9 research outputs found
Kualitas Kokon Hasil Persilangan Antara Ulat Sutera (Bombyx Mory L.) Ras Cina Dan Ras Jepang
This study was aimed to get the qualified silkworm (Bombyx mory L.) stock by crossing between Chinese dan Japanese races. The materials used in this study were the best fourth lines of Chinese and Japanese silkworm races at Forestry Research and Development Agency, Bogor. Experimental design used in this study was Completely Randomized Design. The results showed that observed parameters were significantly affected by crossed combination. Sixteen crossedbreed combinations resulted were potensial to be selected as commercial stock compared to control BS-09
Pengaruh Penyimpanan Dan Waktu Penetasan Telur Terhadap Kualitas Bibit Ulat Sutra Dan Kualitas Kokon Bombyx Mori L. (the Effect of Egg Preservation and Hatching Schedule on Seed Quality and Cocoon Quality of Silkworm Bombyx Mori L.)
SariABSTRACTSilkworm eggs are a key factor in sericulture industry. Good quality of silkworm eggs cannot be produced any times. Therefore eggs preservation techniques becoming the most important aspect to be handled. Storage trial of Bombyx mori L. silkworm eggs through one cooling stage at 5 C was carried out to obtain appropriate preservation techniques for longterm period. A factorial experiment based on randomized block design was performed to study the egg preservation and hatching techniques of 2 silkworm races. The results showed that cold storage duration affected incubation period and hatching uniformity. High hatching percentage (>90%) was produced by eggs preservation at 25 °C for 1 day followed by cold storage (5 °C ) for 69 days, then treated with HCl of 1.094 specific gravity at 48 C for 7 minutes. The duration of cold storage affected the hatching percentage, but did not affect the quality of caterpillars and cocoon productions. Silkworm hybrid produced higher quality cocoon compare to pure strain. Eggs preservation at room temperature (25° C) for 10 days followed by refrigeration at 5° C for 60 days produced better quality of eggs and cocoons.ABSTRAKBibit telur ulat sutra merupakan faktor kunci di dalam industri persutraan alam. Bibit ulat sutra bermutu baik tidak dapat diproduksi setiap saat sepanjang waktu. Oleh sebab itu teknik penyimpanan telur menjadi aspek penting yang harus dikuasai agar mampu menyediakan bibit berkualitas sepanjang waktu sesuai kebutuhan. Uji coba penyimpanan telur ulat sutra Bombyx mori L. melalui satu tahap pendinginan pada suhu 5°C telah dilakukan dengan tujuan mendapatkan teknik penyimpanan yang sesuai untuk tetap menjaga kualitas dan produktivitas bibit dalam jangka panjang. Percobaan faktorial dalam rancangan acak kelompok digunakan untuk menguji mutu bibit ulat sutra melalui teknik penyimpanan dan penetasan telur dari dua galur ulat sutra. Hasil penelitian menunjukkan lama penyimpanan dingin berpengaruh terhadap lama waktu inkubasi dan keserempakan penetasan. Persentase penetasan yang tinggi (>90%) dihasilkan oleh telur yang telah melalui penyimpanan pada suhu 25°C selama 1 hari dan penyimpanan dingin (5°C) selama 69 hari, kemudian diberi perlakuan asam HCl dengan berat jenis 1,094 pada temperatur 48C selama 7 menit. Lama penyimpanan dingin hanya memengaruhi persentase penetasan, tetapi tidak berpengaruh terhadap mutu ulat dan kokon. Ulat sutra galur hibrid menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan galur murni. Penyimpanan pada 25°C selama 10 hari dan dilanjutkan pada suhu 5°C selama 60 hari menghasilkan kualitas telur dan kokon yang lebih bagus
Pengaruh Penyimpanan Dan Waktu Penetasan Telur Terhadap Kualitas Bibit Ulat Sutra Dan Kualitas Kokon Bombyx Mori L. (the Effect of Egg Preservation and Hatching Schedule on Seed Quality and Cocoon Quality of Silkworm Bombyx Mori L.)
