29,688 research outputs found

    Potential for the development of aquaculture in Africa

    Get PDF
    Aquaculture production in Africa has remained low despite the huge potential that exists on the continent. In order for this potential to be realized, it is necessary to refocus the direction of aquaculture development. This paper concludes that for further growth to occur it is necessary to: (i) widen the range of production systems; (ii) increase production intensities and efficiencies; (iii) develop management technologies for indigenous species that target local niche markets; (iv) put more emphasis on marketing and processing of high value products; (v) promote policy research on how aquaculture production can respond to changing macroeconomic policies; and (vi) accelerate the disengagement of government from activities that can best be done by the private sector

    Synthesis of aquaculture policy and development approaches in Africa

    Get PDF
    The WorldFish Center was tasked to undertake a study to access, collate and develop background materials to produce an internationally linked and Africa-wide perspective on sectorally relevant policy issues. The specific objective of the study was to assess and define conditions and impact pathways, in Africa or elsewhere, where markets, policies, resources and technologies have combined to promote steady and sustainable growth of aquaculture, and where have been clear direct impacts on food supply, income, employment and consumption opportunities, as well as increase in supply that has led to stabilised prices. The study was also aimed at providing guidelines for scaling up the implementation of the synthesis study via Afri-FishNet (CAADP Fish Expert Pools) at the national and regional levels

    Potensi Jamu/ramuan Tradisional Untuk Digunakan Dalam Pencegahan Dan Penanggulangan Anemia Gizi

    Full text link
    Telah dilakukan penelitian potensi jamu/ramuan tradisional untuk digunakan dalam pencegahan dan penanggulangan anemi gizi. Pengertian potensi, disini, dilihat dari kandungan zat besi dan zat penghambat absorpsi besi oleh tubuh, yaitu asam fitrat dan tanin dalam jamu. Ramuan atau jamu yang diteliti adalah yang pada kemasannya berlabel tambah darah atau salah satu khasiatnya menyembuhkan kurang darah. Pembelian contoh jamu dari warung-warung dan pasar di wilayah DIY mendapatkan 13 macam jamu jenis serbuk dari berbagai merek, satu macam dalam bentuk pil dan lima macam ramuan jamu godokan atau rebusan. Hasil analisis di laboratorium mendapatkan rata-rata kandungan besi dalam jamu serbuk berkisar 0.33 mg-13.65 mg, asam fitat 3.34 mg-67.65 mg dan tanin 57.89 mg-152.56 mg per bungkus. kandungan besi dalam godokan per 100 ml air rebusan hari pertama berkisar antara 0.19 mg-1.53 mg, asam fitat 23.95 mg-33.15 mg dan tanin 37.84-68.16 mg. Data pola penggunaan jamu dan kadar haemoglobin telah dikumpulkan dari 100 pengguna jamu (49 laki-laki dan 51 perempuan) di wilayah DIY. Sebagian besar (75%) pengguna jamu, sudah biasa menggunakan jamu satu bungkus per minggu, masing-masing 11% pengguna jamu, biasa menggunakan jamu tambah darah lebih dari satu bungkus per minggu dan satu bungkus per bulan. Rata-rata dan simpang baku kadar Hb pengguna jamu laki-laki dan perempuan masing-masing adalah 13.52 ± 1.369 g/dl dan 12.06 ± 1.219 g/dl. Sebanyak 26.5% pengguna jamu laki-laki dan 41.3% pengguna jamu perempuan menderita anemi

    Analisis Bahan Kimia Obat Dalam Jamu Pegal Linu Yang Di Jual Di Surakarta Menggunakan Metode Spektrofotometri UV

    Get PDF
    Bahan kimia obat yang sering ditambahkan dalam jamu pegal linu adalah natrium diklofenak dan fenilbutazon. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kemungkinan kandungan kadar natrium diklofenak dan fenilbutazon dalam jamu pegal linu. Jamu pegel linu yang digunakan pada penelitian ini yaitu 10 macam merek jamu pegel linu yang di jual di sekitar Surakarta. Dengan kriteria jamu pegal linu paling diminati masyarakat. Kromatografi lapis tipis digunakan untuk analisis kualitatif natrium diklofenak dan fenilbutazon. Fase diam yang digunakan gel GF254 dan fase gerak menggunakan 3 sistem yang berbeda. Analisis kuantitatif menggunakan metode Spektrofotometri UV, untuk natrium diklofenak dengan λ maksimal 276 nm dan fenilbutazon dengan λ maksimal 264. Hasil penelitian menunjukkan adanya jamu yang mengandung natrium diklofenak dan fenilbutazon. Kadar natrium diklofenak pada jamu G 41,37 mg/tab dan jamu J 35,65 mg/tab. Presisi metode Spektrofotometri UV untuk penetapan kadar natrium diklofenak memenuhi syarat yaitu RSD 1,35% dan 1%. Kadar fenilbutazon pada jamu B 129,79 mg/tab dan jamu C sebesar 34,35 mg/tab. Presisi metode Spektrofotomeri UV untuk penetapan kadar fenilbutazon memenuhi syarat yaitu RSD 1,34% dan 1,86%

