2,877 research outputs found

    REDEFINISI LARAS SLENDRO LAPORAN AKHIR TAHUN KEDUA 2016 PENELITIAN TIM PASCASARJANA

    Get PDF
    “Redefinisi Laras Slendro” Tahun 2016 ini merupakan lanjutan penelitian tahap pertama. Pada penelitian tahap ke-II ini lokus penelitian telah berpindah dari Laras Slendro di Nusantara ke daerah Asia Pasifik. Data penelitian dikumpulkan via internet, selanjutnya verifikasi data mengambil lokasi di salah satu Negara Asia Pasifik. Telah disinggung sepintas dalam Penelitian Tahap-I (2015) bahwa Laras Slendro “dianak tirikan” oleh para sarjana musik khususnya yang mempunyai perhatian terhadap karawitan. Slendro hanya dianggap sebuah sistem pelarasan lokal yang sempit sebagai pasangan dengan pelarasan lain di dalam gamelan yaitu Laras Pelog. Penganaktirian ini sebenarnya hanya akibat dari ketidak tahuan mereka, bahwa Laras Slendro ternyata hidup di berbagai atmosfir budaya di seluruh dunia, Kalau tadinya Laras Slendro seakan-akan selalu di dampingi oleh Laras Pelog ternyata dalam aktualisasi kehidupannya tidak demikian. Ia sering juga berdiri sendiri bukan hanya di luar negeri tetapi juga di Jawa –yang nota bene dianggap sebagai habitatnya Laras Slendro – mereka bertdiri sendiri dan mampu hidup memenuhi kebutuhan rasa estetika masyarakatnya. Sehingga dengan demikian tidak berlebihan bila penelitian “Redefinisi Laras Slendro” ini nantinya mengklaim bahwa Laras Slendro adalah tuning system terbesar di dunia sesudah diatonis

    Sundanese Karawitan And Modernity

    Full text link
    Karawitan sebagai seni tradisi hingga saat ini masih digemari masyarakat. Pada konteks keberadaannya di dalam masyarakat sekarang, seni tradisi dihadapkan semacam paradoks. Disatupihak, untuk bertahan hidup membutuhkan daya tarik dan pesona, berupa inovasi-inovasi kreatif yang bersumber dari tradisi itu sendiri; di pihak lain, melakukan Perubahan dan inovasi dari tradisi samaartinya dengan menghapus tradisi itu sendiri, karena tradisi tidak mentolelir transformasi.Metode yang digunakan pada penelitian ini bersifat kualitatif dengan landasan berfikir fenomenologis interpretif yang berorientasi pada kebenaran yang bersifat subjektif dari sumber penelitian. Pengumpulan data denganmenggunakan wawancara mendalam (in-depth interview)merupakan pengumpulan data utamadalam penelitian ini.Saat ini ada kecenderungan proses kombinasi baru antarseni tradisi dengan seni modern. Modernisasi bukan untukdihindari, melainkan harus dimanfaatkan untuk memutakhirkan keseniantradisional.Upaya ini sebenarnya penyiasatan agar kesenian tradisional tetap bertahan.Banyak kesenian tradisional yang dapat bertahan justru karena mengikuti arusmodernisasi dan globalisasi itu.Katakunci: Karawitan, SeniTradisi Sunda, Inovas

