Repository Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Not a member yet
9751 research outputs found
Sort by
SEBARAN PENYAKIT LEPTOSPIROSIS BERDASARKAN FAKTOR LINGKUNGAN DI KAPANEWON GIRIMULYO DAN NANGGULAN KABUPATEN KULON PROGO TAHUN 2023-2024
Kulon Progo pada tahun 2023 menjadi Kabupaten dengan CFR tertinggi pada kasus leptospirosis mengakibatkan 2 Kapanewon ditetapkan menjadi wilayah KLB yaitu Kapanewon Girimulyo dan Nanggulan. Salah satu cara untuk mengetahui persebaran dan sebagai upaya meningkatkan pencegahan dimasa mendatang yaitu dengan memanfaatkan analisis pada Sistem Informasi Geografis. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran sebaran kasus berdasarkan ketinggian tempat, penggunaan lahan dan kerapatan vegetasi serta pola sebaran di Kapanewon Girimulyo dan Nanggulan. Penelitian ini dilakukan secara retrosprektif dengan menggunakan data sekunder (Dinkes Kulon Progo) penderita leptospirosis pada tahun 2023-2024 di Kapanewon Girimulyo dan Nanggulan dengan jumlah penderita sebanyak 37 kasus. Penderita leptospirosis mayoritas Kejadian leptospirosis mayoritas berada pada ketinggian wilayah 100 – 138 mdpl atau dataran rendah dengan memanfaatkan IDW. Persebaran kasus terjadi pada jenis penggunaan lahan sungai, sawah, hutan, kebun, dan semak belukar. Pemetaan kejadian leptospirosis berdasarkan kerapatan vegetasi dengan memanfaatkan analisis NDVI menghasilkan tingkat kerapatan vegetasi yang terluas adalah kelas kehijauan sedang dengan luas sebesar 4.099,77 Hektar dan pola sebaran yang terbentuk adalah Random dengan memanfaatkan ANN karena nilai T yang dihasilkan 0,916854. Saran yang yang diberikan adalah melakukan penyuluhan dengan memprioritaskan masyarakat pada dataran rendah, melakukan penyeprotan desinfektan pada penggunaan lahan yang beresiko, dan masyarakat diharapkan menggunakan Alat Pelindung Diri dan balut luka terbuka dengan benar
GAMBARAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH (IPAL) RUMAH SAKIT BHAYANGKARA POLDA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
GAMBARAN PENGOLAHAN LIMBAH CAIR
DI INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH RUMAH SAKIT
BHAYANGKARA POLDA DIY
Nanda Risky Ramadhani1, Bambang Suwerda2, Tri Mulyaningsih3
1,2,3 Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Jl. Tatabumi, Banyuraden, Gamping, Sleman
email : [email protected]
ABSTRAK
Rumah sakit merupakan instansi yang cukup banyak menghasilkan limbah. Limbah tersebut dapat dikategorikan se-bagai limbah yang berbahaya maka diperlukan sistem pengolahan limbah cair rumah sakit sehingga ketika di keluarkan ke lingkungan tidak memiliki dampak bagi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pengolahan limbah cair di Instalasi Pengolahan Air Limbah di Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY Tahun 2025 menggunakan parameter pH, BOD, COD, TDS, daan TSS. Penelitian ini menggunakan metode deskritptif kualitatif dengan cara mengumpulkan data melalui pengujian sampel sebanyak 3 kali pengulangan ke laboratorium dan melakukan wawancara. Instalasi Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Bhayangkara Pilda DIY menggunakan teknologi ABR (Anaerobic Buffled Reactor) sebagai sistem pengolahan yang dilengkapi dengan 6 unit penunjang yaitu unit Equalisasi, Anaerob, Anoksid, Aerob, Bak akhir dan Filter carbon dan UV. IPAL Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY dapat menurunkan kadar (removal efficiency) Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), Total Dissolved Solids (TDS), and Total Suspended Solids (TSS), dengan persentase penurunan sebesar 70.91%, 55.37%, 8,39%and 83.81%. Kualitas effluent air limbah Rumah Sakit Bhayangkara Polda DIY sudah memenuhi Perda DIY No. 7 Tahun 2016 tentang Baku Mutu Air Limbah.
