Pengakuan Haikal Hassan tentang mimpi bertemu Rasulullah: kajian ma’ani al-hadith riwayat Ibnu Majah no. indeks 3892 dalam tinjauan teori psikologi

Abstract

Mimpi adalah hal lumrah yang dialami seseorang ketika tidur, ia hadir di bawah alam sadar. Tidak ada seorangpun yang dapat mengetahui akan mimpi dari perseorangan, kecuali mimpi itu dicaritakan langsung oleh yang bermimpi. Tujuan mimpi adalah memberikan hikmah, baik untuk yang bermimpi atau tidak. Lebih-lebh mimpi bertemu dengan Rasulullah, yang pada hakikatnya adalah sebuah dambaan yang sangat diinginkan oleh umat Rasulullah, sebab Rasulullah adalah manusia agung pilihan Allah. Kasus pendustaan yang disandarkan pada Rasulullah melalui pengakuannya akan mimpi bertemu Rasulullah, hal tersebut disampaikan oleh Haikal Hasan ketika pemakaman enam anggota laskar FPI yang menjadi korban penembakan di tol Jakarta - Cikampek Pada tanggal 9 Desember 2020. Ketika Haikal Hasan diperiksa, Haikal menyampaikan soal mimpinya hanya sebatas menghibur keluarga daripada anggota FPI yang hadir saat di pemakaman. Dengan dimikian didapati sebuah rumusan masalah; Bagaimana kualitas dan kehujjahan hadis riwayat Ibnu Majah no Indeks 3892?, Bagaimana kajian kritik hadis tentang mimpi bertemu Rasulullah?, dan Bagaimana Pengakuan mimpi bertemu Rasulullah ditinjau dari teori Psikologi? Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (Library research), karena teknis penekanan analisisnya lebih menggunakan pada kajian teks yaitu penelitian yang dilakukan dengan menelaah kajian pustaka, baik berupa kitab-kitab, buku-buku, jurnal-jurnal, ensiklopedi, serta sumber-sumber lainnya yang relevan dengan topik yang dikaji. Kajian ini bersifat interpretatif (menggunakan penafsiran) yang melibatkan banyak cara dalam menelaah sesuatu yang diteliti. Gambar penelitian ini sebagai alat penelitian untuk mendapatkan data yang komprehensif terkait dengan maksud problem Pengakuan mimpi bertemu Rasulullah. Berdasarkan penelitian, maka didapatkan sebuah kesimpulan bahwa hadis riwayat Ibnu Majah no Indeks 3892 adalah shahih lidzatihi dikarenakan tersambungnya sanad pada semua perawi dari awal hingga akhir, semua perawinya tsiqah, dan hadisnya dapat dijadikan hujjah. Teori psikologi yang dikemukakan oleh Fritz Haider, yaitu tentang bagaimana bagaimana seseorang memahami prilaku diri-sendiri dan orang lain dengan menjelaskan pola prilaku. Dapat juga menjelaskan dari personal tetang motif-motif yang ada pada orang lain, dah makna yang ada dapat mempengaruhi tindakan orang lain. Apabila sebuah mimpi dihubungkan dengan teori ini, maka sangatlah terhubung. Sebab mimpi adalah hal ikhwal sebagai pembawa hikmah bagi manusia, dan secara nalar daripada keterhubungan antara teori dan mimpi memberikan hal positif jika dijalankan dengan benar sebagaimana hikmahnya, dan tidak dengan sebaliknya, lebih-lebih berdusta atas mimpi untuk merubah suatu hikmah demi kepentingan pribadi atau sebuah organisasi. Oleh karena itu, bersikaplah jujur dalam hal apapun, karena berdusta dapat menjadikan seorang menjadi sangat hina di hadapan Allah, karena ia telah mendzalimi orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Ibnu Bathal: Apabila Dia berbohong dan melaksanakan kejahatan, maka Dia tercela

Similar works

This paper was published in Digital Library of UIN Sunan Ampel.

Having an issue?

Is data on this page outdated, violates copyrights or anything else? Report the problem now and we will take corresponding actions after reviewing your request.