485,329 research outputs found
ELECTRONIC BANKING - ADVANTAGES FOR FINANCIAL SERVICES DELIVERY
E-banking is a fully automatic service for traditionally banking customer's products based on information technology platforms. E-banking services provide customer access to accounts, the ability to move their money between different accounts or making payments via e-channels. The advantages generated by this services have determined an accelerate developing of this industry over the entire world. This paper examines some of the advantages of electronic banking products together with the characteristic management issues generated by the implementation of this new channel for financial services delivery.Electronic banking, Internet banking, Home Banking, Mobile Banking.
LIQUIDITY RISK MANAGEMENT IN CRISIS CONDITIONS
In order to measure the liquidity risk we have developed an analysis model, based on stress-testing scenarios, that shows the ability of the bank to face different types of liquidity crisis. The scenarios were designed for each balance sheet position for assets and liabilities: Ordinary Course of Business, Name Crisis (Mild Name Crisis and Severe Name Crisis), Market Crisis (Mild Market Crisis and Severe Market Crisis) that reflects banking sector crisis and persistent recession. This offers a dynamic image about the bank's liquidity in report with different types of liquidity scenarios, but also about the time horizon of analyze. The research also wants to highlight the most significant features to consider in order to implement an effective liquidity risk management and to achieve a more integrated supervisory framework.liquidity risk, name crisis, market crisis, liquidity limits, gap analysis
Interest rate risk management - calculating Value at Risk using EWMA and GARCH models
Value at risk assesses financial risk by evaluating the probability of loss that results from stochastic variation of the rate of return. The methodology is based on historical data reflecting this variation, usually as an estimated probability of default function. The fact that return distributions are not constant over time poses exceptional challenges in the estimation. In order to remedy this problem we can estimate the volatility of the financial variables using EWMA and GARCH models, that are robust to fat-tailedness in the conditional distribution of returns. The assessment of the models’ performance is based on a range of measures that address the conservativeness, accuracy and efficiency of each one.value at risk, time varying volatility, EWMA model, GARCH model, interest rate risk
Using stress testing methodology in evaluating banking institution’s exposure to risk
In order to correctly estimate the unpredictable effects on their transaction portfolios, the banks developed stress testing methods which turned out to be a very important tool in the bank supervision process. Moreover, the supervision authorities started using stress-testing methods for evaluating systemic risk and for determining the adequacy degree of capital in the banking sector. Taking into account the importance of these simulations, the present paper presents methodologies with which stress testing methods could be implemented by banks as well as their role in the management of credit risk, market risk and liquidity risk while also meeting the requirements imposed by the Basel II accord. By means of a case study we have simulated several scenarios in which the inter-bank market interest rate was varied, quantifying its impact on bank revenues as well as on the market value of their portfolios.stress testing, credit risk, market risk, liquidity risk, capital adequacy, Basel II Accord
HUBUNGAN PERSEPSI PESIEN TENTANG MUTU PELAYANAN PUSKESMAS DENGAN DENGAN PERSEPSI BIAYA PELAYANAN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS SRONDOL KECAMATAN BANYUMANIK KOTA SEMARANG TAHUN 2003
Adanya kenaikan tarif pelayanan pukesmas yang berlaku sejak awal tahun 2001 mengakibatkan penurunan jumlah kunjungan pasien di puskesmas Srondol Kecamatan Banyumanik Kota Semarang.Dari survey awal yang dilakukan peneliti diketahui bahwa lebih dari 50% responden menyatakan pelayanan yang diterima pada saat memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Srondol kurang memuaskan. Selama ini kajian pelayanan kesehatan di puskesmas Srondol masih berdasarkan penilaian standar praktek pelayanan yang dilakukan oleh dinas kesehatan setempat. Oleh karena itu perlu diadakan kajian untuk mengetahui hubungan antara persepsi pasien tentang mutu pelayanan puskesmas dengan persepsi pasien tentang biaya pelayanan rawat jalan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara persepsi pasien tentang mutu pelayanan puskesmas yang meliputi pelayanan dokter,perawat, petugas obat, mutu obat, tempat pengobatan,pelayanan petugas loket dengan persepsi pasien tentang biaya pelayanan rawat jalan.Hasil penelitian ini diharapkan bisa dipakai untuk sebagai masukan pihak puskesmas untuk memperbaiki mutu pelayanan dan peningkatan jumlah kunjungan pasien rawat jalan.