Kata Kunci : IPAL, rumah sakit, kualitas air limba
ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN PADA NY. W USIA 23 TAHUN G2P0AB1AH0 USIA KEHAMILAN 40 MINGGU 1 HARI DENGAN KEHAMILAN BERISIKO TINGGI DI PUSKESMAS PANDAK I
Kesehatan ibu dan bayi merupakan tolok ukur utama dalam menilai kualitas sistem
pelayanan kesehatan suatu negara. Di Indonesia, meskipun berbagai program intervensi
telah diterapkan, tantangan dalam menurunkan angka morbiditas dan mortalitas maternal
maupun neonatal masih cukup besar. Continuity of Care (COC) merupakan solusi
pendekatan pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan terintegrasi, mencakup
seluruh tahapan penting dalam siklus reproduksi perempuan, yakni dari masa kehamilan,
persalinan, bayi baru lahir, masa nifas, perawatan neonatus, hingga pelayanan keluarga
berencana. COC bertujuan untuk memastikan setiap ibu dan bayi menerima pelayanan
yang konsisten, berkualitas, dan saling terhubung antar fase perawatan.
Ny. W, seorang perempuan berusia 23 tahun dengan status obstetri G2P0Ab1Ah0,
secara rutin menjalani pemeriksaan kehamilan di Puskesmas Pandak I, Praktik Mandiri
Bidan (PMB), dan RS UII. Pendampingan kebidanan dimulai pada usia kehamilan 40
minggu 1 hari melalui kunjungan rumah serta pemantauan berkala menggunakan media
WhatsApp. Selama kehamilan, ditemukan komplikasi berupa obesitas, yang ditangani
melalui pendekatan kolaboratif bersama ahli gizi untuk pengaturan pola makan serta dokter
umum untuk memantau kondisi kesehatan umum ibu. Karena kehamilan telah melewati
Hari Perkiraan Lahir (HPL), Ny. W dirujuk ke dokter spesialis kebidanan untuk evaluasi
lebih lanjut.
Persalinan berlangsung secara spontan setelah dilakukan induksi karena ketuban
pecah dini dengan kondisi pembukaan yang tidak mengalami kemajuan. Bayi lahir dalam
keadaan sehat, menangis kuat segera setelah lahir, dengan tonus otot baik dan warna kulit
kemerahan. Berat badan lahir bayi tercatat 2.670 gram, panjang badan 48 cm, dan lingkar
kepala 33 cm. Bayi atas nama An. D mendapatkan perawatan bayi baru lahir lengkap
(BBLC), dalam kondisi cukup bulan (CB), dan normal. Selama masa neonatus, bayi berada
dalam kondisi sehat, namun pada minggu kedua menunjukkan tanda-tanda ikterik
neonatorum derajat II menurut Kramer. Penanganan dilakukan dengan pemberian ASI
secara adekuat dan terapi sinar matahari. Pada masa nifas, tidak ditemukan komplikasi
maupun masalah kesehatan pada ibu. Asuhan kebidanan masa nifas diberikan sesuai
dengan kebutuhan individu ibu. Pada minggu ke-6 pasca persalinan, ibu memutuskan untuk
menggunakan kontrasepsi suntik progestin sebagai metode keluarga berencana
GAMBARAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS SAPTOSARI TAHUN 2024
GAMBARAN KEJADIAN KEKURANGAN ENERGI KRONIS (KEK) PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS SAPTOSARI TAHUN 2024
Manda Eriska1, Sumarah2, Munica Rita Hernayanti3
1,2,3 Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,
Jl. Mangkuyudan, MJ III/304, Yogyakarta 55143
Email: [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Kekurangan Energi Kronis (KEK) merupakan masalah gizi utama pada ibu hamil yang berdampak serius terhadap kesehatan ibu dan janin, seperti anemia, persalinan prematur, Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), dan stunting. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Gunungkidul tahun 2023, Puskesmas Saptosari mencatat prevalensi KEK tertinggi sebesar 24,71%. Meskipun mengalami penurunan, angka KEK pada tahun 2024 masih tinggi, yaitu sebesar 16,30%, dan belum mencapai target nasional sebesar 10%. Kondisi ini menjadi dasar untuk mengetahui karakteristik ibu hamil dengan KEK di wilayah tersebut.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kejadian KEK pada ibu hamil berdasarkan usia, tingkat Pendidikan, pekerjaan,gravida, status Indeks Masa Tubuh (IMT), dan kadar Hemoglobin (Hb) trimester pertama di Puskesmas Saptosari Tahun 2024.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel terdiri dari 44 ibu hamil dengan KEK yang tercatat dalam kohort dan e-rekam medis Puskesmas Saptosari periode Januari–Desember 2024. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase.
