research article review

Hubungan Regulasi Emosi dengan Subjective Well-Being pada Emerging Adulthood yang memiliki Orang Tua Bercerai

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara regulasi emosi dan subjective well-being pada emerging adulthood yang memiliki orang tua bercerai. Subjective well-being merujuk pada penilaian individu mengenai kualitas hidup, termasuk kepuasan hidup serta pengalaman emosi positif dan negatif. Perceraian orang tua kerap memunculkan dinamika emosional yang kompleks sehingga kemampuan regulasi emosi menjadi penting dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel terdiri dari 100 emerging adulthood berusia 18–25 tahun yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan meliputi Emotion Regulation Questionnaire (ERQ) oleh Sepda (2018), Satisfaction with Life Scale (SWLS) oleh Diener dkk. (1985), serta Scale of Positive and Negative Experience (SPANE) oleh Diener dkk. (2009). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linear sederhana melalui IBM SPSS Statistics 26. Hasil penelitian menunjukkan hubungan positif signifikan antara regulasi emosi dan subjective well-being (rs = 0,400; p = 0,000). Regulasi emosi juga memberikan kontribusi sebesar 15,3% terhadap subjective well-being, yang menegaskan bahwa kemampuan mengatur emosi berperan penting dalam meningkatkan subjective well-being

Similar works

This paper was published in Universitas Airlangga Repository.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.