    LAPORAN AKHIR TAHUN PERTAMA 2015 PENELITIAN TIM PASCASARJANA: REDEFINISI LARAS SLENDRO

    Get PDF
    Salah satu sistem pelarasan (tuning system) yang digunakan di dalam Musik Nusantara adalah Laras Slendro. Masih ada pelarasan yang lain misalnya Laras Pelog, Laras Barang Miring dan lain sebagainya. Laras Slendro di berbagai daerah budaya di Nusantara ada yang mempunyai nama lain misalnya Salendro di Pasundan, Patutan Gender Wayang di Bali, dan banyak pula yang daerah budaya itu tidak memberi nama, misalnya di Banyuwangi, Madura, Banjar (Kalimantan Selatan), Palembang (Sumatra Selatan, dan sebagainya. Laras Slendro tidak hanya terdengar di Nusantara saja tetapi juga di Asia dan di berbagai belahan dunia, sehingga kemungkinan Laras Slendro merupakan tuning system terbesar di dunia sesudah Laras Diatonis Barat. Laras Slendro telah dipraktekan ratusan tahun oleh masyarakat tradisi dalam sistem musiknya yang disebut gamelan dan atau musik vokal mereka. Para pemilik budaya Slendro ini dapat merasakan bagaimana suasana musikalnya, tetapi mungkin mereka tidak dapat secara komprehensip menjelaskannya. Bagi orang-orang Nusantara yang tidak mengenal baik Laras Slendro, terutama mereka yang belajar musik Barat menganggap bahwa Slendro adalah pentatonik bagian dari diatonik yang dipelajarinya, yaitu sama dengan do-re-mi-so;la-do. Anggapan itu sama sekali salah dan karena luasnya penyebaran musi barat di Indonesia maka pernyataan yang demikian menyesatkan dan membahayakan eksistensi Laras Slendro di di dunia ini. Itu ditak boleh dibiarkan dan penelitian ini berusaha meluruskan pendapat para “intelektual musik Indonesia” yang ceroboh itu. Laras Slendro mempunyai rasa musikal yang signifikan, sangat berbeda dengan Laras Diatonis Barat. Bagi telinga yang terlatih seseorang akan sangat mudah membedakannya. Tetapi bagi telinga yang tidak terlatih maka Slendro dianggap pentatonik seperti apa yang dirasakan oleh mereka yang mempelajari musik barat secara dangkal. Musisi dan komponis Barat terkenal Debussy merasakan signifikansi rasa musikal Laras Slendro ini dan dengan serta merta memasukkan unsur rasa Slendro ke dalam beberapa karyanya. Sangat ironi kalau harta budaya kita yang bernama Laras Slendro yang diakui dunia musik gelobal mendapat perlakuan yang tidak pada tempatnya di habitatnya sendiri Indonesia. Penelitian ini bersifat kualitatif, datanya merupakan hasil deskripsi dari pengumpulan data empirik para praktisi musik tradisional Nusantara yang bersifat emik. Data emik ini kemudian diubah dengan pendekatan etik agar jelas dan dapat dianalisis secara akademik yang akhir simpulannya akan dapat dipahami secara akademik. Empat mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia Surakarta yang terdiri dari seorang mahasiswa S3 dan tiga orang S2 dilibatkan dalam penelitian ini. Desertasi dan tesis mereka berhubungan erat dengan masalah pelarasan yang merupakan inti dari Penelitian Tim Pascasarjana ini, sehingga keterlibatan mereka akan membantu penyelesaian Tugas Akhirnya masing-masing

    Konsep pathet dalam karawitan Jawa

    Get PDF
    "Pathet" yang merupakan salah satu konsep musikal di dalam karawitan yang dapat disejajarkan dengan konsep-konsep musikal yang ada di dalam musikologi barat itu mempunyai nasib yang mirip seperti karya budaya tradisi lainnya. Diterlantarkan bukan karena kuno dan tidak mengikuti perkembangan jaman, tetapi karena para pewarisnya tidak mampu lagi menjelaskan apa dan bagaimana "pathet" itu. Sehingga mutiara-mutiara seperti ini yang seharusnya dapat kita gunakan sebagai atribut betapa tingginya ilmu pengetahuan kita, yaitu ilmu pengetahuan asli made in Indonesia bukan ilmu pengetahuan import terpendam dalam lumpur ketidak mengertian pemiliknya. Seperti orang Asmat bilang: "Kami miskin di atas kekayaan kami sendiri

    SCALE GENGGONG AND ITS RELATIONS TO THE FOUR TONE SLENDRO TUNING SYTEM IN BALI1

    Get PDF
    This research is designed to check the validity of the perception of the Balinese musicians concerning the relationship between scale of Genggong and Balinese four tone Slendro Gamelan Angklung. The data is analyzed using SEMPOD (Seeger Melograph Poly D), and the result supports that Genggong and Angklung scale are related

    Kombinasi Musik Gamelan Serta Senam Lansia Untuk Lansia Dengan Hipertensi

    Full text link
    Indonesia pada tahun 1990- 2025 akan mempunyai kenaikan jumlah lanjut usia sebesar 414%, suatu angka paling tinggi diseluruh dunia. Usia lanjut membawa konsekuensi meningkatnya berbagai penyakit kardiovaskuler, salah satunya adalah hipertensi yang sering disebut the silent killer. Data tekanan darah di bulan November- Desember 2011 diperoleh bahwa sekitar 60% dari 115 lansia di Unit Rehabilitasi SosialPucanggading Semarang menderita hipertensi. Kombinasi dari terapi musik dan senam lansia merupakan salah satu penanganan non farmakologi untuk hipertensi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keefektifan kombinasi musik gamelan laras pelog dan slendro serta senam lansia terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Jenis penelitian ini adalah quasi experimental denganrancangan penelitian one group (pretest- posttest) design. Penelitian dilakukan pada 20 responden melalui teknik purposive sampling pada bulan Februari 2012 di Unit Rehabiltasi Sosial Pucanggading Semarang.Pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan pengukuran tekanan darah secara langsung. Analisis hasil penelitian menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukan adanya penurunan tekanandarah sistol dan diastol yang signifikan (p value 0.0001) dengan taraf kesalahan (α) 0.05 yaitu dari 163,25 mmHg menjadi 146,75 mmHg dan dari 100,50 mmHg menjadi 89,25 mmHg. Kombinasi musik gamelan laras pelog dan slendro serta senam lansia efektif terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan hipertensi. Terapi ini direkomendasikan bagi dunia keperawatan sebagai salah satu alternatif dari keperawatan holistik dalam penanganan hipertensi pada lansia

