61,488 research outputs found
Nilai-nilai Pendidikan Karakter Perspektif Tafsir Al-mishbah Karya Muhammad Quraish Shihab
Bangsa Indonesia mengalami dekadensi moral, oleh karena itu pemerintah mencanangkan program pendidikan karakter untuk mengantisipasi krisis moral yang lebih serius. Pada pendidikan Islam, karakter merupakan salah satu bagian yang sangat diperhatikan dalam al-Qur\u27an. Oleh karena itu, pengembangan pendidikan karakter yang sesuai dengan al-Qur\u27an mutlak dilakukan dalam kehidupan khususnya dalam bidang pendidikan. Di dalam al-Qur\u27an ada begitu banyak nilai-nilai karakter yang dapat ditanamkan dalam melaksanakan pendidikan Islam, yang mana nilai-nilai tersebut tentunya akan lebih relevan dan sejalan dengan tujuan pendidikan Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui; 1) nilai-nilai pendidikan karakter dalam surat al-Ahzab ayat 21; 2) kontribusi nilai-nilai pendidikan karakter dalam surat al-Ahzab ayat 21 terhadap lembaga pendidikan Islam saat ini. Penelitian ini menggunakan Metode Riset Perpustakaan (library research) dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Sebagai data primer diambil dari al-Qur\u27an, kitab Tafsir al-Mishbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur\u27an karya M. Quraish Shihab. Data skunder sebagai bahan pendukung.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam surat al-Ahzab ayat 21 meliputi: siddiq merupakan sebuah Kenyataan yang benar yang tercermin dalam perkataan, perbuatan atau tindakan, dan keadaan yang ada pada diri Rasul, amanah adalah sebuah kepercayaan yang harus diemban dalam mewujudkan sesuatu yang dilakukan dengan penah komitmen, kompeten, kerja keras, dan konsisten, fhatanah adalah sebuah kecerdasan, kemahiran, atau penguasaan bidang tertentu yang mencakup kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual, dan tabligh adalah sebuah upaya merealisasikan pesan atau misi tertentu yang dilakukan dengan pendekatan atau metode tertentu. Dari keempat nilai pendidikan karakter ini dapat memberikan kontribusi terhadap meningkatkan mutu lembaga pendidikan Islam
Hubungan antara kebiasaan membaca Al-Qur’an dengan minat belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang tahun 2014/2015
Penelitian ini meneliti tentang hubungan antara kebiasaan
membaca Al-Qur‟an dengan minat belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang tahun 2014/ 2015. Penelitian ini dilatar belakangi oleh
timbulnya kebiasaan membaca Al-Qur‟an yang terkait dengan tingginya minat belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Berdasarkan latar belakang tersebut rumusan masalah penelitian ini adalah Apakah ada Hubungan antara Kebiasaan Membaca Al
-Qur‟an dengan Minat Belajar Pendidikan Agama Islam
Peserta Didik Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang Tahun
2014/ 2015?.Dan penelitian ini bertujuan untuk membuktikan ada atau tidaknya hubungan antara kebiasaan membaca Al-Qur‟an dengan minat belajar pendidikan agama Islam
peserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang tahun 2014/ 2015.Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
angket, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa dengan teknik analisis korelasi. Teknik korelasi dalam metode penelitian ini yang digunakan adalah korelasi product moment. Teknik ini digunakan untuk
membandingkan hasil pengukuran antara dua variabel
yang berbeda agar dapat menentukan memperoleh informasi mengenai taraf hubungan yang terjadi antara dua variabel tersebut. Subyek penelitian sebanyak 64responden, yang terdiri atas kelas XII Akuntansidan XII Animasi di SMKMuhammadiyah 1 Semarang. Kemudian data yang terkumpul diolah dengan menggunakan analisis statistik.Penelitian ini menunjukkan bahwa, Hubungan antara Kebiasaan Membaca Al-
Qur‟an dengan Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang Tahun 2014/
2015” dapat diketahui, Kebiasaan Membaca Al-Qur‟an Peserta Didik Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang Tahun 2014/2015
termasuk dalam kategori sedang, pada nilai rata-rata dari
variabel kebiasaan membaca Al-Qur‟an (variabel X) yang
