Unissula Repository
Not a member yet
41475 research outputs found
Sort by
PENINGKATAN PURCHASE INTENTION MELALUI PERCEIVED QUALITY AND BRAND IMAGE DIMEDIASI ELECTRONIC WORD OF MOUTH (Produk Ms Glow Di Kota Semarang)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perceived quality dan brand image terhadap purchase intention yang dimediasi oleh electronic word of mouth (e-WOM) pada produk MS Glow di Kota Semarang. Latar belakang ini didasari oleh persaingan industry kosmetik yang semakin ketat serta adanya penurunan posisi merek Ms Glow dalam persaingan pasar digital, sehingga perusahaan perlu memahami faktor-faktor yang dapat meningkatkan niat beli konsumen. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif. Jenis penelitian explanatory research. Sampel penelitian berjumlah 160 responden pengguna produk Ms Glow di Kota Semarang yang dikumpulkan melalui kuesioner online menggunakan skala Likert dan dianalisis dengan metode Partial Least Square Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived quality berpengaruh signifikan terhadap e-WOM, Perceived quality berpengaruh positif terhadap Purchase Intention. Brand Image berpengaruh signifikan dan positif terhadap e-WOM, Brand Image berpengaruh terhadap Purchase Intention, dan Electronic Word of Mouth berpengaruh signifikan terhadap Purchase Intention. Selain itu, perceived quality, brand image, dan e-WOM juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas yanglebih baik dan citra merek yang menguntungkan dapat mendorong munculnya e-WOM yang positif, yang selanjutnya meningkatkan ketertarikan minat beli konsumen terhadap produk MS Glow.
Kata Kunci: Perceived Quality, Brand Image, Electronic Word of Mouth, Purchase Intention
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DAN TINGKAT STRES DENGAN MANAJEMEN PERAWATAN DIRI PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2
Diabetes mellitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang memerlukan keterlibatan aktif pasien dalam menjalankan manajemen perawatan diri secara berkelanjutan. Namun, keberhasilan perawatan diri tidak hanya dipengaruhi oleh aspek fisik, tetapi juga faktor psikologis, khususnya efikasi diri dan tingkat stres. Efikasi diri yang rendah serta stres yang tidak terkelola dengan baik dapat menghambat kemampuan pasien dalam menjalankan perawatan diri secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan efikasi diri dan tingkat stres dengan manajemen perawatan diri pada pasien diabetes mellitus tipe 2.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 120 pasien diabetes mellitus tipe 2 yang diambil menggunakan teknik total sampling di Puskesmas Guntur 1. Instrumen penelitian meliputi Diabetes Management Self Efficacy Scale (DMSES), Perceived Stress Scale (PSS-10), dan Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Gamma.
Hasil : Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara efikasi diri dengan manajemen perawatan diri (p = 0,006; r = 0,576). Selain itu, tingkat stres juga memiliki hubungan yang signifikan dan kuat dengan manajemen perawatan diri (p = 0,001; r = 0,725).
Kesimpulan : Efikasi diri dan tingkat stres berperan penting dalam menentukan keberhasilan manajemen perawatan diri pada pasien diabetes mellitus tipe 2. Oleh karena itu, intervensi keperawatan perlu difokuskan pada upaya peningkatan efikasi diri serta pengelolaan stress guna mendukung kemandirian pasien dalam menjalankan perawatan diri.
Kata Kunci : efikasi diri, tingkat stres, manajemen perawatan dir
PENGARUH TERAPI KOMBINASI BRANDT DAROFF DAN AROMATERAPI PEPPERMINT TERHADAP SKALA NYERI KEPALA PADA PASIEN VERTIGO
Vertigo merupakan gangguan pada sistem vestibular yang sering disertai keluhan pusing berputar dan nyeri kepala, sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Salah satu upaya non-farmakologis yang dapat membantu mengurangi keluhan adalah latihan Brandt-Daroff dan aromaterapi peppermint. Latihan ini berfokus pada pergerakan kepala untuk membantu adaptasi sistem keseimbangan, sedangkan peppermint memiliki kandungan menthol yang bersifat analgesik dan memberikan efek relaksasi sehingga dapat menurunkan intensitas nyeri kepala.