Metode penelitian ini adalah survey (Survey Reaserch Metode) dengan metode pendekatan Cross Sectional .Sempel penelitian ini adalah pasien yang memanfaatkan pelayanan rawat jalan di Puskesmas Srondol Dengan beberapa kriteria sampel di ambil 80 responden dengan menggunakan tehnik sampel kebetulan (accidental sampling).Data ini diolah secara univariat dan bivariat yang meliputi tabulasi silang antar variabel dan menggunakan uji statistik Rank Spearman untuk mengetahui hubungan antar variabel.Dengan uji statistik pada taraf kepercayaan 95% membuktikan adanya hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat.Ada hubungan persepsi pasien tentang mutu pelayanan puskesmas yang terdiri dari :pelayanan dokter,perawat, petugas obat, mutu obat, tempat pengobatan,pelayanan petugas loket dengan persepsi pasien tentang biaya pelayanan rawat jalan.
Saran yang dapat disampaikan pada puskesmas adalah perlu adanya peningkatan mutu pelayanan puskesmas. Peningkatan mutu tersebut terutama pada : kecepatan dan kesiapan dokter dalam melayani pasien,kecepatan dan kesiapan perawat dalam melayani pasien, perhatian dan pengertian petugas obat dalam melayani pasien, sikap ramah tamah,hotmat, beretiket baik, sopan dan fleksibel pada petugas loket.
Kata Kunci: Persepsi mutu,Biaya pelayanan,puskesmas
CORELATION PATIENT PERCEPTION ABOUT SERVICE QUALITY OF THE PUBLIC HEALTH CENTER AND PERCEPTION ABOUT OUT PATIENT SERVICE RATE IN PUBLIC HEALTH CENTER OF SRONDOL DISTRICT BANYUMANIK SEMARANG 2003
The service rate increase of the public health center prevailed since the begining of 2001 results in the decline of the patient visiting in Srondol District Semarang City.It is known from the early survey commited that more than 50% respondens states that service obtined by out patient in Srondol Public health center is less satified. The study of the public service, so far, in Srondol Public health center is still based on the standard evaluation of the service practice performed by the local health institution.Accordingly, a study is reQuered to establish to know the association between the patient perseptions corcerning to the public health center service quality and the patient perceptions concerning to the out patient service rate. This research is intented to know the correlation between the patient perceptions of the public health center service quality covering the service of doctors, nurses, the druggists,drugstores, locket officiel service, and the patient perception concerning to out patient service rate. It is hope that the result of this result to fungtion as an input to public health center to fix the service quality and maintain the amount of out patient visiting.
This research is a survey research methode by using cross sectional approach methode.The research sample is the patient utilizing out patient service in Srondol public health center Supported by several sample criteria taken from 80 respondents using accidental sampling tehnique.This data are set univariatly and bivariatly consisting of cross tabulation between variables and using the statistik rank spearman to know the relationship of the variables. By using statistic investigation to the belief range 95% proves the presence of the free and tied variables.There is a patient perseption connection between the pubic health center service qualities comprising of : the service of doctors, nurses, the druggists,drugstores, locket officiel service, and the patient perception concerning to out patient service rate.
The public health center is advisid to increase the service quality of the public health center.The quality increase is focused on : the speed and readines of the doctor in serving patients,the speed and readines of the nursing in serving patient,attention and understanding of the drugists in serving patient,friendly,respecfull,polite,attitude,good etiquete,and flexible to the locket official.
Keyword : Quality perception,service rate,Public health cente
Model Evaluasi Mutu Sekolah: Pengembangan Instrumen untuk Menetapkan Mutu
Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengembangkan: (1) model evaluasi mutu sekolah berbasis teori, hasil riset, dan informasi yang dapat digunakan untuk menetapkan mutu sekolah, (2) instrumen evaluasi mutu sekolah yang dapat memberikan informasi yang tepat bagi stakeholder, baik dari segi implementasi komponen dan indikator mutu maupun best practice dan best approach dalam peningkatan mutu sekolah secara berkelanjutan, dan (3) mekanisme evaluasi yang meliputi pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, serta pemaknaan dan tindak lanjut hasil evaluasi dilakukan.
