5,094 research outputs found
Uji Organoleptik Dan Kandungan Vitamin C Pada Pembuatan Selai Belimbing Wuluh Dengan Penambahan Buah Kersen Dan Bunga Rosela
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hasil uji organoleptik dan kandungan vitamin C terhadap selai belimbing wuluh yang ditambahkan buah kersen dan bunga rosela. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menguji sifat organoleptik (warna, aroma, rasa, tekstur, dan daya terima) dan menguji kadar vitamin C. Penelitian ini menggunakan metode RAL dengan dua faktorial yaitu berat buah kersen dan jumlah bunga rosela. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kandungan vitamin C pada selai belimbing wuluh. Perbedaan kandungan vitamin C pada selai karena perlakuan yang diberikan berbeda. Buah belimbing wuluh, buah kersen, dan bunga rosela mengandung vitamin C. Perlakuan yang diberikan buah kersen dan bunga rosela lebih banyak mengandung vitamin C yang tinggi. Untuk hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa semakin banyak buah kersen yang ditambahkan semakin tinggi nilai organoleptik untuk aroma, rasa, tekstur, dan daya terima, sedangkan semakin banyak bunga rosela yang ditambahkan semakin tinggi nilai organoleptik untuk warna, aroma, dan tekstur. Sehingga buah kersen dan bunga rosela dapat digunakan untuk pembuatan selai yang baik. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu semakin banyak penambahan buah kersen dan bunga rosela semakin tinggi pula kadar vitamin C. Selain itu untuk hasil penelitian organoleptik semakin tinggi penambahan buah kersen dan bunga rosela semakin tinggi nilai organoleptik teksturnya
UJI SITOTOKSIK FRAKSI ETANOL DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABUARA L.) TERHADAP LARVA UDANG ARTEMIA SALINA L.
Tumbuhan kersen (Muntingia calabura L.) merupakan salah satu tumbuhan yang ketersediaannya melimpah di Indonesia.Tumbuhan ini diduga berpotensi sebagai antikanker. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakterisitik, kandungan metabolit sekunder dan aktivitas sitotoksik fraksi etanol daun kersen. Pengujian aktivitas sitotoksik fraksi etanol daun kersen dilakukan secara in vitro menggunakan metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etanol daun kersen memiliki kadar air 16,68%, kadar sari larut dalam air 41,45%, kadar sari larut dalam etanol 81,69%, kadar abu total 1,5%, dan kadar abu tak larut asam 1,14%. Fraksi etanol daun kersen mengandung metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin dan memiliki aktivitas sitotoksik yang berpotensi sebagai antikanker dengan nilai LC50 634,11 ppm. Kata kunci: Fraksi etanol, Muntingia calabura, LC50, BSL
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN KERSEN(MUNTINGIA CALABURA L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH DAN STRUKTUR MIKROSKOPIS PANKREAS TIKUS HIPERGLIKEMIK
Nurlena Andalia. Judul: Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Kersen (Muntingis calabura L)Terhadap Kadar Glukosa Darah dan Struktur Mikroskopis Sel Pankreas TikusHiperglikemik.Pembimbing I, Safrida, Pembimbing II, Mustafa Sabri. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun Kersen (Muntingiacalabura L) terhadap penurunan kadar glukosa darah dan stuktur mikroskopis sel pankreas tikus hiperglikemik. Perlakuan pada penelitian ini terdiri atas P1 sebagai kontrol negatif(diberi aquades), P2 sebagai Kontrol positif (75 mg/kg BB aloksan dan diinkubasi selama 28hari), P3 (75 mg/kg BB aloksan dan pemberian 150 mg/kg BB ekstrak daun Kersen(Muntingia calabura L) selama 28 hari), P4 (75 mg/kg BB aloksan dan pemberian 300 mg/kgBB ekstrak daun Kersen (Muntingia calabura L) selama 28 hari), P5 (75 mg/kg BB aloksandan pemberian 450 mg/kg BB ekstrak daun Kersen (Muntingia calabura L) selama 28 hari,dan P6 (75 mg/kg BB aloksan dan pemberian metformin sebagai pembanding obat herbal dansintetik) selama 28 hari. Data dianalisis menggunakan analisa varian dan dilanjutkan denganuji beda nyata jujur (BNJ) pada selang kepercayaan ? 