    Penciptaan Buku Ilustrasi Gamelan Jawa Dengan Menggunakan Teknik Vektor Sebagai Upaya Pengenalan Alat Musik Tradisional Pada Anak-anak

    Full text link
    Gamelan is a traditional musical instrument that was in Indonesia, which has its own historical and artistic value. For the Javanese gamelan has become part of their life since the Hindu-Buddhist culture when it was still a lot of influence in Indonesia. Gamelan is a collection of various kinds of musical instruments consisting of drum / drums, Peking, Saron, Demung, Gong, Kempul, Bonang, kethuk, Kenong, Gender, Xylophone, fiddle, zither, flute. At the staging Puppet or Dance and Gamelan often be used as a musical accompaniment. In an effort to preserve and introduce traditional musical instruments to children, it will be the creation of Javanese gamelan book illustrations using vector techniques in an effort introduction of a traditional musical instrument in children. The method used is qualitative methods by conducting interviews, observation, documentation and literature to obtain the data used in the creation of book illustration traditional Javanese gamelan musical instruments. From analysis obtained then found the keyword "Harmony". Keyword is applied in the creation of book illustrations by describing the concept of harmony and harmony in book illustration

    Ensiklopedi musik indonesia seri a-e

    Get PDF
    Buku ini merupakan Ensiklopedi musik indonesia seri a-e. Sesuai dengan kemampuan, terbitan kali ini membatasi diri pada perkenalan salah satu aspek kebudayaan Indonesia yang sudah selayaknya diketahui oleh umum, yaitu yang berka-itan dengan seni bunyi-bunyian atau apa yang lebih dikenal dengan nama seni musik. Tujuan daripada penerbitan Ensiklopedi Musik Indonesia ini bukan sekedar memperluas pengetahuan anggota masyarakat akan aneka ragam musik yang pernah dikembangkan dan hidup di selu-ruh kepulauan Nusantara, akan tetapi sejauh mungkin juga memberikan gambaran tentang perbedaan dan keseragaman yang ada sesuai dengan semboyan "Bhineka Tunggal Ika"

    SENI PERTUNJUKAN WAYANG BEBER DI DESA GEDOMPOL, KECAMATAN DONOROJO, KABUPATEN PACITAN DALAM TELAAH BENTUK, FUNGSI, DAN MAKNA

    Get PDF
    The background of this research is come from the fear of the lost or the extinctive the one of the Nusantara cultural heritage in Kediri Monarchic era especially in Majapahit period. This research is one of the way to conserve the Indonesian traditional show art which is will be lose their existence. There is a big possibility that this Wayang Beber art show will lose because there is no the router generation till this research done. From this documentation of Pacitan Wayang Beber, it can be the documentation of its existence, if only what was worried of lose it is really happen so that the router generation still can see this one of the cultural heritage. The purpose of this research is to express every thing related to (1) the form of Pacitan Wayang Beber show, (2) the function of Pacitan Wayang Beber show, and (3) the meaning of Pacitan Wayang Beber. This research is expected can describe the form of Pacitan Wayang Beber art show, know the function of Pacitan Wayang Beber art show, and can know the meaning of Pacitan Wayang Beber art show. Wayang Beber is one of the traditional art shows which is still exist in the centre of rural society in Pacitan. The existence of this Wayang Beber can influence the human life whose trust the influence of this Wayang Beber. But for some one who does not trust or who thought that Wayang Beber is just the cultural heritage, there is no influence of Wayang Beber. From cultural side, Pacitan Wayang Beber is the cultural no that our ancestor already has the progress cultural. Because they had known the writing, even they are clever in painting with coloring. This research was used the descriptive qualitative method. This method is describes or explain the data that is found by using words. The techniques that were used are (1) data colleting technique, (2) determination of informant technique, and (3) data processing technique. Data collecting,\ud done by conducting observation, interview, and research object documentation select the competence informant and know a bout Wayang Beber. Data processing technique used the display data, identification explanation of research result. If it is seen from the of show, it classified as a simple traditional art show which only have some supporting element, they are (1) a set of puppets which consist of gong, barrel kenong of slendro, kendang, rebab, (3) niyaga, which consist of four people, (4) puppet story act which only has one cycle story. The functions of Wayang Beber consist of ritual function, social function, and cultural function. From the three functions, the dominant ones in society is ritual function, because of the belief that Wayang Beber has a power of magical that can help the reaching of someone dream. The Pacitan Wayang Beber show, also has the meaning for the society who still trusts the magical power. The function and social culture meaning of Wayang Beber is one of the social control, moral, education, also be a guide or leader, which have the important meaning for the society in surrounding. The important ones is the ritual meaning, because the society still trust the magical with the ritual problem in a daily life of society who still trust with animisms and dynamisms. This research is limited on the form study, the function, and the meaning of Pacitan Wayang Beber art show. There are still many material research that can be observed from Pacitan Wayang Beber art show, expected there is other research interesting to have deep observation and continue this research
    corecore