Secara konseptual dan prosedural, model pengembangan yang digunakan pada penelitian dan pengembangan ini merujuk pada tiga model, yakni: (1) Research and Development (R&D) yang dikembangkan Borg dan Gall, (2) Research and Development Stages (R&D) yang dikembangkan Krajewski dan Ritzman, dan (3) Research Development and Diffusion (RD&D) yang dikembangkan Havelock. Subjek coba dalam R&D dilakukan tiga tahap yakni uji coba pendahuluan melibatkan 20 orang pakar dan praktisi pendidikan, uji coba utama diterapkan pada 250 subjek coba di SMA Negeri 4 Malang, dan uji coba operasional diterapkan pada 442 subjek coba di SMA Negeri 3 Malang, SMA Negeri 10 Malang, SMA Lab UM serta SMA A Yani Malang dengan melibatkan siswa, guru, dan orang tua siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik Delphi, FGD, angket, dokumen, observasi, wawancara, penilaian porto folio. Validitas dan reliabilitas instrumen angket dianalisis ITEMAN, sedangkan keabsahan data kualitatif dilakukan dengan trianggulasi antar sumber, tempat, dan metode. Analisis data kuantitatif dengan teknik analisis deskriptif dan data kualitatif dengan model interaktif.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Model EMS: (1) pengembangan komponen dan indikator mutu sekolah dilakukan melalui R&D. Artinya, untuk menghasilkan komponen dan indikator mutu sebagai inti (core) dari model EMS dilakukan melalui kajian konseptual, teoretik, dan empirik di lapangan melalui survai, FGD, dan teknik Delphi; (2) ada interaksi yang positif antar pakar pendidikan dan praktisi pendidikan dalam memberikan judgment komponen dan indikator mutu sekolah. Artinya, proses pengembangan Model EMS yang di dalamnya berisi sepuluh komponen mutu dan empat puluh dua indikator mutu merupakan kesepakatan bersama yang akan digunakan sebagai acuan untuk mengembangkan instrumen EMS; (3) model EMS hasil pengembangan memiliki kepekaan yang tinggi terhadap objek yang diteliti. Artinya, dalam proses ujicoba pendahuluan, utama, dan operasional di lima Sekolah Menengah Atas (SMA) pada 742 subjek coba dapat mengungkap data yang dibutuhkan; (4) model EMS hasil pengembangan dapat memberikan informasi yang tepat bagi stakeholder. Artinya, tujuh jenis instrumen yang digunakan meliputi angket, dokumentasi, observasi, wawancara, dan penilaian porto folio dapat memberikan seluruh informasi yang berkaitan dengan implementasi komponen dan indikator mutu, termasuk best practice dan best approach yang dilakukan siswa, guru, kepala sekolah; (5) tingkat koherensi instrumen EMS ketika digunakan untuk menetapkan mutu sekolah sesuai dengan rancangan. Artinya, lima jenis instrumen yang digunakan dapat memberikan informasi yang saling mendukung dan melengkapi antara data kuantitatif yang dianalisis dengan statistik deskriptif maupun data kualitatif yang dianalisis dengan interaktif; dan (6) kelebihan dibandingkan instrumen BAS Nas dan SNP signifikan. Artinya, instrumen EMS: (a) komprehensif, karena komponen dan mutu indikator mutu mewakili hampir seluruh kegiatan penyelenggaraan pendidikan, (b) holistik, karena dapat mengungkap fakta sesungguhnya apa yang terjadi di sekolah, (c) mudah dilakukan, (d) temuan EMS dapat digunakan sebagai evaluasi diri sekolah, (e) efektif digunakan sekolah tanpa mengganggu proses pembelajaran yang ada, (f) mendukung persiapan akreditasi sekolah dan penjaminan mutu, serta (g) independen karena melibatkan komite sekolah
Hubungan Mutu Pelayanan Keperawatan dan Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dan Umum di Rawat Inap Kelas III RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak
Universitas Diponegoro
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat
Konsentrasi Administrasi Rumah Sakit
2017
ABSTRAK
Siwi Bagus Ajiningrat
Hubungan Mutu Pelayanan Keperawatan dan Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan
Pasien Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan dan Umum di Rawat Inap Kelas
III RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak
xvi + 128 halaman + 30 tabel + 8 lampiran
Banyak faktor yang diduga mempengaruhi perbedaan tingkat kepuasan pasien BPJS
dan pasien umum di rawat inap kelas III di RSUD Sunan Kalijaga Kabupaten Demak,
diantaranya mutu pelayanan keperawatan dan perilaku caring perawat. Kenyataan bahwa mutu
pelayanan keperawatan di rumah sakit seperti itu akibat dari perilaku caring perawat sehingga
berdampak kepada ketidakpuasan pasien.
Jenis penelitian adalah kuantitatif, pendekatan cross sectional. Responden 120 orang,
pasien BPJS kesehatan 100 orang, pasien umum 20 orang. Analisis data dengan analisis
independent t test.