0,05. Hasil penelitian menunjukkanbahwa ekstrak daun Kersen (Muntingia calabura L.) pada berbagai dosis berbeda nyataterhadap kadar glukosa darah dan nekrosa sel beta pankreas tikus hiperglikemik.PemberianEkstrak daun Kersen (Muntingia calabura L.) pada dosis 450 mg/kg BB dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan rerata kadar glukosa darahnya 72,5dan pada dosis150 mg/kg BB ekstrak daun Kersenmempengaruhi proposi nekrosa sel pankreas denganrerata 50,67 pada tikus hiperglikemik. Dapat disimpulkan pemberian ekstrak daun Kersen(Muntingia calabura L.) dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus hiperglikemik sertapemberian ekstrak daun Kersen (Muntingia calabura L.) dapat mempengaruhi strukturMikrokopis Pankreas tikus Hiperglikemik. Kata Kunci : Muntingia calabura. L, Tikus, Sel pankreas, Hiperglikemi
Pengujian Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kersen (Muntingia Calabura L.) terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
Daun kersen (Muntingia calabura L) merupakan tanaman yang banyak tumbuh di Indonesia,tidak mengenal musim dan digunakan sebagai obat karena memiliki banyak khasiat salah satunya sebagai obat jerawat. Komponen senyawa kimia flavonoid, tannin dan saponin yang terdapat pada daun kersen diduga sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah ekstrak etanol daun kersen mempunyai aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. Uji aktivitas antibakteri diakukan dengan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kersen memiliki kemampuan menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi 1ppm, 3ppm, 5ppm, 9ppm, ekstrak etanol daun kersen efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis
Pengaruh Jus Buah Kersen (Muntingia calabura L) Terhadap Kadar Asam Urat Darah Mencit (Mus musculus)
Konsumsi makanan yang mengandung protein atau alkohol dapat
meningkatnya kandungan asam urat dalam darah sebagai penyebab utama
kadar asam urat. Banyaknya efek samping dari obat-obat asam urat yang
beredar di pasaran saat ini, maka diperlukan suatu alternatif obat asam urat
yang aman dikonsumsi, salah satunya dengan pemanfaatan buah kersen. Buah
kersen mengandung kadar purin rendah dan mengandung flavonoid.
Flavonoid merupakan antioksidan yang dapat mencegah kerusakan akibat
penuaan yang disebabkan oleh radikal bebas. Senyawa ini dengan struktur
tertentu dapat menghambat enzim xantin oksidase yang berperan dalam
pembentukan asam urat darah. Kandungan itulah yang membuat buah kersen
mampu mengobati asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh pemberian jus buah kersen terhadap kadar asam urat darah mencit
(Mus musculus). Penelitian ini merupakan jenis penelitian Eksperimen
dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola satu factor yang
menggunakan sampel 20 ekor mencit jantan, berat badan 20-30 g yang
terbagi kedalam 4 kelompok. Dari hasil penelitian dan analisis data
menunjukkan bahwa penurunan kadar asam urat darah mencit yang diberi
perlakuan dari tertinggi keterendah yaitu kelompok II(kalium
oksonat+aquades 0,5ml/20g), kelompok IV(kalium oksonat+jus kersen
0,5ml/20g), kelompok I(aquades 0,5ml/20g) dan terendah kelompok
III(kalium oksonat+ allopurinol 0,014ml/20g).dapat disimpulkan bahwa
pemberian jus kersen berpengaruh terhadap penurunan kadar asam urat darah
mencit (Mus musculus),tetapi belum setara dengan Allopurinol untuk
menurunkan kadar asam urat darah
Gas sensing properties of nanocrystalline metal oxide powders produced by thermal decomposition and mechanochemical processing
The objective of this research, was the synthesis of LaFeO3 and SnO2 fine powders for the subsequent preparation of thick film gas sensors.
On producing fine metal oxide powders, often it is not possible to ensure separation of the particles during the synthesis, resulting in the formation of highly agglomerated material. In addition, there are often high synthetic costs associated with the powders obtained by these methods. Thermal decomposition and mechanochemical processing methods were selected to produce fine metal oxide powders.
