Kayupuring village has a dense forest which also the habitat for Javan Gibbon. Coffee plants is also present in the forest and utilised by the local community for their livelihood. Therefore, forest protection and utilisation activities need to be aligned to ensure sustainability. Swara Owa is one of the stakeholders conducting that approach through a program of Coffee and Primates Conservation Project. This study aims to overview the future sustainability of the program. System thinking is employed, and data were obtained through desk study and literature review with the scope of 2013-2019. Four main variables selected to describe the system are forest degradation (ecosystem), coffee price (wellbeing), local institutional strength – Village Forest Community Institution/LMDH (social), and forest conservation awareness (cultural paradigm). The interaction of the program system can be explained that the higher the conservation awareness level, the higher the forest quality, then the stronger LMDH, the higher coffee price; and the higher coffee price makes conservation awareness high. The higher coffee price, the people are more aware to conservation issue because the coffee comes from an area of the wildlife habitat. The three main strategies to achieve ideal vision are tenure mapping, policy intervention, and community participation and empowerment.Masa depan yang berkelanjutan merupakan arah yang ingin dicapai dalam menerapkan suatu program terutama di bidang kehutanan dan lingkungan hidup. Desa Kayupuring memiliki hutan yang masih lestari dan merupakan habitat satwa liar terutama Owa Jawa. Hutan ini juga memiliki tumbuhan kopi yang dimanfaatkan masyarakat untuk penghidupan. Oleh karena itu, kegiatan perlindungan dan pemanfaatan hutan perlu diselaraskan agar berkelanjutan dan salah satu pihak yaitu Swara Owa melakukannya melalui Program “Coffee and Primates Conservation Project”. Studi ini bertujuan untuk meninjau masa depan keberlanjutan program dan dilakukan dengan pendekatan system thinking. Data diperoleh secara desk study dan literature review dengan lingkup waktu tahun 2013 – 2019. Empat variabel utama yang dipilih untuk menjelaskan sistem adalah degradasi hutan (ekosistem), harga kopi (kesejahteraan manusia), kekuatan kelembagaan lokal-Lembaga Masyarakat Desa Hutan/LMDH (sosial), dan kesadaran konservasi hutan (paradigma kultural). Interaksi sistem program tersebut dapat dijelaskan bahwa semakin tinggi tingkat kesadaran konservasi semakin tinggi kualitas hutan, maka semakin kuat LMDH dan semakin premium harga kopi; dan lebih tingginya harga kopi membuat kesadaran konservasi tinggi. Semakin tinggi harga kopi, semakin orang menyadari isu konservasi karena kopi berasal dari area naungan yang merupakan habitat satwa liar. Oleh karena itu, skenario dengan intervensi Program harus dilakukan untuk mencapai Visi Ideal perlindungan dan konservasi, ekonomi lokal berkelanjutan, dan kesadaran konservasi tinggi yang berkelanjutan. Tiga strategi utama untuk memungkinkan hal tersebut yaitu pemetaan tenurial, intervensi kebijakan, dan partisipasi serta pemberdayaan masyarakat
Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.