Kulon Progo pada tahun 2023 menjadi Kabupaten dengan CFR tertinggi pada kasus leptospirosis mengakibatkan 2 Kapanewon ditetapkan menjadi wilayah KLB yaitu Kapanewon Girimulyo dan Nanggulan. Salah satu cara untuk mengetahui persebaran dan sebagai upaya meningkatkan pencegahan dimasa mendatang yaitu dengan memanfaatkan analisis pada Sistem Informasi Geografis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran sebaran kasus berdasarkan ketinggian tempat, penggunaan lahan dan kerapatan vegetasi serta pola sebaran di Kapanewon Girimulyo dan Nanggulan. Penelitian ini dilakukan secara retrosprektif dengan menggunakan data sekunder (Dinkes Kulon Progo) penderita leptospirosis pada tahun 2023-2024 di Kapanewon Girimulyo dan Nanggulan dengan jumlah penderita sebanyak 37 kasus. Penderita leptospirosis mayoritas Kejadian leptospirosis mayoritas berada pada ketinggian wilayah 100 – 138 mdpl atau dataran rendah dengan memanfaatkan IDW. Persebaran kasus terjadi pada jenis penggunaan lahan sungai, sawah, hutan, kebun, dan semak belukar. Pemetaan kejadian leptospirosis berdasarkan kerapatan vegetasi dengan memanfaatkan analisis NDVI menghasilkan tingkat kerapatan vegetasi yang terluas adalah kelas kehijauan sedang dengan luas sebesar 4.099,77 Hektar dan pola sebaran yang terbentuk adalah Random dengan memanfaatkan ANN karena nilai T yang dihasilkan 0,916854. Saran yang yang diberikan adalah melakukan penyuluhan dengan memprioritaskan masyarakat pada dataran rendah, melakukan penyeprotan desinfektan pada penggunaan lahan yang beresiko, dan masyarakat diharapkan menggunakan Alat Pelindung Diri dan balut luka terbuka dengan benar
Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.