Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
Not a member yet
    788 research outputs found

    Antifouling properties of green seaweed Halimeda opuntia from the Coast of Aceh, Indonesia: Sifat antifouling Halimeda opuntia dari Pesisir Aceh, Indonesia

    No full text
    Marine biofouling remains a critical challenge in the maritime sector, prompting researchers to explore sustainable, eco-friendly, and antifouling solutions derived from marine organisms. This study aimed to determine the optimal concentration of H. opuntia extract for effective antifouling activity. The research methods included antibiofilm, cytotoxicity, antibacterial, anti-quorum sensing assays, and in situ tests. The results revealed that the methanol extracts of H. opuntia exhibited significantly higher antibiofilm activity, with an IC50 value of 0.020 mg/mL. Cytotoxicity assays demonstrated the lowest toxicity against the L6 cell line, with an IC50 value of 70.79 µg/mL. Mechanistically, the H. opuntia methanol extract did not exhibit a bactericidal effect against Pseudomonas aeruginosa but blocked bacterial communication mechanisms through quorum quenching activity, as evidenced by the formation of colorless opaque zones in reporter assays. In situ trials were conducted in the waters of Redang Island and Kuala Kemaman, Malaysia. Panels coated with H. opuntia 5% extract demonstrated superior antifouling performance over three months, with fouling coverage rates of 11.19% and 9.10%, respectively. Further research is needed on the antifouling properties of H. opuntia to identify its active compounds, evaluate its long-term effectiveness, and determine whether it is cost-efficient for mass production.Biofouling merupakan tantangan yang dihadapi dalam sektor maritim dan mendorong para peneliti untuk mengeksplorasi secara berkelanjutan dengan mencari solusi berupa antifouling yang ramah lingkungan dan berasal dari organisme laut. Penelitian ini bertujuan menentukan konsentrasi terbaik ekstrak H. opuntia berdasarkan aktivitas antifouling. Metode penelitian ini meliputi uji antibiofilm, sitotoksisitas, antibakteri, anti-quorum sensing, dan uji in situ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak metanol H. opuntia memiliki aktivitas antibiofilm lebih tinggi dengan nilai IC50 sebesar 0,020 mg/mL. Uji sitotoksisitas menunjukkan toksisitas terendah terhadap sel L6, dengan nilai IC50 sebesar 70,79 µg/mL. Secara mekanistik, ekstrak metanol H. opuntia tidak memiliki efek bakterisidal melawan bakteri Pseudomonas aeruginosa, tetapi dapat menghalangi mekanisme komunikasi bakteri melalui aktivitas quorum quenching, yang dibuktikan dengan pembentukan zona buram tidak berwarna dalam uji tersebut.  Uji in situ yang dilakukan di perairan Pulau Redang dan Kuala Kemaman, Malaysia menunjukkan panel yang dilapisi dengan formulasi 5% H. opuntia menunjukkan kinerja antifouling yang superior selama tiga bulan percobaan, dengan tingkat penutupan fouling masing-masing sebesar 11,19% dan 9,10%. Penelitian selanjutnya diperlukan berkaitan dengan sifat antifouling dengan melakukan identifikasi senyawa aktif, evaluasi efektivitas jangka panjang, dan menentukan efisiensi biaya untuk produksi massal

    Aktivitas antioksidan fikosianin Arthrospira platensis yang diekstrak menggunakan dimetil sulfoksida: Antioxidant activity of Arthrospira platensis phycocyanin extracted using dimethyl sulfoxide