SariABSTRACTSilkworm eggs are a key factor in sericulture industry. Good quality of silkworm eggs cannot be produced any times. Therefore eggs preservation techniques becoming the most important aspect to be handled. Storage trial of Bombyx mori L. silkworm eggs through one cooling stage at 5 C was carried out to obtain appropriate preservation techniques for longterm period. A factorial experiment based on randomized block design was performed to study the egg preservation and hatching techniques of 2 silkworm races. The results showed that cold storage duration affected incubation period and hatching uniformity. High hatching percentage (>90%) was produced by eggs preservation at 25 °C for 1 day followed by cold storage (5 °C ) for 69 days, then treated with HCl of 1.094 specific gravity at 48 C for 7 minutes. The duration of cold storage affected the hatching percentage, but did not affect the quality of caterpillars and cocoon productions. Silkworm hybrid produced higher quality cocoon compare to pure strain. Eggs preservation at room temperature (25° C) for 10 days followed by refrigeration at 5° C for 60 days produced better quality of eggs and cocoons.ABSTRAKBibit telur ulat sutra merupakan faktor kunci di dalam industri persutraan alam. Bibit ulat sutra bermutu baik tidak dapat diproduksi setiap saat sepanjang waktu. Oleh sebab itu teknik penyimpanan telur menjadi aspek penting yang harus dikuasai agar mampu menyediakan bibit berkualitas sepanjang waktu sesuai kebutuhan. Uji coba penyimpanan telur ulat sutra Bombyx mori L. melalui satu tahap pendinginan pada suhu 5°C telah dilakukan dengan tujuan mendapatkan teknik penyimpanan yang sesuai untuk tetap menjaga kualitas dan produktivitas bibit dalam jangka panjang. Percobaan faktorial dalam rancangan acak kelompok digunakan untuk menguji mutu bibit ulat sutra melalui teknik penyimpanan dan penetasan telur dari dua galur ulat sutra. Hasil penelitian menunjukkan lama penyimpanan dingin berpengaruh terhadap lama waktu inkubasi dan keserempakan penetasan. Persentase penetasan yang tinggi (>90%) dihasilkan oleh telur yang telah melalui penyimpanan pada suhu 25°C selama 1 hari dan penyimpanan dingin (5°C) selama 69 hari, kemudian diberi perlakuan asam HCl dengan berat jenis 1,094 pada temperatur 48C selama 7 menit. Lama penyimpanan dingin hanya memengaruhi persentase penetasan, tetapi tidak berpengaruh terhadap mutu ulat dan kokon. Ulat sutra galur hibrid menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan galur murni. Penyimpanan pada 25°C selama 10 hari dan dilanjutkan pada suhu 5°C selama 60 hari menghasilkan kualitas telur dan kokon yang lebih bagus
Pertumbuhan Bibit Asal Perbanyakan Vegetative pada Beberapa Jenis Murbei Hibrid
Salah satu permasalahan persuteraan alam di Indonesia adalah produksi daun murbei yang relatif rendah per satuan luas. Sehingga perlu dicari jenis murbei baru mempunyai produksi daun yang lebih tinggi dari jenis murbei yang sekarang ada. Perbanyakan murbei pada umumnya dilakukan secara vegetatif sehingga tidak dapat meningkatkan produksi daunnya karena tidak mengubah sifat genetik tanaman itu sendiri. Hibridisasi tanaman murbei telah dilakukan untuk mendapatkan murbei varietas baru yang diharapkan dapat memiliki produksi daun yang tinggi. Beberapa jenis murbei telah dihibridisasi dan menghasilkan beberapa tanaman hibrid baru. Pengamatan pertumbuhan dan prediksi produksi daun bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan awal dan kemampuan produksi daun dari jenis hybrid murbei yang baru dihasilkan. Metode penelitian yang digunakan berupa Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan berupa jenis murbei dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kelima jenis murbei dan juga kontrol menunjukkan pertumbuhan yang baik antara lain persentase tumbuh yang tinggi, rata-rata diatas 90 %. Murbei hibrid jenis Morus cathayana X M. amakusaguwa IV.10 dan M.s cathayana X M. amakusaguwa IV.12 menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik bila dibandingkan dengan jenis M. cathayana sebagai kontrol. Ketiga jenis murbei tersebut mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan
Perbandingan Pertumbuhan Beberapa Jenis Murbei Hibrid
Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh persuteraan alam di Indonesia adalah produksi daun murbei yang relatif rendah per satuan luas. Oleh karena itu perlu dicari jenis murbei baru yang mempunyai produksi daun yang lebih tinggi dari jenis murbei yang sekarang ada. Perbanyakan murbei pada umumnya dilakukan secara vegetatif sehingga tidak dapat meningkatkan produksi daunnya karena tidak mengubah sifat genetik tanaman itu sendiri. Hibridisasi tanaman murbei telah dilakukan untuk mendapatkan murbei varietas baru yang diharapkan dapat memiliki produksi daun yang tinggi. Beberapa jenis murbei telah dihibridisasi dan menghasilkan beberapa tanaman hybrid baru. Pengamatan pertumbuhan dan prediksi produksi daun bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan awal dan kemampuan produksi daun dari jenis hybrid murbei yang baru dihasilkan. Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Desember 2013. Metode penelitian yang digunakan berupa Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan berupa jenis murbei dan 3 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan kelima jenis murbei dan juga control menunjukkan pertumbuhan yang baik antara lain persentase tumbuh yang tinggi, rata-rata diatas 90 %. Murbei hibrid jenis Morus cathayana X Morus amakusaguwa IV.10 dan Morus cathayana X Morus amakusaguwa IV.12 menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik bila dibandingkan dengan jenis Morus cathayana sebagai kontrol. Ketiga jenis murbei tersebut mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan
Pengaruh Pupuk Lambat Larut dan Daun Tanaman Murbei Bermikoriza terhadap Kualitas Kokon Ulat Sutera
Daun murbei merupakan satu-satunya pakan bagi ulat sutera Bombyx mori L. Jumlah dan mutu daun yang diberikan akan menentukan pertumbuhan, kesehatan ulat, dan mutu kokon. Produktivitas daun murbei dapat ditingkatkan dengan pemupukan tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui produktivitas dan kualitas kokon yang dihasilkan dari dua hibrid ulat sutera (BS 08 dan BS 09) yang diberi pakan daun murbei dari tanaman yang diinokulasi Fungi Mikoriza Arbuskular (FMA) dan dipupuk dengan pupuk lambat larut (SRF). Hasil penelitian menunjukkan jenis ulat BS 09 memiliki kualitas kokon yang lebih baik dibandingkan jenis BS 08. Ulat sutera yang diberi pakan Morus alba var Kanva2 + Glomus sp1. + SRF 8 g dan M. cathayana + Glomus sp2 + SRF 8 g menunjukkan kualitas kokon yang tinggi
Uji Adaptasi Hybrid Ulat Sutra Asal Tiongkok (Adaptation Test of Hybrid Silkworm From China)
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pengembangan persutraan alam di Indonesia adalah pemenuhan bibit ulat sutra unggul. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka dapat dilakukan pengadaan bibit unggul yang berasal baik dari dalam negeri maupun impor. Bibit unggul harus memiliki kualitas dan produktivitas yang tinggi. Penelitian bertujuan untuk menguji produktivitas dan kualitas bibit ulat sutra hybrid Liangguang II asal Tiongkok dibandingkan dengan hybrid lokal komersial C301 dan hybrid lainnya. Penelitian dilakukan di Stasiun Pembinaan Persutraan Alam, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bibit hybrid Liangguang II memiliki kualitas ulat yang lebih baik dari hybrid lokal komersial C301. Hybrid Liangguang II memiliki masa larva yang lebih pendek 1 hari 2 jam, kualitas kokon lebih baik, produktivitas kokon lebih tinggi, dan kualitas filamen sama dengan hybrid C301. Hybrid Liangguang II memiliki persentase kulit kokon (22,19%) lebih unggul dibandingkan dengan hybrid impor jenis F9X7 asal Tiongkok (20,96%) dan hybrid Bulgaria (19,26%). Hybrid Liangguang II direkomendasikan untuk dikembangkan di dataran tinggi di Jawa Barat
Dinamika Serangan Ulat Heortia Vitessoides Moore (Lepidoptera: Crambidae) pada Tanaman Gaharu di Hutan Penelitian Carita, Propinsi Banten
Heortia vitessoides Moore adalah jenis rama-rama dari famili Crambidae. Larva serangga ini merupakan hama paling serius pada tanaman gaharu karena menyebabkan penggundulan daun. Untuk dapat mengendalikan serangan ulat gaharu secara efisien dan efektif diperlukan informasi perkembangan populasi hama ini guna menentukan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pola dan dinamika serangan ulat H vitessoides pada tanaman gaharu. Penelitian dilakukan selama 3 tahun (April 2012-Maret 2015) di hutan penelitian Carita, Propinsi Banten, dengan melakukan monitoring berkala di tiga plot pengamatan permanen yang masing-masing mewakili blok penanaman gaharu dengan kondisi ekologis dan ukuran tegakan berbeda. Pada setiap plot penelitian terdapat enam subplot dan setiap subplot terdiri dari 15 tanaman gaharu yang rutin diamati. Data yang dikumpulkan yaitu keberadaan hama (meliputi stadia dan populasi hama), tingkat serangan, dan frekuensi serangan hama yang dicatat setiap bulan. Hasil penelitian menunjukkan serangan hama terjadi sepanjang tahun dengan pola serangan berfluktuasi. Serangan tertinggi terjadi pada musim kemarau. Pada setiap pohon yang terserang rata-rata hanya ditemukan satu koloni ulat gaharu dalam berbagai instar. Sebagian besar tanaman gaharu mengalami serangan berulang dengan frekuensi 2-3 kali per tahun
