911 research outputs found
SVARGAROHANAPARVA JAWA KUNO KAJIAN INTERTEKSTUALITAS
Svargarohanaparva is the last book of eighteen Mahabharata Sanskrit compiled by great seer Vyasa. When arrived at heaven, King Yudhisthira sees Duryodhana blazing with effulgence and seated on excellent seat. Yudhisthira solicitude for his brother and kinsmen and the princess of Draupadi. The advent of the deities, and their adulation of the conduct of Yudhisthira. Yudhisthira plungs in the celestial Ganges river and assumed a celestial body. Yudhisthira proceeds in company with the deities, to share with his brothers and kinsmen the region which they have acquired for themselves. Yudhisthira sees Govinda (Sri Krishna) in his effulgent Brahma form as also all his brothers and relations, the princess Draupadi and his own father and mothers grandsire and preceptor, uncle and grandsons, the Vrishnis and Andhaka heroes. The description about heaven (svarga), hell (naraka), and emancipation (moksa) in Svargarohanaparva Jawa Kuno or Old Javanese (SpJK) are same with the description in Veda, Svargarohanaparva Sanskerta (SpS) and the books of Purana and also the perception of Hindu Balinese alik
Twenty Thousand Palindromic And S
On page 96 of I Love Me, Vol. I, Michael Donner suggests that the ordinary possibilities of the English palindrome are so close to being exhausted that, if new work is to be produced, it may become necessary to enlist the aid of obscure abbreviations in the collection by Ralph de Sola. Word Ways editor A. Ross Eckler perhaps also has in mind the \u27drome may be used up when he remarks on page 291 of the November issue that palindromes are not very important to Word Ways because they follow well-trodden paths
Konsep Ketuhanan dan Kemanusiaan dalam Hindu
Artikel ini membahas tentang konsep ketuhanan dan kemanusiaan dalam Hindu implikasinya terhadap hubungan antar manusia. Hindu percaya kepada satu Tuhan yang dipersonifikasi ke dalam banyak nama, atribut, dan tugas-fungsi. Kepercyaan terhadap personifikasi Tuhan dalam banyak ragam, dilandasioleh pahamSaguna Brahman. Keyakinan terhadap Tuhan dengan manifestasiNya yang jamak, telah menginspirasi seluruh rangkaian upacara dalam Hindu, baik dalam kaitannya dengan sepanjang hidup individu, upacara menjaga kelestarian alam, keselamatan dan kebahagiaan. Konsistensi pikiran, perkataan, dan perbuatan menentukan manusia mencapai neraka, sorga, dan moksa sebagai dunia setelah kematian, sekaligus menjadi ukuran keselamatan dalam hidup
Serat Menak (Yogyakarta)
Agama dan budaya Islam telah le bih dari lima abad terintegrasi di tengah kehidupan budaya Jawa. Namun sayang bahwa oleh para cendekiawan baik dari disiplin ilmu sosial maupun ilmu budaya agama dan budaya Islam itu selalu dipandang sebagai subkultur Jawa yang lepas dari budaya Jawa secara keseluruhan. Hal ini pastilah tidak lepas dari politik kolonial sebelum perang yang selalu memandang gerakan Islam sebagai gerakan separatis yang selalu menentang politik kolonial. Hal ini mau tidak mau mempengaruhi pandangan para sarjana Belanda di zaman kolonial, dan mempengaruhi sikap para peneliti budaya Jawa di zaman kemudian.
Untuk dapat melihat kembali integrasi antara budaya Islam dan budaya Jawa di abad-abad yang lalu maka dibutuhkan unsur-unsur budaya Jawa dengan warna Islam yang pekat, di antaranya pertunjukan rakyat tradisional dan karya sastra yang diperkirakan tersebar di masyarakat luas.
Di antara pertunjukan rakyat tradisional hanya wayang goleklah yang secara pekat mencerminkan warna Islam. Namun sayang bahwa pertunjukan rakyat tradisional wayang golek ini zaman sekarang sudah tidak lagi populer sehingga sukar untuk mengungkap kembali bagaimana integrasi budaya Islam dengan budaya Jawa di masa lampau. Untunglah bahwa di samping ceritera Menak yang ada pada
pertunjukan wayang golek itu ada juga ceritera Menak yang tersurat di dalam naskah-naskah yang tersebar meluas di masyarakat. Serat Menak yang akan disunting di dalam laporan ini diharapkan dapat mencerminkan integrasi budaya Islam dengan budaya Jawa itu
Puisi Pupujian dalam Bahasa Sunda
Sebagai media pendidikan, puisi pupujian mempunyai fungsi sosial. Di Tatar Sunda, umumnya puisi pupujian berbahasa Sunda dinyanyikan di mesjid-mesjid, musola-musola, pesantren-pesantren atau di tempat-tempat pengajian lain. Di mesjid dan musola, waktu pupujian biasanya berlangsung antara azan dan qomat. Di pesantren dan madrasah, pupujian dinyanyikan pada saat pelajaran berlangsung. Di tempat pengajian anak-anak atau ibu-ibu, puisi pupujian dinyanyikan sebelum atau sesudah mengaji
Kata Serapan Bahasa Sanskerta dalam Bahasa Indonesia
Penelitian ini mendeskripsikan tentang linguistis (1) kosakata bahasa Melayu yang diperoleh dari bahasa Sansekerta dan (2) Perubahan bahasa Sanskerta dalam bahasa Melayu dan bahasa Indonesia. Penelitian ini bercorak kualitatif dengan metode deskriptif. Sumber data penelitian berasal dari dokumen tertulis berupa kamus, yaitu “Dictionaire Malais-Français Par L'abbé P. Favre, Vienne Imprimerie Impériale Et Royale, Tahun MDCCCLXXV Paris, buku 1 (917 halaman) dan Buku 2 (879 halaman)”. Hasil penelitian ini, dari 413 kosakata bahasa Melayu yang berasal dari bahasa Sanskerta menunjukkan (1) kosakata bahasa Sanskerta ada yang mengalami Perubahan bentuk dan ada pula yang tetap sebagaimana bahasa asli Sanskerta, (2) Perubahan makna terjadi bilamana (a) kata Sanskerta sama dengan bahasa Melayu dan berubah dalam bahasa Indonesia, (b) kata Sanskerta sama dengan bahasa Indonesia dan berubah dalam bahasa Melayu, (c) kosakata Sanskerta ditemukan dalam bahasa Melayu dan tidak menjadi bahasa Indonesia, dan (d) serapan Sanskerta dalam bahasa Melayu ditemukan juga dalam bahasa Kawi (Jawa Kuno), bahasa Jawa, dan bahasa Sunda, tetapi tidak/belum menjadi kosakata bahasa Indonesia
- …
