunjukkan adanya kesamaan dalam hal penyediaan bahan baku dan ketersediaan tenaga kerja berdasarkan analisis Rating Scale. Nilai ekonomi total (TEV) menunjukkan bahwa manfaat langsung memiliki nilai ekonomi terbesar dibandingkan dengan manfaat tidak langsung. Hal ini dapat diartikan bahwa manfaat ekonomi dari ekosistem mangrove akan semakin besar jika ekosistem tersebut dapat dipelihara dengan baik, sehingga memberikan manfaat yang berkelanjutan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan kesejahteraan penduduk Desa Karangsong tidak dapat mengandalkan mata pencaharian mereka saat ini, tetapi perlu mengembangkan delapan MPA secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap rumah tangga masyarakat pesisir.The sustainable development of alternative livelihoods is needed to preserve the mangrove ecosystem. Therefore, this study aims to determine the types of feasible alternative livelihoods to be developed. The method of data collection was carried out by literature studies, observations and surveys as well as participatory rural appraisal (PRA). The data were analyzed using the total economic valuation (TEV) method, welfare level analysis, business feasibility analysis, SWOT analysis, stakeholder relationship pattern analysis and rating scale analysis. The results recommend eight feasible MPAs to be developed in the coastal area of ​​Karangsong Village. They are mangrove syrup, mangrove dent, soy sauce, coffee, coastal wedang, lunkhead, chocolate, and fresh drinks. The eight MPAs shows that there are similarities in terms of providing raw materials and the availability of labor based on Rating Scale analysis. The total economic value (TEV) shows that direct benefits have the greatest economic value compared to indirect benefits. This can be interpreted that the economic benefits of the mangrove ecosystem will be greater if the ecosystem can be maintained properly, thus providing sustainable benefits. Based on the results of the study, it can be concluded that improving the welfare of the residents of Karangsong Village cannot rely on their current livelihood, but it is necessary to develop eight MPAs in a sustainable manner to improve the welfare of every coastal community household

    FLUKTUASI ANGIN DAN CURAH HUJAN PERIODE 2012-2020 DAN DAMPAKNYA TERHADAP PRODUKSI IKAN DI PELABUHAN PAOTERE MAKASSAR

    Get PDF
    Curah hujan yang sangat bervariasi membentuk pola musiman di berbagai wilayah di Indonesia. Angin dan curah hujan merupakan faktor cuaca yang menentukan pengambilan keputusan dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan di sekitar Pelabuhan Paotere sebagai pelabuhan terbesar di Kota Makassar. Kegiatan penangkapan memberi peluang bagi nelayan penuh maupun nelayan sambilan untuk mendapatkan hasil tangkapan dan keuntungan, namun juga dapat menyebabkan kerugian karena besarnya biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh angin dan curah hujan terhadap produksi nelayan yang berbasis di Pelabuhan PPI Paotere Makassar. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode pengumpulan data sekunder terkait angin serta curah hujan dari Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Paotere. Selain itu, data produksi ikan dikumpulkan dari UPTD PPI Paotere dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam produksi ikan di PPI Paotere Makassar yang dipengaruhi oleh curah hujan dan angin.The highly variable rainfall forms seasonal patterns in various regions in Indonesia. Wind and rainfall are two weather factors that determine decision making in fishing and other activities around the port, one of which is Paotere Port as the largest port in Makassar City. Fishing activities provide opportunities for fishermen to get catches and profits for fishermen, but can also cause losses due to high operational costs. This study aims to reveal whether seasonal fluctuations in wind and rainfall affect fish production for fishermen based in Pangkalan Landing Fish (PPI) Paotere, Makassar. This research was carried out using secondary data collection methods related to wind and rainfall from the Paotere Class II Maritime Meteorological Station. Fish production data were collected from the UPTD PPI Paotere and the Makassar City Marine and Fisheries Office. The research results indicate a significant difference in fish production at PPI Paotere Makassar influenced by rainfall and wind

