SBM ITB Journal System
Not a member yet
2187 research outputs found
Sort by
A Taxonomy of Supply Chain Collaboration
Supply chain collaboration has emerged as an important cooperative strategy leading to new focus on interorganisational boundaries as the determinants of performance. Although collaboration increasingly receives great attention both from practitioners and academics, relatively little attention has been given to systematically reviewing the research literature that has appeared about supply chain collaboration. The purpose of this paper is to examine previous studies on supply chain collaboration based on a taxonomy. The proposed taxonomy is composed of four different research streams of describing specific subjects of interorganisational settings, namely information sharing, business processes, incentive schemes, and performance systems. The analysis includes the assessment of research ideas and key findings. Results show the great variability of key concepts across the four components of the taxonomy and an increased awareness of complementarity amongst research streams. Several recommendations for future research are also identified in this paper. Keywords: supply chain collaboration, literature review, supply chain management, taxonom
Draw Point Construction Improvement Using Six Sigma
Draw point is a loading pointh beneath a stope, utilizing gravity to move down bulk material in underground mine block caving of PT Freeport Indonesia. A draw point is a steel set that is erected and poured in place with concrete. There are 9 sub processes of draw point construction: site preparation, lean concrete, embedded rail, concrete floor, anvil top, lintel set, forming & meshing, wall & roof concrete, stripping & general clean-up. Based on data analysis period 2008, there is a gap 4.03 until draw point of yearly target with average of completion time of a draw point construction 46.44 shifts and standard deviation 6.95 shifts. It is slower by 9.7% of target 42 shifts. The high standard deviation and slower process indicate there is a process quality problem in draw point construction so it makes draw point construction incompliance to achieve its monthly or yearly target. For improving the process quality, Six Sigma approach with DMAIC methodology will be used to indentify incapable process and its causes. Then alternative solutions are proposed to fix it and control the key process variable causing the defects.Keywords:completion time, process quality, six sigma, DMAI
The Sustainable Corporation
The industrial sector is highlighted as the chief cause of the rapidly environmental change in the recent years. Because natural environment has strong correlation with human life and his activities to achieve well being, thereby industrial or business sector, the chief of human activities, is demanded to play as the central role in Sustainable Development. According to sustainable concept, there are three missions that have to be performed in sustainable development-sustainability in economics, environment and social. Of the three missions, environment and social are always taken in weak positions by business Actors. As the central actors in sustainable development, business actors should take the three of missions balance and together in their entire business activities. Based on same literatures and some successful stories in business practices, the author founded two important patterns that evolve recently how a corporation could be named as a suistanle corporation. First, the corporation developed partnership in eco-industrial part and the second; the corporation did its corporate social responsibility. Keywords: sustainability, sustainable corporation, , sustainable concept for busines
Studi Mengenal ERP System Adoption Berbasis Technology Acceptance Model
Sistem ERP adalah sistem informasi yang mengintegrasikan fungsi-fungsi bisnis dalam perusahaan, seperti fungsi manufaktur, keuangan dan manajemen rantai suplai. Sistem ERP tidak dapat meningkatkan performansi perusahaan bila tidak diadopsi dan digunakan secara teratur dan benar oleh para penggunanya. Dengan mengadopsi model dasar Technology Acceptance Model (TAM) dalam mempelajari proses penerimaan (adoption) sistem ERP oleh user dalam organisasi, penelitian ini menambahkan aspek peran project champion dalam menganalisis proses penerimaan sistem ERP oleh pengguna. Peran project champion disini dipelajari dengan yang memasukkan dua variabel independen tambahan yaitu technical champion dan organisational champion. Faktor lainnya yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perceived usefulness, intrinsic dan situational involvement, prior usage, argument for change, shared belief, project communication dan training. Pengambilan data dilakukan terhadap 123 responden yang merupakan karyawan pengguna sistem ERP di PT.Telkom Indonesia. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode Structural Equation Modelling (SEM), dan perangkat lunak pengolah data LISREL. Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa perceived usefulness berpengaruh positif terhadap behavioral intention to use sistem ERP. Hasil dari penelitian juga menunjukkan bahwa technical champion, organisational champion, intrinsic dan situational involvement, argument for change, shared belief, project communication dan training secara tidak langsung berpengaruh positif terhadap behavioral intention to use sistem ERP. Keywords: ERP, Behavioral intention to use ERP, User acceptance, adoption, Champions, TAM, SE