Tujuan: Mengidentifikasi karakteristik responden, serta mengetahui pengaruh terapi kombinasi Brandt Daroff dan aromaterapi peppermint terhadap skala nyeri kepala pada pasien vertigo.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain Pre-Eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel penelitian berjumlah 16 responden yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Pengukuran skala nyeri dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden terdiri dari perempuan dan laki-laki masing-masing sebanyak 8 responden (50%). Sebagian besar responden berusia 56–65 tahun dan berpendidikan terakhir Sekolah Dasar masing-masing sebanyak 7 responden (43,8%). Pekerjaan responden didominasi oleh Ibu Rumah Tangga dan wiraswasta masing-masing sebanyak 5 responden (31,3%), dengan lama menderita vertigo terbanyak 1–2 tahun sebanyak 6 responden (37,5%). Seluruh responden mengalami penurunan skala nyeri setelah intervensi, dengan mayoritas berada pada kategori nyeri ringan sebanyak 13 responden (81,3%) dan 3 responden (18,8%) tidak lagi merasakan nyeri. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p-value = 0,000 (p < 0,05) yang menandakan adanya perbedaan bermakna antara tingkat nyeri sebelum dan sesudah pemberian terapi kombinasi Brandt-Daroff dan aromaterapi peppermint.
Simpulan: Terdapat pengaruh terapi kombinasi Brandt-Daroff dan aromaterapi peppermint terhadap penurunan skala nyeri kepala pada pasien vertigo. Kombinasi kedua terapi ini efektif digunakan sebagai intervensi non-farmakologi untuk membantu mengurangi nyeri kepala pada penderita vertigo.
Kata Kunci : Brandt-Daroff, Aromaterapi Peppermint, Vertigo, Nyeri Kepala
PENGARUH TERAPI KOMBINASI MOBILISASI DINI DENGAN AROMATERAPI LEMON TERHADAP NYERI POST OPERASI PADA PASIEN CHOLELITHIASIS
Nyeri post operasi merupakan keluhan utama yang sering dialami pasien setelah menjalani kolesistektomi akibat cholelithiasis. Nyeri yang tidak tertangani dengan baik dapat menghambat mobilisasi dini, memperlambat proses penyembuhan, serta meningkatkan risiko komplikasi pasca operasi. Selain terapi farmakologis, intervensi non-farmakologis seperti mobilisasi dini dan aromaterapi lemon diketahui memiliki efek dalam menurunkan nyeri. Kombinasi kedua terapi tersebut diharapkan memberikan efek yang lebih optimal dalam pengelolaan nyeri post operasi.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi-experiment dengan pendekatan pretest–posttest with control group. Sampel berjumlah 36 responden yang dibagi menjadi kelompok perlakuan dan kelompok kontrol, masing-masing 18 responden, dengan teknik purposive sampling. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon untuk melihat perbedaan nyeri sebelum dan sesudah intervensi dalam kelompok serta uji Mann–Whitney untuk mengetahui perbedaan antar kelompok.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan tingkat nyeri yang signifikan pada kelompok perlakuan setelah diberikan terapi kombinasi mobilisasi dini dan aromaterapi lemon (p < 0,05). Pada kelompok kontrol tidak ditemukan penurunan nyeri yang bermakna. Terdapat perbedaan signifikan tingkat nyeri antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol.
Kesimpulan: Terapi kombinasi mobilisasi dini dengan aromaterapi lemon efektif menurunkan nyeri post operasi pada pasien cholelithiasis dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi keperawatan non-farmakologis.