    MERCURY (Hg) CONCENTRATION IN SEDIMENT WATERS OF CIREBON, WEST JAVA DURING EAST TRANSITIONAL MONSOON

    Get PDF
    Cirebon waters are one of the areas with dense fishing, industrial and human activities can cause heavy metal pollution in these waters. This study aims to analyze the Hg content in sediments and their relationship with environmental characteristics in three research sites on the Cirebon coast: i.e., Bondet, Sukalila, and Kejawanan. Nine research points were selected at each location. In situ analysis was carried out for temperature, salinity, pH, and DO variables. In addition, surface sediment samples were taken at variations in water depth between 1–6 m. Grain fraction, organic carbon, and heavy metal Hg were analyzed from each of the sediment samples. The results showed that the surface temperature, salinity, pH, and DO of Cirebon waters ranged from 31.09–32.30 oC; 26.4–30.10‰; 7.66–8.56; and 4.50–6.87 mg/L. Cirebon waters are dominated by silt and clay about 1% organic carbon. Mercury in sediments is still considered safe for aquatic life with a concentration of 29.36–68.55 µg/kg-dw. Principal Component Analysis shows that the three study sites have different water characteristics and hence, influence the Hg deposition. Overall, although Hg accumulation occurs, it is ecologically safe for biota life. Sedimentary accumulation of Hg was probably due to the terrestrial input and the condition of environmental deposition such as riverine flow and coastal current.Perairan Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas perikanan, industri, dan manusia yang padat, sehingga dapat menyebabkan pencemaran logam berat di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Hg di sedimen dan hubungannya dengan karakteristik lingkungan di beberapa lokasi penelitian pada beberapa wilayah pesisir Cirebon: Bondet, Sukalila, dan Kejawanan. Sembilan titik penelitian dipilih pada setiap lokasi. Analisis in situ dilakukan untuk variabel suhu, salinitas, pH, dan DO. Selain itu, sampel sedimen permukaan diambil pada variasi kedalaman perairan antara 1-6 m. Fraksi butir, karbon organik, serta logam berat Hg dianalisis dari setiap sampel sedimen. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa suhu permukaan, salinitas, pH, dan DO Perairan Cirebon berkisar 31,09–32,30 oC; 26,4–30,10‰; 7,66–8,56; dan 4,50–6,87 mg/L. Sedimen Perairan Cirebon didominasi oleh lanau lempungan serta karbon organik sekitar 1%. Kandungan merkuri pada sedimen masih tergolong aman untuk kehidupan akuatik dengan konsentrasi 29,36–68,55 µg/kg–bk. Analisis komponen utama menunjukkan bahwa ketiga lokasi penelitian memiliki karakteristik perairan berbeda dan selanjutnya memengaruhi pola akumulasi Hg di sedimen. Secara keseluruhan, walaupun terdapat akumulasi Hg di sedimen, namun kondisi masih tergolong aman untuk kehidupan biota. Akumulasi diduga dipengaruhi oleh sumber dari daratan dan kondisi lingkungan pengendapan seperti aliran air sungai dan arus pantai

    STUDY OF WAVE BEHAVIOR DUE TO CYLINDER PILE STRUCTURE THROUGH ENERGY SPECTRUM ANALYSIS

    Get PDF
    Struktur pemecah gelombang banyak dimanfaatkan untuk perlindungan pantai dari hantaman gelombang laut yang berpropagasi ke daerah pesisir pantai. Salah satu inovasi pemecah gelombang yang sedang dikembangkan yaitu struktur tiang pancang. Tiang pancang merupakan replikasi batang pohon bakau yang dapat meredam energi gelombang. Tujuan dalam penelitian ini untuk menganalisis efektivitas struktur tiang pancang dengan menganalisis perilaku gelombang sebelum dan sesudah bertabrakan dengan struktur tiang pancang berdasarkan pembagian teori gelombang. Simulasi laboratorium fisik telah dilakukan untuk mendapatkan data gelombang yang berinteraksi dengan struktur tiang pancang. Selanjutnya, dilakukan analisis spektrum energi untuk menentukan spektrum energi gelombang datang, refleksi dan transmisi dari pengukuran wave probe berupa data time series. Masing-masing spektrum energi digunakan untuk melihat kemampuan refleksi dan transmisi dari struktur tiang pancang dari koefisien refleksi dan transmisi. Nilai koefisien refleksi dan transmisi diestimasi dengan persamaan polinomial derajat tiga menghasilkan  dan  dengan variabel parameter dasar gelombang yaitu tinggi gelombang, periode gelombang dan kedalaman perairan. Titik kritis dari persamaan polinomial menunjukkan nilai koefisien refleksi dan transmisi minimum ketika berada pada daerah Cnoidal dan maksimum ketika berada pada daerah Stokes orde-2.Breakwater structures are widely used for coastal protection from the blows of ocean waves that propagate to coastal areas. One of the breakwater innovations being developed is the pile structure. Piles are a replication of mangrove tree trunks that can reduce wave energy, so it is necessary to test their effectiveness in reducing wave energy. So the purpose of this study is to analyze the effectiveness of the pile structure by analyzing the wave behavior before and after colliding with the pile structure based on the wave theory division. Physical laboratory simulations have been carried out to obtain wave data that interacts with the pile structure. Furthermore, energy spectrum analysis is used to determine the energy spectrum of the incident wave, reflection and transmission of wave probe measurements in the form of time series data. Each energy spectrum is used to see the reflection and transmission capabilities of the pile structure from the reflection and transmission coefficients. The reflection and transmission coefficient values ​​were estimated using a third degree polynomial equation resulting in RMSE = 0.087 and RMSE = 0.051 with the basic wave parameters being variable, namely wave height, wave period and water depth. The critical point of the polynomial equation shows the minimum reflection and transmission coefficient values ​​when it is in the Cnoidal region and maximum when it is in the 2nd order Stokes region