Hasil: Sebagian besar responden berusia 20–35 tahun (86,4%), berpendidikan menengah (61,4%), tidak bekerja (63,6%), primigravida (65,9%), memiliki status IMT kurang (50%), dan kadar Hb normal (72,7%).
Kesimpulan: Gambaran karakteristik ibu hamil dengan KEK di Puskesmas Saptosari tahun 2024 menunjukkan dominasi kelompok usia tidak berisiko, pendidikan menengah, ibu rumah tangga, primigravida, status gizi kurang, dan kadar Hb normal.
Kata Kunci: Kekurangan Energi Kronis (KEK), Ibu Hamil, Giz
PENGARUH PENGGUNAAN DONUT PILLOW GEL TERHADAP KEBERHASILAN INTUBASI PADA PASIEN GENERAL ANESTESI DI RSUD KOTA BANDUNG
Latar Belakang: Penggunaan bantal untuk intubasi dengan posisi sniffing telah dianggap sebagai standar untuk penyelarasan optimal sumbu laring, faring, dan oral. Penggunaan donut pillow gel setinggi 5 cm di bawah kepala pasien pada saat intubasi dirancang untuk membantu posisi ideal saat intubasi. Penggunaan alat ini diharapkan meningkatkan visualisasi jalan napas dan keberhasilan intubasi. Tujuan: Mengetahui pengaruh penggunaan donut pillow gel terhadap keberhasilan intubasi pada pasien general anestesi di RSUD Kota Bandung. Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan posttest only with control group. Penelitian dilaksanakan pada bulan Februari– Maret 2025 di IBS RSUD Kota Bandung dengan jumlah sampel sebanyak 80 pasien yang menjalani general anestesi dengan intubasi, yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi Square. Hasil: Terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan donut pillow gel dengan keberhasilan intubasi (p = 0,019). Nilai odds ratio (OR) sebesar 4,678 menunjukkan bahwa pasien yang menggunakan donut pillow gel memiliki kemungkinan keberhasilan intubasi hampir 5 kali lebih besar dibandingkan pasien yang tidak menggunakannya. Kesimpulan: Penggunaan donut pillow gel terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap keberhasilan intubasi pada pasien dengan general anestesi di RSUD Kota Bandung. Kata Kunci: General anestesi, intubasi, donut pillow gel, keberhasilan intubas
PENGARUH PENGGUNAAN BACK SUPPORT UNTUK PENINGKATAN KEMUDAHAN PEMASANGAN LARYNGEAL MASK AIRWAY DI IBS RSUD KANJURUHAN MALANG
Latar Belakang: Laryngeal Mask Airway (LMA) merupakan alat bantu jalan napas yang sering digunakan dalam anestesi umum karena lebih mudah dibandingkan intubasi endotrakeal. Keberhasilan pemasangan LMA sangat dipengaruhi oleh posisi tubuh pasien, sehingga diperlukan strategi untuk memperbaikinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan back support terhadap keberhasilan pemasangan LMA di IBS RSUD Kanjuruhan Malang.
Tujuan: Mengetahui pengaruh penggunaan back support terhadap kemudahan pemasangan Laryngeal Mask Airway (LMA)
Metode: Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimen dengan pendekatan posttest only control group design. Sampel terdiri dari 60 pasien yang menjalani operasi elektif dengan anestesi umum menggunakan LMA, dibagi menjadi dua kelompok: kelompok intervensi (menggunakan back support) dan kelompok kontrol (tanpa back support). Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan tingkat kemudahan pemasangan LMA antara kedua kelompok..
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok yang menggunakan back support, sebanyak 26 responden mengalami kemudahan pemasangan LMA pada percobaan pertama, sedangkan pada kelompok tanpa back support hanya 10. Uji Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat pengaruh yang signifikan antara penggunaan back support dengan kemudahan pemasangan LMA.