    No full text
    Arthrospira platensis uses phycocyanin, its main pigment, for its antioxidant properties in the food and cosmetic fields. This study aims to determine the effect of biomass conditions on the characteristics (yield, phycocyanin concentration, purity index) and antioxidant activity of A. platensis phycocyanin extracted using dimethyl sulfoxide (DMSO). Wet and dry biomass of A. platensis were extracted using 50% DMSO with a ratio of 1:10 to obtain phycocyanin extract and then purified using ammonium sulfate. Phycocyanin extract and purified phycocyanin were analyzed for yield, concentration, purity index, functional groups, and antioxidant activity (1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH) and ferric reducing antioxidant power (FRAP) methods). The results indicated that the conditions of A. platensis biomass (wet and dry) extracted using DMSO affected the characteristics of phycocyanin and antioxidant activity. Phycocyanin from wet biomass has characteristics (yield 145.14±5.59 mg/g, concentration 0.40±0.02 mg/mL, purity index 0.19±0.06) and antioxidant activity (IC50 DPPH 30,628.89±886.81 ppm, FRAP 1,695.57±5.18 μM/g) higher than that from dry biomass (yield 39.50±20.3 mg/g, phycocyanin concentration 0.08±0.04 mg/mL, purity index 0.03±0.02) and antioxidant activity (IC50 DPPH 162,820.59±1,446.30 ppm, FRAP 1,691.01±50.29 μM/g). Fourier transform infrared (FTIR) results show the typical absorption of functional groups found in phycocyanin. The antioxidant activity of phycocyanin from wet biomass using the DPPH method (primary antioxidant) is classified as a weak antioxidant, while based on the FRAP method (secondary antioxidant), the antioxidant is classified as a strong antioxidant.Fikosianin merupakan pigmen utama dalam Arthrospira platensis yang memiliki sifat antioksidan sehingga dapat dimanfaatkan dalam bidang pangan maupun kosmetik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh kondisi biomassa terhadap karakteristik (rendemen, konsentrasi fikosianin, indeks kemurnian) dan aktivitas antioksidan fikosianin A. platensis yang diekstrak menggunakan dimetil sulfoksida (DMSO). Biomassa basah dan kering A. platensis diekstraksi menggunakan DMSO 50% dengan perbandingan 1:10 untuk mendapatkan ekstrak fikosianin kemudian dilakukan pemurnian menggunakan amonium sulfat. Ekstrak fikosianin dan fikosianin hasil yang telah dimurnikan dianalisis rendemen, konsentrasi, indeks kemurnian, gugus fungsi dan aktivitas antioksidan (metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH) dan ferric reducing antioxidant power (FRAP)). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biomassa A. platensis (basah maupun kering) yang diekstrak menggunakan DMSO berpengaruh terhadap karakteristik fikosianin dan aktivitas antioksidan. Fikosianin dari biomassa basah memiliki karakteristik (rendemen 145,14±5,59 mg/g, konsentrasi fikosianin 0,40±0,02 mg/mL, indeks kemurnian 0,19±0,06) dan aktivitas antioksidan (IC50 DPPH 30.628,89±886,81 ppm, FRAP 1.695,57±5,18 μM/g) lebih tinggi dibandingkan dari biomassa kering (rendemen 39,50±20,30 mg/g, konsentrasi fikosianin 0,08±0,04 mg/mL, indeks kemurnian 0,03±0,02) dan aktivitas antioksidan (IC50 DPPH 162.820,59±1.446,30 ppm, FRAP 1.691,01±50,29 μM/g). Hasil fourier transform infrared (FTIR) menunjukkan adanya serapan khas gugus fungsi yang terdapat pada fikosianin. Aktivitas antioksidan fikosianin dari biomassa basah dengan metode DPPH (antioksidan primer) tergolong antioksidan lemah dan metode FRAP (antioksidan sekunder) tergolong kuat

    Physicomechanical properties of bioplastics from kappa-carrageenan and cassava peel starch : Sifat fisikomekanik bioplastik dari campuran kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong

    No full text
    Kappa-carrageenan, derived from red seaweed, is well-known for its excellent film-forming properties and is widely used as a bioplastic material. It is possible to improve the physical and mechanical properties of bioplas-tics by mixing kappa-carrageenan with cassava peel starch and polyvinyl alcohol (PVA) as a reinforcement. The goal of this study is to find the best combination of kappa-carrageenan and cassava peel starch for bio-plastic based on its thickness, tensile strength, elongation, and water vapor transmission rate (WVTR), as specified in JIS Z 1707. A completely randomized block design (CRBD) was employed with varying ratios of kappa-carrageenan and cassava peel waste starch. The findings show that the mixtures of kappa-carrageenan and cassava peel starch had a big effect on all of the bioplastic's physical and mechanical properties, except for its density. All bioplastic formulations met the JIS standard for tensile strength and elongation. Higher starch con-centrations significantly improved the barrier properties by reducing WVTR and water absorption. However, increasing starch concentration enhanced elongation while decreasing thickness, tensile strength, and Young's modulus, resulting in slower biodegradation. The best mix, which had 4% starch and 1% kappa-carrageenan, was thickest at 0.35 mm, a tensile strength of 1.14 MPa, an elongation of 25.78%, and a WVTR of 18.47 g/m²/day (Grade 3). The results show that kappa-carrageenan and waste starch from cassava peel can be used to make bioplastics that meet the standards for physical and mechanical properties. This could also help reduce plastic pollution in the future.Kappa-karagenan yang berasal dari rumput laut merah dikenal bersifat membentuk film yang sangat baik dan banyak digunakan sebagai bahan bioplastik. Formulasi kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong yang diperkuat dengan polivinil alkohol (PVA) berpotensi menghasilkan bioplastik dengan sifat fisikomekanik yang lebih optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan formula terbaik kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong sebagai bioplastik berdasarkan sifat fisikomekaniknya yang meliputi ketebalan, kuat tarik, elongasi, dan laju transmisi uap air dengan mengacu pada standar JIS Z 1707. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RAKL) dengan variasi rasio kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong. Hasil menunjukkan bahwa formula kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong secara signifikan memengaruhi seluruh sifat fisikomekanik bioplastik, kecuali densitas. Seluruh formula memenuhi standar JIS untuk kuat tarik dan elongasi. Formula yang menggunakan pati limbah kulit singkong dengan konsentrasi yang lebih tinggi secara signifikan memperbaiki sifat penghalang bioplastik dengan menurunkan laju transmisi uap air dan penyerapan air. Peningkatan konsentrasi pati meningkatkan elongasi film secara signifikan, tetapi mengurangi ketebalan, kuat tarik, dan modulus Young, serta menghasilkan biodegradasi yang lebih lambat. Formula terbaik diperoleh pada rasio 1% kappa-karagenan: 4% pati dengan ketebalan 0,35 mm, kuat tarik 1,14 MPa, elongasi 25,78%, dan laju transmisi uap air 18,47 g/m2/hari. Hasil ini menunjukkan bahwa formulasi kappa-karagenan dan pati limbah kulit singkong dapat menghasilkan bioplastik dengan sifat fisikomekanik yang memenuhi standar dan berpotensi mengurangi polusi plastik secara keberlanjutan di masa depan

    Potensi aktivitas antioksidan ekstrak spons laut Stylissa carteri: Potential antioxidant activity of sea sponge Stylissa carteri extract

    No full text
    The sea sponge Stylissa carteri plays an important role because it is one of the constituent biota of coastal and marine ecosystems, especially in coral reef ecosystems. The increasing utilization of bioactive compounds in sea sponges is feared to significantly reduce the population of sea sponges. The prevention effort involves cultivating sea sponges for sustainable utilization. This study aims to determine the antioxidant activity of transplanted Stylissa carteri sponges and those that live naturally in nature. This study was conducted in Pramuka Island using the sponge explant combination method. The three types of transplants were number one (SO), number two (S. carteri and Aaptos suberitoides), and number three (S. carteri, A. suberitoides, and Acropora hard coral). Antioxidant activity was tested with three repetitions on three transplanted and naturally occurring S. carteri sponges (SA) using the DPPH (1,1-Diphenyl-2-Picrylhydrazyl) method. The results indicated that the four sample sources contained strong antioxidant activity, namely SO had an IC50 value of 86.22±23.6 μg/mL, SAP 86.58±30.7 μg/mL, SAC 86.10±23.4 μg/mL, and natural living SA 54.27±16.9 μg/mL. The transplanted S. carteri sea sponge has strong antioxidant activity and can be an alternative solution in terms of raw material availability for the development of potential pharmaceutical products.Spons laut Stylissa carteri berperan penting karena merupakan salah satu biota penyusun ekosistem pesisir dan laut, terutama pada ekosistem terumbu karang. Spons laut yang makin meningkat pemanfaatan senyawa bioaktifnya, dikhawatirkan dapat mengurangi populasi spons laut secara signifikan. Upaya pencegahannya, yaitu dengan budi daya spons laut untuk pemanfaatan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan aktivitas antioksidan spons Stylissa carteri yang ditransplantasi dan yang hidup alami di alam. Penelitian ini dilakukan di Pulau Pramuka dengan metode kombinasi eksplan spons. Perlakuan transplantasi, yaitu 1: Stylissa carteri (SO), 2: S. carteri dan Aaptos suberitoides (SAP) dan 3: S. carteri, A. suberitoides dan karang keras Acropora (SAC). Pengujian aktivitas antioksidan dengan tiga kali pengulangan pada tiga spons S. carteri hasil transplantasi dan yang hidup alami di alam (SA) menggunakan metode DPPH (1,1-Difenil-2-Pikrilhidrazil). Hasil menunjukkan keempat sumber sampel mengandung aktivitas antioksidan yang kuat, yaitu SO memiliki nilai IC50 86,22±23,6 μg/mL, SAP 86,58±30,7 μg/mL, SAC 86,10±23,4 μg/mL, dan yang hidup alami SA 54,27±16,9 μg/mL. Spons laut jenis S. carteri yang ditransplantasi memiliki kemampuan aktivitas antioksidan yang kuat dan dapat menjadi solusi alternatif dalam aspek ketersediaan bahan baku untuk pengembangan produk farmasi yang potensial

