Masa remaja merupakan fase yang ditandai dengan banyak perubahan yang terjadi pada individu,
yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti genetika, lingkungan keluarga dan pertemanan, serta
proses pembentukan dan pencarian identitas diri. Dalam proses ini, remaja sering mengandalkan
media sosial sebagai wadah untuk membentuk interaksi sosial. Meskipun media sosial memberikan
kenyamanan dan manfaat, ia juga dapat memberikan dampak negatif yang dapat memicu kecemasan.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara
penggunaan media sosial dengan kecemasan pada remaja. Penelitian ini menggunakan desain
kuantitatif dengan metode survei. Partisipan terdiri dari 195 remaja berusia 12 hingga 21 tahun yang
aktif menggunakan platform media sosial, seperti TikTok, Instagram, Facebook, WhatsApp, dan
Twitter, untuk berinteraksi atau mengunggah konten. Data dikumpulkan menggunakan instrumen
State-Trait Anxiety Inventory (STAI) untuk mengukur kecemasan, serta Social Media Use Integration
Scale (SMUIS) untuk mengukur penggunaan media sosial. Teknik analisis data yang digunakan
adalah korelasi Pearson’s r dengan menggunakan software SPSS versi 22 untuk Windows.
Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan
kecemasan state pada remaja, dengan koefisien korelasi sebesar 0.622 (p < 0.05). Adanya hubungan
yang signifikan antara penggunaan media sosial dengan kecemasan trait pada remaja, dengan
koefisien korelasi sebesar 0.698 (p < 0.05). Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tingginya
tingkat penggunaan media sosial, semakin tinggi pula tingkat kecemasan yang dialami oleh remaja
Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.