Kesimpulan: Ada pengaruh penggunaan back support terhadap kemudahan pemasangan Laryngeal Mask Airwa
PENGELOLAAN SAMPAH DI INTERMEDIATE TREATMENT FACILITY (ITF) PASAR NITEN KASIHAN BANTUL
Latar Belakang : Salah satu permasalahan sampah yang cukup rumit adalah permasalahan sampah pasar. Pada tahun 2023, Kabupaten Bantul hanya mampu mengolah sampah sekitar 70,2% yang berdampak dengan meningkatnya kasus leptospirosis hingga 168 kasus. Mengatasi hal tersebut, Kabupaten Bantul membangun fasilitas pengolahan sampah modern salah satunya yaitu Intermediate Treatment Facility (ITF) Pasar Niten. Namun dalam implementasinya ITF Pasar Niten belum mampu mengolah seluruh sampah yang masuk sehingga mengakibatkan penumpukan sampah pada fasilitas ini.
Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengelolaan sampah pasar di Intermediate Treatment Facility (ITF) Pasar Niten.
Metode : Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan observasional. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara dengan petugas pengelola sampah, dan dokumentasi terkait proses pengelolaan sampah di (ITF) (ITF) Pasar Niten.
Hasil : Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Pasar Niten meliputi tahap pengumpulan dan pengangkutan, pemilahan, pengolahan sampah organik serta pengolahan sampah anorganik. Namun, masih ditemukan beberapa kendala seperti keterbatasan sarana dan prasarana, pemantauan rutin terhadap proses dan hasil pengolahan, serta penggunaan APD petugas pengelola sampah.
Kesimpulan : Pengelolaan sampah di Intermediate Treatment Facility (ITF) Pasar Niten sudah berjalan secara sistematis dan rutin, namun masih memerlukan peningkatan, terutama dalam aspek kapasitas sarana dan prasarana pengolahan sampah serta penggunaan APD petugas pengelola sampah.
Kata Kunci : sampah pasar, pengelolaan sampah, ITF, kompos, sampah organik
KAJIAN KESESUAIAN SPESIFIKASI PENERIMAAN BUAH DI INSTALASI GIZI RSUD WONOSARI
KAJIAN KESESUAIAN SPESIFIKASI PENERIMAAN BUAH DI
INSTALASI GIZI RSUD WONOSARI
Shendy Aulia Eka Saputri1, Tjarano Sari2, Esthy Rahman Asih3
1,2,3Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Jl. Tatabumi No.3 Banyuraden, Gamping, Sleman
Email : [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang : Pelayanan gizi berperan penting dalam mendukung
penyembuhan pasien, sehingga kualitas bahan makanan, termasuk buah, harus
sesuai spesifikasi. Hasil penelitian di Instalasi Gizi RSUD Wonosari menunjukkan
adanya ketidaksesuaian dalam penerimaan buah, baik dari segi jumlah maupun
kualitas akibat kerusakan saat pengiriman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
kesesuaian spesifikasi penerimaan buah di instalasi Instalasi Gizi RSUD
Wonosari guna mengetahui sejauh mana kesesuaian spesifikasi penerimaan telah
diterapkan.
Tujuan : Diketahuinya proses penerimaan bahan makanan buah terhadap
kesesuaian spesifikasi jumlah dan kualitas. di Instalasi Gizi RSUD Wonosari.
Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan metode observasional. Objek
dalam penelitian ini adalah semua bahan makanan buah yang diterima dalam
waktu 10 hari pada siklus menu di Instalasi Gizi RSUD Wonosari. Variabel
penelitian ini yaitu kesesuaian penerimaan buah, jumlah dan kualitas penerimaan
bahan makanan buah.
Hasil Penelitian : Penerimaan bahan makanan buah dari menu I hingga menu X
menunjukkan bahwa kesesuaian penerimaan berdasarkan kesesuaian nama buah
mencapai rata-rata 100%, yang berarti seluruh buah yang diterima sesuai dengan
pesanan. Kesesuaian penerimaan berdasarkan jumlah buah rata-rata mencapai
97,5%. Ketidak kesesuaian jumlah terjadi pada menu II dengan persentase 2,5%,
ditandai oleh kekurangan sebanyak 100 gram, namun pihak rekanan segera
melengkapi bahan tersebut pada hari berikutnya. Sementara itu, kesesuaian
kualitas bahan makanan buah mencapai 96%, dengan ketidaksesuaian kualitas
ditemukan pada menu V sebesar 4%, yang disebabkan oleh bentuk dan kesegaran
buah yang tidak memenuhi standar.