    Nutritional improvement of gluten-free arrowroot biscuits through catfish flour enrichment: Peningkatan gizi biskuit tepung garut bebas gluten melalui penambahan tepung ikan lele

    No full text
    The demand for gluten-free products is increasing along with the growing awareness of gluten intolerance and sensitivity. The use of alternative flours, such as local tubers and fish flour fortification techniques, can help improve the nutritional content of gluten-free products. This study aims to determine the best concentration of catfish flour based on the nutritional content and hedonics of arrowroot flour-based biscuits. A completely randomized design (CRD) was used with four concentrations of catfish flour addition (0, 2, 4, and 6%). The analyses conducted were proximate tests, texture, color, and hedonic. The research results indicate that the addition of 6% catfish flour is the best treatment, with biscuit characteristics including moisture content of 5.59%, ash 1.63%, protein 8.57%, fat 28.46%, and carbohydrates 55.39%. The biscuits with the addition of 6% catfish flour have a texture of 3.43 N, a color of L* 70.82, a* 2.46, and b* 37.69 and meet SNI 2973:2022 for protein parameters. Hedonic tests show that the addition of catfish flour to biscuits is acceptable and liked by the panelists. Overall, catfish flour is beneficial in enhancing the nutritional content of gluten-free biscuits made from arrowroot flour. These biscuits have the potential to become nutritious gluten-free snacks.Permintaan produk bebas gluten meningkat seiring meningkatnya kesadaran akan intoleransi dan sensitivitas gluten. Penggunaan tepung alternatif, misalnya umbi lokal dan teknik fortifikasi tepung ikan dapat membantu meningkatkan kandungan gizi produk bebas gluten. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi tepung ikan lele terbaik berdasarkan kandungan gizi dan hedonik biskuit berbasis tepung garut. Rancangan acak lengkap (RAL) digunakan dengan empat konsentrasi penambahan tepung ikan lele (0, 2, 4, dan 6%). Analisis yang dilakukan, yaitu uji proksimat, tekstur, warna, dan hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung ikan lele 6%  memiliki karakteristik biskuit meliputi kadar air 5,59%; abu 1,63%; protein 8,57%; lemak 28,46%; dan karbohidrat 55,39%. Biskuit dengan penambahan tepung ikan lele 6% merupakan perlakuan terbaik, dengan karakteristik tekstur 3,43 N, warna L* 70,82, a* 2,46, dan b* 37,69 serta memenuhi SNI 2973:2022 untuk parameter protein. Uji hedonik menunjukkan penambahan tepung ikan lele pada biskuit dapat diterima dan disukai oleh panelis. Secara keseluruhan, tepung ikan lele bermanfaat meningkatkan kandungan nutrisi biskuit bebas gluten berbahan dasar tepung garut. Biskuit ini berpotensi menjadi camilan bebas gluten yang bergizi

    Optimasi ekstraksi karagenan dari Kappaphycus alvarezii berbantu metode enzim selulase dan gelombang ultrasonik : Optimization of carrageenan extraction from Kappaphycus alvarezii using ultrasonic-assisted cellulase extraction (UACE)

