Eksplorasi Spiritualitas Batak terhadap Generasi Muda di Era Digital dalam Pendekatan Budaya

Abstract

Batak spirituality in the digital era is undergoing significant challenges and transformations in meaning, especially among the younger generation. This spirituality is deeply rooted in belief in God, reverence for ancestors, and harmony with nature. This study aims to explore how young people understand and implement Batak spirituality within the context of digital culture, as well as how these transformations affect the sustainability of cultural values. The research employs a qualitative approach with observation and in-depth interviews involving ten informants representing Generations Z, X, and Baby Boomers. Data were analyzed thematically to identify patterns in the intergenerational interpretation of spirituality. The findings reveal that younger generations tend to integrate Batak spiritual values into Christian religiosity while maintaining cultural symbols as a form of identity. The digital era offers new opportunities for preserving spiritual values, but it also poses risks of symbolic dilution and loss of context. Thus, Batak spirituality today does not disappear but adapts in form to remain relevant in contemporary life.Spiritualitas Batak di era digital mengalami tantangan dan transformasi makna, terutama di kalangan generasi muda. Spiritualitas ini memiliki kedalaman nilai yang menyatu dengan kepercayaan kepada Tuhan, penghormatan terhadap leluhur, dan harmoni dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana generasi muda memahami dan mengimplementasikan spiritualitas Batak dalam konteks digital, serta bagaimana transformasi tersebut berdampak pada keberlangsungan nilai-nilai budaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara terhadap sepuluh informan yang mewakili Generasi Z, X, dan Baby Boomers. Analisis data dilakukan secara tematik untuk mengidentifikasi pola pemaknaan spiritualitas lintas generasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi muda cenderung mengintegrasikan nilai-nilai spiritualitas Batak ke dalam bentuk religiusitas Kristen, sambil tetap mempertahankan simbol budaya sebagai identitas. Era digital memberi ruang baru untuk pelestarian nilai-nilai spiritual, namun juga memunculkan risiko pengaburan makna. Oleh karena itu, spiritualitas Batak hari ini tidak hilang, melainkan mengalami penyesuaian bentuk sesuai konteks zaman

Similar works

Full text

This paper was published in Visio Dei - Jurnal Teologi Kristen.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.

Licence: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0