Jurnal Sains dan Teknologi Nuklir Indonesia
Not a member yet
279 research outputs found
Sort by
PEMANTAUAN MASA REPRODUKSI SAPI TERNAK MENGGUNAKAN TEKNIK RIA PROGESTERON
PEMANTAUAN MASA REPRODUKSI SAPI TERNAK MENGGUNAKAN TEKNIK RIA PROGESTERON. Teknik inseminasi buatan (IB) sangat luas penggunaannya, terutama bagi negara berkembang yaitu untuk memperoleh keturunan yang secara genetik berkualitas dan untuk memperbaiki efisiensi reproduksi. Di Indonesia teknik ini telah lama dikembangkan, tetapi hingga saat ini keberhasilan teknik IB masih sangat rendah. Mengingat terbatasnya teknik penentuan status reproduksi menggunakan pengamatan perubahan vulva secara visual dan pemeriksaan kebuntingan melalui palpasi rectal, maka pemantauan kadar progesteron dalam susu dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk membantu memperbaiki efisiensi reproduksi, yang pada akhirnya secara ekonomis akan sangat menguntungkan. Untuk menganalisis kadar progesteron, cuplikan susu dikumpulkan dalam vial yang berisi butiran sodium azida. Cuplikan susu dikumpulkan dua kali dalam seminggu setama lebih kurang 6 minggu, kemudian disimpan pada 4°C dalam lemari pendingin sampai analisis dilakukan. Kadar progesteron dalam cuplikan susu ditentukan dengan metode radioimmunoassay (RIA) fase padat, dengan 125progesteron sebagai perunut. Standar progesteron dibuat menggunakan susu tanpa lemak dengan batas konsentrasi 0 sampai 40 nmol/. Hasil penentuan progesteron dalam cuplikan susu yang dikumpulkan dari 5 ekor sapi menunjukkan bahwa dua ekor sapi memberikan kadar progesteron rendah, yang berarti bahwa sapi-sapi tersebut dalam keadaan anoestrus. Tiga ekor sapi lainnya memberikan interpretasi grafik progesteron post calving cyclicity, dan setelah dilakukan inseminasi, dua ekor sapi berhasil memperoleh kehamilan. Hasil penentuan kadar progesteron secara teliti dapat digunakan untuk menentukan masa oestrus, dan dapat digunakan pula untuk mendiagnosis ketidak hamilan misalnya untuk memantau post partum ovarian, kematian embryo dini, serta permasalahan ovarium
PERANCANGAN ULANG, PEMASANGAN DAN KOMISIONING SISTEM INFUSER REAKTOR TRIGA 2000
PERANCANGAN ULANG, PEMASANGAN DAN KOMISIONING SISTEM INFUSER REAKTOR TRIGA 2000. Dalam kegiatan peningkatan daya reaktor TRIGA Mark II, untuk mengurangi konsentrasi nitrogen-16 di permukaan air tangki reaktor telah dilakukan perancangan ulang dan pemasangan sistem difuser yang baru. Uji coba penggunaan sistem difuser ini juga sudah dilakukan dan sistem difuser dapat beroperasi dengan baik. Data percobaan menunjukkan bahwa debit aliran sistem difuser pada pipa utamanya adalah 60 GPM dan harga ini setara dengan kecepatan dispersi nosel sebesar 2.56 rn/s. Pengoperasian sistem difuser pada saat daya reaktor 2000 kW menghasilkan laju dosis di permukaan air tangki antara 30 - 50 mrad/jam, sedangkan laju dosis di permukaan air tangki bila sistem difuser dimatikan adalah antara 110 - 200 mrad/jam. Besarnya laju dosis di permukaan air tangki reaktor TRIGA 2000 pada daya 2000 kW mendekati laju dosis di permukaan air tangki reaktor TRIGA Mark II (sebelum dilakukan peningkatan daya) pada daya 600 kW
APLIKASI TEKNIK NUKLIR DALAM BIDANG KESEHATAN MASA KINI
