Makna Simbolik Dalam Naik Garudo Oleh Pengantin Pada Upacara Pernikahan Adat Melayu Jambi

Abstract

Culture is emotion, creativity and intention. Culture is the result of human production itself. Culture always coexists with tradition. This research aims to determine the symbolic meaning of wedding traditions in the Malay community in Jambi, Mersam District. Garudo riding is a community tradition in Mersam District, Mersam District, Jambi City. We can see the Naik Garudo tradition at weddings or during the procession of the bride and groom during the day. The research methodology used in writing this research consists of four stages, namely elicitation, source criticism, interpretation, and historiography. The types of sources used in writing this research are library research and technical historical analysis using interpretation of historical facts which include books, documents and journals related to Jambi Malay customs. The results of this research are that "garudo" or "garuda" in Indonesian is a palanquin in the shape of an eagle decorated as a bridal carriage. Garuda is carried by male and female family members. Naik Garudo has a symbolic meaning. Garudo which appears in the Jambi Malay tradition has a symbolic meaning. Garudo means strength, courage and justice. During the wedding process, using Galudo can bring blessings and good luck to the bride and groom.Kebudayaan adalah emosi, kreativitas dan karsa. Kebudayaan adalah hasil produksi manusia itu sendiri. Kebudayaan selalu hidup berdampingan dengan tradisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna simbolik tradisi pernikahan pada masyarakat Melayu di Jambi Kecamatan Mersam. Menunggang garudo merupakan tradisi masyarakat di Kecamatan Mersam, Kecamatan Mersam, Kota Jambi. Tradisi Naik Garudo dapat kita jumpai pada acara pesta pernikahan atau pada saat prosesi kedua mempelai pada siang hari. Metodologi penelitian yang digunakan dalam penulisan penelitian ini terdiri dari empat tahap, yaitu elisitasi, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Jenis sumber yang digunakan dalam penulisan penelitian ini adalah penelitian kepustakaan serta teknis analisis sejarah dengan menggunakan penafsiran fakta sejarah yang meliputi buku, dokumen dan jurnal yang berkaitan dengan adat Melayu Jambi. Hasil dari penelitian ini adalah “garudo” atau “garuda” dalam bahasa Indonesia adalah tandu berbentuk burung garuda yang dihias sebagai kereta pengantin. Garuda digendong oleh anggota keluarga laki-laki dan perempuan. Naik Garudo mempunyai makna simbolis Garudo yang muncul dalam tradisi Melayu Jambi mempunyai makna simbolis Garudo berarti kekuatan, keberanian dan keadilan. Dalam proses pernikahan, penggunaan Galudo dapat mendatangkan keberkahan dan keberuntungan bagi kedua mempelai

Similar works

Full text

This paper was published in e-Jurnal STKIP-PGRI Lubuklinggau.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.