    HARDINESS PADA PENJUAL JAMU GENDONG

    Get PDF
    Sejak ratusan tahun lalu, nenek moyang bangsa Indonesia terkenal terampil dalam meracik jamu dan obat-obatan tradisional. Hal ini membuat sebagian orang berprofesi sebagai penjual jamu gendong. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk memahami motivasi menjadi penjual jamu gendong dan faktor yang mempengaruhi hardiness penjual jamu gendong. Metode pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara. Informan dalam penelitian ini adalah penjual jamu gendong yang sudah berkeluarga dan sudah menjual jamu gendong minimal 5 tahun. Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi menjadi penjual jamu gendong untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan menyekolahkan anak. Selain itu penjual jamu gendong memiliki aspek comitment yang tinggi dibandingkan aspek lainya. Penjual jamu gendong akan terus berusaha untuk memenuhi kebutuhannya dan akan menjual jamu gendong sampai tidak kuat lagi untuk berjualan jamu gendong

    PERANCANGAN MEDIA PROMOSI TOKO JAMU ENGKU KOTA BANDUNG. Indhira Gusyandini Ruchiyat 126010052

    Get PDF
    Kurangnya minat anak muda untuk minum jamu menjadi sebuah masalah karena jamu merupakan salah satu warisan budaya yang harus dilestarikan, maka anak muda berperan penting dalam melestarikannya. Di Kota Bandung terdapat kedai jamu yang berkonsep anak muda bernama Toko Jamu Engku, kedai ini memerlukan rebranding untuk memperkenalkan tokonya lebih luas dan sesuai dengan target. Keyword : Jamu, Anak Muda, Sehat, Rebranding

    Gambaran Praktik Penggunaan Jamu oleh Dokter di Enam Provinsi di Indonesia

    Full text link
    Herbal medicine has been widely used. Government supports become more obvious since the declaration of Saintifikasi Jamu in Januari 2010 in Kendal, Central Java. To obtain this program, inventory of herbal medicine usage by physicians was conducted. This was a cross sectional descriptive study in 6 provinces of Java and Bali. Doctors registered as member of herbal medicine related association were invited and asked to fill a set of structured questionnaire. A total of 108 physicians using Indonesian herbal medicine participated in this study. They were either general practitioners or specialists with median age of 43 (range 26-70 years old). They (76.9%) have used herbal medicine for 1-10 years with median of 2 patients per day (range 0-40). The physicians also practiced other traditional medicines such as acupuncture (47.2 %), massage (7.4 %), acupressure (6.5%). Besides prescribing herbal medicine to their patients, all physicians also consumed herbal medicine for themselves and their family. They used mainly with mono or combined herb in capsule and simplicia. Mostly herbal medicine were given to hypertension, dyslipidemia, diabetes mellitus, acute upper respiratory disease, hepatitis, hyperuricemia, osteoarthritis, diarrhea, cancer, and gastritis. Curcuma xanthorrhiza, Andrographis paniculata, Curcuma domestica (turmeric), Centella asiatica, Orthosiphon aristatus, Apium graveolens (celery), Phylanthus niruri, Guazuma ulmifolia, Zingiber officinale, and Curcuma zedoaria were prescribed. As conclusion, most of the herbal physician in Java and Bali prescribed Indonesian herbal medicine in this 10 years periode combined with foreign herbal medicine and other traditional medicines but still using conventional medicine as the highest standard of theraphy. Key words: herbal medicine, Saintifikasi Jamu, traditional medicine AbstrakPemanfaatan jamu telah berkembang luas. Dukungan pemerintahpun semakin jelas sejak dicanangkannya Saintifikasi Jamu pada bulan Januari 2010 di Kendal. Untuk mencapai kegiatan ini, dilakukan pencatatan penggunaan jamu oleh dokter praktik. Studi deskriptif potong lintang ini dilakukan di 6 provinsi di Jawa dan Bali. Dokter yang terdaftar sebagai anggota perhimpunan seminat terkait jamu diundang dan diminta mengisi kuesioner terstruktur. Sejumlah 108 dokter praktik yang menggunakan jamu asli Indonesia berusia 26-70 tahun, baik dokter umum maupun spesialis, berpendidikan strata 1 hingga strata 3 bersedia menjadi responden. Sebanyak 76,9 % dokter melakukan praktik jamu antara 110 tahun dengan median 2 pasien/hari (kisaran 040). Dokter praktik jamu juga melakukan cara pengobatan tradisional lain seperti akupunktur (47,2 %), pijat/releksi (7,4 %), akupresur (6,5 %). Selain memberikan jamu untuk pasien, semua dokter juga memanfaatkan jamu untuk diri sendiri dan keluarga. Lebih banyak menggunakan jamu asli Indonesia bentuk tunggal atau ramuan dalam sediaan kapsul maupun rebusan simplisia. Jamu terutama untuk pengobatan hipertensi, dislipidemia, diabetes mellitus, ISPA, hepatitis, hiperurisemia, osteoartritis, diare, kanker, dan gastritis. Jenis bahan jamu yang banyak dipakai adalah temulawak, sambiloto, kunyit, pegagan, kumis kucing, seledri, meniran, jati Belanda, jahe, dan kunir putih. Sebagai kesimpulan, sebagian besar dokter praktik jamu di Jawa Bali sudah melakukan praktik menggunakan jamu asli Indonesia dalam 10 tahun terakhir dipadu dengan obat tradisional yang berasal dari luar negeri dan pengobatan tradisional lain namun pengobatan konvensional masih dipegang sebagai standar pengobatan tertinggi. Kata kunci: jamu, saintifikasi jamu, pengobatan tradisiona