diperoleh melalui jawaban responden adalah 37 yang berada pada interval 36-43. Dan Minat Belajar Pendidikan Agama Islam Peserta Didik Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang Tahun 2014/ 2015 termasuk kategori sedang, pada
nilai rata-rata dari variabel minat belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas XII SMK Muhammadiya
h 1 Semarang tahun 2014/ 2015 (variabel Y) yang
diperoleh melalui jawaban responden adalah 58 yang berada pada interval 55-70.Hasil koefisien korelasirumus analisis
product moment nilai r hitung = 547605758,0 dan r tabel pada taraf signifikansi 5% = 0,244 yang berarti r hitung > r tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak
dan hubungan tersebut masuk pada kriteria sedang karena r hitung berada pada interval 0,41 –0,70.Dan hasil signifikasi antara variabel X dan Y melalui rumus t
hitung yang didapat 5,2 yang lebih besar dari t hitung yang ada pada tabelke 60 sebagai dk yang mendekati dari dk
62, baik pada taraf signifikansi 5% (2,000) maupun pada taraf signifikansi 1% (2,660). Terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan membaca Al-Qur‟an dengan minat belajar pendidikan agama Islam peserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang tahun 2014/ 2015. Dengan demikian
hipotesisnya bahwa ada hubungan yang positif antara
kebiasaan membaca Al-Qur‟an dengan minat belajar pendidikan agama Islampeserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang Tahun 2014/ 2015, atau dengan kata lain semakin tinggi kebiasaan membaca Al-Qur‟an peserta didik maka akan semakin tinggi minat belajar pendidikan Agama Islam
peserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang Tahun
2014/ 2015,sehingga hipotesis yang peneliti ajukan diterima.
Dan hasil determinan koefisien determinasinya 0,299 yang
menggambarkan bahwa dalam penelitian ini kebiasaan membaca Al-Qur‟an mempunyai sumbangan sebesar 29,9% terhadap minat belajar PAI peserta didik kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Semarang tahun 2014/ 2015. Sisanya 70,1% ditentukan oleh faktor-faktor lain yaitu suasana kelas, materi yang dipelaja
ri, sarana dan prasarana, latar belakang, sosial dan ekonomi, dan lingkungan intern maupun ekstern
Efektivitas Metode Iqro’ Dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur'an Pada Siswa Kelas Ii Di MIT Al-Mabrur Tawangsari Tahun Ajaran 2014/ 2015
Salah satu aspek pendidikan yang kurang mendapat perhatian adalah pendidikan membaca Al-Qur‟an. Pada umumnya orang tua lebih menitik beratkan pada pendidikan umum saja dan kurang memperhatikan pendidikan agama termasuk pendidikan membaca Al-Qur‟an. Sebagai langkah awal adalah meletakkan dasar agama yang kuat pada anak sebagai persiapan untuk mengarungi hidup dan kehidupannya.
Penelitian ini membahas tentang: (1) Bagaimana efektivitas metode Iqro‟ dalam meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an di MIT Al-Mabrur Tawangsari?, (2) apa saja faktor pendukung dan penghambat efektivitas metode Iqro‟ dalam meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur'an di MIT Al-Mabrur Tawangsari
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Efektivitas metode Iqro‟ dalam meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur‟an, (2) faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pelaksanaan metode Iqro‟ dalam meningkatkan kemampuan baca tulis Al-Qur‟an di MIT Al-Mabrur Tawangsari.
Jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan sumber data dari pimpinan MIT Al-Mabrur Tawangsari,dokumen data. Dalam pengumpulan data menggunakan metode wawancara, dokumentasi, dan observasi. Sedangkan metode analisis data adalah deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Metode pembelajaran Iqro‟ yang dilaksanakan di MIT Al-Mabrur Tawangsari efektif, ditunjukkan dengan tercapainya indikator-indikator berikut ini: a.Guru menguasai materi dan menyampaikan materi pembelajarandengan baik, b.Siswa mengikuti dan memahami pembelajarandengan baik, c. Nilai siswa baik dan prestasinya memuaskan, (2) Faktor pendukung dalam metode Iqro‟ yaitu : a. siswa yang akan mengikuti pelajaran membaca dan menulis huruf al-Qur‟an. Dengan adanya siswa dalam kegiatan belajar mengajar akan berjalan dengan baik, b. Guru sebagai penggunaan penerapan metode agar dapat berhasil dengan baik,c. Alokasi waktu yang digunakan dalam kegiatan ini ditentukan jadwal agar dalam penggunaan waktu yang sangat singkat ini akan terlaksana seefektif mungkin.Selain faktor pendukung, adapula faktor yang menghambat jalannya metode pembelajaran Qira‟ati, yaitu: a.Keadaan siswa serta latar belakang yang bermacam-macam mempengaruhi proses belajar mengajar, b.Guru yang dituntut untuk meningkatkan kualitas kemampuannya yaitu menguasai ilmu pengetahuan, terampil dalam mengajar