    No full text
    Karagenan merupakan polisakarida bernilai ekonomi tinggi yang diperoleh dari alga merah sebagai bahan pengental maupun penstabil diberbagai industri. Metode ekstraksi karagenan yang umum digunakan di industri melibatkan proses alkali panas dengan waktu cukup panjang sehingga tidak efisien dan menghasilkan banyak limbah. Oleh karena itu, perlu teknik ekstraksi yang dapat meningkatkan efisiensi dan mengurangi dampak lingkungan. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum ekstraksi kappa-karagenan K. alvarezii menggunakan metode UACE berdasarkan persentase rendemen dan kualitas fisikokimia. Variabel yang diamati pada penelitian ini adalah rasio pelarut dan rumput laut (20–100 mL/g), konsentrasi enzim selulase (2–10%) dan waktu ultrasonikasi (20–100 menit). Karagenan dari K. alvarezii yang telah mendapatkan praperlakuan selanjutnya diekstrak pada suhu 80-90ºC selama 30 menit, dikarakterisasi dan dibandingkan dengan karagenan murni sesuai SNI 8391-1:2017.  Kenaikan rasio pelarut:rumput laut, jumlah enzim dan waktu ultrasonik dapat menaikkan rendemen karagenan hingga mencapai 62%. Karagenan yang dihasilkan memiliki warna yang lebih gelap dibandingkan karagenan komersial. Karagenan memiliki kadar air, sulfat, viskositas, kandungan logam berat sesuai SNI, sedangkan kadar abu dan abu tak larut asam melebihi SNI serta kekuatan gel dari karagenan masih di bawah SNI. Karagenan masih mengandung unsur N yang menunjukkan ketidakmurnian karagenan. Hasil spektrum FTIR menunjukkan bahwa karagenan yang diperoleh merupakan jenis kappa-karagenan. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengevaluasi pengaruh UACE sebagai perlakuan awal dalam proses ekstraksi karagenan sehingga tidak hanya meningkatkan jumlah karagenan, tetapi juga mutu karagenan yang dihasilkan.Carrageenan is a high economic value polysaccharide obtained from red algae as a thickener and stabilizer in various industries. The extraction method of carrageenan commonly used in industry involves a hot alkaline process with a long time, which is inefficient and produces a lot of waste. Consequently, we require an extraction method that enhances efficiency and minimizes environmental effects. The goal of this study is to find the best conditions for extracting kappa-carrageenan from K. alvarezii using the UACE method, considering the quality and percentage of yield. The variables observed in this study were solvent and seaweed ratio (20-100 mL/g), cellulase enzyme concentration (2-10%), and ultrasonication time (20-100 min). The pretreated carrageenan from K. alvarezii was extracted at 80-90ºC for 30 min, characterized, and compared with pure carrageenan according to SNI 8391-1:2017. Increasing the solvent:seaweed ratio, enzyme amount, and ultrasonic time can increase the carrageenan yield up to 62%. However, the carrageenan produced has a darker color than commercial carrageenan. Carrageenan has water content, sulfate, viscosity, heavy metal content according to SNI, while ash content and acid insoluble ash exceed SNI and gel strength of carrageenan is still below SNI. Carrageenan still contains the element N, which indicates the impurity of carrageenan. The results of the FTIR spectrum showed that the carrageenan obtained was of the kappa-carrageenan type. Further research is required to determine the effects of UACE as a pretreatment in the extraction of carrageenan. The objective is to identify methods for producing increased quantities and enhancing the quality of carrageenan

    Optimasi hidrolisis enzimatik pepton ikan pelagis kecil menggunakan pepsin dari lambung tuna (Thunnus albacares): Optimization of enzymatic hydrolysis of small pelagic fish peptone using pepsin from tuna (Thunnus albacares) stomach

