Dari kelas ke kehidupan, transformasi menyala pembelajaran PAI, dari 3 jam pembelajaran menuju 7 hari kebermaknaan

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) memegang peranan yang amat penting dalam membentuk karakter peserta didik. Namun dalam praktiknya, PAI kerap berhadapan dengan tantangan struktural, terutama keterbatasan jam pelajaran yang hanya tiga jam per pekan. Di sisi lain, Kurikulum Merdeka menuntut terjadinya pembelajaran mendalam—yakni proses belajar yang menyentuh kognisi, afeksi, dan perilaku. Di sinilah muncul paradoks: bagaimana mungkin kedalaman dapat tercapai bila waktu pembelajaran sangat terbatas? Melalui kegelisahan inilah kemudian lahir gagasan brilian dalam buku ini: model “PAI 7 Hari”, sebuah pendekatan yang menghubungkan pembelajaran di kelas dengan praktik kehidupan nyata. Buku ini menegaskan bahwa PAI tidak seharusnya berhenti pada tataran konsep atau hafalan, tetapi harus menjadi laku hidup yang mengalir setiap hari. Dengan kata lain, PAI perlu berpindah dari ruang kelas menuju ruang kehidupan, sebagaimana pesan Rasulullah SAW bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dari hari ke hari merupakan jembatan terbaik untuk mewujudkan nilai tersebut

Similar works

Full text

This paper was published in Malang State Islamic University.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.