PROGRAM YAYASAN SASANA INKLUSI DAN GERAKAN ADVOKASI DIFABEL (SIGAB) DALAM MEMBANGUN DESA INKLUSI (STUDI DI DESA SENDANGTIRTO KAPANEWON BERBAH KABUPATEN SLEMAN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA)
Fenomena inklusi sosial semakin berkembang yang menekankan pentingnya
partisipasi setiap individu dan kelompok rentan atau marginal dalam kehidupan
bermasyarakat penyandang disabilitas di tingkat desa. Program Desa Inklusi
merupakan pembangunan desa yang ramah bagi penyandang disabilitas, dan
pembentukan Kelompok Difabel Desa (KDD) untuk berdaya penyandang
disabilitas secara mandiri. Dalam pendataan Program Pembangunan Desa Inklusi
yang dilaksanakan oleh pemerintah Desa Sendangtirto pada tahun 2015-2019,
terdapat data penyandang disabilitas sebanyak 116 orang. Program ini untuk
menyadarkan masyarakat desa tentang peluang kebutuhan akses melalui kebijakan
sosial seperti yaitu penyediaan, pelatihan, partisipasi kegiatan, layanan umum, dan
peluang ekonomi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja program
Yayasan SIGAB dalam pembangunan desa inklusi, serta mengetahui faktor apa saja
yang menjadi tantangan dan hambatan dalam melaksanakan program desa inklusi
di Desa Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa
Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan
data dilakukan melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Pemilihan
informan menggunakan teknik purposive sampling dengan tujuh informan yang
terbagi menjadi informan pokok (tiga orang SIGAB), informan khusus (dua orang
tuli), beserta informan pendukung (dua orang desa). Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa terdapat lima program pembangunan Desa Inklusi yaitu 1)
program pembangunan aksesibilitas inklusi, 2) program pembangunan pelayanan
publik desa inklusi, 3) program pembangunan sistem informasi desa inklusi, 4)
program pembangunan kebijakan ekonomi inklusi, dan 5) program pembangunan
pelatihan keterampilan bagi orang-orang difabel. Tantangan Program Aksesibilitas
Inklusi adalah kurangnya infrastruktur fisik dan non-fisik. Tantangan Program
Pelayanan Publik Desa Inklusi adalah keterbatasan dalam mengakses layanan
kependudukan di desa. Tantangan Program Sistem Informasi Desa Inklusi adalah
kurangnya pengelolaan data penyandang disabilitas melalui program media Solider.
Tantangan Program Kebijakan Ekonomi Inklusi adalah keterbatasan dalam
anggaran dana desa untuk pemberi bantuan sosial sebagai penerima manfaat.
Tantangan Program Pelatihan Keterampilan bagi Orang-orang Difabel adalah
kurangnya fasilitator menyebabkan efektivitas pelatihan yang terbatas. Hambatan
Program Aksesibilitas Inklusi adalah keterbatasan dalam akses komunikasi bagi
kaum tuli. Hambatan Program Pelayanan Publik Desa Inklusi adalah kaum tuli
dapat kesulitan dalam mengakses layanan kependudukan. Hambatan Sistem
Informasi Desa Inklusi adalah keterbatasan dalam mengakses data penyandang
disabilitas yang dikelola oleh Solider. Hambatan Kebijakan Ekonomi Inklusi adalah
keterbatasan dalam mengakses bantuan yang tidak terdata atau tidak terdaftar
melalui DTKS. Hambatan Program Pelatihan Keterampilan bagi Orang-orang
Difabel adalah rendahnya kesadaran masyarakat desa dapat keterbatasan dalam
anggaran yang dialokasikan dana desa oleh pemerintah desa
Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.