Hasil penelitian, pasien BPJS kesehatan umur 59-65 tahun 22,0%, perempuan 52,%,
pendidikan SMP 38,0%, sebagai petani 34,0%, menikah 80,0%, mutu pelayanan keperawatan
kategori cukup 62,0% dan baik 38,0%, perilaku caring perawat kategori cukup 17,0% dan baik
83,0%, kepuasan kategori cukup 11,0% dan baik 89,0% Pasien umum umur 45-51 tahun
45,0%, laki-laki 55,%, pendidikan SMA 60,0%, bekerja swasta 80,0%, menikah 100,0%. mutu
pelayanan keperawatan kategori cukup 5,0%, baik 95,0%. perilaku caring perawat umum
kategori baik 100,0%, kepuasan kategori baik 100,0%. Tidak ada perbedaan mutu pelayanan
keperawatan pada pasien BPJS kesehatan dan umum (α=0,094). Tidak ada perbedaan perilaku
caring perawat pada pasien BPJS kesehatan dan umum (α=0,129). Ada perbedaan kepuasan
pada pasien BPJS kesehatan dan umum (t hitung =2,635, α=0,012). Tidak ada hubungan mutu
pelayanan Keperawatan terhadap kepuasan pada pasien BPJS kesehatan dan umum
(α=0,173). Ada hubungan perilaku caring perawat terhadap kepuasan pada pasien BPJS
kesehatan dan umum (α = 0,049)
Agar RSUD lebih mendorong meningkatkan mutu pelayanan keperawatan dan perilaku
caring perawat dengan cara selalu memberikan pembinaan teknis, pendidikan pelatihan dan
mengoptimalkan tugas dan peran dalam bidang keperawatan.
Kata kunci
: Mutu Pelayanan Keperawatan, Perilaku Caring Perawat, Kepuasan Pasien
Kepustakaan : 60 (1990-2010)Diponegoro University
Faculty of Public Health
Master’s Study Program in Public Health
Majoring in Hospital Administration
2017
ABSTRACT
Siwi Bagus Ajiningrat
The Relationship of the Quality of Nursing Service and Nurse’s Caring Behaviours with
Patients’ Satisfaction of Health Social Insurance Agency and General at Inpatient
Installation of Class III at the Public Hospital of Sunan Kalijaga in Demak Regency
xvi + 128 pages + 30 tables + 8 appendices
Some factors suspected influencing the differences of patients’ satisfaction levels of
Health Social Insurance Agency (HSIA) and General at inpatient installation of Class III at the
Sunan Kalijaga Public Hospital in Demak Regency were a quality of nursing services and
nurse’s caring behaviours. In fact, low quality of nursing services was due to nurse’s caring
behaviours in which it led to patients’ dissatisfaction.
This was a quantitative study using cross-sectional approach. Number of respondents
were 120 persons which consisted of 100 HSIA patients and 20 general patients. Data were
analysed using an Independent t test.
The results of this research showed that among HSIA patients, a proportion of age 59-65
years old was 22.0%, a proportion of female was 52.0%, as many as 38.0% graduated from
Junior High School, 34.0% of the respondents worked as a farmworker, 80.0% of the
participants had got married, as many as 62.0% of the respondents had fairly good quality of
nursing services and the rest was good (38.0%), as many as 17.0% of the respondents had
fairly good nurse’s caring behaviours and the rest was good 83.0%), and as many as 11.0%
were fairly satisfied and the rest was satisfied 89.0%. In contrast, among general patients, a
proportion of age 45-51 years old was 45.0%, a proportion of male was 55.0%, as many as
60.0% graduated from Senior High School, 80.0% of the respondents worked as in private
sectors, 100.0% of the participants had got married, as many as 5.0% of the respondents had
fairly good quality of nursing services and the rest was good (95.0%), all of the respondents
(100.0%) had good nurse’s caring behaviours, and all of the respondents (100.0%) were
satisfied. There was no difference in the quality of nursing services between HSIA and general
patients (p=0.094). There was no difference in the nurse’s caring behaviours between HSIA and
general patients (p=0.129). There was any difference in satisfaction between HSIA and general
patients (t=2.635; p=0.012). There was no significant relationship between the quality of nursing
services and satisfaction of HSIA and general patients (p=0.173). There was no significant
relationship between the nurse’s caring behaviours and satisfaction of HSIA and general
patients (p=0.049).
The public hospital needs to improve the quality of nursing services and the nurse’s caring
behaviours by providing a technical guidance, education, training, and optimising tasks and
roles in nursing.