Thermal decomposition of a heteronuclear complex is a simple and relatively cheap method. Heat treatment of La[Fe(CN)6] · 4H2O leads to single-phase perovskite-type LaFeO3 fine powders. Heating in the temperature range 600-750 °C causes fast crystallite growth of slightly agglomerated particles and X-ray diffraction analysis showed only the pattern of orthorhombic transition phase of LaFeO3 particles. A paste for the preparation of the LaFeO3 thick film coating was obtained by mixing of polyvinyl alcohol solution and decomposed powder in a ball mill for 1 h. It was determined that there are two factors important for gas sensing, concentration of surface metal ions [Fe3+], and the concentration of oxygen adsorptive sites [Vo(..)]. LaFeO3−δ thick film with small crystallites, promotes a more rapid NO2 gas reaction at the surface and allows an equilibrium state to be obtained at 350 °C.
Mechanochemical processing (MCP) is selected as the second, low cost method of manufacturing of fine powders in a conventional ball mill. During milling, deformation, fracture, and welding of powder particles continuously occur. The chemical reactions are activated by the repeated ball-powder collisions. Most of the reports on MCP that have appeared to date, concern the use of high-energy mills. It is shown that it may be possible to produce fine powder particles using a centrifugal mill of the conventional type instead of high-energy one. Nanocrystalline SnO2 powder was produced by two different chemical reactions. The first reaction, initiated by ball milling, produces water and the second reaction does not produce water. It should be noted that water, produced by the chemical reaction during milling, has a considerable influence on the reactivity of surface. Milling of predetermined stoichiometric amounts of SnCl2 with Ca(OH)2 and K2CO3 in an excess of CaCl2 and KCl respectively, resulted in the formation of the desired mass of SnO. After heat treatment and removal of the salt, slightly agglomerated SnO2 particles were produced with a tetragonal phase, confirmed by X-ray diffraction pattern. A very narrow particle size distribution of the powder is observed.
The response of the LaFeO3 thick film to NO2 gas is investigated in the temperature range 250-350 °C, where the surface reactions are moderately fast. On exposure to low concentrations of H2S gas in air in the range 20-50 ppm the SnO2 film, prepared from anhydrous powder has higher gas response than the film prepared from hydrated powder.reviewe
Kandungan Vitamin C Dan Sifat Organoleptik Pada Selai Kulit Pisang Ambon Dengan Penambahan Buah Kersen Dan Bunga Rosella
Selai adalah salah satu jenis makanan awetan berupa sari buah atau buah-buahan yang sudah dihancurkan, ditambah gula dan dimasak hingga kental atau berbentuk setengah padat. Kulit buah pisang ambon, buah kersen dan bunga rosella merupakan bahan yang bisa dibuat menjadi selai karena mengandung glukosa, pektin dan antosianin. Ketiga bahan tersebut mengandung vitamin C, zat besi, air, protein, kalsium, fosfor. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan vitamin C dan uji organoleptik pada selai kulit pisang ambon dengan penambahan buah kersen dan bunga rosella. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari dua faktor perlakuan yaitu, faktor satu: berat bunga rosella dan faktor dua: berat buah kersen. Hasil dari penelitian ini adalah kadar vitamin C tertinggi pada perlakuan R2K2
dengan penambahan 100 g buah rosella dan 100 g penambahan buah kersen. Untuk uji organoleptik semua perlakuan berwarna coklat, aroma selai untuk semua perlakuan sedap, rasanya enak dan tekstur selai kental. Simpulan dari
penelitian kulit pisang ambon yakni berat buah kersen dan berat kelopak bunga rosella berpengaruh terhadap kadar vitamin C pada selai kulit pisang ambon
Organoleptik Dan Vitamin C Selai Buah Kersen (Muntingia Calabura ) Dengan Penambahan Gula Pasir Dan Pektin Dari Kulit Jeruk Siam (Citrus Nobilis Var. Microcarpa)
Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai di mana-mana, tetapi pada umumnya kurang dimanfaatkan oleh sebagian orang. Buah kersen dapat