Privatisasi sebagai Kecenderungan Lingkungan Usaha BUMN
Privatisasi dewasa ini merupakan salah satu topik bahasan dominan dalam kancah kebijakan publik yang berkaitan dengan peran pemerintah dalam perekonomian menyusul gagalnya sistem perencanaan terpusat di negara-negara komunis. Makalah ini membahas beberapa pertanyaan mendasar seputar masalah privatisasi sebagai kecenderungan lingkungan usaha Badan Usaha Milik Negara (BUMN), dengan menyoroti alasan pentingnya pembahasan masalah privatisasi, mengapa dan bagaimana privatisasi perlu dilakukan dan apa dampaknya. Dengan mengulas pelaksanaan privatisasi di Indonesia, makalah ini ditutup dengan pembahasan mengenai implikasinya bagi para Pimpinan Puncak BUMN.Kata kunci: privatisasi, BUMN, kebijakan publik, Indonesi
Analisis resiko untuk kelayakan penambangan emas Arinem-Papandayan Garut
Sejak ditemukannya cadangan emas Pongkor di Tahun 1991 hingga sekarang PT Aneka Tambang Tbk belum lagi menemukan cadangan emas yang berdasarkan klasifikasi PT Antam Tbk dikatakan emas prospek (menguntungkan) dengan kandungan emas lebih besar dari 20 ton. Beberapa eksplorasi yang telah dilakukan oleh PT Aneka Tambang Tbk banyak yang diklasifikasikan marginal (tidak menguntungkan) dengan kandungan dibawah 20 ton. Selama ini, PT Aneka Tambang Tbk belum menghitung lebih detail cadangan emas yang dikatakan oleh PT Antam sebagai cadangan emas marginal tersebut apakah benar-benar marginal dan tidak memberikan prospek bagi perusahaan. Salah satu cadangan emas marginal yang dimiliki PT Antam Tbk adalah cadangan emas di wilayah Arinem-Papandayan. Cadangan yang mengandung sekitar 15 ton emas tersebut akan dilakukan pengujian dari beberapa aspek-aspek terkait dengan bisnis pertambangan yaitu: aspek teknologi/metode penambangan dan pengolahan, aspek resiko khususnya risiko operasional akibat kegagalan oleh faktor teknis, aspek financial, serta aspek perencanaan perpajakan. Dengan analisis resiko yang dilakukan terhadap tambang Arinem Papandayan ini, ternyata terbukti bahwa kandungan cadangan emas yang kurang dari 15 ton pun, ternyata cukup memberikan prospek yang baik untuk dieksploitasi. Hasil dari penulisan ini memberikan rekomendasi marginal/kelayakan proyek cadangan emas dengan penggunaan metode penyusutan dan amortisasi yang diakui berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku di Indonesia untuk menghasilkan laba setelah pajak yang optimal, serta pengendalian risikonya. Katakunci: cadangan emas marginal, laba setelah pajak, risiko operasional, klasifikasi margina
Hakekat Manusia dalam Kerangka Manajemen Pengetahuan dan Organisasi Belajar
Belajar dan pengetahuan telah eksis sejak manusia berada. Namun, manfaat pengetahuan bagi dunia ekonomi dan social, baru dipahami pada akhir abad 20 ini. Ini terjadi karena fenomena belajar dan karateristik pengetahuan yang bersifat virtual, agak sulit untuk difahami dan dimanfaatkan bagi aktivitas ekonomi, walaupun manfaatnya dapat dirasakan. Era pengetahuan makin memunculkan pentingnya pengetahuan bagi kesejahteraan manusia. Perusahaan-perusahaan kelas dunia, telah menunjukkan peran dan fungsi pengetahuan sebagai modal fisik yang dimilikinya mampu menciptakan nilai tambah bisnis, kekayaan bagi pemilik serta kesejahteraan bagi karyawan dan masyarakat. Pengetahuan telah menjadi asset utama untuk membangun kesejahteraan ekonomi. Organisasi belajar dan manajemen pengetahuan pada hakekatnya adalah upaya untuk revitalisasi hakekat dan kedudukan manusia (Human Center Design) dalam organisasi, sehingga terjadi proses transformasi seluruh potensi individual menjadi modal maya organisasi, untuk menghasilkan organisasi cerdas. Organisasi cerdas hanya akan tercapai jika kita bisa mendudukan manusia yang memiliki kesadaran akan nilai-nilai kefilsafatan, keindahan dan keilmuan yang merupakan lambing dari moralitas kehidupan. Disamping itu, human akan mampu mengambil jarak antara dirinya dengan dirinya sendiri, serta dirinya dengan sesuatu yang berada diluar dirinya. Kesadaran akan jarak ini membuat manusia mampu melihat dirinya maupun keadaan di luar dirinya, sehingga ia akan mampu berkembang menjadi manusia yang intelek dan bermoral. Manusia seperti ini akan memiliki potensi dirinya, sehingga ia akan mampu berkembang menjadi manusia yang intelek dan bermoral. Manusia seperti ini akan memiliki potensi yang sangat hebat dan tidak terbatas. Mereka akan menjadi bibit unggul, karena memiliki kompetensi intelektual, potensi etika dan potensi social yang sangat dibutuhkan untuk membangun modal maya organisasi