Strategi nelayan tradisional dalam menghadapi perubahan iklim : studi di Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang

Abstract

Penelitian ini mengkaji strategi adaptasi nelayan tradisional di Kelurahan Mangkang Wetan, Kecamatan Tugu, Kota Semarang dalam menghadapi dampak perubahan iklim meliputi: (1) Permasalahan ekonomi, (2) Permasalahan sosial, (3) Kesulitan lainnya yang dialami nelayan, (4) Tantangan bagi nelayan tradisional. Berdasarkan latar belakang tersebut, saya ingin meneliti mengenai bagaimana perubahan iklim yang menjadi persoalan penting bagi nelayan tradisional di Mangkang Wetan, serta bagaimana mempengaruhi kehidupan sosial dan ekonomi nelayan. Penelitian ini adalah penelitian lapangan yang menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif. Sumber data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Data primer dalam penelitian ini bersumber langsung dari informan penelitian, yaitu Nelayan tradisional di Mangkang Wetan. Sedangkan data sekunder dalam penelitian ini bersumber dari buku, artikel jurnal, serta dokumen. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi non-partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Penentuan informan dilakukan menggunakan teknik Purposive. Teori yang dipakai adalah teori moral ekonomi James C. Scott, penelitian ini bertujuan memahami secara mendalam fenomena sosial dan strategi adaptasi yang diterapkan masyarakat nelayan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi adaptasi yang dijalankan nelayan meliputi tiga aspek utama: (1) membangun dan memperkuat jaringan sosial dalam komunitas nelayan yang berfungsi sebagai wadah solidaritas, berbagi informasi cuaca, dan bantuan saat krisis; (2) memanfaatkan teknologi, seperti informasi cuaca dari BMKG dan penggunaan grup WhatsApp nelayan, untuk meminimalkan risiko saat melaut; dan (3) melakukan diversifikasi pekerjaan, seperti menjadi buruh bangunan, ikut proyek, menyewakan perahu, dan membudidayakan kerang hijau. (4) Pengambilan keputusan bersama untuk saling membantu, berbagi informasi, dan mencari solusi atas berbagai persoalan seperti cuaca ekstrem, penurunan hasil tangkapan, atau kendala teknis saat melaut. Temuan ini menunjukkan bahwa ketahanan sosial-ekologis masyarakat pesisir dipengaruhi oleh fleksibilitas, solidaritas, dan inovasi lokal dalam menghadapi krisis iklim. ABSTRACT: This research examines the adaptation strategies of traditional fishermen in Mangkang Wetan Village, Tugu Subdistrict, Semarang City in facing the impacts of climate change, including: (1) economic problems, (2) social problems, (3) other difficulties experienced by fishermen, (4) challenges for traditional fishermen. Based on this background, I would like to examine how climate change is an important issue for traditional fishermen in Mangkang Wetan, and how it affects the social and economic lives of fishermen. This research is a field research that uses qualitative research methods using a descriptive approach. The data sources used in this research are primary and secondary data. Primary data in this research comes directly from research informants, namely traditional fishermen in Mangkang Wetan. Meanwhile, secondary data in this research comes from books, journal articles, and documents. Data collection techniques in this study used non-participatory observation, in-depth interviews, and documentation. Purposive technique was used to determine the informants. The theory used is James C. Scott's moral economy theory. Scott, this research aims to deeply understand social phenomena and adaptation strategies applied by fishing communities. The results show that the adaptation strategies implemented by fishermen include three main aspects: (1) building and strengthening social networks within the fishing community that serve as a forum for solidarity, sharing weather information, and assistance in times of crisis; (2) utilizing technology, such as weather information from BMKG and the use of fishermen's WhatsApp groups, to minimize risks when going to sea; and (3) diversifying work, such as becoming construction workers, joining projects, renting boats, and cultivating green mussels. (4) Joint decision-making to help each other, share information, and find solutions to problems such as extreme weather, declining catches, or technical problems at sea. The findings suggest that the social-ecological resilience of coastal communities is influenced by local flexibility, solidarity and innovation in the face of the climate crisis

Similar works

This paper was published in Walisongo Institutional Repository.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.

Licence: cc_by_nc_nd_4