    No full text
    The abundant catch of small pelagic fish is often underutilized due to quality deterioration caused by mishandling, leading to economic and ecological losses. This study aims to find the best enzyme activity for breaking down fish meat and to describe the peptone that is wrapped in gum arabic and maltodextrin mixed in a 1:3 ratio. The peptone raw materials consist of mackerel (Rastrelliger sp.), yellowstripe scad (Selaroides sp.), and sardine (Sardinella fimbriata), as well as pepsin extracted from the stomach of yellowfin tuna (Thunnus albacares). A completely randomized design (CRD) was used, with a single factor consisting of three enzyme activity levels (3,000 U/mg, 6,000 U/mg, and 9,000 U/mg), conducted in two replications. The analysis results indicated that the total volatile base (TVB) value of the fish raw material reached 28.046 mg N/100 g, which remains within the acceptable consumption limit. The highest enzyme activity for breaking down substances was 3,000 U/mg, with an NTT/NTB value of 0.630±0.281a, and this was then used to make liquid peptone. The liquid peptone was encapsulated at a 1:3 (v/v) ratio using maltodextrin and gum arabic (1:3) as encapsulating agents. The peptone contained 35.86% protein, 1.5% ash, and 86.42% water solubility. Mixing liquid peptone with a 1:3 ratio created peptone that has 0.2% NaCl and a pH of 4.06, which is good for growing moderately acid-loving microbes. This study demonstrates that a 1:3 encapsulation ratio effectively produces stable, high-quality fish peptone, which shows potential for application as a microbial culture medium.Hasil tangkapan ikan pelagis kecil yang melimpah sering tidak dimanfaatkan dengan baik karena telah mengalami penurunan mutu akibat kesalahan penanganan yang dapat menyebabkan kerugian secara ekonomis maupun ekologis. Tujuan penelitian ini adalah menentukan aktivitas enzim terbaik dalam proses hidrolisis daging ikan serta mengkarakterisasi pepton yang dienkapsulasi menggunakan gum arab dan maltodekstrin dengan rasio 1:3. Bahan baku pepton terdiri atas ikan kembung (Rastrelliger sp.), ikan selar (Selaroides sp.), dan ikan tembang (Sardinella fimbriata), serta pepsin yang diekstraksi dari lambung ikan tuna (Thunnus albacares). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor yang memiliki tiga taraf nilai aktivitas enzim (3.000 U/mg, 6.000 U/mg, dan 9.000 U/mg) yang dilakukan dengan dua kali pengulangan. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai Total Volatile Base (TVB) bahan baku ikan, yaitu 28,046 mg N/100 g, masih dalam ambang batas konsumsi. Aktivitas enzim terbaik untuk hidrolisis, yaitu 3.000 U/mg dengan nilai NTT/NTB 0,630±0,281; yang selanjutnya digunakan dalam pembuatan pepton cair. Pepton cair tersebut kemudian dienkapsulasi dengan maltodekstrin dan gum arab (1:3). Enkapsulasi dilakukan dengan rasio 1:3 (pepton cair dan bahan penyalut v/v). Pepton yang dihasilkan mengandung protein 35,86%, abu 1,5%, dan kelarutan dalam air 86,42%. Enkapsulasi pepton cair 1:3 menghasilkan pepton dengan kadar NaCl 0,2% serta nilai pH 4,06; sehingga dapat digunakan sebagai media pertumbuhan mikrob asidofilik moderat. Penelitian ini membuktikan bahwa rasio penyalut 1:3 efektif dalam menghasilkan pepton ikan yang stabil, berkualitas tinggi, dan potensial dikembangkan sebagai media kultur mikroorganisme

    Aplikasi bubuk Caulerpa racemosa sebagai pewarna alami pada cokelat putih batang : Application of Caulerpa racemosa Powder as natural colorant in white chocolate bars