Kisah-kisah dalam Al Qur’an dan Relevansinya dalam Pendidikan Anak Usia SD/MI
Kisah- kisah dalam Al-Qur‟an menjadi bagian tak terpisahkan dari isi Al-Qur‟an yang menjadi referensi utama bagi umat manusia. Kisah- kisah Al-Qur‟an bermanfaat dalam rangka pembentukan karakter manusia yang berbudi luhur dan memiliki aqidah tauhid. Dalam dunia pendidikan, pola pendidikan yang hanya menggunakan metode ceramah secara monolog tentu sangat membosankan bagi peserta didik, terlebih di kalangan peserta didik pemula pada tingkat SD/MI. Kisah-kisah AL-Qur‟an menjadi bagian dari metode pendidikan yang efektif bagi pembentukan jiwa yang mentaukhidkan Allah SWT. Karena itu ditegaskan Allah SWT “ faqshush alqashash la‟allahum yatafakkarun”, maka kisahkanlah kisah-kisah agar mereka berpikir. Seorang pendidik harus mampu memberikan variasi metode pembelajaran dengan menyisipi berbagai kisah dan cerita yang relevan dengan kompetensi dan materi pembelajaran. Kisah juga menjadi media yang efektif untuk memberikan peringatan kepada peserta didik agar tidak terjerumus dalam berbagai kemaksiatan maupun kejahatan. Dengan suatu cerita atau kisah peserta didik akan mendapat sentuhan nilai-nilai yang akan berpengaruh terhadap karakternya. Seorang pendidik dapat menjadikan kisah sebagai metode alternatif bagi pembentukan jiwa peserta didik terutama dalam ranah afektif dan psikomotor. Pendidik dapat menempatkan kisah atau cerita dalam proses pembelajaran.
Kata kunci: kisah-kisah al-Qur‟an, pendidikan anak usia SD/M
Belajar Al Qur’an Sebagai Dasar Pendidikan Karakter (Studi Kasus Pada Keluarga Hafizh Al Qur’an)
Keluarga adalah satu miliu penting yang menjadi tonggak awal pendidikan individu dalam fase hidupnya. Pendidikan dalam keluarga tidak lepas dari pola asuh yang diterapkan oleh orangtua di dalam keluarga tersebut. Semua orangtua
menghendaki putra-putrinya tumbuh sebagai pemilik pribadi agung, tak terkecuali orangtua muslim. Pribadi agung dalam konsep Islam tercermin pada teladan utama muslim; Rasulullah SAW yang menurut Aisyah ra dalam sebuah hadits; “akhlaq beliau adalah al-Qur‟an”. Orangtua, sebagai pendidik awal dalam keluarga mau tidak mau memiliki tugas yang cukup kompleks untuk membentuk anak menjadi pemilik akhlaq yang Qur‟ani. Informan dalam penelitian ini adalah sebuah keluarga dengan orangtua yang menerapkan program belajar al-Qur‟an kepada tujuh anaknya. Penelitian ini menggunakan teori belajar Bloom dan tori pola asuh Moh. Sochib sebagai acuan analisis data. Penelitian dilakukan melalui pendekatan studi kasus instrumental dengan studi narasi sebagai metode
pengumpulan data. Sementara, proses analisis menggunakan pendekatan analisis Miles dan Huberman. Hasil studi menunjukkan orang tua memiliki jenis pola asuh yang mencerminkan sikap belajar al-Qur‟an di dalam diri mereka berupa pengamalan inti dari beberapa ayat al-Qur;an untuk mendidik anak-anaknya. Karakter utama yang kompak muncul pada semua anak adalah takwa
Studi Pelembagaan Pendidikan Nonformal Majlis Tafsir Al-Qur’an Ke Pendidikan Formal (SMP MTA Gemolong)
Pendidikan Islam pada dasarnya sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupan sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai kepribadiannya mempunyai falsafah dasar, tujuan dan prinsip-prinsipnya dalam melaksanakan pendidikan didasarkan atas nilai-nilai dasar Islam yang terkandung dalam al-Qur‟an dan al-Hadist. Tujuan pendidikan islam terletak pembentukan akhlak yang mulia atau pun pembentukan moral yang tinggi merupakan tujuan utama dari pendidikan Islam.
