Luka Gigitan Buaya: Tata Laksana Berkesinambungan dari Pra-Rumah Sakit ke Rumah Sakit

Abstract

Abstract—East Kalimantan Province is a tropical region with rivers that serve as habitats for various wildlife, including crocodiles. The province has a relatively high incidence of human–crocodile conflicts. Crocodile bites often result in extensive wounds with a high risk of infection. Hypovolemic or septic shock represents a medical emergency that requires careful attention in such cases. Crocodile bite injuries can significantly reduce quality of life due to tissue damage, chronic pain, and impaired limb function, leading to limited activity and decreased social participation. Prompt, appropriate, and continuous management is essential to prevent complications and mortality.  Keywords: crocodile bite, continuity of care, wound   Abstrak—Provinsi Kalimantan Timur merupakan daerah tropis dengan sungai yang menjadi habitat dari banyak satwa, salah satunya buaya. Kalimantan Timur memiliki konflik antara buaya dan manusia yang cukup tinggi. Luka gigitan buaya sering kali menyebabkan luka yang luas dengan risiko infeksi yang cukup tinggi. Keadaan syok hipovolemik atau syok septik merupakan kegawatdaruratan yang perlu diperhatikan pada kasus gigitan buaya. Luka gigitan buaya dapat menurunkan kualitas hidup akibat kerusakan jaringan, nyeri kronis, dan gangguan fungsi anggota tubuh yang berdampak pada keterbatasan aktivitas serta penurunan partisipasi sosial. Pertolongan yang cepat, tepat, dan berkesinambungan merupakan modalitas utama dalam pencegahan komplikasi dan kematian. Kata kunci: gigitan buaya, luka, perawatan berkesinambunga

Similar works

This paper was published in Jurnal Online Universitas Surabaya.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.

Licence: http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0