    Desain Perangkat Saji Jamu untuk Masyarakat Perkotaan

    Full text link
    Jamu sebagai bagian dari budaya dan tradisi Indonesia seakan kurang mendapat perhatian dari masyarakat perkotaan dengan gaya hidupnyayang modern. Ini disebabkan oleh anggapan masyarakat bahwa jamu merupakan sesuatu yang bersifat kuno dan ketinggalan zaman.Berdasarkan permasalahan tersebut, maka dirancang dan dikembangkanlah perangkat saji jamu tradisional berupa tableware yangmenggabungkan nilai-nilai jamu sebagai tradisi dengan gaya hidup modern yang dianut masyarakat perkotaan masa kini, yang diharapkandapat meningkatkan minat serta apresiasi masyarakat terhadap jamu

    Imagologi Mbok Jamu sebagai Representasi Wanita Etnis Jawa Tradisional dalam Diskursus Stereotype Citra

    Full text link
    Makalah ini mengungkap imagologi yang terjadi pada sosok karakter mbok jamu yang lekat dengan sosio-kultur  Masyarakat Jawa. Penyampaian makalah diawali dengan mengungkap fenomena-fenomena menarik pada pendahuluan, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan mengenai Imagologi. Pembahasan mengenai 'Wanita Jawa dalam Balutan Citra mbok jamu' menjadi pembahasan yang memiliki porsi khusus. Setelah itu diungkap juga stereotip jamu sebagai indeks tradisional dan kuno, Mbok jamu dalam budaya populer hingga komodifikasi imagologi mbok jamu dalam produk desain

    Korelasi Antara Tingkat Pengetahuan Pembuat Jamu Gendong Terhadap Ketepatan Dalam Proses Pembuatan Jamu Gendong Di Desa Jenengan Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tingkat pengetahuan pembuat jamu gendong terhadap ketepatan dalam proses pembuatan jamu gendong di Desa Jenengan Kecamatan Sawit Kabupaten Boyolali. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional, dimana data yang menyangkut variabel bebas dan variabel terikat, akan dikumpulkan dalam waktu yang sama. Alat yang digunakan berupa kuesioner yang kemudian dibagikan kepada responden. Teknik analisis untuk tingkat pengetahuan yaitu tingkat pengetahuan tinggi jawaban benar 75-100% dari 20 pertanyaan, tingkat sedang jawaban benar 45-74% dari 20 pertanyaan, tingkat rendah jawaban benar < 44% dari 20 pertanyaan. Tindakan ketepatan dalam pembuatan jamu dikategorikan menjadi 2, yaitu: tindakan tepat, jika skor jawaban 45-60 dan tindakan tidak tepat, jika jumlah skor jawaban < 44. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi dan melakukan tindakan pembuatan jamu dengan tepat. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan pembuat jamu gendong terhadap ketepatan dalam proses pembuatan jamu gendong yaitu semakin tinggi pengetahuan pembuat jamu gendong maka ketepatan dalam proses pembuatan jamu gendong juga semakin tinggi
    corecore