APLIKASI TEKNIK NUKLIR DALAM BIDANG KESEHATAN MASA KINI. Salah satu cabang ilmu kedokteran yang berkembang pesat sejak berakhirnya Perang Duma Kedua adalah kedokteran nuklirberikut aplikasinya dalam pelayanan kedokteran. Iilmu kedokteran nuklir mempelajari proses fisiologidan biokimia yang teijadi dalam organ tubuh manusia dengan menggunakan perunut bertanda radioaktif. Aplikasinya meliputi studi in vivo, in vitro atau in vivitro dan terapi radionukiida. Perkembangan daiam berbagai disiplin ilmu dan teknologi pendukungnya telah mampu meningkatkan produksi lebih banyak jenis radionuklida dan radiofarmakanya, mulai dan senyawa bertanda iodium radioaktif, kemudian dengan 99mTc dan 201T1 serta radiofarmaka berwaktu paro pendek produksi sikiotron seperti senyawa bertanda 123I,18F, 11C, 13N dan 82Ru. Begitu pula dalam hal peralatan telah dirancang dan mampu diwujudkan peralatan deteksi mulai dan skener rektilinear, kamera gamma dan yang lebih mutakhir seperti kamera SPECT dan PET. Bertumpu pada berbagai perangkat tersebut teknologi kedokteran nukiir telah dimampukan memberi kontribusi yang berarti dalam pelayanan kesehatan dan peneitian kedokteran dasar dan terapan.
RANCANG BANGUN SISTEM KENIDALI DIFRAKTOMETER SINAR—X SHIMADZU XD-5A
RANCANG BANGUN SISTEM KENDALl DIFRAKTOMETER SINAR-X SHIMADZU XD-5A. Telah dilakukan pembuatan sistem kendali difraktometer sinar-x Shimadzu XD-5A berupa kartu antarmuka, penggerak motor langkah dan pengubah sinyal analog ke digital. Sistem kendali berbasis komputer pribadi ini digunakan untuk mengatur gerakan lengan detektor pada goniometer, mencuplik data intensitas serta tampilan grafik antara intensitas dan sudut hamburan pada layar monitor
PERANAN TEKNIK NUKLIR UNTUK TERAPI PALIATIF KANKER TULANG METASTASIS
PERANAN TEKNIK NUKLIR UNTUK TERAPI PALIATIF KANKER TULANG METASTASIS. Kanker tulang metastasis umumnya merupakan penyebaran kanker payudara dan kanker prostat. Penderitanya sangat menderita karena tingkat kenyerian yang tinggi. Kalau kondisinya sudah sangat parah, biasanya obat analgesik, hormon dan obat kimia lainya serta radiasi eksternal sudah tidak efektif, sementara tingkat kenyerian makin bertambah. Untuk mengatasi rasa nyeri ini digunakan radiofarmaka dengan radionuklida pemancar sinar β. Di antara radionuklida yang sesuai untuk tujuan paliatif yang akan dibahas adalah 89Sr, 32p, 186/188Re dan 153Sm. Makalah ini berupa pengkajian tentang peranan teknik nuklir untuk terapi yang pembahasanya mencakup radiofarmaka untuk paliatif, sifat radionuklida, pembuatan serta bentuk senyawa yang digunakan. Masing-masing radionuklida disuntikan pada pasien dalam bentuk senyawa kimia yang sesuai agar dapat mencapai bagian tulang yang terkena kanker secara selektif seperti 89SrCl2, Na32PO4, 186/188Re-HEDP dan 153Sm-EDTMP. Radiofarmaka tersebut akan masuk ke bagian tertentu pada tulang sehingga mempunyai kemampuan untuk mengiradiasi kanker tulang metastasis pada jarak yang terbatas. Masing-masing radiofarmaka mempunyai keunggulan dan kelemahan satu dari yang lainnya, sehingga untuk pemilihan radiofarmaka yang akan digunakan dapat mempertimbangkan beberapa aspek yang sesuai dengan kondisi yang ada seperti aspek ekonomi, kondisi kanker metastasis dan radiofarmaka yang tersedia
RADIOISOTOP ITERBIUM-175 (175Yb) UNTUK TERAPI MELALUI REAKSI INTI (n,γ) DI REAKTOR TRIGA 2000 BANDUNG