    No full text
    Caulerpa racemosa merupakan salah satu rumput laut dengan kandungan klorofil yang tinggi. Potensi C. racemosa sebagai pewarna alami produk pangan masih belum banyak dilaporkan. Pigmen klorofil C. racemosa juga mempunyai kemampuan sebagai antioksidan. Cokelat putih batang memiliki warna yang pucat dan kurang diminati. Aplikasi C. racemosa pada cokelat putih batang diharapkan dapat menghasilkan cokelat batang kaya antioksidan dan berwarna hijau alami. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi bubuk C. racemosa terbaik pada cokelat putih batang berdasarkan karakteristik kimia, fisik, dan sensori. Bubuk C. racemosa ditambahkan pada cokelat putih batang dengan konsentrasi 0, 5, 10, dan 15%. Parameter yang dianalisis meliputi total klorofil, karotenoid, aktivitas antioksidan metode DPPH, warna, dan penilaian sensori. Penambahan bubuk C. racemosa berpengaruh terhadap kandungan klorofil, karotenoid, radical scavenging activity (RSA) dan IC50, warna dan sensori cokelat putih batang. Penambahan bubuk C. racemosa 15% merupakan perlakuan terbaik dengan kandungan klorofil 38,05±4,70 µg/mL, karotenoid 3,25±0,12 µg/mL, RSA 97,10±0,14% dan IC50 216,96±0,29 ppm kategori sangat lemah. Karakteristik warna perlakuan terbaik meliputi nilai L* (44,28±1,23), a* (-11,44±0,39), b* (39,59±0,50), dan ΔE (97,10±0,14). Penambahan C. racemosa mampu menghasilkan cokelat batang dengan warna hijau yang menarik. Namun, penggunaannya belum mampu menghasilkan antioksidan yang baik dan menimbulkan aftertaste yang kurang disukai.Caulerpa racemosa is a type of seaweed with high chlorophyll content. However, its use as a natural food coloring remains rare. Besides functioning as a natural dye, chlorophyll in C. racemosa has antioxidant properties. One of the potentials uses of C. racemosa is as a natural colorant in white chocolate bars, which typically have a pale, less attractive color. Incorporating C. racemosa into white chocolate bars is expected to produce green-colored chocolate bars rich in antioxidants. This study aimed to investigate the effect of adding C. racemosa powder to white chocolate bars and to determine the optimal addition level of C. racemosa powder. The seaweed powder was added to white chocolate bars at concentrations of 0%, 5%, 10%, and 15%. Results showed that adding C. racemosa powder had a big impact on the levels of chlorophyll, carotenoids, radical scavenging activity (RSA), IC50, color, and taste of the white chocolate bars. The best white chocolate bar was the one with 15% C. racemosa powder, which had 38.05±4.70 µg/mL of chlorophyll, 3.25±0.12 µg/mL of carotenoids, 97.10±0.14% radical scavenging activity, and an IC50 of 216.96±0.29 ppm. The white chocolate bar with 15% C. racemosa exhibited an L* value of 44.28±1.23, an a* value of -11.44±0.39, a b* value of 39.59±0.50, and a ΔE of 97.10±0.14. Adding C. racemosa powder resulted in white chocolate bars with an appealing green color; however, its addition did not produce strong antioxidant effects and created an undesirable aftertaste

    Pemanfaatan ampas limbah industri agar-agar (Gracilaria sp.) pada pembuatan kertas map eceng gondok (Eichhornia crassipes): Utilization of agar-agar industry waste (Gracilaria sp.) in the production of map paper from water hyacinth (Eichhornia crassipes)

    No full text
    Jumlah ampas limbah yang dihasilkan industri pengolahan agar-agar (Gracilaria sp.) terus meningkat seiring dengan meningkatnya produksi setiap tahun. Ampas agar-agar mengandung selulosa yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan kertas map. Tujuan penelitian adalah menentukan konsentrasi ampas limbah industri agar terbaik berdasarkan karakteristik kertas map eceng gondok. Metode penelitian berupa experimental laboratory menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan perbedaan konsentrasi ampas agar-agar dalam pembuatan kertas map, yaitu 0, 10, 15, dan 20%. Parameter uji kertas map, yaitu gramatur, ketahanan sobek, daya serap air, kekakuan, hedonik dan SEM. Peningkatan jumlah ampas agar-agar dalam formulasi kertas map meningkatkan ketahanan sobek dan daya serap air, namun menurunkan nilai gramatur, kekakuan dan hedonik. Hasil terbaik, yaitu pada perlakuan penambahan ampas pengolahan agar-agar 20% dengan nilai gramatur 318,67 g/m2, ketahanan sobek 1.573,3 mN, daya serap air 926,3 g/m2, kekakuan 45 g/m3 dan hedonik 6,82 < µ < 6,83. Serapan pada pita 928-933 cm-1 menunjukkan penanda adanya gugus 3,6-anhydrogalactose senyawa penyusun agar-agar.Annually, the agar processing industry (Gracilaria sp.) continues to increase the amount of waste pulp it produces. Cellulose, present in agar pulp, serves as a raw material for the production of folder paper. The purpose of this study was to determine the best concentration of industrial waste pulp based on the characteristics of water hyacinth folder paper. The study used an experimental lab with a complete randomized design (CRD) to test how different concentrations of agar pulp affect the process of making folder paper. These concentrations were 0, 10, 15, and 20%. The test parameters of the folder paper are grammage, tear resistance, water absorption, stiffness, hedonic, and SEM. Adding more agar pulp to the folder paper made it more resistant to tears and better at absorbing water, but it made it less dense, stiff, and enjoyable to use. The optimal outcome was achieved with the addition of 20% agar processing pulp.  It had a weight of 318.67 g/m2, a tear resistance of 1573.3 mN, a water absorption of 926.3 g/m2, a stiffness of 45 g/m3, and a hedonics value of 6.82±< 6.83. The absorption in the 928–933 cm⁻³ band shows that the 3,6-anhydrogalactose group of agar-agar constituent compounds is present