dimanfaatkan untuk pembuatan selai. Penelitian selai buah kersen ini menggunakan tambahan gula pasir dan pektin dari kulit jeruk siam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui organoleptik dan vitamin C selai buah kersen. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktorial. Faktor tesebut yaitu gula pasir (0 g,50 g, dan 70 g) dan pektin dari kulit jeruk siam (15 g, 30 g, dan 45 g) dengan 9 perlakuan. Hasil
penelitian organoleptik dianalis dengan deskriptif kualitatif dan hasil penelitian vitamin C dengan deskriptif kuantitatif dengan analisis varian dua jalan (Two way annova). Hasil penelitian organoleptik warna terbaik terdapat pada perlakuan (G2J1) memiliki warna coklat, aroma terbaik pada perlakuan (G0J3)memiliki aroma menyengat jeruk, rasa terbaik pada perlakuan (G2J1) memiliki rasa manis, tekstur terbaik pada perlakuan (G0J3), dan daya terima terbaik pada
perlakuan (G2J1) rata-rata panelis menyatakan suka. Sedangkan hasil penelitian vitamin C tertinggi
terdapat pada perlakuan (G0J3) sebesar 77,16 mg/%. Berdasarkan hasil penilitian dapat disimpulkan
bahwa ada pengaruh penambahan gula pasir dan pektin dari kulit jeruk siam terhadap organoleptik dan
vitamin C selai buah kersen
KARAKTERISTIK MIKROBIOLOGIS, FISIK, DAN ORGANOLEPTIK SUSU PASTEURISASI LTLT (LOW TEMPERATURE LONG TIME) DENGAN PENAMBAHAN EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALBURA L.) DAN DAUN JAMBU BIJI (PSIDIUM GUAJAVA L.) SELAMA PENYIMPANAN
ini akan melangsungkan pemanfaatan ekstrak daun kersen dan
ekstrak daun jambu biji sebagai zat antibakteri pada susu yang diproses secara
pasteurisasi Low Temperature Long Time (LTLT), sehingga dapat digunakan
untuk memperpanjang daya simpan susu pada industri pengolahan rumahan susu.
Tujuan diadakan penelitian ini untuk mendapatkan konsentrasi optimal ekstrak
daun kersen dan daun jambu biji atau kombinasi keduanya, pengaruh penambahan
zat aditif terhadap sifat organoleptik susu, sifat fisik susu, serta daya simpan susu
pasteurisasi.
Pasteurisasi adalah pemanasan susu dengan suhu dan waktu tertentu yang
dimaksudkan untuk membunuh sebagaian kuman patogenik yang ada didalam
susu, dengan seminimum mungkin kehilangan gizinya dan mempertahankan
semaksimal mungkin sifat fisik dan cita rasa susu segar. Metode pasteurisasai
pada susu ada dua cara, yaitu: low temperature long time (LTLT) yakni
pasteurisasi pada suhu rendah 62,80C selama 30 menit, sedangkan metode lain
ialah high temperature short time (HTST), yakni pemanasan pada suhu tinggi
71,70C selama 15 detik. Menurut penelitian yang ada pemanasan susu
menggunakan metode HTST memiliki masa simpan yang lebih lama, namun
kadar protein lebih tinggi pada pasteurisasi dengan LTLT (suhu 650C). Metode
lain dalam mengawetkan susu menggunakan zat anti bakterial. Daun Kersen
menggandung senyawa flavonoid, saponin, polifenol dan tanin. Sehingga dapat
digunakan sebagai antioksidan, antibakteri dan antiinflamasi. Daun Jambu Biji
mengandung komponen antibakteri terbesar yakni tanin sebesar 13,51% ditambah
dengan zat antibakteri lainnya seperti alkaloid, flavonoid dan saponin. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak etanol daun kersen 40%
memberikan pengaruh zona hambat tertinggi terhadap Streptococcus agalactiae
dibandingkan dekok daun kersen 20% dan iodips 10%. Selain itu, pada penelitian
lainnya ekstrak daun jambu biji pada konsentrasi 250 ppm – 3250 ppm berpotensi
sebagai anti bakteri terhadap bakteri Aeromonas hydrophila, dengan diameter
zona hambat berkisar antara 6,5 – 11,5 mm.
Keberadaan daun kersen dan daun jambu biji banyak ditemukan di berbagai
daerah. Jumlah yang banyak dari kedua daun tersebut dapat menjadi sebuah
potensi organik untuk memperpanjang umur simpan dari susu tanpa merusak
nutrisi yang ada dialamnya. Selain itu, penelitian ini pada akhirnya dapat
meningkatkan nilai tambah bagi industri pengolahan susu rumahan yang
menggunakan metode pemanasan LTLT.
Keyword : Susu Pasteurisasi LTLT, Ekstrak Daun Kersen, Ekstrak
Daun Jambu Biji, Daya Simpan
- …