PEMBUATAN DAN UJI KUALITAS RADIOISOTOP ITERBIUM-175 (175Yb) UNTUK TERAPI MELALUI REAKSI INTI (n,γ) DIREAKTOR TRIGA 2000 BANDUNG. Iterbium-175 (175Yb) merapakan salah satu radioisotop yang dapat digunakan untuk terapi karena merupakan pemancar-β (T1/2 = 4,2 hari dengan Eβ (maks) sebesar 480 keV). Di samping itu, radioisotop tersebut juga memancarkan sinar-γ dengan energi yang cukup ideal untuk penyidikan (imaging) selama terapi berlangsung (113 keV (1,9%), 282 keV(3,1%) dan 396 keV (6,5%)). Telah dilakukan pembuatan radioisotop 175Yb dengan menggunakan target iterbium oksida (Yb2O3) alam yang telah diiradiasi di reaktor TR1GA 2000 Bandung. Target tersebut dilarutkan dalam larutan asam klorida (HCl) encer. Kondisi optimum preparasi diperoleh dengan pelarutan target 175Yb2O3 dalam 5 mL larutan HCl 2 N sambil dikisatkan perlahan-lahan sampai agak kering, kemudian dilarutkan kembali dalam 5 mL larutan HCl 0,1N. Larutan 175YbCl3 tersebut diuji melalui pemeriksaan kemurnian radiokimianya dengan cara kromatografi kertas dan elektroforesis kertas. Aktivitas dan kemurnian radionuklida larutan 175YbCl3 ditentukan dengan alat cacah spektrometer-γ multi saluran. Larutan radioisotop 175YbCl3 yang diperoleh mempunyai pH berkisar antara 1,5 - 2 dan terlihat jemih dengan aktivitas jenis dan konsentrasi radioaktif masing-masing sebesar 15 - 18 mCi/mg dan 17 - 21 mCi/mL. Larutan tersebut mempunyai kemurnian radiokimia sebesar 99,5 + 0,3% dan kemurnian radionuktida di atas 95% (97,02 + 0,26%). Uji stabilitas larutan radioisotop 175YbCl3 terhadap waktu penyimpanan menunjukkan bahwa setelah disimpan selama 10 hari pada temperatur kamar, laratan tersebut masih stabil dengan kemurnian radiokimia di atas 95%.
SINTESIS SENYAWA BENZOIL-MAG3OMe
SINTESIS SENYAWA BENZOIL-MAG3OMe. Kompleks 99mTcMAG3 merupakan suatu radiofarmaka baru yang mempunyai sifat biologis yang sama dengan Hipuran bertanda 131I, dan dapat digunakan sebagai sediaan pengganti yang cukup ideal untuk mengevaluasi fungsi ginjal. Dalam usaha mengembangkan sediaan tersebut perlu dikuasai pembuatan ligan S-benzoil-MAG3 dan turunannya yang diharapkan mempunyai karakteristik yang lebih baik. Dalam penelitian ini dilakukan sintesis turunan ligan S-benzoil-MAG3 menjadi S-benzoil-MAG3OMe. Sintesis S-benzoil-MAG3OMe dilakukan melalui 4 tahap reaksi yaitu reaksi pembuatan senyawa asam S benzoiltioglikolat dan benzoilklorida dengan asarn tioglikolat, dilanjutkan dengan reaksi pembuatan senyawa suksinimidil S benzoiltioglikolat dan asam S-benzoiltioglikolat dengan N hidroksisu ksinimi da dan N , N’- disikloheksilkarbodümida, dilanjutkan dengan reaksi pembuatan senyawa S-benzoil-MAG3 dan suksinimidil S-benzoiltioglikolat dengan glisilgiisilgiisin, dan terakhir reaksi pembuatan senyawa S-benzoil-MAG3OMe dan esterifikasi S-benzoil MAG3 dengan metanol. Hasil sintesis memberikan kristal berwarna merah jambu muda, dengan titik leleh 2000C - 201°C. Uji kemurnian dengan HPLC memberikan satu puncak, yang berarti senyawa cukup murni. Anaiisis dengan spektrofotometer IR membuktikan bahwa senyawa adalah S-benzoil-merkaptoasetilglisilglisilglisin metil ester (S-benzoil-MAG3 OMe). Hasil sintesis ini diharapkan akan sangat berguna bagi pengembangan sediaan radiofarmaka 99mTcMAG3 dan turunannya.
