This study investigates Hamka’s reformist epistemology by examining the modernist genealogies and hermeneutical strategies that shaped his intellectual project in the Malay Indonesian world. While previous scholarship has highlighted Hamka as a literary figure, nationalist thinker, or religious leader, limited attention has been given to the systematic ways in which he internalized, adapted, and transformed the rational modernism of Muhammad Abduh into a distinct framework of Islamic renewal. Addressing this gap, the study aims to identify the intellectual transmission of Abduh’s ideas into Hamka’s corpus, analyze the interpretive principles embedded in Tafsir al Azhar and related writings, and explain how these principles contributed to the emergence of a localized yet cosmopolitan modernist discourse. Methodologically, the research employs qualitative textual analysis, intellectual genealogy, and historical contextualization using primary sources from Hamka’s tafsir, essays, speeches, and archival materials, complemented by secondary analyses of Southeast Asian reform movements. The findings reveal that Hamka developed a reformist epistemology grounded in rational inquiry, ethical intentionality, and the rejection of uncritical conformity, while simultaneously constructing a vernacularized model of Islamic modernity attuned to Malay Indonesian socio cultural realities. This synthesis produced a transformative religious discourse that reshaped educational, doctrinal, and public life across the region. The study contributes theoretically by repositioning Hamka within the global trajectory of Islamic modernism and demonstrating how peripheral intellectual spaces generate original models of reform. Its implications extend to contemporary debates on Islamic hermeneutics, religious authority, and the ongoing negotiation of modernity in Muslim Southeast Asia.Artikel ini bermaksud mengkaji latar belakang sejarah pertumbuhan gerakan pembaharuan Islam yang muncul di Minangkabau yang dipelopori oleh Haji Abdul Malik bin Abdul Karim Amrullah atau nama singkatannya Hamka (1908-1981). Isu utama yang dibincangkan ialah konteks pembaharuan sosio-agama yang dicetuskannya dalam arus kemodenan, dan naratif yang terkait tentang pemurnian agama, perjuangan moden dan kesedaran spiritual. Pandangan agamanya memberi pengaruh yang mendalam dalam membangkitkan kesedaran dan perjuangan agama kaum Muda yang tercetus pada permulaan abad ke 20 di kepulauan Melayu-Indonesia. Ia terkesan dengan gagasan-gagasan moden yang dikembangkan dari ajaran Shaykh Muhammad Abduh (1849-1905) yang memberi pengaruh yang fenomenal dan menentukan di gugusan Melayu tersebut. Gerakan pembaharuan ini dipelopori oleh golongan modernis (Kaum Muda) yang menyebarkan idea-idea pembaharuan yang progresif dan dinamik menerusi berkala dan akhbar yang diterbitkan mereka seperti Al-Imam, Al-Munirdan Saudara. Antara perintis yang terawal dalam perjuangan Kaum Muda adalah bapanya sendiri Haji Rasul dan Kiyai Haji Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Perjuangan ini diwarisi oleh Hamka yang menjadi tonggak dan kekuatan penting dalam pergerakan Muhammadiyah dan penganjur utama idea-idea reformis yang diilhamkan oleh Abduh melalui aktiviti dan penulisannya yang berpengaruh. Dapatan kajian ini merumuskan bahawa gerak perjuangannya telah membawa kesan yang meluas dalam kesedaran moden yang dicetuskan oleh gerakan tajdid dan islah yang tersusun dalam pergerakan Muhammadiyah yang dipimpinnya. Justeru artikel ini ingin menzahirkan legasi dan sumbangannya yang bermakna dalam sejarah dan tradisi pembaharuan dan pemodenan Islam di dunia Melayu
Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.