Setiap tahunnya Indonesia berkontribusi dengan rata-rata emisi sebesar 7,29% di dunia, ini sangat berbahaya karena sampah organik yang terus menumpuk akan menghasilkan gas emisi rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global. Menurut laporan kajian Food Loss & Waste di Indonesia juga menyatakan bahwa sektor pangan menyumbang 46% dari total sampah organik, dengan buah-buahan dan sayur-sayuran menjadi kontributor utama. Penumpukan sampah organik ini disebabkan oleh kecenderungan pembeli menolak untuk membeli buah dan sayur yang dianggap tidak sesuai dengan standar estetika. Standar tersebut adalah standar mencakup segi visual yakni ukuran, bentuk, kualitas kulit dan warna, sehingga sebagian buah dan sayur yang masih layak terbuang sia-sia menjadi sampah organik Permasalahan ini perlu dicegah, dengan merancang sebuah kampanye persuasif untuk mengubah persepsi pembeli terhadap buah dan sayur yang dianggap tidak sesuai standar estetika. Pengumpulan data di lapangan, dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Kemudian, melakukan wawancara langsung dengan pembeli untuk memperoleh langsung sudut pandangnya. Hasil data menunjukan, bahwa sebagian dari pembeli tidak mau memilih buah atau sayur yang memiliki bercak, lecet, memar dan lainnya. Perancangan kampanye ini diharapkan dapat mengubah persepsi dan perilaku pembeli
Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.