PENANDAAN KIT KERING DMSA DENGAN TEKNESIUM-99m DALAM SUASANA BASA SERTA UJI STABILITASNYA.
PENANDAAN KIT KERING DMSA DENGAN TEKNESIUM-99m DALAM SUASANA BASA SERTA UJI STABILITASNYA. Penvakit kanker merupakan salah satu penyebab kematian di Indonesia. Bidang kesehatan pada saat ini mencari suatu metode untuk mendeteksi kanker secara dini sehingga dapat dilakukan pengobatan yang lebih efektif. Dalarn bidang kedokteran nuklir, beberapa radiofarmaka dapat digunakan untuk maksud tersebut diantaranya 99mTcv-DMSA yang dapat terakumulasi pada kanker tiroid medular, kanker paru-paru dan jaringan tumor lainnya. Guna mernenuhi kehutuhan pelayanan kesehatan di dalam negeri maka dilakukan pembuatan senyawa tersebut. Telah dilakukan penandaan kit kering DMSA dengan radionuklida teknesium-99rn dalam suasana basa rnenggunakan larutan NaHCO3 7 %. Dalam suasana ini terbentuk senyawa 99mTcv-DMSA dengan tingkat oksidasi +5 (99mTcv-DMSA ). Penentuan efisiensi penandaan dilakukan dengan melihat kemurnian radiokimianya yang ditentukan dengan kromatografi kertas dan kromatografi lapis tipis. Kondisi penandaan optimal dicapai pada pH = 8,2 - 8,3 (penggunaan 0,6 - 0,8 mL larutan NaHCO37 %) dengan waktu inkubasi 30 menit pada temperatur kamar, memberikan efisiensi penandaan maksimal sebesar 93.59 ± 1.05 %. Uji pendahuluan pada hewan percobaan tikus putih dengan metode penyidikan menunjukkan bahwa senyawa 99mTcv-DMSA terakumulasi dalam jumlah yang relatif kecil pada ginjal. Senyawa 99mTcv-DMSA masih dapat digunakan dalam waktu 1 jam setelah penandaan. Uji stabilitas kit kering DMSA. pada temperatur ± 4°C, menunjukkan hahwa sediaan tetap stabil sampai dengan 2½ bulan penyimpanan.
KARAKTERISTIK KOMPLEK 186Re-HIDROKSI ETILIDEN DIFOSFONAT (HEDP) SEBAGAI BONE PAIN PALLIATIVE AGENT
KARAKTERISTIK KOMPLEK 186Re-HIDROKSI ETILIDEN DIFOSFONAT (HEDP) SEBAGAI BONE PAIN PALLIATIVE AGENT. Rasa sakit pada tulang yang disebabkan oleh metastasis beberapa penyakit kanker seperti prostat, payudara, paru-paru dan ginjal dapat diobati dengan analgesik, hormon, chemotherapy, narkotika (morfin) dan radiofarmaka. Samarium-153 EDTMP merupakan radiofarmaka yang sampai saat ini secara luas digunakan untuk mengurangi rasa sakit akibat metastasis kanker ke tulang. Preparasi dan uji kualitas komplek 186Re-HEDP telah berhasil dilakukan. Hasil penentuan kemurnian dengan kromatografi kertas menunjukkan bahwa kompleks tersebut masih menghasilkan kemurnian radiokimia > 90 % sampai dengan hari ke 3 setelah penandaan. Kadar kompleks dalam darah mencapai puncaknya setelah 5 menit setelah penyuntikan dan menurun drastis pada 24 jam setelah penyuntikan. Sedangkan dalam urin 24 jam setelah penyuntikan diperoleh aktivitas sekitar 41 % yang diekskresikan dalam bentuk perenat bebas. Hasil biodistribusi dalam mencit normal menunjukkan penimbunan komplek pada tulang diperoleh dalam waktu antara 2 - 24 jam setelah penyuntikan. Hasil pengujian sterilitas dan pirogenitas menunjukkan sediaan tersebut steril dan bebas pirogen