Masalah yang diangkat dalam skripsi ini adalah untuk mengetahui proses pelembagaan pendidikan nonformal Majlis Tafsi Al-Qur‟an ke pendidikan formal. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) yang bersifat kualitatif. Metode pengumpulan datanya melalui dokumentasi, wawancara dan observasi. Analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu setelah data yang diperlukan terkumpul kemudian disusun dan diklasifikasikan, selanjutnya dianalisa dan diinterpretasikan dengan kata-kata sedemikian rupa untuk menggambarkan subyek penelitian saat dilakukan penelitian, kemudian dapat diambil kesimpulan yang sistematis dan relevan.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Yayasan Majlis Tafsir Al-Qur‟an (MTA) merupakan lembaga dakwah yang menyelenggarakan berbagai kegiatan nonformal atau pun formal. Salah satu kegiatan terlembaga yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah pendidikan yang diselenggarakan berdasarkan nilai-nilai keislaman. Oleh karena itu, pada perkembangannya, MTA mendirikan pendidikan formal seperti SMP MTA Gemolong pada tahun 1993 yang dirintis oleh Yayasan MTA.
SMP MTA Gemolong merupakan sekolah umum bernuansa Islam yang mempunyai dasar filosofis pendidikan dan pengajaran diarahkan pada pembentukan manusia seutuhnya berdasarkan nilai-nilai agama Islam yang bersumber pada Al Qur‟an dan Sunah Rasul serta dasar negara Pancasila dan UUD 1945. Tujuan didirikan sekolah tersebut sebagai wujud peran aktif dalam ikut serta mensukseskan program wajar 9 tahun yang ditetapkan oleh pemerintah dan untuk mempersiapkan sejak dini agar anak didik tidak mengalami hambatan-hambatan perlu diselenggarakan pembinaan atau pendidikan di tingkat sebelumnya. Selain itu, juga untuk mendidik dan mengajar siswa agar mempunyai kepribadian yang dilandasi iman dan taqwa serta diwujudkan dalam amal shalih dan akhlaqul karimah berdasarkan nilai-nilai Islami, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa agar mampu berfikir, bernalar, peka terhadap lingkungan, berjiwa merdeka, demokratis dan kreatif
Pluralisme Agama dalam Pandangan Al-quran dan Implementasi Pendidikan Islam
Sikap Al Qur\u27an terhadap Pluralitas agama begitu jelas dan merupakan sunnatullah. Pluralisme agama merupakan Kenyataan historis yang tidak dapat disangkal oleh siapapun. Pluralitas agama dalam Islam itu diterima sebagai Kenyataan sejarah yang sesungguhnya diwarnai oleh adanya pluralitas kehidupan manusia itu sendiri, baik pluralitas dalam berpikir, berperasaan, bertempat tinggal maupun dalam bertindak. Oleh karena itu konsep pluralisme agama menurut Al-Quran apakah dapat di implementasikan dalam pendidikan Islam. Penelitian ini dikaji dalam bentuk kajian Pustaka (Librari riserch) dengan metode kualitatif dengan pendekatan Tafsir tematik. Di dalam Al-Quran bayak ayat yang membenarkan tentang pluralitas Agama namun Pluralisme Agama tidak dibenarkan karena pemahaman Pluralisme Agama menurut orang Orientalis adalah semua agama itu sama, namun konsep Al-Qur\u27an Pluralitas adalah membenarkan adanya agama yang lain tetapi konsep kebenaran menurut Al-Qur\u27an Agama yang paling benar adalah Islam. Namun implementasi pendidikan Islam menurut Al-Qur\u27an, islam mengajarkan konsep Ukhuwah Islamiyah, dimana didalamnnya ada Ukhuwah Al- U\u27budiyah dan Ukhuwah Al-Insaniyah yaitu persaudaraan sesama Makhluk dan persaudaraan sesama manusia
Konsep Interaksi Edukatif Dalam Pendidikan Islam Dalam Perspektif Al-qur\u27an
Bahasa Indonesia:Suatu kisah dapat dikatakan berkaitan dengan pendidikan apabila dalam proses interaksi yang ada pada kisah tersebut terdapat: tujuan pendidikan, pendidik, anak didik, materi dan metode. Oleh karena itu penulis mencoba mengkaji al-Qur\u27an dari kisah-kisah yang ada di dalamnya, dengan mengambil model interaksi pendidikan dalam perjalanan kisah orang tedahulu dalam al-Qur\u27an. Dari latar belakang diatas, maka muncul sebuah rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu bagaimanakah konsep interaksi edukatif dalam perspektif al-Qur\u27an dan implementasinya dalam pendidikan. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah al-Qur\u27an tentang kisah Nabi Khidir dan Nabi Musa (Q.S. Al-Kahfi: 60-82), kemudian kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (Q.S. Al-Shaffat: 102-107) dan yang terakhir adalah kisah Luqman (Q.S. Luqman: 12-19). Dilihat dari hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep interaksi edukatif dalam al-Qur\u27an melalui kisah-kisahnya terdiri dari: 1) tujuan pendidikan: humanisasi, insan kamil dan akhlak mulia; 2) Pendidik: bijaksana, penuh kasih sayang, demokratis, mengenal murid dan memahami kejiwaaannya, berpengetahuan luas, memahami materi, sabar dan ikhlas; 3) Anak didik: Patuh, tabah, sabar, cita-cita yang kuat serta tidak putus asa dan bersungguh-sungguh, sopan santun, rendah hati dan hormat pada guru; 4) Materi: akidah, syari\u27ah dan akhlak; dan 5) Metode: dialogis, uswatun hasanah, demokratis, dan mauiz}ah. English:A story is considered related to education if in the interaction process involves the following aspects: aims of education, educators, learners, material, and methods. In this research, the author examines stories inside the al-Qur\u27an, particularly which of educational interaction model within the people in the past. From the background above, this paper answers a research questions, what is the concept of educational interaction from the Qoranic perspective and its implementation in education world. The primary resources in this research is coming from the story of Ibrahim and Musa (Q.S. Al-Kahfi: 60-82), the story of Ibrahim dan Ismail (Q.S. Al-Shaffat: 102-107), and the story of Luqman (Q.S. Luqman: 12-19). The findings of this study show that the concept of educational interaction in in the al-Qur\u27an consists of 1) the aims of education: humanism, insan kamil, and highest endeavor; 2) the educators: wise, mercy, democratic, understanding students\u27 psychological condition, knowledgeable, comprehending the materials, patient, and sincere; 3) the learners: obedient, determined, patient, strong motivation, never giving up, well mannered, humble, and respecting teachers; and 5) methods: dialogic, modelling, democratic, and advicing
Motivasi Menghafal Al Qur’an Pada Mahasantri Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Di Surakarta
Menghafal Al Qur‟an merupakan aktivitas ibadah yang dapat mengantarkan pelakunya kedalam derajat kemuliaan, Rasulullah bersabda ”orang yang paling mulia diantara umatku adalah para penghafal Al Qur’an dan penjaga qiyamulail”. Menghafal keseluruhan 30 juz Al Qur‟an merupakan aktivitas yang tidak mudah. Apalagi dilakukan oleh kalangan mahasantri (sebutan bagi santri yang mengenyam pendidikan tinggi di pesantren) yang identik dengan fase usia remaja akhir. Keinginan kuat mahasantri dalam menghafal Al Qur‟an lahir dari dorongan dalam diri. Dorongan diri tersebut merupakan motivasi yang membantu aktivitas proses menghafal Al Qur‟an selama di pesantren. Bagaimana motivasi mahasantri dalam menghafal Al Qur‟an di pesantren Tahfizhul Qur’an di Surakarta?
Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendiskripsikan motivasi menghafal Al Qur‟an pada mahasantri pondok pesantren Tahfizhul Qur’an di Surakarta. Informan dalam penelitian ini adalah mahasantri laki-laki penghafal Al Qur‟an berjumlah 50 orang dengan rentang usia 16-22 tahun yang berdomisili di lingkungan pesantren dan berlokasi di wilayah Surakarta. Penelitian dilakukan di tiga pesantren yaitu Baitul Hikmah, Isykarima, dan Baitul Qur‟an.
Penelitian melalui pendekatan kualitatif fenomenologi dan metode pengambilan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan kuesioner terbuka. Analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi mahasantri menghafal Al Qur‟an merupakan dorongan yang mendekatkan dan menguatkan aktivitas mahasantri kepada aktivitas-aktivitas menghafal Al Qur‟an. Motivasi para mahasantri dibagi menjadi dua yaitu motivasi internal dan motivasi eksternal. Motivasi internalnya adalah ingin memperoleh banyak manfaat, sebagai dasar agama, meraih derajat kemuliaan, mewujudkan cita-cita, dan melaksanakan kewajiban. Sedangkan motivasi eksternalnya karena dorongan orang lain berupa saran orang tua. Kondisi yang dirasakan mahasantri dalam menghafal Al Qur‟an antara lain tenang, senang, nikmat, iman meningkat, optimis, semangat ketika mendapati kemudahan, dan jiwa lebih hidup
- …