Kata kunci: Mobilisasi dini, aromaterapi lemon, nyeri post operasi, cholelithiasi
EFEKTIVITAS UPAYA PEMBERANTASAN MAFIA TANAH DI KOTA BANJARBARU
Mafia tanah merupakan persoalan serius yang dapat merugikan masyarakat dan negara. Sebagai masalah yang serius hukum yang merupakan instrument negara dalam penataan pertanahan nasional yang diamanatkan untuk mampu memberantas mafia tanah, belum optimal pelaksanaannya. Hal ini terbukti dengan kasus mafia tanah yang terus meningkat, termasuk di wilayah Kota Banjarbaru. Penelitian tesis ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis pelaksanaan upaya pemberantasan mafia tanah di Kota Banjarbaru saat ini. Mengetahui dan menganalisis kendala dan solusi dalam pelaksanaan upaya pemberantasan mafia tanah di Kota Banjarbaru saat ini. Untuk mengetahui contoh akta jual beli tanah di Kota Banjarbaru.
Jenis penelitian hukum yang digunakan adalah non-doktrinal. Dalam penelitian hukum non-doktrinal ini hukum dikonsepkan sebagai manifestasi makna-makna simbolik para pelaku sosial sebagaimana tampak dalam interaksi antar mereka. Bahwa realitas kehidupan yang sesungguhnya tidaklah eksis dalam alam empiris yang juga alam amatan, tidak menampak dalam wujud perilaku yang terpola dan terstruktur secara objektif (apalagi normatif) dan oleh karenanya bisa diukur untuk menghasilkan data-data yang kuantitatif.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa pelaksanaan upaya pemberantasan mafia tanah di Wilayah Kota Banjarbaru saat ini belum optimal, hal ini dikarenakan ketiadaan pengaturan perihal proses penegakan hukum secara pidana dalam Petunjuk Teknis Kementerian Agraria dan Pertanahan Nomor 01/JUKNIS/D.VII/2018 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Mafia Tanah. Sehingga Petunjuk Teknis Kementerian Agraria dan Pertanahan Nomor 01/JUKNIS/D.VII/2018 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Mafia Tanah hanya mengatur pelaksanaan penanganan kasus mafia tanah dengan pendekatan administrative, hal ini mengakibatkan kekososngan sanksi yang berat guna menciptakan efek jera bagi pelaku mafia tanah di Kota Banjarbaru.
Saran yang dapat diberikan dalam tesis ini ialah bagi masyarakat perlu memahami arti penting kepengurusan dan penyimpanan dokumen sertifikat kepemilikan tanah yang benar, dan bagi pemerintah perlu ditegaskannya perihal mekanisme pelaksanaan sanksi pidana dalam Petunjuk Teknis Kementerian Agraria dan Pertanahan Nomor 01/JUKNIS/D.VII/2018 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Mafia Tanah untuk menciptakan efek jera bagi pelaku mafia tanah.
Kata Kunci: (Efektivitas, Mafia, Pemberantasan, Tanah
TANGGUNG JAWAB NOTARIS ATAS AKTA KUASA IN ORIGINALI APABILA PENGHADAP MEMBERIKAN KETERANGAN PALSU
Notaris wajib menyimpan minuta akta, akan tetapi dalam Pasal 16 ayat (2) UUJN kewajiban tersebut dikecualikan apabila Notaris mengeluarkan akta kuasa in originali. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui: 1) Tanggung jawab Notaris apabila penghadap memberikan keterangan palsu dalam pembuatan akta kuasa in originali. 2) Perlindungan hukum terhadap Notaris apabila penghadap memberikan keterangan palsu dalam pembuatan akta kuasa in originali.
Jenis penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Menggunakan metode pendekatan perundang-undangan (statue approach). Jenis data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari bahan hukum primer, sekunder, dan tersier dan juga menggunakan data primer sebagai data pelengkap guna menunjang penelitian ini. Metode pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan. Analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis kualitatif.
