Latar Belakang: Bayi dengan riwayat kejang ada kemungkinan untuk mengalami kerusakan otak. Kerusakan ini biasanya terjadi pada sistem limbik yang terdiri dari hipokampus, hipotalamus, girus cinguli, amygdala dan ganglia basalis serta daerah sekitar sistem limbik yaitu thalamus dan serebelum. Sehingga akan memicu terjadinya palsi serebral yang mengakibatkan keterbatasan aktivitas.
Tujuan: Mengetahui faktor prognostik yang mempengaruhi kejadian palsi serebral pada dua tahun pertama kehidupan anak dengan riwayat kejang neonatus dan mengetahui free survival rate-nya saat usia 2 tahun.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan menggunakan data dari rekam medik. Subjek penelitian dipilih dengan metode consecutive sampling yaitu bayi yang mengalami kejang neonatus periode Januari 2006 sampai Januari 2012 , setelah 2 tahun dilihat mengalami palsi serebral atau tidak. Analisis dengan uji Chi-square,uji Fisher exact, independent t-test, dan kaplann meier.
Hasil: Didapatkan hasil faktor prognostik yang bermakna adalah lama persalinan (p : 0,024¥ ; OR: 9,625; 95%CI :2,136-43,364). Setelah dilakukan uji kaplann meier didapatkan hasil bahwa dari 50 neonatus yang mengalami kejang, 4% mengalami palsi serebral pada usia 24 bulan, 4% pada usia 25 bulan, 6% pada usia 26 bulan, 4% pada usia 28 bulan, 2% pada usia 29 bulan dan 2% pada usia 31 bulan.
Kesimpulan: Lama persalinan merupakan faktor prognostik kejadian palsi serebral pada anak dengan riwayat kejang neonatus sedangkan usia gestasi, preeklamsi, jenis kelamin, skor apgar dan berat bayi lahir tidak. Free survival rate anak dengan riwayat kejang neonatus yang mengalamipalsiserebralsaatusia 2 tahunadalah 96%.
Kata Kunci palsi serebral, kejang neonatus, lama persalinan, faktor prognostik