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    PERFORMANCE OF TUNA FISH EGGS (Thunnus albacares) IN POST TRANSPORTATION ON THE CLOSE SYSTEM

    Get PDF
    Pasca transportasi telur ikan tuna pada umumnya menghasilkan tingkat penetasan dan kualitas larva yang belum optimal, oleh karena itu dilakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas larva pada pemeliharaan selanjutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa telur dan larva yang dihasilkan pada transportasi dengan sistem tertutup. Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya laut dan penyuluhan perikanan, Gondol-Bali. Perlakuan dalam kegiatan penelitian adalah kepadatan telur ikan tuna yaitu 25.000 butir/L (A), 50.000 butir/L dan 75.000 butir/L. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis sidik ragam. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkat penetasan telur, kualitas prolarva dan parameter kulitas air (suhu, salinitas, DO, pH dan amoniak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap perlakuan kepadatan telur menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Perlakuan dengan kepadatan 75.000 butir/L menghasilkan persentase tingkat penetasan telur rata-rata tertinggi yaitu 69,33±3,78%, kemudian menyusul kepadatan 25.000 butir/L sebesar 68,33±3,33% dan 50.000 butir/L sebesar 63,33±3,56%. Penyerapan kuning telur terjadi pada hari ke 3 dan berakhir pada hari ke 5 dan 6. Pada hari ke 3 larva mulai membutuhkan makanan alami sebagai energi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup embrio dan larva. Ketahanan pada larva yang baru menetas memiliki nilai sekitar 2,29 - 3,32, hal ini menunjukkan bahwa larva mampu tumbuh dan berkembang.Post-transportation of tuna eggs generally results in hatching rates and larval quality that are not optimal, therefore research is carried out to improve the quality of larvae in rearing. The purpose of this study was to determine the performance of eggs and larvae produced in closed transportation systems. The research was conducted at the Center for Marine Cultivation Research and Fisheries Extension, Gondol-Bali. The treatments in the research activity were the density of tuna eggs, namely 25,000 eggs/L (A), 50,000 eggs/L and 75,000 eggs/L. Data analysis was performed using analysis of variance. Parameters observed in this study were egg hatching rate, prolarvae quality and water quality parameters (Temperature, Salinity, DO, pH and Ammonia). The results showed that each treatment of egg density showed results that were not significantly different (P>0.05). The degree of hatching of tuna eggs after transportation from each treatment showed results that were not significantly different (P>0.05). Treatment with a density of 75,000 eggs/L resulted in the highest average percentage hatching rate of 69.33±3.78%, followed by a density of 25,000 eggs/L of 68.33±3.33% and 50,000 eggs/L of 63.33±3.56%. The development of egg yolk absorption begins on 3rd day and ends on the 5th and 6th day. On day 3rd the larvae begin to need natural food as the energy needed for the survival of the embryo and larvae with a survival activity index of newly hatched larvae of arround 2.29-3.32

    605

    full texts

    660

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