4 research outputs found

    TARI LEKO DI PENDEM JEMBRANA SEBUAH KAJIAN TEKSTUAL

    No full text
    Abstrak Leko di Lingkungan Pancardawa, Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana merupakan sebuah tari balih-balihan (hiburan) yang memiliki kekhasan tersendiri yakni penari dijaga oleh seorang pecalang Leko yang membawa klewang (pedang) serta tidak memperkenankan pengibing untuk menyentuh penari. Penelitian ini merupakan salah satu upaya pelestarian tari Leko di Pendem Jembrana, melalui pendokumentasian secara tertulis yang membahas mengenai tari Leko dari sudut pandang tari. Kajian tekstual dalam tari Leko dibahas melalui tiga pokok bahasan yakni koreografi, struktur, dan simbol. Rumusan masalah dalam penelitian ini yakni : (1) Bagaimanakah koreografi tari Leko di Lingkungan Pancardawa, Kelurahan Pendem Jembrana? ; (2) Bagaimanakah struktur tari Leko di Lingkungan Pancardawa, Kelurahan Pendem Jembrana? ; (3) Simbol apakah yang terdapat dalam tari Leko di Lingkungan Pancardawa, Kelurahan Pendem Jembrana?. Adapun teori yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah tersebut yakni teori tekstual, fungsional struktural, dan semiotika. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tari Leko di Pendem Jembrana ada 3 yakni Leko dengan tabuh Legong (Leko Legong), Sebitan Penyalin (Leko Sebitan Penyalin), dan Leko dengan tabuh Endih-Endih Api (Leko Endih-Endih Api) yang masing-masing ditarikan oleh dua orang penari perempuan, sehigga seluruh penari berjumlah enam orang. Tari Leko diiringi dengan gamelan khusus yang disebut gamelan Leko yang terbuat dari bambu. Ketiga tari Leko menggunakan gerak tari Bali dan tata rias penari Bali dengan titik merah atau gecek barak diantara kedua alis. Struktur pertunjukan tari Leko diawali dengan tabuh pembuka (pengungkab sabda), tari Leko Legong, Leko Sebitan Penyalin, dan Leko Edih-Endih Api, kemudian diakhiri dengan tabuh penutup (Tetangisan atau Cunguh Landak). Masing-masing tari Leko terbagi ke dalam tiga bagian yakni panglembar, ibing-ibingan, dan pakaad. Simbol yang terdapat dalam tari Leko yakni simbol keamanan, simbol identitas, simbol keakraban, simbol kemuliaan dan keagungan, serta simbol romantisme. Kata Kunci : Leko, koreografi, struktur, simbol. Abstract Leko in Pancardawa, Pendem village, Jembrana Districts, Jembrana Regency is a balih-balihan (entertainment) dance which has its own uniqueness in which the dancers are guarded by pecalang Leko who brings klewang (machete) and pengibing (spectator who joins in the dance) is banned to touch the dancer. This research is an effort to preserve Leko dance in Pendem Jembrana, through written documentation that discusses the details about Leko dance from dance point of view. The textual study about Leko dance is discussed in three main subjects including choreography, structure, and symbols. The formulation of the problem in this research are: (1) How is Leko dance choreography in Pancardawa, Pendem Jembrana? ; (2) How is the structure of Leko dance in Pancardawa, Pendem Jembrana? ; (3) What symbols are there in Leko dance in Pancardawa, Pendem Jembrana? The theories used to answer the formulation of the problems are textual, structural functionalism, and semiotics theories. This research uses qualitative method. The results of this study show that there are 3 kinds of Leko dance in Pendem Jembrana namely Leko with tabuh Legong (Leko Legong), Sebitan Penyalin (Leko Sebitan Penyalin), and Endih-Endih Api (Leko Endih-Endih Api). Each dance is danced by two female dancers, so there are 6 dancers in total. Leko dance is accompanied with a special bamboo-made gamelan called gamelan Leko. Those three dances use Balinese dance movements and makeup with red dots or gecek barak between the eyebrows. The structure of Leko dance performance is started with opening tabuh (Pengungkab Sabda), Leko dance, and ended with a closing tabuh (Tetangisan or Cunguh Landak). Each movement structure in Leko dance is divided into three parts, namely panglembar ibing-ibingan, and pakaad. Symbols that exist in Leko dance are symbol of protection, familiarity, identity, romanticism, greatness and majesty. Keywords: Leko, choreography, strusctur, symbols

    DEENG PAMARISUDA KALANGAN

    Get PDF
    Deeng Pamarisuda Kalangan merupakan istilah dalam Bahasa Bali, yakni dari kata deeng yang berarti prosesi ritual, pamarisuda yang berarti pembersihan, dan kalangan yang berarti arena/panggung. Sehingga Deeng Pamarisuda Kalangan dapat diartikan sebagai sebuah ritual pembersihan areal pementasan, dengan harapan agar pementasan yang dilakukan berjalan dengan lancar. Prosesi ritual ini dibalut dengan kemasan pertunjukan tanpa mengurangi makna dan kesakralan dari prosesi itu sendiri, dengan pengolahan beberapa unsur yakni suara gamelan, genta, kidung, tarian rerejangan (dengan membawa pasepan, bija, dan arak tabuh), tedung, serta banten dan gebogan bunga sebagai sarana upakara

    FRAGMEN TANTRI WARUNA

    Get PDF
    Bahari memiliki tiga makna yang berbeda, pertama berarti “dahulu kala”, yang kedua “elok atau indah” dan ketiga “laut atau kelautan”. Bahari juga memiliki sinonim “maritim, kelautan” (arkais, baheula, konservatif, kuno), namun Bahari lebih cenderung dipahami “wisata laut”. Wisata bahari merupakan salah satu wisata unggulan yang dimiliki Indonesia. Menurut data Kementerian Kelautan dan Perikanan, Indonesia memiliki 20,87 Juta Ha kawasan konservasi perairan, pesisir, dan pulau-pulau kecil. Garis pantai Indonesia membentang 99.093 km dengan luas laut 3,257Juta km². Kekayaan maritim ini membuat wisata bahari di Indonesia tidak diragukan lagi keindahan dan keunikannya. Wisata bahari Indonesia tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada banyak yang bisa dieksplor dalam wisata bahari Indonesia
    corecore