Keywords : Quality Of Nursing Services, Nurse’s Caring Behaviours, Patients’ Satisfaction
Bibliography: 60 (1990-2010
Peta mutu pendidikan jenjang SD Kabupaten Karangasem : diolah dan dianalisis berdasarkan data rapor mutu tahun 2018
Peta mutu pendidikan memaparkan peta capaian mutu SNP kabupaten/kota dan provinsi untuk setiap jenjang pendidikan. Peta capaian mutu SNP dibuat sebagai perwujudan tugas dan wewenang LPMP Bali dalam memetakan mutu pendidikan dan pelaksanaan SPMI-Dikdasmen berdasarkan data dan informasi dalam sistem informasi mutu pendidikan di tingkat provinsi dan kabupaten /kota. Peta mutu pendidikan Kabupaten Karangasem jenjang SD ini merupakan salah satu wujud komitmen pemerintah Kabupaten Karangasem melalui Tim Penjaminan Mutu Pendidikan Daerah (TPMPD) dalam menjamin pendidikan SD yang bermutu dan terstandardisasi. Penyusunan peta mutu ini mengacu pada hasil pemetaan mutu pendidikan yang
dilaksanakan tahun 2018
Peta mutu pendidikan jenjang SD Kabupaten Gianyar : diolah dan dianalisis berdasarkan data rapor mutu tahun 2018
Analisis ini akan menghasilkan peta mutu dan berbagai rekomendasi yang akurat dan bermanfaat bagi pemerintah kabupatenuntuk dasar perencanaan program peningkatan mutu pendidikan di tingkat kabupaten yang perlu dilaksanakan pada tahun berikutnya. Agregasi data pemetaan mutu pendidikan adalah serangkaian strategi yang dilaksanakan oleh tim penjaminan mutu pendidikan daerah/pengawas sekolah tingkat Pemerintah Daerah untuk memonitor dan mengevaluasi mutu dan keefektifan sekolah dan tenaga kependidikan berdasarkan SNP. Hasil agregasi ini menjadi kewajiban bagi pemerintah kabupaten sesuai kewenangannya untuk dapat dipahami
dan dilaksanakan secara terus menerus dan berkelanjutan sehingga menjadi suatu budaya mutu di tingkat kabupaten. Hal ini sesuai dengan peran Pemerintah Daerah Kabupaten dalam Sistem Pendidikan Nasional, dalam hal: (1) menyediakan pelayanan pendidikan; (2) memonitor mutu pendidikan dan pelayanan pendukung pendidikan; (3) membuat laporan mengenai mutu dan kinerja sekolah; dan (4) meningkatkan mutu dan pelayanan pendidikan. Peta mutu pendidikan ini memaparkan peta capaian SNP Kabupaten Gianyar untuk setiap jenjang pendidikan. Peta capaian mutu SNPdibuat sebagai perwujudan tugas dan wewenang Pemerintah Kabupaten Gianyar dalam memetakan mutu pendidikan dan pelaksanaan SPMI-Dikdasmen berdasarkan data dan informasi dalam sistem informasi mutu pendidikan di tingkat kabupaten
Peta mutu pendidikan jenjang SMP kabupaten Bangli: diolah dan dianalisis berdasarkan data rapor mutu tahun 2018
Tujuan disusunya analisis peta mutu pendidikan (capaian Standar Nasional Pendidikan) provinsi Bali adalah untuk mengetahui gambaran ketercapaian mutu pendidikan provinsi Bali serta analisisnya, dan untuk menyusun laporan rekomendasi strategi peningkatan mutu pendidikan di tingkat provinsi Bali berdasarkan pemetaan mutu pendidikan dengan harapn dapat mendorong satuan pendidikan maupun pemerintah daerah mengimplemenatsikan SMPM dengan baik dan berkelanjutan.
Kesimpulan dari pemetaan mutu SMP di kabupaten Bangli adalah sebagai berikut:
1. Data Peta Mutu Pendidikan SMA Provinsi tahun 2018 diperoleh dari pendataan mutu pendidikan melalui perangkat Pendataan Mutu Pendidikan (PMP) data Data Pokok Pendidikan (Dapodik)
2. Peta Mutu Pendidikan menyediakan informasi mutu pendidikan provinsi Bali dapat digunakan sebagai basis data untuk merancang program peningkatan mutu pendidikan seluruh stakeholders pendidikan sesuai dengan kewenanganya.
3. Terdapat beberapa data yang belum sesuai dengan kondisi yang sebenarnya disebabkan oleh komponen sistem pemetaan, petugas pemetaan dan responden.
4. LPMP mengawal pengisian instrumen PMP dengan benar, langsung dan jujur, agar rapor mutu yang dihasilkan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan RKS, serta agar intervensi yang diberikan pemerintah pusat maupun daerah tepat sasaran
- …
