research article
Hubungan Antara Lingkungan Belajar yang Mendukung Kebutuhan dan Perilaku Sabotase Diri Akademik pada Siswa Form Two di Meru County, Kenya
Abstract
Academic self-sabotaging behavior is a prevalent problem among Form Two students in Kenya, being linked to lower academic achievement, academic anxiety, academic stress, and poor mental health. Existing research has consistently linked basic psychological needs (BPN) satisfaction to less academic self-sabotaging behavior. Despite this, there is a relative dearth of studies exploring this area in the Kenyan context. Therefore, the current study examined how basic psychological needs-supportive learning environment relate to academic self-sabotaging behavior, with self-determination theory (SDT) as the theoretical basis, and a convergent parallel mixed-methods research design. The quantitative study sample comprised 400 students (215 boys; 185 girls) drawn using proportionate stratified and simple random sampling. The qualitative study sample included 20 students drawn using purposive criterion sampling. Data for quantitative study was collected using Basic Psychological Needs Satisfaction and Frustration Scale (BPNSFS; Chen et al., 2015) and Academic Self-Handicapping Scale (Midgley & Urdan, 2001). Qualitative data collection tools was a semi-structured interview schedule. Study results revealed a weak, negative and statistically significant correlation between needs-supportive learning environment and academic self-sabotaging behavior (r(396) = - .14; p < .01). Qualitative findings complemented these results, revealing that a learning environment that supported students’ needs of autonomy, competence, and relatedness promoted high level of adaptive learning behaviors. The study recommends that schools should promote an autonomy-supportive school environment that meets students’ basic psychological needs (BPN) to reduce academic self-sabotaging behavior.Perilaku sabotase diri akademik merupakan masalah yang lazim di kalangan siswa Form Two di Kenya, yang dikaitkan dengan prestasi akademik yang lebih rendah, kecemasan akademik, stres akademik, dan kesehatan mental yang buruk. Penelitian yang ada secara konsisten mengaitkan kepuasan kebutuhan psikologis dasar dengan perilaku sabotase diri akademik yang lebih sedikit. Meskipun demikian, terdapat kelangkaan relatif studi yang mengeksplorasi area ini dalam konteks Kenya. Oleh karena itu, studi ini meneliti bagaimana lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan psikologis dasar berhubungan dengan perilaku sabotase diri akademik, dengan self-determination theory (SDT) sebagai dasar teoritis, dan desain penelitian metode campuran paralel konvergen. Sampel studi kuantitatif terdiri dari 400 siswa (215 laki-laki; 185 perempuan) yang diambil menggunakan random sampling sederhana dan stratifikasi proporsional. Sampel studi kualitatif mencakup 20 siswa yang dipilih menggunakan sampel kriteria purposif. Data untuk studi kuantitatif dikumpulkan menggunakan Basic Psychological Needs Satisfaction and Frustration Scale (BPNSFS; Chen et al., 2015) dan Academic Self-Handicapping Scale (Midgley & Urdan, 2001). Alat pengumpulan data kualitatif adalah jadwal wawancara semi-terstruktur. Hasil studi mengungkapkan korelasi yang lemah, negatif dan signifikan secara statistik antara lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan dan perilaku sabotase diri akademik (r(396) = - 0,14; p < 0,01). Temuan kualitatif melengkapi hasil ini, mengungkapkan bahwa lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan siswa akan otonomi, kompetensi, dan keterkaitan mendorong perilaku belajar adaptif tingkat tinggi. Studi ini merekomendasikan bahwa sekolah mempromosikan lingkungan sekolah yang mendukung otonomi yang memenuhi kebutuhan psikologis dasar siswa untuk mengurangi perilaku sabotase diri akademik- info:eu-repo/semantics/article
- info:eu-repo/semantics/publishedVersion
- Peer-reviewed Article
- needs-supportive learning environment
- academic self-sabotaging behavior
- academic disengagement
- academic procrastination
- lingkungan belajar yang mendukung kebutuhan
- perilaku sabotase diri akademik
- ketidakterlibatan akademik
- prokrastinasi akademik