Laporan Kasus: Proses Asuhan Gizi Terstandar pada Pasien Miastenia Gravis dengan Disfagia dan Malnutrisi: Case Report: Nutrition Care Process in a Patient with Myasthenia Gravis, Dysphagia, and Malnutrition

Abstract

Myasthenia gravis is a chronic autoimmune neuromuscular disorder characterized by impaired transmission at the neuromuscular junction, resulting in fluctuating skeletal muscle weakness. Oropharyngeal muscle involvement frequently causes dysphagia, which can significantly impair oral intake and increase the risk of malnutrition. This case report describes the implementation of the Nutrition Care Process (NCP) in a patient with myasthenia gravis complicated by dysphagia and severe malnutrition, as defined by the Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM) criteria, and evaluates changes in nutritional and clinical status during hospitalization. The patient was a 36-year-old male presenting with severe malnutrition, evidenced by a 42% unintentional weight loss over 16 months and a body mass index (BMI) of 12.58 kg/m². Nutritional management was initiated progressively, beginning with enteral nutrition via a nasogastric tube, followed by a gradual transition to combined enteral and oral feeding according to swallowing function and gastrointestinal tolerance. Nutritional interventions and patient responses were monitored over an 18-day hospitalization period using anthropometric measurements, biochemical parameters, clinical assessments, and dietary intake evaluation. Energy intake was gradually increased from 1,500 kcal/day to 2,100 kcal/day, while protein intake rose from 71 g/day to 89 g/day. No clinical or biochemical signs of refeeding syndrome were observed throughout the intervention. Improvements in nutritional intake were accompanied by a 2 kg increase in body weight, resulting in an increase in BMI to 13.15 kg/m². Clinical outcomes also improved, as indicated by a reduction in the Myasthenia Gravis Composite Score from 6 to 2, reflecting enhanced swallowing function and neuromuscular strength. This case underscores the importance of individualized, progressive nutritional management supported by interdisciplinary collaboration in improving nutritional status and clinical outcomes in patients with myasthenia gravis and dysphagia. Appropriate implementation of the Nutrition Care Process plays a crucial role in supporting recovery and optimizing quality of life in this vulnerable population.Myasthenia gravis adalah gangguan neuromuskular autoimun kronis yang ditandai dengan gangguan transmisi di persimpangan neuromuskular, yang menyebabkan kelemahan otot rangka yang fluktuatif. Keterlibatan otot orofaringeal seringkali menyebabkan disfagia, yang dapat mengganggu asupan oral dan secara signifikan meningkatkan risiko malnutrisi. Laporan kasus ini bertujuan untuk menggambarkan penerapan asuhan gizi pada pasien dengan miastenia gravis yang disertai disfagia dan malnutrisi berat, sesuai dengan kriteria Global Leadership Initiative on Malnutrition (GLIM), serta mengevaluasi perubahan status gizi dan klinis selama rawat inap. Subjek adalah seorang pria berusia 36 tahun yang mengalami malnutrisi berat, ditandai dengan penurunan berat badan tidak disengaja sebesar 42% selama 16 bulan dan indeks massa tubuh (BMI) 12,58 kg/m². Pengelolaan gizi dilakukan secara bertahap, dimulai dengan pemberian nutrisi enteral melalui selang nasogastrik (NGT), diikuti dengan transisi bertahap ke kombinasi nutrisi enteral dan oral berdasarkan kemampuan menelan dan toleransi gastrointestinal. Intervensi gizi dan respons pasien dipantau selama masa rawat inap 18 hari menggunakan pengukuran antropometri, parameter biokimia, penilaian klinis, dan evaluasi asupan diet. Selama intervensi, tidak terdapat tanda klinis atau biokimia sindrom refeeding. Asupan energi meningkat dari 1.500 kkal/hari menjadi 2.100 kkal/hari, sementara asupan protein meningkat dari 71 g/hari menjadi 89 g/hari. Peningkatan ini disertai dengan kenaikan berat badan sebesar 2 kg, yang mengakibatkan peningkatan BMI menjadi 13,15 kg/m². Hasil klinis juga membaik, seperti yang ditunjukkan oleh penurunan Skor Komposit Myasthenia Gravis (MGCS) dari 6 menjadi 2, yang menunjukkan peningkatan fungsi menelan dan kekuatan neuromuskular. Kasus ini menyoroti peran kritis manajemen nutrisi yang disesuaikan secara individual dan progresif, didukung oleh kolaborasi interdisipliner, dalam meningkatkan status gizi dan hasil klinis pada pasien dengan myasthenia gravis dan disfagia. Terapi gizi medis yang tepat sangat penting dalam mendukung pemulihan dan mengoptimalkan kualitas hidup pada populasi yang rentan ini.

Similar works

Full text

thumbnail-image

Scientific Journals of Bogor Agricultural University

redirect
Last time updated on 17/01/2026

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.