Hasil penelitian disimpulkan: 1) Notaris hanya bertanggung jawab terhadap kepastian tanggal, bahwa memang benar pada tanggal, hari, bulan, dan tahun sebagaimana yang termuat dalam akta kuasa in originali tersebut, memang benar penghadap menghadap kepada Notaris untuk membuat akta kuasa in originali dan mengenai keabsahan tanda tangan yang ada di dalam akta kuasa in originali tersebut, Notaris tidak bertanggung jawab terhadap isi dari pada akta kuasa in originali yang dibuat oleh atau di hadapannya, isi dari pada akta kuasa in originali sepenuhnya merupakan tanggung jawab penghadap sendiri, karena akta kuasa in originali dibuat berdasarkan keinginan atau kehendak penghadap. 2) Apabila Notaris dipanggil oleh penyidik berkaitan dengan akta kuasa in originali yang dibuat di hadapannya, Majelis Kehormatan Notaris yang kemudian membentuk Majelis Pemeriksa melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terlebih dahulu terhadap Notaris dan apabila Majelis Kehormatan memberikan persetujuan kepada Notaris untuk memenuhi panggilan penyidik untuk dimintai keterangan mengenai akta kuasa in originali yang dibuat oleh atau di hadapannya, maka Notaris dapat meminta pendampingan kepada Majelis Kehormatan Notaris, hal ini dilakukan untuk melindungi Notaris serta menjaga harkat dan martabat jabatan Notaris.
Kata Kunci: Notaris, Akta Kuasa, In Original
HUBUNGAN LAMA PENGGUNAAN GADGET DENGAN PERKEMBANGAN EMOSIONAL PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI RA TARBIYATUL ATHFAL 37 GENUKSARI SEMARANG
PENGARUH PEMBERIAN INJEKSI INTRADERMAL SECRETOME HYPOXIA MESENCHYMAL STEM CELL (SH- MSCs) TERHADAP EKSPRESI FILAGGRIN DAN LORICRIN (Studi Eksperimental pada Tikus Jantan Galur Wistar Model Xerosis-like yang Diinduksi SLS)
Latar belakang: Xerosis cutis ditandai gangguan sawar epidermis yang berkaitan dengan penurunan protein diferensiasi keratinosit, terutama filaggrin (FLG) dan loricrin (LOR). Secretome hypoxia mesenchymal stem cells (SH-MSCs) merupakan produk parakrin bebas sel yang berpotensi mendukung perbaikan homeostasis sawar. Penelitian ini menilai pengaruh injeksi intradermal SH-MSCs terhadap ekspresi filaggrin dan loricrin pada model tikus Wistar xerosis-like yang diinduksi sodium lauryl sulfate (SLS) serta menentukan dosis yang paling efektif.
Metode: Studi eksperimental rancangan post-test only dilakukan pada 30 tikus Wistar jantan yang dirandomisasi menjadi enam kelompok (n=5): K1 normal (tanpa SLS), K2 xerosis-like + NaCl 300 µL, K3 xerosis-like + hyaluronic acid non-crosslink 2 mg/mL 300 µL, serta K4–K6 xerosis-like + SH-MSCs dosis 100 µL, 200 µL, dan 300 µL (dosis 100–200 µL diencerkan NaCl hingga total 300 µL). Induksi xerosis-like dilakukan dengan aplikasi topikal SLS 5% dua kali sehari selama 9 hari. Injeksi intradermal diberikan di empat titik pada hari ke-10, 13, 16, dan 19; jaringan kulit dorsal diambil pada hari ke-22. Ekspresi mRNA filaggrin dan loricrin diukur dengan qPCR dan dianalisis menggunakan one-way ANOVA dengan uji lanjut Tamhane.
Hasil: Ekspresi loricrin berbeda bermakna antar kelompok (p<0,001), terendah pada K2 (0,534±0,303) dan tertinggi pada K6 (5,828±1,479). Ekspresi filaggrin juga berbeda bermakna (F(5,24)=18,266; p<0,001), tertinggi pada K6 (3,642±0,753). Dosis 300 µL menunjukkan pemisahan paling konsisten dibanding kontrol negatif.
Kesimpulan: SH-MSCs intradermal meningkatkan ekspresi filaggrin dan loricrin pada model xerosis-like dengan kecenderungan respons dosis; dosis optimal adalah 300 µL.
Kata kunci: xerosis-like; SH-MSC; filaggrin; loricrin; RT-qPCR