Kesimpulan : Penerimaan bahan makanan buah di Instalasi Gizi RSUD Wonosari
belum tepa
PENGARUH NATRIUM BORAT PADA MEDIA UMPAN TERHADAP MORTALITAS RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus)
PENGARUH NATRIUM BORAT PADA MEDIA UMPAN TERHADAP MORTALITAS RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus)
Dessy Lailatul Maghfiroh, Sarjito Eko Windarso, Rizki Amalia
Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta
Jl. Tata Bumi No.3, Banyuraden, Gamping, Sleman
email: [email protected], [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Latar Belakang: Interaksi antara rayap dengan bangunan sangat mempengaruhi ketahanan, keamanan, serta kenyamanan bangunan tempat tinggal manusia. Salah satu rayap yang banyak menyebabkan kerugian adalah rayap tanah (Coptotermes curvignathus) yang merupakan serangga ordo Isoptera. Natrium borat merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan pada pengendalian rayap dengan berbagai metode salah satunya metode pengumpanan.
Tujuan: Mengetahui pengaruh variasi natrium borat pada media umpan terhadap mortalitas rayap tanah (Coptotermes curvignathus).
Metode: Penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Eksperiment Design) dengan desain penelitian menggunakan Post Test Only with Control Group Design. Penelitian ini dilaksanakan dalam skala laboratorium pada 10 – 17 Mei 2025. Target populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rayap tanah (Coptotermes curvignathus). Sampel dalam penelitian ini adalah rayap tanah (Coptotermes curvignathus) dewasa sebanyak 800 ekor didapat dari kayu yang berada di sekitar rumah peneliti. Analisis data dilakukan dengan pengujian normalitas menggunakan uji Shapiro-Wilk kemudian dilanjutkan dengan uji one way anova.
Hasil: Rata-rata mortalitas rayap tanah pada variasi natrium borat 5 gr sebesar 80%, pada variasi natrium borat 7 gr rata-rata mortalitas rayap tanah sebesar 88,5%, sedangkan pada variasi natrium borat 9 gr rata-rata mortalitas rayap tanah sebesar 80,5%. Hasil uji one way anova menunjukkan nilai p=0,306 atau p >0.05 sehingga hasil analisis statistik tidak menunjukkan perbedaan pengaruh variasi natrium borat pada media umpan terhadap mortalitas rayap tanah (Coptotermes curvignathus).
Kesimpulan: Variasi peningkatan konsentrasi natrium borat tidak berpengaruh terhadap peningkatan mortalitas rayap tanah (Coptotermes curvignathus)
GAMBARAN HIGIENE SANITASI MAKANAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TIDAR MAGELANG
Latar belakang: Penyelenggaraan makanan di rumah sakit bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien dan memastikan makanan yang disajikan aman dan layak konsumsi. Salah satu aspek penting dalam proses ini adalah penerapan higiene sanitasi yang baik. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di Instalasi Gizi RSUD Tidar Magelang pada bulan Januari 2025, ditemukan beberapa masalah seperti pintu yang belum menutup sendiri dan belum menutup dua arah, masih terdapat pramumasak yang belum menggunakan APD lengkap, dan lainnya.
Tujuan: untuk mengetahui gambaran higiene sanitasi makanan di Instalasi Gizi Rumah Sakit Umum Daerah Tidar Magelang.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional dengan desain penelitian cross sectional. Pengumpulan data skor higiene sanitasi makanan menggunakan formulir Uji Kelaikan Fisik Higiene Sanitasi Makanan Jasaboga dari Permenkes RI No. 1096/Menkes/Per/VI/2011 dilakukan dengan pengamatan secara langsung.
Hasil: Hasil penelitian menunjukkan secara keseluruhan, higiene sanitasi pengolahan makanan makanan di Instalasi Gizi RSUD Tidar Magelang telah memenuhi syarat, seperti lokasi dan konstruksi bangunan, penghawaan, air bersih, dan fasilitas cuci tangan. Namun, ditemukan beberapa beberapa aspek yang belum sesuai, seperti masih terdapat pramumasak yang belum menggunakan maser dan penutup kepala, sudut pertemuan antara lantai dan dinding tidak konus, serta bak pencucian tidak dibuat tiga bak.
Kesimpulan: Kriteria kelaikan fisik higiene sanitasi makanan di Instalasi Gizi RSUD Tidar Magelang dapat dikategorikan laik dengan skor ≥ 83, sesuai dengan standar jasaboga golongan