    Dampak konsumsi ikan columbia catfish dari kolam bekas peleburan aki bekas terhadap penyakit degeneratif dan keamanan pangannya: The impact of consuming driftwood catfish from a former used battery smelting pond on degenerative diseases and its food safety

    No full text
    Cinangka Village, located in Bogor, was historically known as a site for illegal battery recycling. However, the activity ceased 15 years ago. The aim of this study was to determine the potential health impacts of consuming Columbia catfish raised in a pond contaminated by used battery smelting and its potential for causing cancer, non-cancer degenerative diseases, and affecting food safety. The study included testing for heavy metal content in the fish flesh and dissolved metals in the water using XRF and AAS techniques. It also calculated bioconcentration factors and assessed health risks associated with fish consumption, both for cancer and non-cancer conditions, in relation to food safety. The results indicated that the fish is capable of effectively accumulating heavy metals in its body. The flesh was found to be contaminated with Fe (537.53 ppm), Cu (47.69 ppm), Zn (942.53 ppm), As (11.58 ppm), and Pb (13.07 ppm). The pond water itself was contaminated with Fe, Zn, As, Pb, and Cu. Bioconcentration of these metals was observed in the flesh, with Fe (658.33), Cu (4541.90), Zn (17357.83), As (9.94), and Pb (142.53). The Target Hazard Quotient (THQ) > 1 value for all heavy metals in children, while for adults, the THQ > 1 only for Zn, As, and Pb. Both children and adults had a Hazard Index (HI) > 1, indicating that consuming these fish presents a risk of non-cancer degenerative diseases. Consuming fish poses a cancer risk, with the risk level being low to medium for adults and medium to high for children. The safe daily consumption of Columbia catfish for children is 0.004 grams per day, while for adults, it is 0.015 grams per day. The maximum safe consumption limit is 0.026 kg/week for children and 0.091 kg/week for adults. Children are notably more vulnerable to these risks than adults.Desa Cinangka merupakan sentra daur ulang aki bekas tradisional ilegal di Bogor, namun sudah ditutup 15 tahun lalu. Tujuan penelitian, yaitu menentukan dampak konsumsi ikan columbia catfish yang dipelihara di kolam bekas peleburan aki bekas terhadap potensi penyakit degeneratif kanker dan non-kanker serta keamanan pangannya. Analisis yang dilakukan adalah kandungan logam berat pada daging ikan dan logam terlarut pada air dengan XRF dan AAS, faktor biokonsentrasi, risiko kesehatan akibat konsumsi ikan (kanker dan non-kanker) serta keamanan pangannya. Hasil penelitian menunjukkan ikan memiliki kemampuan untuk mengakumulasi logam berat pada tubuhnya. Daging ikan terkontaminasi Fe (537,53ppm), Cu (47,69ppm), Zn (942,53ppm), As (11,58ppm) dan Pb (13,07ppm). Air kolam tercemar oleh Fe, Zn, As dan Pb serta terkontaminasi Cu. Terjadi biokonsentrasi pada daging ikan, yakni Fe (658,33), Cu (4541,90), Zn (17357,83), As (9,94) dan Pb (142,53). Nilai Target Hazard Quotient (THQ) pada anak untuk semua logam berat >1, sedang pada dewasa yang mempunyai nilai THQ>1 adalah Zn, As, dan Pb. Nilai Hazard Index (HI)>1 pada anak dan dewasa sehingga konsumsi ikan berisiko memunculkan penyakit degeneratif non kanker. Konsumsi daging ikan berisiko memunculkan penyakit kanker, pada dewasa, yaitu rendah-sedang, sedangkan pada anak sedang-tinggi. Konsumsi harian ikan columbia catfish yang aman untuk anak 0,004 g/hari dan dewasa 0,015 g/hari. Batas konsumsi maksimum untuk anak 0,026 kg/minggu dan dewasa 0,091 kg/minggu. Anak-anak jauh lebih rentan dibanding dewasa

    455

    full texts

    788

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